Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Tahun Berlalu
Clarissa melangkah keluar dari mal dengan wajah merah padam,
"Di mana sebenarnya wanita miskin itu berada, Mah?!"
teriaknya clarissa.
Siska segera meraih tangan putrinya,
mencoba meredam amarah clarissa,
"Sudahlah, Sayang. Justru bagus kalau wanita itu tidak ada semoga saja wanita itu tidak ada di kota ini.
Sekarang mending kamu fokus hanya pada Arkan, dan jangan mau kalah dengan wanita itu.
Mulai sekarang, kamu harus tampil lugu, Buat dia merasa kamu adalah wanita paling anggun yang pantas mendampinginya. Lama-kelamaan, dia pasti akan luluh."
Clarissa menarik napas dalam,
mencoba menenangkan dirinya,
"Iya, Mah. Aku akan lakukan itu. Mulai hari ini, aku akan bersikap anggun dan lembut di depan arkan."
Siska tersenyum puas.
"Nah, begitu dong. Itu baru putri Siska Wijaya."
Sejak hari itu,
Clarissa benar-benar merubah sikapnya.
Ia bersikap seolah-olah ia adalah wanita paling anggun di depan arkan.
Namun,
Sikap arkan masih tetap dingin.
Sudah berlangsung selama enam tahun,
arkan tidak menghiraukannya.
Baginya,
Clarissa hanyalah bayangan yang mengganggu.
Enam tahun pun berlalu.
Di sudut kota kecil yang tenang,
Arsen Adistira tumbuh menjadi sosok yang riang, pintar, dan sangat tampan.
Wajahnya adalah cerminan sempurna dari seseorang di masa lalu zevanya,
Zevanya menatap putra nya yang sedang asyik bermain.
"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat... sekarang kamu sudah enam tahun, Sayang,"
ucap zevanya dengan mata berkaca-kaca.
"Arsen"
panggil Zevanya lembut.
"Besok kita harus bersiap, ya. Kita akan pergi ke sekolah barumu."
"Iya, Mah"
sahut Arsen riang, tawanya memenuhi ruangan.
Ada rasa bangga di diri Zevanya.
Ia berhasil membesarkan Arsen seorang diri tanpa sosok pendamping,
bahkan mampu membangun bisnis kecil yang sukses.
Zevanya berniat kembali ke kota besar,
untuk mencari peruntungan yang lebih besar lagi demi masa depan Arsen.
Zevanya memanggil karyawannya Bu Rumi,
untuk menitipkan usahanya.
"Bu, saya titip kios ini. Saya akan kembali bekerja di kota dan mungkin akan menetap di sana bersama Arsen.
Ibu tolong kirimkan laporan setiap hari, ya. Catat semua pemasukan dan pengeluaran di buku keuangan,
Karna kalau Usaha ini tidak di teruskan sayang,
kios ini sudah ramai lagipula aku tidak mau ibu sibuk mencari pekerjaan lagi"
Zevanya menjelaskan detail pembagian gaji dan biaya operasional dengan teliti.
"Keuntungannya nanti Ibu transfer ke saya setiap hari setelah dipotong biaya belanja stok. Saya akan tetap datang untuk mengontrol semuanya."
Bu Rumi mengangguk,
wajahnya nampak sedih.
"Baik, Non Zevanya. Hati-hati di sana ya, Non. Kalau di sana sulit, pulang kesini ya non."
Zevanya tersenyum.
"Tenang saja, Bu Rumi. Arsen juga akan saya sekolahkan di kota tempat saya tinggal dulu.
Oh iya, Ibu tempati saja rumah saya ini. Anggap saja ini fasilitas agar Ibu tidak perlu capek pulang-pergi."
Bu Rumi terharu,
hampir meneteskan air mata.
"Terima kasih banyak, Non. Non Zevanya baik sekali sudah membantu ibu,
padahal Non sendiri punya tanggung jawab besar membesarkan anak."
"Sama-sama, Bu. Kita saling membantu ya,"
ucap Zevanya.
Keputusan zevanya sudah bulat.
Besok,
ia akan kembali ke kota yang penuh kenangan pahit itu.
Ia tidak tahu bahwa di sana,
Arkananta Mahendra,
masih terjebak dalam obsesi akan aroma mawar,
yang dimiliki Zevanya.
Zevanya berdiri di ambang pintu,
menatap langit senja sambil merapikan jaketnya.
Di dalam hatinya, sebuah keputusan besar telah terbentuk kuat.
"Aku akan kembali,"
batin Zevanya.
"Kembali ke kota tempat aku tumbuh besar di panti asuhan.
Kota yang menjadi saksi bisu saat aku tidur bersama pria asing dan dia menyebut nama mahendra.
Meski menetap di sini terasa tenang, hatiku tetap tertinggal di sana."
Ia membayangkan keramaian kota besar,
terutama gedung pencakar langit Mahendra Group,
yang dulu sering ia tatap dari kejauhan dengan penuh kekaguman dan keraguan.
"Mungkin akan sulit memulai lagi, tapi di sana ada panti asuhan tempatku dibesarkan.
Mereka adalah satu-satunya keluarga yang aku punya dan aku merindukan mereka.
Aku juga ingin Arsen tahu dari mana ibunya berasal.
Aku sudah menemukan kontrakan yang cukup untuk kami berdua, dan sekolah baru Arsen di sana pun sudah siap."
Zevanya menghela napas panjang,
mencoba membuang rasa takutnya jauh-jauh.
"Mahendra Group... kota penuh kenangan itu....
Zevanya menatap tabungannya.
Rencana di kepalanya sudah tersusun rapi,
" Sesampainya di sana aku akan mencari pekerjaan.
Aku akan bekerja, namun kios ini akan tetap ku jalankan.
aku akan mengurusnya dari jauh. Dan Setiap hari libur,
aku akan pulang ke sini untuk memastikan semuanya baik-baik saja,"
batin Zevanya.
Zevanya teringat sosok Bu Rumi yang tulus.
Ada alasan kuat bagi nya,
mengapa ia begitu mempercayakan usahanya pada wanita itu.
"Setiap rupiah keuntungan yang dikirim Bu Rumi akan kusisihkan ke tabungan ini untuk masa depan Arsen.
Aku juga percaya sepenuhnya pada bu rumi. Kami memiliki nasib yang serupa—hidup sebatang kara tanpa suami, anak, dan saudara.
Itulah sebabnya aku ingin membantunya juga."
Pikiran Zevanya kemudian beralih ke sebuah bangunan sederhana,
dengan halaman luas yang selalu hangat di ingatannya.
"Duniaku memang sempit, tapi nyata. Keluarga yang aku kenal hanyalah mereka yang ada di Panti Asuhan Kasih.
Mereka adalah tempatku pulang, satu-satunya yang membuat aku berada di dunia ini.
Kota besar itu mungkin kejam, tapi selama aku memiliki Arsen dan keluarga di panti, aku yakin bisa bertahan."
Pagi itu, suasana di depan kios burger terasa berbeda.
Tas-tas besar sudah tersusun rapi,
menandakan akhir dari sebuah perjalanan panjang di kota kecil itu.
"Bu Rumi, saya berangkat sekarang ya,"
ucap Zevanya dengan suara yang sedikit bergetar,
mencoba menahan tangis.
Bu Rumi menatap Zevanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, Non. Hati-hati di jalan."
"Ibu segera bersiap untuk pindah ke rumah ini ya, Bu. Daripada rumah ini kosong, lebih baik Ibu yang menempatinya.
Semangat terus berjualan, Bu. Tapi ingat, kalau Ibu merasa capek, jangan dipaksakan.
Tidak apa-apa libur dulu, yang penting Ibu kabari saya,"
pesan Zevanya dengan penuh perhatian.
Bu Rumi mengangguk pelan,
ia meraih tangan Zevanya dan menggenggamnya erat.
"Baik, Non. Terima kasih banyak. Non Zevanya selama ini baik sekali dengan Ibu. Selama enam tahun ini,
Ibu merasa seperti memiliki anak lagi, Non sudah Ibu anggap seperti anak sendiri."
Zevanya tersenyum,
air mata jatuh namun ia segera mengusapnya.
Ia memeluk bu rumi yang telah menemaninya dalam suka dan duka membesarkan Arsen.
"Ibu juga sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri, Bu. Jaga kesehatan ya,"
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪