NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Naga Sidoarjo Take Off

Pagi itu, suasana di rumah kontrakan Guntur agak berbeda. Sebuah koper mewah milik Vanesha sudah berdiri tegak di teras, bersanding dengan tas ransel butut milik Guntur. Guntur masih asyik dengan ritual paginya: sarungan, nyruput kopi hitam, dan tentu saja sebatang rokok kretek yang asapnya menari-nari ditiup angin pagi Sidoarjo.

​"Guntur! Cepetan ganti baju! Kita harus ke bandara sekarang, pesawat nggak bakal nungguin kamu selesai ngerokok ya!" teriak Vanesha dari dalam rumah. CEO cantik itu keluar dengan penampilan yang sudah kembali elit, tapi kakinya masih betah pakai sandal jepit hijau swallow pemberian Guntur. Sepertinya sepatu hak tingginya benar-benar sudah dipensiunkan selama di kampung.

​Guntur cuma menoleh pelan, lalu mengembuskan asap rokoknya dengan tenang. "Walah, Mbak V... tenang toh. Jakarta itu nggak bakal lari kemana-mana. Nggeh sabar, nunggu kopi saya habis dulu. Di sana nanti susah cari kopi sing mantep ngeten iki," ucap Guntur sambil nyengir. Vanesha cuma bisa mengelus dada, mencoba sabar menghadapi partner bisnisnya yang super sengklek ini.

​Ibu dan Bapak Guntur keluar untuk melepas keberangkatan mereka. Ibunya membawa bungkusan kain yang isinya cukup berat. "Ini, Le... bawa bekal buat di jalan. Ada tempe goreng sama dadar jagung kesukaanmu, sama ini buat Mbak Vanesha kalau nanti kangen masakan Ibuk," ucap Ibunya lembut. Vanesha langsung menerima bungkusan itu dengan mata berkaca-kaca. "Makasih ya, Bu. Saya pasti kangen banget sama sambal korek Ibu."

​Guntur berdiri, mematikan rokok kreteknya, lalu mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Sisi konyolnya hilang sejenak, digantikan oleh aura anak berbakti yang ingin berjuang demi martabat keluarga. "Pak, Buk... Guntur mangkat sek. Jogo kesehatan, Bagas juga jangan keluyuran dulu sebelum kepalanya sembuh total. Guntur mau jemput masa depan di Jakarta," pamit Guntur mantap.

​Bapaknya menepuk pundak Guntur dengan kuat. "Hati-hati, Le. Ingat pesan Bapak, setinggi-tingginya kamu terbang, jangan lupakan injakan kakimu di tanah. Jangan sombong, tetep dadi Guntur sing opo anane," nasehat Bapaknya yang bikin Guntur mengangguk mantap. Vanesha yang melihat momen itu diam-diam merasa iri sekaligus kagum. Ternyata di balik sifat sengkleknya, Guntur punya pondasi kasih sayang yang sangat kuat.

​Begitu masuk ke dalam mobil jemputan, Guntur langsung buka kaca jendela. Dia melambaikan tangan ke arah tetangga-tetangga yang mulai keluar rumah karena penasaran. "Dahhh semua! Guntur pamit mau jadi bos di Jakarta! Titip rumah ya, kalau ada kucing maling ikan, jangan dipukuli!" teriak Guntur yang bikin satu kampung geleng-geleng kepala.

​Di dalam mobil, Vanesha melirik Guntur yang sekarang malah sibuk ngitung sisa rokok kretek di sakunya. "Guntur, nanti di Jakarta kamu harus bener-bener dengerin instruksi saya. Kita bakal ketemu orang-orang besar, jangan sampai kamu malah nawarin mereka rokok kretek atau ajak makan jengkol!" Guntur cuma tertawa ngakak. "Loh, Mbak V... justru itu senjatanya. Orang besar itu biasanya kurang bahagia, siapa tahu setelah saya tawari kretek, mereka langsung mau tanda tangan kontrak tanpa banyak tanya. Nggeh mboten?"

​Mobil pun melaju meninggalkan gang sempit itu, membawa Sang Naga menuju hutan beton Jakarta. Guntur menatap keluar jendela, melihat jalanan Sidoarjo yang mulai menjauh. Dia tahu, di Jakarta nanti, musuh-musuh lama dan tantangan baru sudah menunggunya. Tapi dengan doa restu orang tua dan dukungan CEO "Mak Lampir" di sampingnya, Guntur yakin: Jakarta akan tahu betapa bahayanya seorang ojek sengklek dari kampung kalau sudah serius

Begitu sampai di Bandara Juanda, Vanesha langsung melangkah dengan anggun menuju pintu keberangkatan kelas bisnis. Sementara Guntur? Dia jalan di belakang sambil menenteng ransel bututnya. Matanya melirik ke sana-ke mari kayak intel lagi nyari buronan.

​"Walah, Mbak V, bandaranya sekarang kok makin lebar ya? Kayak lapangan bola dikasih atap," gumam Guntur.

​Dia terus nyedot sisa rokok kreteknya sebelum masuk ke area dilarang merokok. Vanesha berhenti mendadak, membuat Guntur hampir menabrak punggungnya.

​"Guntur! Berhenti panggil 'Mbak V' keras-keras!" bentak Vanesha.

​"Dan itu... buang rokok kamu sekarang! Kita sudah mau masuk boarding!" lanjutnya sambil menunjuk tempat sampah.

​Guntur dengan berat hati mematikan kreteknya. "Nggeh, nggeh, Mbak... eh, Bos Vanesha. Galak bener, untung cantik," sahut Guntur pelan.

​Saat melewati pemeriksaan keamanan, Guntur bikin heboh. Pas masuk mesin metal detector, bunyinya teriak-teriak kencang. BIIIP! BIIIP! Petugas bandara langsung menghampiri dengan wajah waspada.

​"Maaf Pak, bisa dikeluarkan semua benda logamnya?" tanya petugas itu sopan.

​Guntur dengan santainya mengeluarkan kunci pas berkarat dari saku celananya. "Ini satu, Mas."

​Lalu dia mengeluarkan lagi baut cadangan motor. "Ini dua."

​Terakhir, dia mengeluarkan tang potong. "Nah, ini yang terakhir, Mas."

​Vanesha yang melihat itu langsung menutupi wajahnya pakai tas mahal. "Duh, Guntur! Kamu mau terbang apa mau buka bengkel di dalam pesawat?!"

​"Loh, ini jaga-gaga Mbak. Siapa tahu nanti pesawatnya mogok di atas, saya bisa bantu benerin karburatornya," jawab Guntur tanpa dosa.

​Petugas bandara cuma bisa melongo. Setelah urusan logam beres, mereka akhirnya duduk di ruang tunggu eksekutif. Guntur langsung norak melihat deretan makanan gratis. Dia mengambil piring, lalu menumpuk roti, buah, sampai kacang goreng jadi satu.

​"Mumpung gratis, Mbak. Ini namanya rezeki anak sholeh sebelum perang di Jakarta," ucap Guntur sambil mulutnya penuh makanan.

​Vanesha cuma bisa minum jus jeruknya dengan anggun. "Guntur, dengerin ya. Nanti pas di pesawat, jangan tanya ke pramugari mana lubang knalpotnya!"

​"Dan jangan coba-coba buka jendela kalau kamu ngerasa gerah! Mengerti?" ancam Vanesha serius.

​Guntur cuma manggut-manggut. "Nggeh Bos, tenang aja. Saya kan sudah pro, dulu sering lihat film pesawat tempur."

​Begitu panggilan masuk pesawat terdengar, Guntur berdiri dengan semangat. Dia membetulkan posisi ranselnya dan menatap Vanesha dengan senyum tengil.

​"Jakarta, Naga Sidoarjo datang! Mbak V, siap-siap ya, jangan sampai nanti sampeyan yang malah malu karena saya terlalu populer di sana."

​Vanesha cuma mendengus, tapi diam-diam dia tersenyum. Dia tahu, perjalanan ke Jakarta kali ini nggak bakal membosankan selama ada ojek sengklek satu ini di sampingnya.

​Pas masuk ke kabin kelas bisnis, Guntur langsung mencoba kursinya. "Wah! Iki loh, Mbak! Kursinya bisa goyang-goyang sendiri! Enak tenan!"

​Guntur mencet-mencet semua tombol yang ada sampai kursinya naik turun. "Mending saya tidur di sini aja terus, nggak usah ke hotel," seru Guntur yang disambut tatapan heran penumpang lain.

​Sang Naga benar-benar sudah siap terbang. Meninggalkan kenangan dihina di kampung, menuju panggung besar di Ibu Kota dengan gaya paling koplak sejagat raya.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!