Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08 Sepiring Berdua
Santaka menggoyangkan rahangnya. Kepalanya menggeleng perlahan. Nandini ini perempuan bodoh, tak tahu diri atau bagaimana?
Wanita itu jelas-jelas tak mau ada rekonstruksi ulang adegan di mobil Santaka—yang membuat mereka nikah paksa—dalam waktu dekat, tapi malah memancing di syahwat—eh, air keruh.
Lihatlah bagaimana wanita itu tidur. Posisinya telentang dengan kaki melebar. Tungkai jenjangnya hingga setengah paha terpampang nyata.
Kulit kuning langsatnya yang cerah bersinar terekspos sempurna, bahkan dalam kamar remang-remang. Profesi boleh montir, penampilan membuat pria ketar-ketir.
Yang paling bombastis dan membuat Santaka kurang tidur adalah dengan kaus tipis yang istrinya pakai, ia malah melepas pakaian dalam atasnya. Santaka paham itu atas dasar kenyamanan dan kesehatan.
Tapi seharusnya Nandini melihat-lihat situasi. Sekarang ia tidur sekamar—koreksi—sekasur dengan pria dewasa, normal dan berstatus suaminya. Kaus tipis itu memberikan kesan yang malah membuat penasaran. Ada lekuk tersamar dan parahnya... putik tercetak. Gadis edan!
“Mbak Dini... Mbak...” Santaka menggoyangkan bahu istrinya. Ingin hati, tangannya diperbolehkan bergeser sedikit ke arah yang tercetak tapi Santaka yakin Nandini akan mereog.
Masih jauh dari Subuh, masa mau disidang lagi karena bertengkar di malam pertama. Bertengkar dalam arti sebenarnya.
“Mbak, kita solat tahajud dulu yuk.” Santaka kembali mengguncang pundak istrinya. “Mbak, ayo. Nanti keburu Subuh.”
Nandini bergumam. “Apa sih? Ganggu pol!” Nandini memiringkan tubuh ke arah Santaka. Tangan kirinya menimpa paha lelaki itu.
Santaka menutup matanya. Lama-lama ia serang juga Nandini. Bukankah kata orang-orang serangan fajar itu mantap?
“Mbak, tangan Mbak di atas paha saya. Saya bales ya,” bisik Santaka.
Perlahan mata Nandini terbuka, ia terdiam, mengumpulkan nyawa. Wanita itu bangkit, duduk, dalam gerakan cepat.
Tersadar sesuatu, Nandini menyilangkan tangan di depan dadanya. Matanya menyorot tajam pada Santaka.
“Gus, liat ndak?”
Santaka tersenyum simpul. “Ya liat, saya punya mata, Mbak.”
Mata Nandini menyipit. Rahangnya bergoyang. Mau marah tapi itu kesalahannya sendiri. Ia berlari terbirit-birit ke kamar mandi.
Santaka terkekeh. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Nandini berjalan cepat ke arah kasur. Masih menyilangkan tangan kiri di dada, tangan kanannya menyambar cepat bra di pinggir kasur.
“Apa liat-liat?!” Mata Nandini mendelik kepada Santaka. Lelaki itu tergelak. Kepalanya menggeleng.
*
*
Nandini menusukkan jarum pentulnya ke kain kerudung segiempat berwarna khaki. Ia mematut diri di cermin.
Santaka menatap aksi istrinya dari kasur. Ia bangkit dan berdiri di samping Nandini. Ikut memastikan kerapian penampilannya melalui cermin.
Nandini memiringkan bibirnya. Ia bergeser. Santaka tak mengindahkannya. Ia mengantuk tapi kini saatnya mereka sarapan.
“Mbak, biar orang-orang ndak curiga nanti Mbak jangan terlalu dingin sama saya. Agak mepet-mepet. Kayak pengantin baru saja.
Terus kalau bisa mesra. Umi sama Abi itu mesra, jadi mereka suka kalau anak-anaknya juga mesra.”
“Harus ya?”
“Pilih mana, pura-pura mesra di depan orang atau saya mesra beneran di atas kasur?” Santaka mengangkat alisnya.
Nandini merengut. “Tapi jangan modus, Gus, pura-puranya!”
“Ya... tipis-tipis bolehlah.” Santaka terkekeh. Nandini menatap geram. Tangannya gatal ingin menonjok sang suami.
Sepasang pengantin baru itu berjalan ke arah ruang dalam Ndalem, sebuah ruangan tempat keluarga Mansur bercengkerama. Abdi ndalem yang mereka lewati, mengangguk takzim, yang dibalas hormat serupa oleh Santaka.
Nandini lebih banyak meringis. Tak terbiasa orang menganggapnya setinggi itu.
Santaka menggenggam tangan Nandini. Wanita itu terkesiap, dahinya mengernyit. Ia menahan langkah suaminya.
“Sebentar lagi kita masuk ruang dalam. Kita senangkan hati Abi Umi,” bisik Santaka. Nandini menahan napasnya.
“Assalamu’alaikum.” Suara bariton Santaka mengalun ketika mereka memasuki ruang dalam. Semua menoleh dan menjawab serempak. “Wa’alaikumsalam.”
Seluruh keluarga sudah berkumpul termasuk Ahsan, sepupu dan Syifa, anak sahabat Lastri, yang merupakan mantan calon dijodohkan. Belum sempat dijodohkan sudah disalip Nandini. Berkat campur tangan kecoa.
“Wah, akhirnya... Pengantin baru kita datang. Capek tenan mukanya, joss Taka?” Semua tertawa karena gurauan Danendra. Husna memukul lengan suaminya.
“Masuk, Le, Nduk. Sini duduk dekat Abi sama Umi.” Lastri menepuk permukaan karpet merah tebal di sampingnya.
Syifa tercekat melihat kedatangan Santaka, yang sayangnya bersama istri barunya. Hatinya perih melihat raut wajah Santaka yang cerah walau matanya terlihat mengantuk.
Apa sebegitu dahsyatnya malam pertama gus yang terkenal paling kalem di antara saudaranya itu?
Kalbu Syifa makin teriris ketika menyaksikan sendiri Santaka menggenggam erat tangan Nandini. Jemari mereka saling tertaut. Tangan kokoh Santaka yang terjaga dari lawan jenis, kini dikuasai Nandini.
Beruntung sekali wanita itu. Amalan apa yang Nandini miliki hingga bisa semujur itu?
Ahsan menatap Nandini sebelum akhirnya menunduk. Setelah kemarin tersihir melihat penampilan Nandini dalam cadar. Gaya wanita itu dalam mode Ning kembali menghanyutkan Ahsan.
Ada rahasia dalam hati Ahsan. Sebenarnya ia telah menaruh hati dari sekitar tiga bulan lalu pada Nandini. Pembawaannya yang hangat dan unik—serta tak munafik—karena kecantikannya, memikat Ahsan.
Gus muda itu tak berani melanjutkan perasaannya karena ia meyakini perasaannya akan tertolak oleh keluarganya. Tak mungkin pondok Al Fatih atau pondok ayahnya di Magelang akan merestui wanita dengan latar belakang seperti Nandini.
Bagaikan komet di langit malam, Santaka—sepupunya—menikahi pujaan hati Ahsan secara tiba-tiba, dengan mudahnya. Tanpa kendala.
Ahsan tak terima. Seandainya ia seberani Santaka. Sepupunya yang tampak klemer-klemer itu ternyata berani memperjuangkan cintanya.
Nandini duduk di samping Lastri. Santaka berposisi di sebelah sang istri. Duduk merapat. Lutut mereka menempel. Yang melekatkan tentu saja, Santaka. Ia tersenyum simpul pada Nandini, yang hanya mampu tersenyum kaku.
“Ahlan wa sahlan, Mbak Dini,” Lastri tersenyum.
“Jawab ahlan biki Umi,” bisik Santaka di telinga sang istri. Nandini menjawab sesuai instruksi sang suami. Lastri mengelus lengan menantunya. Syifa menunduk, iri.
“Mbak Dini, kita sekarang mau sarapan. Sesuai sunah rasul, untuk menambah keberkahan dan rasa cinta di antara suami istri, yang sudah menikah di sini, makan sepiring berdua, kembulan istilahnya.” Lastri menunjuk piring yang sudah tersaji di depan Nandini.
Nandini mengedarkan pandangan. Setiap pasangan—Abi-Umi; Abyasa-Sarah; Danendra-Husna—juga memiliki piring sejenis di depan mereka.
Walah, bener-bener suka kemesraan ternyata Abi sama Umi. Pantes Gus Roti modusnya kenceng. Mendarah daging.
“Silakan semua, kita mulai makan.” Lastri sebagai nyonya rumah mempersilakan semuanya untuk makan.
Terdengar ucapan basmallah dari tiap orang. “Kita makan pakai tangan, biasa disebut muluk, sunah Rosul,” bisik Santaka. Nandini mengangguk.
Nasi liwet itu menggoyang lidah Nandini. Dengan lahap ia menyuap makanan bercita rasa gurih itu. Tiba-tiba tangan besar Santaka yang berisi makanan, muncul di depan mulut Nandini.
“Aaa, Mbak, biar kita berkah, saling nyuapin.” Mata Santaka mengerling.
Mata Nandini membulat, bibirnya menipis. Tangan Santaka malah menempel di bibir tebal Nandini. Mau tak mau, ia membuka mulutnya.
Dengan perlahan, nasi dan kawan-kawan, masuk ke dalam mulut Nandini. Santaka mengelus bibir istrinya. Wanita itu makin melotot.
“Alhamdulillah...” Suara Lastri terdengar.
Aduh, ibu mertua, jangan terlalu ikut campur. Anak Umi modus ini. Caper tenan!
Santaka tersenyum menggoda pada Nandini. “Sekarang suapin saya, kita ganti-gantian.”
Nandini menahan napas. Tangan kanannya menyuapi Santaka, tangan kirinya mengepal.
Santaka kembali menyuapi Nandini, berulang, bergantian dengan suapan Nandini kepada dirinya. Setiap suapan Santaka akhiri dengan membelai lembut bibir istrinya.
Nandini merapatkan rahangnya. Ia menelusupkan tangannya ke lipatan sarung Santaka, ia cubit paha suaminya itu. Cubitan memutar, pedas. Santaka mendelikkan matanya. Nandini tersenyum tipis.
Aksi Nandini terpindai Syifa. Makanannya terasa tersangkut di kerongkongan. Ia buru-buru minum. Pasangan baru itu sungguh mesra, panas, bahkan di depan keluarga.
Ahsan memelankan kunyahannya. Inilah sisi menarik dari wanita di luar pondok, menurut Ahsan, mereka lebih ekspresif. Lebih membakar kelaki-lakiannya.
Seperti yang dilakukan oleh Nandini, menggoda suami, kapan pun, di mana pun. Api gairah yang membara, sangat menarik.
Akhirnya makanan di piring mereka berdua habis. Nandini mengembuskan napas panjang. Mereka mencuci tangan dengan air kobokan yang dilengkapi jeruk nipis.
“Enak makanannya, Nduk? Cocok sama masakan di sini?” tanya Lastri. Nandini tersenyum, terenyuh dengan perhatian sang ibu mertua.
Nandini menggangukkan kepala. “Alhamdulillah, cocok Umi. Takut tapi Umi.”
“Takut apa?” Lastri mengerutkan dahi.
“Takut Dini nanti gendut,” seloroh Nandini. Lastri terkekeh dengan anggun. Nandini tersipu.
Jauh tenan sama diriku, aku kalau ketawa kayak Umi, pasti ndak anggun.
“Saya tetep cinta kok sama Mbak Dini, walau gendut.” Santaka tersenyum manis. Lastri semakin tertawa mendengar perkataan putranya. Nandini tersenyum kaku.
Dhuh, buat seneng Umi yo ndak berarti bablas modus tho, Gus Rotiii!
Setelah berbincang-bincang sejenak, keluarga Mansur membubarkan diri. Danendra dan Husna mendekati pasangan baru itu.
“Taka, ini hadiah dari Mas. Paket bulan madu. Supaya makin rapet, makin hangat.” Danendra tersenyum menggoda lalu menyodorkan amplop putih pada adiknya.
"Matur nuwun, Mas." Santaka melirik penuh arti pada Nandini.
Nandini terperangah. Bulan madu? Gusti Allah, cobaan apa lagi ini??
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj