NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Jebakan Cahaya

Pagi itu terasa tenang.

Terlalu tenang.

Langit di atas Akademi Kerajaan Averion tampak pucat, tertutup awan tipis yang meredam cahaya matahari. Angin hampir tidak berhembus. Bahkan suara langkah para murid pun terdengar lebih pelan dari biasanya.

Sakura berjalan menuju kelas seperti biasa.

Langkahnya ringan… namun hatinya tidak.

Sejak tadi ada sesuatu yang mengganjal.

Lorong yang ia lewati terasa berbeda.

Tidak ada bisikan.

Tidak ada tawa mengejek.

Tidak ada tatapan sinis.

Semua… terlalu sepi.

“…Aneh…”

Langkahnya melambat.

Matanya menyapu sekeliling.

Kosong.

Seolah semua orang menghilang.

Atau menjauh dan saat itu

Seorang murid muncul dari sisi lorong.

Langkahnya cepat.

Namun raut wajahnya gugup.

“Sakura…”

Sakura berhenti.

“…Ada apa?”

Murid itu menelan ludah.

Tatapannya tidak berani bertemu mata Sakura terlalu lama.

“Guru alkimia mencarimu.”

Sakura sedikit terkejut.

“Master Kaelen?”

Murid itu mengangguk cepat.

“Iya… katanya… di ruang penyimpanan bawah.”

Sakura mengernyit.

“…Bawah?”

Tempat itu jarang digunakan.

Bahkan sebagian murid tidak tahu keberadaannya.

“Katanya penting,” lanjut murid itu buru-buru.

“Suruh datang sekarang.”

Tanpa menunggu jawaban ia langsung pergi.

Langkahnya cepat.

Hampir seperti… melarikan diri.

Sakura berdiri diam.

Rasa aneh itu semakin kuat.

Sesuatu tidak beres.

Namun ia tetap berjalan.

“…Mungkin latihan tambahan…”

Atau begitu ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Lorong bawah akademi.

Tempat itu sunyi.

Gelap.

Lembap.

Dinding batu tua dipenuhi lumut tipis. Bau tanah basah tercium samar di udara.

Langkah Sakura bergema pelan.

Setiap suara terasa lebih keras di tempat itu.

Semakin dalam ia masuk semakin dingin.

Udara terasa berat.

Menekan.

“…Kenapa di sini…”

Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.

Permukaannya kasar.

Sedikit lapuk.

Seolah jarang disentuh.

Sakura menghela napas pelan.

Lalu mendorongnya.

CREAK…

Suara engsel tua bergema.

Ruangan di dalamnya gelap.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

“…Master Kaelen?”

Suaranya menggema pelan.

Tidak ada jawaban.

Sakura melangkah masuk.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Dan saat itu

BRAK!

Pintu tertutup keras di belakangnya.

Sakura tersentak.

“…!”

Ia langsung berbalik.

Menarik gagang pintu.

Tidak bergerak.

Terkunci.

Dan dalam sekejap cahaya muncul di lantai.

Lingkaran sihir.

Simbol-simbol bercahaya membentuk pola kompleks.

Mengurungnya.

“Apa ini?!”

Energi itu langsung aktif.

Tekanan menyebar dari bawah kakinya.

Naik.

Mengunci tubuhnya.

Seperti rantai tak terlihat.

Sakura mencoba melangkah namun tubuhnya tertahan, seolah ada dinding yang tidak bisa ditembus.

Dan saat itu suara tepukan pelan terdengar.

Tep.

Tep.

Tep.

Sakura menoleh.

Dari sudut gelap ruangan

Claudia muncul.

Langkahnya santai.

Senyumnya tipis.

Namun dingin.

“Selamat datang.”

Sakura menatap tajam.

“…Kau.”

Claudia mendekat perlahan.

Sepatu hitamnya menyentuh lantai dengan ritme tenang.

“Aku penasaran,” katanya ringan.

“Kenapa kau tidak mati-mati.”

Sakura menggertakkan gigi.

“Kau yang memanggilku ke sini?”

Claudia tertawa kecil.

“Tentu saja.”

Ia mengangkat tangannya.

Menunjuk lingkaran sihir itu.

“Ini…”

“…khusus untukmu adikku” dengan senyum mengejek.

Cahaya lingkaran itu mulai bersinar lebih terang.

Simbol-simbolnya berdenyut.

Seperti hidup.

Sakura mencoba melangkah keluar namun tubuhnya tertahan lebih kuat.

“Ugh!”

Tekanan meningkat.

Tidak hanya menahan tapi menekan.

Seolah mencoba menghancurkan dari dalam.

“Lingkaran penahan,” jelas Claudia santai.

“Tidak akan membunuhmu…”

Ia menyeringai.

“…tapi cukup untuk membuatmu menderita.”

Sakura mencoba melawan.

Menggerakkan tubuhnya.

Mendorong keluar.

Namun semakin ia melawan…

Semakin sakit.

Energi itu merespon.

Menekan lebih dalam.

“UGHH!”

Ia jatuh berlutut.

Tangannya mencengkeram lantai.

Napasnya mulai kacau.

Di dalam tubuhnya aliran energi kembali tidak stabil.

Meridian yang baru saja mulai terbuka

dipaksa bekerja di bawah tekanan.

Dan itu…

terasa seperti robekan dari dalam.

“Kenapa…?” bisiknya pelan.

Claudia berhenti tepat di depannya.

Tatapannya dingin.

“Karena aku benci melihatmu berubah.”

Hening.

Kata-kata itu jatuh pelan

namun berat.

“Kau seharusnya tetap lemah.”

Nada suaranya tidak tinggi.

Namun jelas.

Tanpa ragu.

Cahaya lingkaran semakin kuat.

Tekanan meningkat.

Sakura menunduk.

Tubuhnya gemetar.

“AAH!”

Rasa sakit menjalar dari dadanya.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Seolah sesuatu di dalam dirinya

dipaksa bangkit.

Claudia menatapnya tanpa simpati.

“Ayo…”

“Tunjukkan lagi yang kemarin itu…”

Namun tidak ada yang keluar.

Tidak ada kekuatan.

Tidak ada ledakan.

Hanya rasa sakit.

Sakura menggertakkan gigi.

Tubuhnya bergetar hebat.

Dan saat itu

DUMM…

Suara itu.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih dalam.

Lebih dekat.

Seolah datang dari bawah tanah.

Dari dalam akademi.

Dari arah segel.

Sakura membeku.

Matanya melebar.

Dadanya terasa panas.

“Ugh…!”

Energi di dalam tubuhnya bereaksi.

Bukan karena dirinya.

Tapi karena panggilan itu.

Cahaya lingkaran mulai bergetar.

Simbolnya berdenyut tidak stabil.

Claudia terkejut.

“Apa…?”

Sakura mengangkat wajahnya perlahan.

Matanya bergetar.

Tidak fokus.

Namun bukan kosong.

Ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang bangkit.

Angin tipis mulai berputar di sekelilingnya.

Pelan.

Namun terasa.

Seperti tekanan yang membalik arah.

Lingkaran cahaya retak.

Sedikit.

Namun cukup terlihat.

Claudia menyipitkan mata.

“Jadi… kau memang menyembunyikan sesuatu…”

Ia mengangkat tangannya.

Cahaya berkumpul lebih besar.

Lebih padat.

Lebih kuat.

“Kalau begitu…”

“…aku paksa keluar.”

Cahaya itu turun.

Menghantam lingkaran.

Menambah tekanan.

“AAAH—!”

Sakura menjerit.

Tubuhnya bergetar hebat.

Energi di dalamnya meledak.

Namun tidak keluar.

Seolah terperangkap.

Tertahan.

Dipaksa tetap di dalam.

Cahaya di tubuhnya muncul namun tidak stabil.

Berkedip.

Hampir padam.

Seperti api yang kekurangan udara.

Claudia menatapnya tajam.

Menunggu.

Namun alih-alih meledak, tubuh Sakura melemah.

Energi itu meredup.

Menghilang.

Lingkaran kembali stabil.

Sakura jatuh.

Tubuhnya tergeletak.

Tidak bergerak.

Hening.

Claudia menatapnya beberapa detik.

“…Hah.”

Ia mendengus.

“Cuma segini?”

Ia berbalik.

Jelas kecewa.

“Buang-buang waktu.”

Langkahnya menuju pintu.

Namun sebelum keluar ia berhenti.

Melirik Sakura sekali lagi.

Tatapannya berubah sedikit.

Tidak lagi sekadar meremehkan.

“…Tapi…”

“Aku tidak akan membiarkanmu berkembang.”

Pintu terbuka.

Lalu

tertutup kembali.

BRAK.

Sakura tertinggal sendirian.

Tubuhnya tidak bisa bergerak.

Namun pikirannya masih sadar.

“…Suara itu…”

Dadanya terasa panas.

Berdenyut.

Seolah sesuatu di dalam dirinya

menjawab panggilan itu.

Pelan.

Namun pasti.

Beberapa saat kemudian

Pintu terbuka lagi.

Langkah cepat masuk.

Kaelen.

Tatapannya langsung tajam.

“Sakura.”

Ia melihat lingkaran sihir.

Dan kondisi Sakura.

Wajahnya langsung berubah.

Untuk pertama kalinya

emosi terlihat jelas.

“…Terlambat.”

Ia mengangkat tangannya.

Menghancurkan lingkaran itu dalam satu gerakan.

Cahaya pecah.

Simbol menghilang.

Tekanan lenyap.

Sakura jatuh bebas.

Kaelen menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam lantai.

“Bodoh…”

Suaranya rendah.

Namun kali ini tidak sepenuhnya dingin.

Ada sesuatu di dalamnya.

Kemarahan.

Atau…

ketergesaan.

“Siapa yang melakukan ini?”

Sakura mencoba bicara.

Napasnya berat.

“…Claudia…”

Kaelen menutup matanya sejenak.

“…Aku sudah menduga.”

Ia mengangkat Sakura.

Membawanya keluar.

“Kau masih hidup…”

“…itu sudah cukup.”

Namun di dalam pikirannya suaranya berbeda.

"Resonansi meningkat…"

"Perkembangannya terlalu cepat…"

Matanya menyipit.

"Bagus…"

Namun wajahnya tetap dingin.

Tidak menunjukkan apa pun.

Hanya satu hal yang jelas

Sakura…

masih berada dalam rencananya.

-----

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!