NovelToon NovelToon
Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Suami Ku Musuh Bebuyutan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: mahealza

papanya elvaro dan zavira pernah sahabatan di waktu SD ,Namun nasib membedakan mereka , papanya elvaro sudah sukses sekarang. sedangkan papanya zavira hanya mempunyai toko bengkel.

keduanya bertemu setelah beberapa tahun menghilang,tapi masih dengan persahabatan yang hangat, terukir janji mereka yang dulu akan menjodohkan anak mereka. mamanya elvaro sangat keberatan menerima nya ,Karna menurutnya tidak setara. begitu juga dengan zavira menolak keras perjodohan ini Karna elvaro adalah musuh bebuyutan nya di sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahealza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sikap lembut elvaro

Kaca jendela mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok Elvaro yang duduk di balik kemudi. Wajahnya datar, namun rahangnya mengeras dengan jelas, tangan kanannya mengepal kuat di atas setir seolah sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Oow... aroma-aroma nggak enak nih mulai tercium," desis Nadin pelan sambil menelan ludah, matanya melirik takut ke arah mobil hitam itu.

"Jelas dong, kelihatan banget dia lagi marah besar tuh," imbuh Freya dengan suara bergetar, menatap Elvaro yang diam saja namun sorot matanya tajam menusuk.

Nadin menoleh ke arah Zavira, berbisik cepat, "Lo beneran ada izin nggak sih bawa motornya?"

"Ada..." jawab Zavira pelan, suaranya mengecil, "...tapi cuma bisik doang, dia nggak denger kok," cicitnya lagi sambil nyengir kuda yang sama sekali tidak meyakinkan.

"Ya elah Vi... kalau gitu namanya bukan izin, tapi ngambil diam-diam!" seru Nadin hampir berteriak, tapi ditahan di tenggorokan.

"Terus gimana nih? Dia kelihatan serem banget gini," keluh Freya makin panik.

Zavira menarik napas panjang, lalu menatap kedua sahabatnya dengan tegar meski hatinya sudah berdebar hebat. "Lo berdua pulang aja duluan," titahnya tegas.

"Lo gimana? Kita nggak enak kalau ninggalin lo sendirian sama dia," tanya Nadin ragu.

"Gapapa, gue bisa urus sendiri. Dia nggak bakal makan kok," jawab Zavira berusaha tenang. "Beneran... ayo cepat sana, putar balik sekarang. Nanti makin runyam kalau kalian ada di sini terus."

Setelah saling pandang ragu sejenak, Nadin dan Freya akhirnya menurut. Mereka menyalakan kembali mesin motor dan perlahan pergi meninggalkan tempat itu, menoleh berkali-kali dengan perasaan tidak tenang. Kini, hanya tinggal Zavira dan Elvaro di sana, di bawah remang lampu jalan.

Pintu mobil terbuka dengan hentakan keras. Elvaro turun dengan langkah yang berat dan penuh penekanan, seolah setiap kakinya menginjakkan kekesalan ke aspal. Ia berjalan mendekat ke arah Zavira yang masih diam terpaku di atas motornya.

"Siapa suruh bawa motor gue?" tanyanya dingin, nada bicaranya datar tapi menusuk sampai ke tulang.

Zavira diam seribu bahasa, bibirnya terkatup rapat, tak berani menjawab.

"Turun. Sekarang," sentaknya, suaranya meninggi dan penuh tekanan.

Dengan tangan gemetar, Zavira perlahan membuka helm dan meletakkannya di jok. Ia turun pelan-pelan, pandangan elvaro tak sengaja jatuh ke sisi samping motor itu. Matanya membelalak kaget. Sisi kanan bodi motor tergores parah hingga catnya terkelupas, dan bagian depan dekat lampu terlihat pecah serta penyok—bekas jatuhnya tadi yang sama sekali tak ia perhatikan. Ia segera meraba bagian yang lecet itu, mulutnya komat-kamit mengumpat kasar "Anjir..."

zavira memperhatikan gerak-geriknya, lalu ikut menunduk meneliti kerusakan itu. Ia menegakkan badannya kembali, lalu menatap elvaro dengan pandangan takut.

"LIHAT KELAKUAN LO!" bentaknya kasar, bergema di sepanjang jalan sepi itu.

Zavira hanya bisa menunduk dalam, menatap ujung sepatunya, tak berani menatap manik mata lelaki itu. Rasa bersalah mulai menjalar hebat di dadanya.

"Pulang sekarang," bentaknya lagi, telunjuknya menunjuk ke arah jalan raya. "Jalan kaki."

Zavira mendongak kaget, matanya membola. Jarak dari sini ke rumah cukup jauh, bisa memakan waktu lebih dari satu jam berjalan kaki. Tapi Elvaro sama sekali tak mempedulikannya. Ia kembali berputar, sibuk memeriksa kerusakan motor kesayangannya dengan wajah masam, seolah Zavira tak ada artinya lagi di sana.

Tak ada gunanya berdebat. Zavira memutar tubuhnya dan mulai melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia merasa ada yang aneh. Kakinya terasa sangat perih dan berat. Ia baru sadar, mungkin ini efek dari jatuhnya tadi—rasa sakit yang tadi hilang karena semangat dan seru-seruan, kini muncul kembali berkali-kali lipat lebih parah.

Ia tetap memaksakan diri berjalan, meski setiap langkah terasa menyiksa.

"Akhhhh..." desisnya menahan sakit, keringat dingin mulai menetes di pelipis.

Tiba-tiba kakinya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ia terhuyung, lalu jatuh berlutut di pinggir jalan, wajahnya memucat menahan nyeri yang menusuk.

Elvaro menoleh sebentar, hanya menatapnya sekilas dengan wajah dingin, lalu kembali membuang muka.

"Kaki gue sakit, El..." cicit Zavira pelan, suaranya tercekat.

Elvaro mendengus sinis, jawabannya datar dan dingin, "Ada gue pikirin?"

Merasa diabaikan dan gengsinya tak lagi berguna dibanding rasa sakit yang makin menjadi-jadi, Zavira mencoba mengerahkan sisa tenaganya untuk bangkit lagi. Ia menopang diri ke aspal, berusaha berdiri dengan susah payah.

Namun, tiba-tiba bayangan tubuh Elvaro sudah ada di depannya. Tanpa kata, tanpa peringatan, lelaki itu langsung memapah tubuh Zavira, menopang sebagian berat badannya. Wajahnya masih datar, rahang masih mengeras, matanya tak sekalipun menatap ke arah Zavira, tapi genggamannya di lengan dan pinggang gadis itu cukup kuat dan kokoh.

Zavira tertegun, kaget bukan main. Ia hanya pasrah mengikuti langkah cepat Elvaro yang membawanya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada sepatah kata pun yang terucap. Suasana di dalam mobil terasa berat dan kaku. Elvaro fokus mengemudi, napasnya masih terdengar berat, amarahnya belum sepenuhnya mereda meski ia sudah membawa Zavira pulang.

Sesampainya di halaman rumah, mobil berhenti.

"Turun," katanya singkat dan datar.

Zavira berusaha menurut, tapi rasa sakit di kakinya membuatnya sangat kesulitan bergerak. Ia melangkah lambat, tertatih-tatih, wajahnya meringis menahan nyeri. Elvaro yang biasanya tidak suka menunggu orang yang lambat, akhirnya kehilangan kesabarannya. Tanpa basa-basi lagi, ia berbalik, merengkuh tubuh Zavira dan mengangkatnya mendadak dalam gendonganannya—gendongan timang yang kuat dan mantap.

Ia berjalan masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju kamar mereka. Sepanjang jalan itu, Zavira hanya diam menatap wajah samping Elvaro. Ia melihat jelas guratan marah yang masih tersisa, tapi ada sesuatu lain di sana... sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, namun membuat jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena rasa hangat dari dekapannya yang tak pernah hilang, meski sedang marah sebesar apa pun.

**

Elvaro menurunkan tubuh Zavira ke atas sofa panjang di kamar itu dengan gerakan agak kasar, lalu ia sendiri langsung menjatuhkan badannya ke kasur. Tangan lelaki itu naik ke atas kepala, mengacak-acak rambutnya dengan kasar seolah sedang melampiaskan sisa kekesalan yang masih membara. Sebelum beranjak, ia melemparkan kotak P3K ke arah Zavira—untung saja lemparannya pas, kotak itu mendarat di samping gadis itu tanpa isinya tumpah ke mana-mana.

Zavira tak mempedulikan sikap dingin suaminya. Perhatiannya kini terpusat sepenuhnya pada kakinya yang terasa nyeri luar biasa. Ia penasaran, seberapa parah sebenarnya luka itu sampai rasanya sesakit ini setiap kali digerakkan. Dengan tangan gemetar, ia perlahan menggulung ujung celananya yang ternyata sudah sobek lebar terkena gesekan aspal.

Saat kain terangkat penuh, napas Zavira seketika tertahan. Di lutut kanannya terlihat luka lebar dan menganga, kulitnya terkelupas dalam, bercampur darah kering dan debu jalanan. Pemandangan itu langsung membuatnya bergidik ngeri—sejak kecil ia memang sangat takut melihat darah dan luka terbuka. Tanpa sadar, refleks ketakutan itu keluar:

"AAAAAAA!!!" teriaknya melengking, suara panik dan ngeri memenuhi ruangan.

Elvaro yang sedari tadi duduk menunduk di kasur tersentak kaget, kepalanya langsung mendongak dan menoleh tajam dari kejauhan. Ia paham betul tingkah laku istrinya itu—tahu persis kalau Zavira bukan cuma kesakitan, tapi sedang ketakutan setengah mati melihat lukanya sendiri. Tanpa banyak bicara, Elvaro bangkit dan melangkah mendekat. Ia berlutut tepat di depan sofa, menatap datar luka menganga di lutut itu.

"Gini aja takut? Dasar penakut," desisnya rendah, nada ejekan terdengar jelas, tapi tangannya sudah bergerak sigap.

Zavira tak membalas, air matanya mulai menetes deras membasahi pipi, campuran rasa sakit dan rasa takut yang tak tertahankan. Elvaro tak peduli dengan air mata itu. Dengan lembut namun tegas, ia mengangkat kaki mulus Zavira lalu menempatkannya di atas paha kakinya sendiri agar posisinya stabil dan mudah dirawat. Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik, lalu mulai mengoleskannya perlahan ke sekitar luka untuk membersihkan kotoran yang menempel.

Saat cairan dingin itu menyentuh kulit yang terluka, rasa perih langsung menyengat tajam. Zavira meringis kesakitan, tubuhnya menegang dan kakinya berusaha ditarik mundur. Tapi genggaman tangan Elvaro begitu kuat dan kokoh menahan pergerakannya.

"Jangan banyak bergerak dulu," ucapnya tegas, matanya tetap fokus membersihkan sisa kotoran yang masuk ke dalam luka. "Lukanya harus bersih, kalau infeksi nanti kamu sendiri yang susah."

Rasa sakit makin menjadi saat Elvaro mulai meneteskan cairan betadin ke atas permukaan luka yang terbuka.

"AAAAA— SAKITTTT!!" teriak Zavira histeris sejadi-jadinya, sampai Elvaro sendiri sedikit terkejut mendengar lengkingan itu. Ia menggelengkan kepala pelan, lalu tiba-tiba sudut bibirnya terangkat sedikit—ia malah terkekeh pelan melihat tingkah istrinya yang berlebihan itu.

"Masih sakit..." rintih Zavira, air matanya makin deras mengalir.

Setelah selesai mengoleskan obat, Elvaro tak langsung beranjak. Ia mengibas-ngibaskan tangannya pelan di atas luka itu, lalu meniup-niupnya dengan hembusan napas yang lembut dan hangat, berusaha mengurangi rasa perih yang masih terasa menyengat.

Gerakan itu membuat Zavira seketika diam. Ia menatap tajam ke arah wajah Elvaro yang sedang serius meniup lukanya. Di dalam hati, ia tak menyangka sama sekali—lelaki yang tadi marah besar, yang berjalan dengan amarah membara, ternyata bisa selembut dan sebaik ini merawatnya. Perasaan hangat perlahan menggantikan rasa sakit dan takut tadi.

"Sudah," ucap Elvaro singkat setelah selesai membalut luka itu dengan perban rapi dan pas.

Ia berdiri tegak, lalu berbalik hendak kembali ke kasur. Sebelum pergi, ia menoleh sekilas dan meledek dengan nada mengejek, "Cengeng."

"Makasih..." cicit Zavira pelan, suaranya tertahan, matanya masih menatap punggung Elvaro yang menjauh.

Elvaro sama sekali tidak menjawab. Ia kembali ke kasur, memunggungi Zavira, seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah hal sepele dan biasa saja, bukan tindakan perhatian yang membuat hati istrinya berdebar kencang.

1
Nasya
up
mahealza: oke kakak
total 1 replies
Nasya
lagi thor 🥰
mahealza: okeeee👍
total 1 replies
Nasya
jangan sampai di lecehin oleh cakra kasihan zavira
mahealza: semoga aja ..
total 1 replies
Ivy
kasihan savira semoga el dan teman² nya datang segera
mahealza: doa in aja
total 1 replies
Nasya
waduh.. el tolongin savira pleaseeee
mahealza
oke
mahealza
mmg jodoh🤭
olyv
lnjut thor
olyv
hhmm sama² keras kepala
eva
lanjut donk thor
mahealza: semangat terus bacanya
total 1 replies
Nasya
astaga el dapat tendangan maut 🤭
kapok zavira 🤣
Nasya
wuahahaha waktunya dendam balasmu el 🤣
Nasya
nah loh gio apa yang kamu temukan di dalam 🤣
mahealza: apaan yah🤔🤫
total 1 replies
Ivy
lanjut thor 💪💪💪
olyv
sampai salting el di goda papinya
Nasya
elvaro ya 🤭
Ivy
lanjut thor 👍💪💪💪💪
olyv
sudah aku vote ya thor .... semangat up nya
mahealza: semangat juga
total 1 replies
Ivy
nexxxxtttt 👍👍
Nasya
hukuman apa nih…🤭 lanjut thor
mahealza: boleh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!