“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sang buronan
Hujan badai mengguyur pinggiran Ibukota Giok Surgawi, namun air langit itu seolah segan menyentuh jubah Lu Ming.
Ia berjalan menembus gerbang pelarian bawah tanah, melewati tumpukan mayat penjaga yang ia susun rapi menyerupai bentuk bunga lili yang layu.
Wajahnya bersih, rambutnya terikat rapi, dan senyumnya ... senyum itu lebih menyerupai pahatan marmer yang sempurna namun dingin.
Kini, poster buronan dengan hadiah sepuluh ribu batu ruh tersebar di setiap sudut kekaisaran.
Nama "Penyair Berdarah" tercatat sebagai iblis paling dicari. Namun, sang buronan justru berjalan tenang menuju Hutan Larangan Tulang Putih, tempat di mana bahkan kultivator tingkat tinggi pun enggan melangkah.
Lu Ming berhenti di bawah pohon tua yang dahan-dahannya menyerupai jari manusia yang memohon ampun.
Ia mengeluarkan sebuah kuas kecil yang bulunya terbuat dari rambut penjaga gerbang yang baru saja ia bunuh.
"Dunia ini adalah kertas yang sangat lebar, Paman Han," gumam Lu Ming sambil menatap langit yang hitam. "Ibu memberiku tinta pertama dengan pengkhianatan. Sekarang, aku hanya perlu darah yang cukup untuk menuliskan bab penutupnya."
"Ha ... haha ... hahaha ... hahaha ..."
Ia tertawa. Suara tawanya tidak melengking, melainkan rendah dan merdu, seperti denting lonceng di kuil tua.
Namun, tawa itu tidak mencapai matanya. Matanya tetap mati, sepasang sumur tanpa dasar yang hanya memantulkan kekosongan.
"Tujuanku? Ah, keabadian," ia berbicara pada bayangannya sendiri. "Bukan agar aku hidup selamanya, tapi agar rasa sakit ini memiliki panggung yang takkan pernah runtuh. Di puncak tertinggi, aku akan duduk dan melihat apakah dari sana Ibu terlihat sekecil semut yang bisa kuinjak tanpa sadar."
Tiba-tiba, semak-semak di sekitarnya berdesir. Lima orang tentara elit kekaisaran. Unit Pemburu Bayangan, muncul dari kegelapan.
Mereka adalah kultivator Ranah Arus Qi tingkat puncak, mengenakan zirah hitam yang mampu meredam suara.
"Lu Ming! Kau tidak punya jalan keluar!" teriak pemimpin unit, suaranya gemetar meski ia memegang tombak pusaka.
Lu Ming berbalik perlahan. Ia membungkuk sangat rendah, sebuah penghormatan yang sangat sopan hingga terlihat mengejek. "Ah, selamat malam, Tuan-tuan yang terhormat. Maafkan saya karena harus merepotkan kalian di malam yang basah ini. Apakah kalian ke sini untuk menjadi bagian dari koleksi puisi saya?"
"Jangan dengarkan dia! Dia sudah gila! Serang!"
Tombak-tombak itu melesat, membelah udara dengan kecepatan suara. Lu Ming bergerak. Ia tidak lagi menggunakan teknik pedang biasa.
Energi Qi di dalam tubuhnya mengalir dengan pola yang kacau namun mematikan. Ia meluncur di antara ujung tombak, jari-jarinya menari-nari di udara seolah sedang memetik kecapi.
Sret!
Lu Ming menangkap mata tombak lawan dengan tangan kosong, lalu dengan sopan memutarnya hingga lengan sang tentara terpilin seperti kain basah.
"Maaf, lenganmu sedikit terlalu kaku. Izinkan saya melenturkannya," bisik Lu Ming tepat di telinga pria itu sebelum menghantamkan telapak tangannya ke dada lawan.
Darah menyembur dari mulut tentara itu, namun Lu Ming dengan cepat mengangkat sebuah gulungan kertas kosong. Darah itu mendarat tepat di atas kertas, membentuk percikan merah yang artistik.
"Sempurna. Warna merahnya sangat murni, pasti karena Anda sangat setia pada kaisar," puji Lu Ming sambil tersenyum tulus.
Satu per satu, para elit itu jatuh. Lu Ming tidak membantai mereka dengan kemarahan; ia melakukannya dengan ketenangan seorang pengrajin.
Ia mematahkan leher, membelah dada, dan memotong urat nadi seolah-olah ia sedang memanen bunga di kebun. Bagi Lu Ming, mereka bukan lagi manusia, melainkan botol-botol tinta yang harus dikosongkan.
Setelah semua prajurit itu tewas, Lu Ming duduk bersila di tengah genangan darah. Ia mengeluarkan sebuah papan kayu kecil, tempat ia biasanya menulis berita-berita yang ia curi dari pasar.
Matanya tertuju pada satu baris kalimat yang tertulis di sana:
"Si Pembantai Berambut Putih, Liu Shen, telah menghancurkan tiga sekte di wilayah Barat dalam satu malam. Pedangnya tidak menyisakan satu pun nyawa hidup. Rakyat menjulukinya 'Pedang si Pembantai'."
Tawa Lu Ming kembali pecah, kali ini lebih keras, mengguncang dahan-dahan pohon di sekitarnya. "Liu Shen ... saudaraku yang malang. Kau membantai dengan amarah yang membara, sementara aku melukis dengan kedinginan yang membeku. Kau membenci dunia, sementara aku ... aku hanya menganggap dunia ini tidak ada."
Ia mengusap sebilah pedang berkarat kecil yang ia temukan di jalan, sebuah replika murah yang mengingatkannya pada Paman Han.
"Apakah kita akan bertemu di puncak nanti, Liu Shen? Apakah pedangmu akan sanggup membelah puisi darahku? Ataukah kita berdua hanyalah dua anak yatim piatu yang sedang berlomba untuk melihat siapa yang lebih dulu menghancurkan diri sendiri?"
Lu Ming berdiri, meninggalkan lima mayat yang disusun dalam posisi duduk melingkar, seolah-olah mereka sedang mendengarkan sebuah ceramah.
Di tangan masing-masing mayat, Lu Ming meletakkan selembar kertas berisi satu bait puisi tentang kesia-siaan kesetiaan.
Ia melangkah lebih jauh ke dalam Hutan Larangan. Langkahnya ringan, hampir tidak menyentuh tanah.
Indranya kini mulai merasakan getaran Ranah Ketiga: Pembentukan Inti.
Emosi yang hancur dan kegilaan yang ia peluk justru menjadi katalisator yang mempercepat kultivasinya secara tidak wajar.
"Keabadian itu sunyi, Ibu," gumamnya sambil menatap kegelapan hutan. "Dan aku mulai menyukai kesunyian ini. Permisi, dunia ... aku akan pergi sebentar untuk menjadi penguasa bagi rasa sakitku sendiri."