NovelToon NovelToon
Rahasia Terpendam Kristal

Rahasia Terpendam Kristal

Status: tamat
Genre:Misteri / Penyelamat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: IZI.01

Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Apartemen ini bukan apartemen premium. Tidak pula ditujukan untuk kalangan high class. Ada beberapa ruang dengan fungsi yang berbeda. Ruang ruang keluarga yang berdekatan dengan kamar tidur. Sementara dapurnya berhadapan dengan kamar mandi serta sebuah ruang mungil yang pintunya menyatu dengan kamar tidur. Ruang mungil tempat biasa menuangkan seluruh ide tulisanku.

Ruang nyaman dengan pemandangan mengarah ke luar, lengkap dengan balkon yang diperuntukan untuk tempat jemuran. Sekaligus juga berguna untuk menghabiskan waktu memandang hiruk pikuk suasana ibu kota.

Warna dasar yang melapisi dinding secara menyeluruh sudah berubah dengan wallpaper putih, sesuai selera sendiri. Sebagian besar perabot kristal menghias di tiap sudut. Mungkin kesamaan itu juga yang menjadi alasannya aku di beri nama, Kristal. Karena memang aku hobi dalam mengoleksi semua ornamen kristal. Selain itu aku ahli dalam menempatkan barang-barang serasi pada tempatnya. Baik warna, bentuk maupun fungsinya, semua sesuai dan presisi berada ditempatnya. Berbanding terbalik dengan Reyhan, suamiku, yang sama sekali tidak memperdulikan. Selain semua perabot tertata dengan apik, aku juga terapkan aturan yang paling aku utamakan yaitu kebersihan. Jika sampai ada saja setitik noda di lantai, maka secepatnya aku bersihkan hingga tak berbekas. Bercak kotoran yang paling menjadi polusi penglihatan dan mengganggu pernapasan.

Di koridor, sebelum aku menuntaskan langkah masuk, aku sudah membayangkan nikmatnya menyesap secangkir cokelat hangat. Sungguh terasa nikmat untuk membangkitkan semangat yang mulai padam. Apalagi malam ini aku harus terjaga untuk menyelesaikan semua daftar pertanyaan di hari wawancara dengan narasumber.

Ya, ini memang pengalaman pertama kalinya membuat buku biografi seseorang yang masih hidup. Sungguh terasa sangat aneh tetapi inilah kenyataannya. Bagiku pertanyaan itu tidaklah penting lagi. Tugas ini harus segera selesai dalam waktu yang ditentukan Bapak Beni yang terhormat. Cuih, jikalau aku punya penerbit lain, sudah tentu aku tidaklah sesulit ini.

Aku ambil secarik kertas untuk kemudian menulis beberapa kalimat. Beberapa pertanyaan yang masih dalam ingatanku tentang metode riset. Nantinya aku akan bertanya seputar; latar belakang keluarga, pendidikan serta riwayat pekerjaannya. Mengenai kisah percintaan atau pertanyaan lainnya, itu semua bisa diatur ke pertemuan berikutnya. Atau jalan singkatnya tidak aku telepon tuan yang terhormat itu saja. Aku terus terkekeh, menerawang jauh di alam pikiranku sendiri.

Baru saja selesai paragraf pertama aku menulis, tiba-tiba suara ketukan memanggil dari arah luar pintu. Aku tinggalkan sejenak aktifitas di dapur untuk memenuhi panggilan. Irama ketukannya makin cepat dari sebelumnya.

“Bugh..,” irama suara di pintu semakin nyaring terdengar.

"Siapa! Tunggu!" aku bergegas melihatnya lewat celah yang tertanam di badan pintu. Anehnya, aku sama sekali tidak meliat seorang pun berdiri di luar. Rasa penasaran membuncah, mengumpulkan segenap keberanian untuk lekas membukanya.

“Jangan usil yah!” aku lirik ke kanan-kiri, tetap tidak berhasil menemukan orang itu. Dan saat hendak aku ingin menutup pintu itu kembali, sebuah tangan seketika langsung menyergap pintu yang setengah terbuka.

"Selamat malam nona cantik! Kenalkan saya, Id. Tetangga yang baru saja pindah kemari," tandas lelaki muda berwajah oriental dengan t-shirt merah marun. Kehadirannya membuatku terperangah, seolah tak percaya.

“Kamu? Siapa tadi?” masih tercekat aku melihat kedatangan sosok yang berdiri didepanku.

Ia berikan telapak tangan, mengajak salaman dengannya. Aku justru makin melangkah mundur sambil perlahan aku tutup setengah pintu.

“Kenapa terburu-buru nona? Jadi begini caranya menyapa penghuni baru? Dimana sopan santun yang menjadi ciri khas budaya kita?”

Dalam hati aku terus menggerutu,”Memang siapa dia? Berani mengatur ditempatku,” aku tetap waspada penuh. Mengambil sikap siaga. Berjaga kalau sampai pemuda itu tiba-tiba masuk, melakukan perbuatan nista. Tapi sebelum badan pintu tertutup rapat, tangannya yang kekar justru menyibak pintu tersebut.

“Tidak ada maksud jahat melakukan ini. Aku hanya ingin memperkenalkan diri.” katanya sambil melangkah maju, masuk ke dalam apartemenku. Sementara aku segera menghindar dari hadapannya. Membelakanginya, hingga membuat setengah badan menjulur ke arah luar. Mencari tahu dari arah mana datangnya lelaki tersebut. Sungguh mengejutkan, tak ada pintu lain yang terbuka kecuali pintu apartemenku ini.

Perasaan was-was bercampur takut terus menyelimuti diriku. Karena itu aku buka kembali pintu yang dengan sengaja yang telah ditutup olehnya.

"Id? Hmm. Nama yang aneh," kataku dalam hati, seraya memicingkan mata, mencurigai setiap gerak-geriknya.

"Siapa nama nona?" tangannya meraih badan pintu. Perlahan aku tahan dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya aku memutari badannya, dan tanpa disengaja sepasang kakinya menghalau langkahku. Aku hilang keseimbangan, aku terka pasti akan segera jatuh. Dan tanpa aba-aba sebelumnya, kedua tangan kekar itu menjadi tempat aku bersandar.

Aku terus menyimpan kesal di hati,”Gila.. ini tidak mungkin! Aku berada dipelukannya. Tidak mungkin!” aku mengutuk keras dalam hati, seraya merasakan datangnya gairah yang tak karuan.

"Panggil Kristal." jawabku datar, tak ada sedikit pun ekspresi.

"Wow, nama yang indah sekali. Seindah wajah nona!" suara itu berbisik lirih tepat di telinga. Sangat halus, teramat lembut didengar. Aku tepis tangan yang berhasil menyandarkanku. Aku tegapkan kembali badanku.

"Maaf, siapa tadi nama kamu?"

"Id, hanya dua huruf, I dan D. Singkat, padat dan mudah di ingat bukan?" candanya menyembul, lantas ia menggoda lewat kerlingan matanya.

"Apa kamu terbiasa berkenalan dengan cara seperti itu? Menebar pesona dengan tatapan matamu?"

"Tergantung dengan siapa saya bertemu. Biar aku tebak, dalam satu bulan aku yakin kamu hanya bisa tersenyum ketika melihat tayangan kartun? Benar bukan?"

"Sekarang aku tidak hanya berhadapan dengan seorang pemuda gombal, tapi juga peramal yang menyebalkan! Baiklah, akan kuselesaikan tebakanmu. Melihat dari tingkah lakumu seperti ini, aku punya kesimpulan kalau kamu adalah seorang lelaki kesepian yang sering ditolak cintanya. Lebih tepat tebakanku bukan? Kalau itu benar, sebaiknya kembali masuk ke dalam apartemenmu dan jangan pernah berani datang kemari lagi!" perkataannya membuatku tersulut emosi. Badan pintu yang tadinya setengah terbuka, lekas aku kunci rapat-rapat. Membiarkannya sendirian.

"Tunggu sebentar! Maafkan kalau saya menyakiti hati nona!"

"Di maafkan! Panggil saja Kristal! Bukan nona! Apa lagi yang bisa saya bantu?"

"Saya mau bertanya, dimana tempat laundry di gedung ini?"

"Tanyakan pada sekuriti di lantai bawah sana!" tanpa panjang lebar bicara, badan pintu aku tutup dan segera melangkah ke arah dapur.

Melihat fisik serta paras di wajahnya, aku akui dia memang ada potongan lelaki penggoda. Tapi hampir sebagian besar perempuan tidak akan bisa digoda dengan cara murahan seperti itu. Percuma kemasannya bagus, kalau punya hobi suka tebar pesona ke mana-mana. Aku yakin, dia adalah tipe lelaki suka selingkuh. Sifat yang sangat kubenci, melebihi kebencianku pada ketinggian

"Kristal! Ayolah! Saya tahu kamu masih disana! Tak bisakah kamu sopan sedikit dengan tetangga barumu ini?"

"What? Sopan?” Kalau aku tetap diam, lelaki menjengkelkan itu akan terus menerus mengganggu. dengan cepat aku sambar pintu tersebut, "Id! Laundry itu ada di lantai.," belum selesai bicara, aku tertegun melihatnya tak lagi berdiri di ambang pintu, "Dimana kamu, Id!" aku bergumam, menatap koridor yang sunyi.

Bersamaan dengan kepergiannya, suara pesan masuk dari telepon selular mengalihkan perhatianku. Aku meraihnya dari atas meja kecil yang mudah kujangkau.

"Malam Kristal. Saya Gatot Purba, besok jam tiga sore bisa kita bertemu? Kalau bisa kita bertemu di mall, restoran cepat saji."

"Besok saya bisa sesuai jadwal."

"Ya, Oke. Sampai ketemu besok. Jika sudah sampai, segera beritahu."

Di akhir pesan balasan, aku hela nafas panjang. "Untunglah kalau begitu. Semakin cepat selesai buku itu, makin aku bisa kembali ke rutinitas semula. It's time to write, Kristal!"

Tak perlu lama berpikir darimana datangnya lelaki menyebalkan itu, aku segera meluncur ke ruang kerja. Tenggelam, terbuai dalam seluruh rangkaian kata demi kata.

1
Mamah Deni
Novel yang rekomen. Alur cerita singkat. Padat. pemilihan kata juga tepat dan mudah. cocok buat bahan bacaan. seharusnya bisa di taruh di rak toko buku yah. wajib baca sampai tuntas.
Mamah Deni
sederhana tapi alurnya menarik buat di baca tuntas. mantap😍
Mamah Deni
Ini pertama kali saya membaca novel di plarform digital. gak disangka bisa nemu tema yang unik. tutur bahasanya juga mengalir. langsung kebawa emosinya.😍
IzI
teruskan menulis, terus membaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!