Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Saat itu Hendrick dan Regina berangkat menuju perusahaan bersama. Hendrick masih mengenakan pakaian yang ia pakai semalam. Sesampainya di dekat kantor, Regina tiba-tiba menyuruh Hendrick menghentikan mobilnya.
"Kak! Stop... Aku turun di sini saja, Kak..." ujar Regina dengan suara yang lembut, menyuruh Hendrick menepikan mobilnya.
Hendrick menuruti permintaan itu dan menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Regina dengan wajah yang penuh kebingungan, lalu bertanya.
"Ada apa...? Kenapa kamu menyuruhku berhenti di sini...? Padahal sebentar lagi kita berdua akan sampai di depan gerbang perusahaan..." tanya Hendrick, matanya menatap tajam ingin tahu alasannya.
"Aku lebih baik turun di sini saja, Kak..." jawab Regina santai sambil tersenyum tipis.
Tangannya lincah melepaskan sabuk pengaman dan bersiap untuk membuka pintu mobil.
"Kenapa harus turun di sini...? Sebentar lagi kita sampai ke kantor... Kamu serius mau turun dan berjalan dari sini ke kantor...?" tanya Hendrick kembali, suaranya yang semakin tegas dan penuh rasa heran. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Regina.
"Nggak ada apa-apa kok, Kak! Aku beneran mau turun di sini... Aku cuma takut nanti orang-orang kantor akan salah paham melihat kita berdua datang bareng-bareng... Aku juga takut nanti Jihan malah jadi salah paham melihat kita..." jawab Regina, seolah-olah ia sangat menjaga perasaan Jihan dan nama baik mereka berdua.
Hendrick saat itu seketika mengerti maksud hati Regina. Ia mengangguk pelan. Benar juga kata Regina, jika mereka berdua masuk ke kantor bersama-sama, bukan tidak mungkin akan menimbulkan tanda tanya dan gosip yang tidak-tidak dari rekan kerja.
"Benar juga yang dibilang Regina... Apalagi semalam sikap Jihan sangat aneh dan sensitif... Kalau dia melihat aku dan Regina datang berangkat bersama ke kantor, bisa-bisa dia langsung marah..." gumam Hendrick dalam hati, merasa apa yang Regina katakan ada benarnya.
Regina kemudian turun dari mobil dengan wajah yang sangat ceria dan penuh kemenangan yang disembunyikan rapi. Di dalam hatinya, ia merasa rencananya untuk perlahan merebut Hendrick dari sisi Jihan akan segera berhasil.
"Aku pergi duluan ya... Kamu hati-hati di jalan..." ujar Hendrick sambil tersenyum ramah, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya.
"Iya Kak...! Bye-bye..." ujar Regina melambaikan tangan dengan senyum manis yang menawan.
Hendrick kemudian pergi terlebih dahulu menuju tempat parkir kantor. Sementara itu Regina yang baru saja turun dari mobil berjalan santai menuju kantor.
"Jihan! Tunggu saja... Cepat atau lambat, aku pastikan akan berhasil merebut Hendrick darimu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia... Selama aku masih hidup, akan aku pastikan hidupmu akan menderita selamanya..." gumam Regina dalam hati, tersenyum licik menatap mobil Hendrick yang semakin menjauh.
...•••☘☘☘•••...
Di mejanya, Jihan duduk termenung memandang kosong ke arah jendela kaca. Ia sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan berubah. Kenapa tiba-tiba saja Direktur Hans masuk dan terlibat dalam kehidupannya kali ini.
Jihan tahu betul, di kehidupan sebelumnya, Direktur Hans tidak pernah sama sekali terlibat dan memperhatikannya seperti saat ini.
"Direktur Hans... Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali berpapasan dan terlibat dengannya... Aku tahu betul diriku tidak pernah sedekat ini dengan beliau di kehidupan sebelumnya..." pikir Jihan, perasaannya menjadi tidak tenang dengan keterlibatan Direktur Hans di kehidupannya kali ini.
Jihan terus melamun dan termenung sendiri, seolah-olah dunianya berhenti berputar di meja kerjanya.
Saat itu Bu Reni datang menghampiri meja Jihan. Ia masuk ke ruangan dan melihat Jihan sedang bengong dengan tatapan yang terlihat kosong melompong.
"Bu Jihan..." panggil Bu Reni pelan.
Namun Jihan saat itu tidak mendengar panggilan itu karena terlalu asyik dengan pikirannya sendiri. Bu Reni kemudian berjalan semakin mendekat, lalu menepuk pundak Jihan perlahan sambil memanggil namanya.
"Bu...! Bu Jihan....!" panggil Bu Reni dengan suara yang sedikit lebih tinggi sambil menepuk bahu Jihan agar tersadar.
"HAAA...! Bu Reni..." ujar Jihan yang tersentak kaget, tubuhnya sedikit terlonjak.
Jihan yang terkejut itu jantungnya berdetak kencang seolah mau copot dari tempatnya. Ia menatap ke arah Bu Reni dengan napas yang sedikit memburu.
"Bu Jihan, kenapa pagi-pagi begini sudah melamun...? Apa yang sedang kamu pikirkan sampai sedalam itu...?" tanya Bu Reni, wajahnya tampak serius melihat tatapan Jihan yang tadi begitu kosong.
"Ti... Tidak ada apa-apa kok, Bu... Oh iya, kenapa Bu Reni datang ke sini...?" jawab Jihan sambil berusaha menenangkan dirinya dan kembali bertanya.
"Kamu beneran tidak apa-apa...? Apa kamu sedang sakit, Bu Jihan...?" tanya Bu Reni lagi dengan nada yang sedikit khawatir melihat wajah Jihan yang tampak pucat.
"Tidak, Bu! Saya tidak sakit kok..." jawab Jihan meyakinkan Bu Reni.
"Saya kesini mau tanya, mana proposalmu yang sudah kamu perbaiki...? Bukannya kemarin kamu bilang akan memberikannya kepadaku pagi ini untuk aku teruskan..." tanya Bu Reni.
Dirinya sudah menunggu di ruangannya menanti Jihan datang membawa berkas itu. Namun karena Jihan belum juga menampakkan diri, akhirnya Bu Reni yang datang menanyakannya langsung.
"A... Pro... Proposal itu... Sudah diambil sama Direktur Hans, Bu..." jawab Jihan, suaranya terdengar terbata-bata dan ragu.
"Bagus lah kalau begitu..." ujar Bu Reni dengan santai dan wajah yang tenang.
"Bagus... Bagus bagaimana maksudnya, Bu...?" tanya Jihan, sedikit bingung kenapa Bu Reni tidak terlihat kaget atau khawatir sedikitpun.
Bu Reni tersenyum tipis melihat wajah Jihan yang sedang kebingungan itu, dan akhirnya sedikit tertawa kecil.
"Hahaha... Justru itu lebih bagus, Bu. Jarang ada orang yang membuat proposal bisa langsung menarik perhatian Direktur Hans... Mungkin proposalmu itu memang sangat bagus sampai membuat beliau tertarik..." ujar Bu Reni sambil sedikit tertawa.
Jihan kemudian bertanya lagi, bagaimana dengan Pak Toni. Bukannya seharusnya mereka menyerahkan proposal itu kepada Pak Toni dulu sebagai atasan langsung, baru kemudian diteruskan kepada Direktur Utama.
"Lalu bagaimana dengan Pak Toni...? Bukannya kita memerlukan persetujuan dari beliau terlebih dahulu...?" tanya Jihan, yang sedikit terheran-heran.
"Iya... Seharusnya memang seperti prosedurnya begitu. Tapi aku mau tanya, kenapa Direktur bisa mengambil proposal milikmu, Bu Jihan...?" tanya Bu Reni sedikit penasaran dan rasa ingin tahu.
Jihan pun menjelaskan bagaimana proposal itu bisa sampai di tangan Direktur Hans saat ini. Ia menceritakan kepada Bu Reni kejadian tadi pagi saat ia tidak sengaja menabrak Direktur Hans saat membawa proposal miliknya dan berniat menyerahkan proposal itu kepada Bu Reni.
Setelah mendengar penjelasan Jihan, Bu Reni mengatakan bahwa itu mungkin suatu keberuntungan besar bagi Jihan.
"Bu Jihan... Mungkin itu suatu keberuntungan untukmu... Jangan khawatir, Pak Toni juga tidak akan bisa berbuat apa-apa jika itu sudah menjadi keputusan Direktur....!" ujar Bu Reni menenangkan hati Jihan yang masih cemas.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, akhirnya Hendrick tiba di perusahaan.
"Pagi, Sayang... Pagi, Bu Reni...!" sapa Hendrick dengan senyum lebar.
Tidak lama kemudian, Regina juga masuk menyusul dan menyapa mereka berdua.
"Pagi, Jihan... Eh ada Bu Reni juga... Pagi, Bu..." sapa Regina dengan wajah yang tampak sangat ceria dan penuh semangat yang berlebihan.
Saat itu, mata tajam Jihan langsung menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat bahwa Hendrick masih mengenakan pakaian yang sama persis dengan yang ia pakai kemarin.
"Hendrick, kamu masih mengenakan pakaian kemarin... Aku yakin pasti terjadi sesuatu di antara kalian berdua semalam... Dan juga Regina, dia tampak jauh lebih bersemangat dan ceria dari biasanya... Teruslah berusaha merebut Hendrick dariku, Regina... Ambil saja sampah yang tidak berguna ini dari hidupku...." batin Jihan, menahan rasa sakit dan jijik yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ