Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Malam Kejujuran yang Tertunda
Ekantika mengambil kesempatan itu. "Maafkan Arsa, Riton. Dia memang punya kebiasaan bicara ngelantur kalau sedang pusing dengan masalah keuangannya." Ia menekankan lagi kata "keuangan," mencoba mengalihkan perhatian Riton. "Saya sudah minta dia untuk tidak menyeret orang lain ke dalam masalahnya."
Riton mengamati dinamika aneh di antara mereka. Tatapan mata Ekantika yang keras pada Arsa, ekspresi Arsa yang menahan sakit, dan kata "Nana" yang terlontar begitu saja. Ada yang tidak beres. Sangat tidak beres. Ia merasakan sebuah benang tipis di kepalanya mulai meregang, hampir putus.
"Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu lebih jauh," Riton berkata, suaranya dingin dan hati-hati. Ia tidak lagi peduli dengan alibi utang. Yang ia lihat adalah ketegangan yang nyata dan kebohongan yang tercium. "Saya permisi dulu, Bu Ekantika."
Ia berbalik, hendak melangkah pergi. Ekantika merasakan dadanya sesak. Riton pergi, dan ia tahu Riton membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Setiap langkah Riton menjauh, terasa seperti Ekantika kehilangan sebagian dari dirinya.
"Tunggu, Riton," Arsa tiba-tiba memanggil, suaranya kini kembali lebih tenang, meskipun masih ada jejak kesakitan yang tak bisa disembunyikan. Ia melirik Ekantika dengan seringai tipis, seolah ingin membalas dendam atas injakan kaki itu. "Saya dengar kamu ini calon pemenang tender Proyek Garuda, ya? Wah, hebat sekali. Tapi kamu harus hati-hati, Nak."
Riton menoleh. "Maksud Bapak?"
Arsa menghela napas, pura-pura prihatin. "Wanita seperti Ekantika ini... dia sangat rumit. Penuh dengan lapisan-lapisan. Terkadang, orang seperti kamu yang polos dan tulus, bisa terjebak dalam jaringnya. Hati-hati, Nak. Jangan sampai kamu juga jadi salah satu korban dari... ilusi yang ia ciptakan."
Ekantika merasakan amarahnya memuncak. Bajingan ini! Dia sengaja!
"Apa yang Anda bicarakan, Arsa?" Ekantika membentak, suaranya tajam.
Arsa mengabaikan Ekantika, matanya hanya terfokus pada Riton. "Kamu tahu, dulu saya pikir dia adalah wanita paling jujur yang pernah saya kenal. Sampai saya sadar... semua itu hanya topeng. Topeng yang ia kenakan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Wanita ini... dia akan menggunakan siapa saja demi ambisinya. Termasuk kamu."
Riton menatap Arsa, lalu beralih ke Ekantika. Wajah Ekantika memerah, antara amarah dan malu. Ketakutan terpancar jelas dari matanya. Riton bisa melihat dengan jelas bahwa Arsa sedang menekan titik lemah Ekantika.
"Saya rasa, Anda terlalu lancang, Bapak Arsa," Riton berkata, suaranya tenang namun ada kekuatan di baliknya. Ia tidak suka melihat Ekantika diperlakukan seperti ini, terlepas dari semua kebohongan yang ia duga. "Saya tahu siapa Anda. Reputasi Anda di kalangan investor startup sudah bukan rahasia lagi. Jadi, saya tidak akan terlalu memercayai apa pun yang keluar dari mulut Anda."
Ekantika merasakan seberkas kelegaan. Riton membela dirinya. Bahkan setelah Arsa mengucapkan semua hal kejam itu, Riton masih memilih untuk tidak memercayai Arsa.
Namun, Arsa hanya tertawa sinis. "Oh, polos sekali. Kamu masih muda, Nak. Masih banyak yang harus kamu pelajari tentang kehidupan, terutama tentang wanita. Wanita yang manipulatif seperti Ekantika ini..." Ia berhenti sejenak, melirik Ekantika. "...dia pandai sekali menyembunyikan dirinya. Sampai-sampai dia menciptakan persona baru hanya untuk mengencani pria sepertimu."
Sial! Dia lagi-lagi mengarah ke sana!Ekantika mendesis dalam hati, berusaha mencari cara untuk menghentikan Arsa.
"Riton, saya rasa kita sudah selesai. Anda bisa pergi sekarang," Ekantika berkata, berusaha mengakhiri percakapan yang berbahaya ini.
Arsa tersenyum licik. "Sudah selesai? Oh, belum. Baru saja dimulai. Kamu tahu, Riton, kamu ini pria muda yang malang. Terlalu baik. Terlalu polos. Berurusan dengan Ekantika ini... adalah kesalahan terbesar yang bisa kamu lakukan. Dia akan menghancurkanmu. Seperti dia menghancurkan saya."
Riton terdiam. Ia menatap Arsa, lalu kembali ke Ekantika. Ia tidak bisa lagi membaca ekspresi Ekantika dengan jelas. Ia melihat kemarahan, ketakutan, dan rasa malu. Tapi ia juga melihat... kesedihan.
"Kalau begitu, saya rasa sudah cukup," Riton berkata, suaranya final. Ia tidak lagi bertanya, tidak lagi mencari tahu. Ada batas toleransinya. "Saya permisi."
Ia berbalik dan berjalan keluar restoran, langkahnya lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak menoleh ke belakang.
Ekantika menatap punggung Riton yang menjauh, hatinya hancur. Ia tahu Riton pergi dengan pikiran yang jauh lebih kacau daripada saat ia datang. Arsa telah berhasil menanamkan racun keraguan yang dalam.
"Senang bermain-main, Ekantika?" Arsa menyeringai, mengangkat gelas wine-nya. "Sepertinya 'brondong'mu itu sudah mulai curiga. Atau mungkin dia sudah tahu? Aku akan menikmati melihat dia hancur seperti kamu akan hancur."
Ekantika tidak menjawab. Ia hanya menatap Arsa dengan tatapan penuh kebencian. Semua yang Arsa katakan adalah kebohongan kejam yang ia gunakan untuk memeras, tetapi inti dari kebohongan itu... adalah kebenaran. Kebenaran yang sangat menyakitkan.
Ia mengeluarkan ponselnya, mengabaikan Arsa yang masih duduk di depannya, menikmati kemenangan kecilnya. Ia menatap layar, hatinya dipenuhi perasaan campur aduk antara lega karena Riton pergi, dan rasa sakit karena ia tahu Riton tidak akan pernah sama lagi.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Dari Riton.
Riton: "Aku baru ketemu Tantemu. Dia kelihatan sangat tertekan. Apa kamu tahu sesuatu?"
Ekantika merasakan seluruh tubuhnya membeku. Tangan yang menggenggam ponselnya bergetar hebat. Tantemu. Riton masih mengirim pesan ke Nana. Dia masih memberi Nana kesempatan. Tapi kata "tertekan" itu... itu adalah pengamatannya terhadap Ekantika Asna. Riton sudah sangat dekat. Terlalu dekat.
Ia menatap pesan itu, lalu mendongak, matanya menatap kosong ke Arsa yang masih menyeringai puas. Ini sudah tidak bisa dihindari lagi. Detak jantungnya bergemuruh di telinganya, mengalahkan gemuruh restoran. Arsa adalah racun, Riton adalah panacea, dan ia... ia adalah cermin yang retak di antara keduanya.
"Ada apa, sayang? Kelihatannya kamu melihat hantu," Arsa mengejek, suaranya menusuk. "Atau 'brondong'mu sudah tahu siapa kamu sebenarnya?"
Ekantika tidak menjawab. Ia mengabaikan Arsa, lalu mengetik balasan ke Riton, jemarinya terasa dingin dan kaku.
Nana: "Ton, aku juga dengar kabar dari 'Tante'ku kalau dia lagi pusing. Kayaknya ada masalah sama mantan suaminya."
Ia menghela napas, menunggu. Ponselnya bergetar lagi.
Riton: "Oh, begitu. Makanya dia kelihatan kepikiran banget. Apa 'Tante'mu mau cerita? Aku khawatir lihatnya."
Nana: "Dia nggak mau cerita banyak. Makanya aku pusing juga. Ton, aku... aku butuh ngomong sama kamu. Tapi nggak di sini. Aku butuh tempat yang tenang."
Arsa melihat Ekantika sibuk dengan ponselnya, seringainya semakin lebar. "Sudah kirim pesan ke kekasih fiktifmu itu? Kamu tahu, kamu sangat pandai bermain peran. Sayang sekali Oscar tidak ada kategori untuk penipuan tingkat tinggi."
Ekantika mendongak, matanya berkilat marah. "Cukup, Arsa. Aku tidak akan lagi bermain-main denganmu." Ia berdiri, mengambil tasnya. "Aku akan pergi. Dan kau, aku sarankan kau berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang bodoh."