Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Rahasia di Sepertiga Malam
Rasa nyeri yang berdenyut tajam di lengan kiriku perlahan menarikku keluar dari alam bawah sadar.
Aku membuka mata. Cahaya di dalam kamar tidur utama ini masih sangat remang, hanya diterangi pendaran lampu tidur berwarna jingga di sudut ruangan. Aku mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Ada rasa perih yang menjalar dari balik kemejaku, tempat di mana perban melilit luka sayatan pisau semalam.
Aku menoleh sedikit, melirik jam digital kecil di atas nakas sebelah kiriku.
Pukul 04.15 pagi. Waktunya sepertiga malam terakhir.
Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati agar pegas kasur tidak berderit, aku menoleh ke sisi kanan ranjang. Di balik barikade bantal dan guling yang kususun semalam, aku bisa melihat siluet Aruna. Dia tidur memunggungiku, tubuhnya meringkuk di balik selimut sutra tebal seperti seekor kucing yang mencari kehangatan. Dengusan napasnya terdengar halus dan teratur.
Melihatnya bisa tertidur setenang itu setelah malam jahanam yang nyaris merenggut nyawa kami, membuat sebuah kelegaan yang luar biasa besar mengalir membasuh dadaku. Beban ketegangan yang sedari tadi mencekik paru-paruku perlahan mengendur.
Aku menyingkap selimutku tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu beringsut turun dari ranjang king-size tersebut. Aku melangkah pelan tanpa alas kaki menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu, memastikan pintu kututup rapat agar suara gemericik air tidak mengganggu lelapnya.
Setelah selesai, aku menggelar sajadah tipisku di sudut ruangan yang menghadap kiblat, membelakangi ranjang. Aku mengangkat kedua tanganku, membuang semua urusan duniawi yang menyesakkan dada.
"Allahu Akbar."
Dalam keheningan Subuh itu, aku menyerahkan seluruh kelemahanku kepada Sang Pemilik Semesta. Di setiap sujudku, aku memanjatkan doa yang jauh lebih panjang dari biasanya.
Aku mendoakan kesembuhan Sifa, memohon agar adik kecilku itu diberi kekuatan untuk melewati masa pemulihannya di lantai bawah. Aku memohon perlindungan untuk ibuku yang harus terseret dalam pusaran bahaya ini karena keputusanku.
Namun, saat bibirku mulai merapalkan doa penutup, bayangan wajah Aruna yang menangis histeris di ruang kerjanya kemarin siang kembali berputar di kepalaku. Tangisannya yang putus asa. Ketakutannya yang begitu telanjang.
"Aku ini kutukan, Bumi. Keberadaanku hanya membawa maut bagi orang-orang yang melindungiku."
Hatiku teriris mengingat keputusasaannya. Aruna selalu menampilkan sosok CEO yang dingin, bertangan besi, dan tak tersentuh. Tapi di balik zirah mahalnya itu, ia hanyalah seorang wanita yang memikul trauma kehilangan yang begitu besar sendirian. Rendra tidak hanya membunuh suaminya; bajingan itu membunuh jiwa Aruna secara perlahan.
Ya Allah, bisik batinku dalam sujud terakhirku, membiarkan setetes air mata lolos dari sudut mataku. Jangan biarkan wanita ini merasa sendirian lagi. Jika masa lalunya adalah badai yang menghancurkan, jadikanlah hamba-Mu ini sebagai perisainya. Berikan hamba kekuatan yang lebih besar dari ancaman musuhnya, agar dia tidak perlu lagi meneteskan air mata ketakutan.
Aku mengusap wajahku, mengakhiri salat dengan salam.
Ada kedamaian aneh yang meresap ke dalam hatiku setelah menumpahkan semuanya. Keputusanku untuk tetap berada di sisinya bukan lagi didorong oleh rasa tanggung jawab atas kontrak dua miliar itu. Kontrak triliunan rupiah pun tak akan ada harganya jika dibandingkan dengan nyawa. Aku berada di sini karena aku—Bumi Arkan, seorang pria biasa—telah jatuh cinta pada Aruna Wiratmadja.
Aku melipat sajadahku perlahan. Lengan kiriku kembali berdenyut, seolah memprotes karena kugunakan untuk menopang beban tubuh saat sujud tadi.
Aku butuh mengistirahatkan lenganku sejenak sebelum harus bersiap menghadapi peperangan di kantor hari ini. Mengingat Haris adalah pengkhianatnya, tugasku hari ini akan menguras seluruh kapasitas otak dan fisikku.
Dengan langkah tak bersuara, aku kembali naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhku di sisi kiri Tembok Bantal. Aku menatap langit-langit kamar, mengatur napasku agar otot-otot di bahuku rileks.
Satu menit. Lima menit. Mataku mulai memberat. Udara dingin dari pendingin ruangan perlahan membuai kesadaranku.
Namun, tepat di saat aku hampir terlelap, sebuah pergerakan dari sisi kanan ranjang membuat mataku kembali terbuka.
Bruk.
Salah satu bantal guling yang menjadi batas demarkasi kami tiba-tiba terdorong jatuh ke lantai kayu.
Belum sempat aku memproses apa yang terjadi, sebuah beban yang hangat dan lembut tiba-tiba menimpa sisi kanan tubuhku. Sesuatu yang sangat wangi menelusup ke bawah daguku, sementara sebuah lengan ramping melingkar dengan erat di atas perutku.
Napas ku terhenti seketika. Seluruh aliran darah di tubuhku seakan berhenti mengalir, lalu berdetak dua kali lipat lebih cepat layaknya mesin yang dipaksa bekerja di luar batas maksimalnya.
Aruna.
Dia berguling dalam tidurnya, tanpa sadar menghancurkan sisa barikade bantal yang kubuat, dan kini memelukku erat seolah aku adalah guling raksasa.
Mataku membelalak lebar dalam kegelapan. Wajah Aruna terbenam tepat di ceruk dadaku. Hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit leherku secara ritmis, tepat di sela-sela kancing kemeja yang kubiarkan sedikit terbuka. Aku bahkan bisa merasakan salah satu kakinya kini menumpang dengan santai di atas kakiku.
Tuhan... ujian macam apa lagi ini? batinku menjerit panik.
Suhu tubuhku mendadak naik. Telingaku terasa panas. Insting pertamaku sebagai laki-laki yang menjaga batasan adalah mundur. Aku harus memindahkan lengannya dan bergeser menjauh. Ini sangat tidak pantas. Meskipun dia istriku secara sah, dia belum memberikan izin kepadaku untuk disentuh sedekat ini. Jika dia terbangun dan menyadari posisi ini, dia bisa merasa dilecehkan atau mengira aku memanfaatkan keadaannya saat tidur.
Dengan tangan kanan yang sedikit gemetar, aku perlahan mengangkat lenganku di udara, berniat menyentuh lengannya untuk melepaskan pelukannya di perutku.
Namun, saat jemariku baru berjarak satu sentimeter dari punggung tangannya, Aruna mengerang pelan dalam tidurnya.
Dia tidak melepaskan pelukannya. Sebaliknya, wanita itu justru semakin merapatkan tubuhnya padaku. Kepalanya sedikit mendongak, mencari posisi yang lebih nyaman di atas dadaku, lalu mendesah pelan dengan nada yang sangat damai.
Tanganku membeku di udara. Aku menunduk, menatap wajahnya dari jarak yang sangat, sangat dekat.
Tidak ada riasan tajam. Tidak ada tatapan intimidasi khas seorang bos. Di bawah bias cahaya jingga ini, Aruna terlihat sangat polos, rapuh, dan luar biasa lelah. Kantung matanya terlihat membayang. Gurat ketegangan yang selalu menghiasi dahinya kini mengendur sempurna, tergantikan oleh ekspresi tenang yang baru pertama kali kulihat sejak awal aku mengenalnya.
Dia merasa aman. Di dalam dekapanku, dia akhirnya bisa beristirahat dari rentetan teror dan kecemasan yang menyiksanya.
Pikiranku berdebat hebat. Logikaku berteriak agar aku menyingkirkannya. Jika aku memindahkannya sekarang, dia mungkin akan terbangun. Tidur nyenyaknya yang sangat berharga akan rusak. Tapi jika aku diam...
Luka di lengan kiriku mulai berdenyut nyeri karena sebagian berat kepalanya menekan area bahu kiriku. Rasa pegal perlahan menjalar di tulang punggungku karena aku harus berbaring kaku tanpa berani bergerak satu milimeter pun.
Namun, menatap bulu matanya yang lentik tertutup rapat dan merasakan napas teraturnya di dadaku... aku membuat sebuah keputusan gila.
Persetan dengan nyeri di lenganku, putusku dalam hati.
Aku menurunkan kembali tangan kananku. Alih-alih melepaskan pelukannya, lenganku bergerak turun, melingkari pinggangnya secara refleks. Sebuah gerakan naluriah untuk melindunginya agar ia tidak merasa kedinginan atau jatuh dari tepi ranjang.
Aku memeluknya balik. Sangat berhati-hati, seringan bulu agar tidak membangunkannya, namun cukup erat untuk memberinya rasa aman.
Maka dimulailah ujian fisik dan mental terberat dalam hidupku.
Jam demi jam berlalu. Suara jarum jam dinding yang berdetik terasa sangat lambat. Lengan kiriku yang terluka mulai mati rasa. Punggungku kram parah. Aku bahkan harus mengatur ritme napasku sepelan mungkin agar dadaku tidak terlalu naik-turun dan mengganggu posisi lelapnya. Setiap kali dia sedikit menggeliat, jantungku nyaris melompat keluar dari rongganya.
Namun anehnya, di balik semua siksaan fisik itu, ada kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi rongga dadaku.
Aroma parfum chamomile-nya yang lembut mengusir semua stres di kepalaku. Merasakan detak jantungnya yang berpadu dengan detak jantungku membuatku merasa... utuh. Sepanjang hidupku, aku selalu sibuk mengurus orang lain. Baru kali ini, aku merasa bahwa tugasku melindungi seorang wanita membawa kedamaian yang begitu absolut bagi diriku sendiri.
Cahaya keemasan matahari perlahan mulai menerobos masuk dari celah gorden, menyinari kamar secara bertahap.
Sudah hampir dua jam aku menjadi patung bernapas.
Tiba-tiba, aku merasakan pergerakan. Tangan Aruna yang berada di perutku sedikit ditarik mundur. Hembusan napasnya mulai berubah ritme. Dia mulai bangun.
Kepanikan absolut kembali menghantam ulu hatiku.
Gawat. Jika dia membuka mata, melihatku sudah bangun, dan menyadari aku membiarkan posisi ini selama berjam-jam tanpa berusaha membangunkan atau menyingkirkannya, dia pasti akan marah besar! Dia akan sangat malu dan menyalahkanku!
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menutup mataku rapat-rapat. Aku merilekskan rahangku yang sejak tadi mengeras, mengatur napasku agar terdengar berat dan dalam seperti orang yang sedang berada di fase tidur. Aku harus bersandiwara seolah-olah aku baru saja akan bangun!
Dalam kepura-puraanku, aku menggunakan seluruh indra perabaku.
Aku bisa merasakan tubuhnya tiba-tiba menegang. Otot-ototnya kaku. Napasnya terhenti seketika. Dia pasti baru saja membuka matanya dan menyadari posisinya.
Aku merasakan tangannya ditarik dari perutku dengan gerakan yang sangat pelan—seperti seorang pencuri amatir yang mencoba melewati sensor laser bank. Aku harus mati-matian menahan senyum geli di bibirku. Usahanya untuk tidak membangunkanku benar-benar menggemaskan.
Lalu kakinya perlahan ditarik bergeser menjauh.
Namun, saat kakinya bergeser, kain piyama satinnya yang licin bergesekan dengan celana training-ku. Sentuhan mendadak itu membuat sarafku yang tegang bereaksi di luar kendali. Tubuhku tersentak pelan, refleks karena rasa geli dan terkejut.
Kini, aku tidak punya pilihan selain berpura-pura baru saja terbangun karena pergerakannya.
Aku menarik napas panjang, mengerang pelan seolah baru saja ditarik dari alam mimpi. Aku membuka kelopak mataku perlahan, memasang ekspresi 'bingung' dan 'mengantuk' tingkat tinggi.
Mataku langsung bertemu dengan matanya. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa menghitung jumlah bulu matanya. Aku bisa melihat kepanikan murni meledak di bola matanya yang kecokelatan.
Seluruh usahaku untuk bersandiwara nyaris hancur saat wajah dan telingaku sendiri terasa memanas tanpa bisa dicegah.
"A-Aruna... kamu sudah bangun?" tanyaku dengan suara serak, yang sebenarnya tidak perlu dipalsukan karena tenggorokanku memang mengering akibat menahan napas terlalu lama.
Dalam sekejap mata, Aruna menarik tubuhnya menjauh bagai tersengat listrik tegangan tinggi. Dia bergerak sangat cepat hingga nyaris terguling dari sisi ranjang. Aku refleks mengangkat tanganku, menahan pinggangnya sebentar untuk mencegahnya jatuh ke lantai, sebelum melepaskannya sepenuhnya saat ia sudah seimbang.
"M-maaf! Ya Tuhan, Bumi, maafkan aku!" serunya panik.
Dia langsung duduk bersila di ujung ranjang sambil memeluk sebuah bantal erat-erat untuk menutupi wajahnya. Rona merah menjalar dari leher hingga ke telinganya. "Aku tidak sengaja! Aku... aku sering banyak bergerak kalau kedinginan saat tidur, dan bantalnya... bantalnya jatuh..."
Aku bergegas bangkit dan duduk di tepi ranjang. Punggungku berteriak memprotes perubahan posisi yang mendadak itu. Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan, mencoba meredakan detak jantungku yang berpacu liar, sekaligus menutupi kebohonganku.
"A-aku yang minta maaf," ucapku, sengaja memalingkan wajah dan menatap lantai kayu. "Aku pasti yang menarikmu saat tidur. Tanganku... astaghfirullah."
Melihatnya dari sela-sela jariku, aku menyadari bahwa kepanikannya mulai mereda. Aruna menurunkan bantalnya sedikit.
"Bumi, tidak apa-apa," suaranya melembut, meski masih terselip nada gugup. "Kita berdua sama-sama tidak sadar. Lagipula, kamu kan tidak melakukan hal yang... aneh-aneh. Kita hanya tertidur."
Aku menoleh sedikit, menatapnya dengan perasaan bersalah yang setengahnya palsu. "Kamu... tidak marah?"
"Marah karena dipeluk oleh suamiku sendiri saat aku kedinginan?" Aruna tiba-tiba memiringkan kepalanya. Semburat senyum jahil yang sangat memikat muncul di bibirnya. "Kurasa itu bukan pelanggaran hukum, kan?"
Jantungku seperti ditendang dari dalam. Darahku mendidih. Godaannya barusan meruntuhkan seluruh pertahananku. Jika aku tetap duduk di ranjang ini satu menit lagi, aku benar-benar takut aku akan melakukan tindakan impulsif yang akan merusak batasan kami.
Aku berdeham keras, buru-buru menyibakkan selimut dan berdiri dari ranjang dengan gerakan sekaku robot kayu.
"A-aku harus mengecek parameter keamanan di komputer Garda," ucapku terburu-buru, mencari-cari alasan logis untuk kabur dari kamarnya sebelum aku kehilangan akal sehat. "Lalu kita harus bersiap ke kantor. Jadwal kita hari ini sangat padat."
Tanpa berani menoleh lagi, aku melangkah cepat menuju pintu keluar kamar. Punggungku masih terasa kaku, lenganku berdenyut nyeri, tapi aku sama sekali tidak peduli.
Begitu aku keluar dan menutup pintu kamar di belakangku, aku menyandarkan punggungku ke dinding lorong. Aku mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dada, mengusap wajahku, dan membiarkan sebuah senyum lebar mengembang di bibirku.
Menjadi suaminya, menahan sakit demi melihatnya tidur pulas, dan melihat wajah meronanya di pagi hari... ternyata adalah takdir terbaik yang pernah digariskan Tuhan untukku.
Aku mendorong tubuhku dari dinding, berniat melangkah menuju ruang kerja Garda di lantai bawah untuk meminta laporan keamanan semalam.
Namun, baru dua langkah aku menjauh dari pintu...
GEDEBUK!
Sebuah suara hantaman yang sangat keras terdengar dari dalam kamar. Suaranya berat, bukan seperti barang jatuh, melainkan... suara tubuh manusia yang membentur lantai kayu.
Langkahku terhenti. Senyum di wajahku lenyap seketika, digantikan oleh hawa dingin yang membekukan aliran darahku.
"Aruna?" panggilku, suaraku bergetar oleh kepanikan.
Hening. Tidak ada jawaban.
"Aruna?!"
Satu detik berlalu tanpa suara, dan itu sudah cukup untuk membuat akal sehatku putus. Aku mencengkeram kenop pintu, membukanya dengan kasar, dan menerobos masuk kembali ke dalam kamar.
Mataku menyapu ruangan. Dan di sana, tak jauh dari meja rias, duniaku runtuh.
Aruna tergeletak di lantai dengan posisi miring yang tidak wajar. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
"ARUNA!" teriakku, suaraku pecah.
Aku berlari dan menjatuhkan diriku di lantai tepat di sampingnya. Aku menyentuh bahunya, membalikkan tubuhnya dengan sangat hati-hati.
Wajahnya sepucat kertas putih. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya, membuat anak-anak rambutnya menempel di kulit. Bibirnya yang biasanya berwarna merah muda kini berubah sedikit membiru.
"Aruna, bangun! Buka matamu!" Aku menepuk pipinya dengan tangan bergetar, merengkuh kepala dan bahunya ke atas pangkuanku. Kulitnya terasa sangat dingin, sedingin es. Napasnya putus-putus dan sangat dangkal.
Segala debaran asmara beberapa menit lalu menguap tanpa sisa, digantikan oleh teror murni yang mencengkeram leherku. Ingatan tentang bagaimana Sifa meregang nyawa di rumah sakit kembali membayang. Rendra tidak perlu mengirim pembunuh; beban mental yang Aruna pikul sendirian selama ini akhirnya menghancurkan tubuhnya dari dalam.
"GARDA!" raungku sekuat tenaga, menggetarkan seluruh dinding kamar tidur itu. Aku tidak peduli jika suaraku terdengar seperti orang gila. "PANGGIL DOKTER! SEKARANG!"
Aku mendekap tubuhnya yang lemas erat-erat ke dadaku, meneteskan air mata yang tak sanggup lagi kutahan. Tangan kananku mencengkeram jemarinya yang sedingin es.
Ya Allah, jangan ambil dia, doaku menjerit dalam hati. Tolong, jangan ambil dia dariku.
____________________________________________
Terdengar suara derap langkah kaki yang terburu-buru menaiki tangga. Garda dan tim paramedis yang bertugas menjaga Sifa berlarian masuk ke dalam kamar dengan membawa tas peralatan medis darurat. "Tuan Bumi, minggir sebentar! Kami harus memeriksa nadinya!" seru dokter jaga itu. Namun, pelukanku pada tubuh Aruna tak kunjung mengendur. Saat dokter itu menempelkan stetoskop ke dada Aruna, pria berjas putih itu menatapku dengan wajah tegang. "Tuan... detak jantungnya sangat lemah. Istri Anda mengalami , dehidrasi dan kelelahan ekstrem. Kita harus segera bertindak, atau dia bisa koma."
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘