NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Kuil Bayangan

Kuil Bayangan menjulang di hadapan mereka, lebih mengerikan dari jarak dekat.

Bangunannya terbuat dari batu hitam yang tidak memantulkan cahaya sama sekali. Seolah-olah cahaya matahari dan bulan ditelan begitu menyentuh permukaannya. Pintu masuknya berbentuk mulut raksasa—mungkin naga, mungkin iblis—dengan gigi-gigi batu runcing yang mengarah ke bawah. Di atasnya, ukiran kuno yang sama dengan yang ada di terowongan: dua sosok berdiri berdampingan, menatap langit.

Xiao Fan mengamati sekeliling. Tidak ada monster. Tidak ada penjaga. Hanya keheningan dan pintu yang menganga menunggu.

"Terlalu sunyi," bisiknya. "Biasanya tempat seperti ini dijaga sesuatu."

Liu Ruyan menatap pintu itu. "Aku tidak merasakan permusuhan, Guru. Hanya... kesedihan. Seperti tempat ini meratapi sesuatu."

Mereka melangkah masuk.

Begitu melewati ambang pintu, kegelapan total menyelimuti mereka. Bukan kegelapan biasa yang bisa ditembus cahaya api. Ini kegelapan yang pekat, seperti tinta, menelan semua cahaya. Xiao Fan menyalakan api di telapak tangannya, tapi nyala itu hanya menerangi jari-jarinya sendiri, tidak lebih.

"Aku tidak bisa melihat apa-apa," suara Liu Ruyan terdengar dari samping.

"Tetap di tempat. Jangan bergerak."

Xiao Fan mencoba merasakan dengan Qi Kematian. Meditasi Seribu Benang menyebar ke segala arah. Ia bisa merasakan dinding-dinding di sekitar, koridor yang membentang ke depan, dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang besar. Diam. Menunggu.

Lalu, cahaya ungu lembut mulai muncul dari lantai.

Cahaya itu berasal dari garis-garis yang tadinya tidak terlihat—ukiran di lantai yang kini menyala satu per satu, membentuk pola rumit seperti formasi kuno. Cahayanya cukup untuk menerangi ruangan, meski tetap redup.

Mereka berdiri di sebuah aula raksasa. Pilar-pilar batu hitam menjulang ke langit-langit yang tak terlihat. Di kejauhan, di ujung aula, sebuah altar besar dengan sesuatu yang berkilau di atasnya.

"Di sana," bisik Liu Ruyan.

Mereka mulai berjalan. Setiap langkah mereka membuat ukiran di lantai menyala lebih terang, lalu meredup saat mereka lewat. Seperti ada yang memperhatikan, mengikuti setiap gerakan mereka.

Saat mereka mencapai tengah aula, suara gemuruh rendah terdengar. Bukan dari depan, tapi dari samping. Dari balik pilar-pilar raksasa, dua sosok melangkah keluar.

Patung. Patung batu hitam setinggi tiga meter, berbentuk prajurit dengan pedang besar. Tapi patung-patung ini bergerak. Mata mereka menyala ungu—cahaya yang sama dengan lantai.

Penjaga Kuil.

[Analisis: Penjaga Batu. Konstruksi sihir kuno. Setara dengan kultivator Inti Emas Awal. Jumlah: 2. Kelemahan: Inti ungu di dada mereka.]

Patung-patung itu tidak menyerang langsung. Mereka hanya berdiri menghalangi jalan, pedang batu terhunus, menunggu.

"Apa mereka akan menyerang?" tanya Liu Ruyan.

"Kemungkinan ya, jika kita coba lewat." Xiao Fan mengamati. "Tapi mereka tidak bergerak. Mungkin menunggu sesuatu. Ujian."

Ia melangkah maju. Patung-patung itu masih diam. Ia melangkah lagi. Masih diam. Saat ia berjarak sekitar lima meter, kedua patung itu serentak mengangkat pedang.

"Sepertinya hanya satu yang boleh lewat," kata Xiao Fan. "Atau kita harus membuktikan sesuatu."

Liu Ruyan menatap patung-patung itu. Lalu ia melangkah maju, mendahului Xiao Fan.

"Liu Ruyan—"

"Aku ingin mencoba, Guru."

Gadis itu berjalan mendekati patung-patung. Mereka tidak bergerak. Ia berhenti tepat di depan mereka, dalam jangkauan pedang batu. Matanya bersinar ungu, bukan karena Energi Kegelapan, tapi karena cahaya dari lantai memantul di pupilnya.

"Aku Putri Kegelapan," katanya, suaranya bergetar tapi tegas. "Keturunan Raja Kegelapan Pertama. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku, dan untuk menyelamatkan seseorang yang kusayangi. Biarkan aku lewat."

Keheningan.

Lalu, perlahan, kedua patung itu menurunkan pedang mereka. Mereka mundur ke samping, memberi jalan. Cahaya ungu di mata mereka berkedip pelan, lalu padam. Mereka kembali menjadi patung biasa, membeku di tempat.

Xiao Fan menghela napas lega. "Rupanya mereka mengenali darahmu."

Mereka melanjutkan ke ujung aula. Altar itu semakin dekat. Di atasnya, dua benda berkilau diterpa cahaya ungu dari lantai.

Sebuah pedang pendek hitam—sama seperti fragmen sebelumnya, tapi dengan bilah yang lebih panjang dan ukiran yang lebih rumit. Fragmen ketiga Pedang Penelan Surga.

Dan sebuah botol kristal kecil berisi cairan bening yang berkilauan dengan cahaya ungu dan emas sekaligus. Air Mata Kegelapan.

Liu Ruyan menatap botol itu. "Itu dia. Obat untuk adikku."

Mereka mendekati altar. Xiao Fan meraih fragmen pedang. Liu Ruyan meraih botol kristal.

Begitu tangan mereka menyentuh benda masing-masing, ruangan bergetar.

Cahaya ungu di lantai menyala terang, membutakan. Dari langit-langit, suara gemuruh menggelegar. Debu berjatuhan. Pilar-pilar berguncang.

"Apa yang terjadi?!" Liu Ruyan memegang botol itu erat-erat.

[Peringatan. Mengambil kedua artefak sekaligus memicu mekanisme penghancuran kuil. Kuil akan runtuh dalam 3 menit.]

"Kita harus keluar! Sekarang!" Xiao Fan meraih tangan Liu Ruyan.

Mereka berlari. Di belakang mereka, pilar-pilar mulai retak. Potongan batu berjatuhan dari langit-langit. Patung-patung penjaga di samping ikut hancur tertimpa reruntuhan.

Xiao Fan mengaktifkan Langkah Bayangan Senyap, menyeret Liu Ruyan dengan kecepatan maksimal. Aula yang tadi terasa panjang kini seperti tidak berujung. Pintu keluar—mulut naga itu—sudah terlihat. Cahaya matahari di luar begitu kontras dengan kegelapan di dalam.

Satu pilar besar di depan mereka mulai tumbang.

"Lompat!"

Mereka melompat bersamaan. Pilar itu jatuh tepat di belakang mereka, menghantam lantai dengan suara memekakkan telinga. Debu dan serpihan batu beterbangan.

Mereka mendarat berguling di pasir abu-abu di luar kuil. Tepat di belakang mereka, seluruh bangunan Kuil Bayangan ambruk dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah. Debu membubung tinggi, menutupi langit.

Xiao Fan terbatuk, membersihkan debu dari wajahnya. Di sampingnya, Liu Ruyan terduduk, terengah-engah, tapi botol kristal masih tergenggam erat di tangannya.

"Kita... berhasil," bisiknya.

Xiao Fan menatap reruntuhan kuil. "Ya. Tapi kita kehilangan semua informasi di dalamnya."

Ia menatap fragmen pedang di tangannya. Sistem di kepalanya bersuara.

[Fragmen ketiga Pedang Penelan Surga diperoleh. 3/7 terkumpul.]

[Mengintegrasikan fragmen...]

Fragmen itu meleleh menjadi energi hitam, mengalir ke dadanya. Di lautan kesadarannya, Pedang Penelan Surga kini memiliki tiga fragmen yang menyatu. Bentuknya semakin solid. Dan kemampuan baru muncul.

[Integrasi selesai. Kemampuan baru terbuka: Perisai Dimensi—mampu menciptakan perisai yang meniadakan satu serangan fisik atau energi per hari.]

[Kultivasi meningkat: Kondensasi Qi Lapis Ketujuh.]

Dua lapis dalam waktu singkat. Tapi yang lebih berharga adalah Perisai Dimensi. Itu bisa menyelamatkan nyawa melawan Xue Lang.

Liu Ruyan menatap botol di tangannya. "Guru, kita harus cepat kembali. Adikku..."

Xiao Fan mengangguk. Ia berdiri, membantu Liu Ruyan bangkit. "Ayo. Kita kembali lewat terowongan. Xue Lang tidak akan tahu kita sudah keluar."

Mereka berjalan menjauh dari reruntuhan kuil, menuju celah batu tempat terowongan tersembunyi. Di tangan Liu Ruyan, Air Mata Kegelapan berkilau, menjanjikan kesembuhan. Di dalam diri Xiao Fan, fragmen ketiga beresonansi dengan dua lainnya, membisikkan kekuatan yang lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!