NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 24

Kedekatan itu tidak pernah dimulai sebagai sesuatu yang manis, apalagi nyaman; ia tumbuh dari hal-hal yang seharusnya membuat mereka menjauh, kecurigaan, pertanyaan yang tidak pernah dijawab dengan jujur, dan kesadaran bahwa masing-masing menyimpan sesuatu yang bisa menghancurkan yang lain kapan saja.

Setiap kali Ella dan Leo bertemu, yang hadir bukan rasa aman, melainkan ketegangan yang nyaris tak terlihat tapi selalu terasa, seperti percakapan yang berjalan di atas dua lapisan: apa yang diucapkan, dan apa yang sebenarnya dimaksudkan.

Leo memperhatikan Ella bukan dengan cara seseorang yang tertarik secara sederhana, melainkan seperti seseorang yang sedang memecahkan teka-teki, ia tertarik, iya, tapi bukan karena siapa Ella di permukaan, melainkan karena apa yang ia sembunyikan, karena setiap kebohongan kecil yang terlalu rapi justru membuka lebih banyak pertanyaan.

Ella, di sisi lain, mulai menyadari bahwa Leo bukan lawan yang bisa ia manipulasi dengan mudah; ada momen-momen kecil di mana ia merasa Leo melihat terlalu jauh, memahami terlalu cepat, dan justru di situlah muncul sesuatu yang lebih berbahaya dari rasa takut ketertarikan yang tidak ia rencanakan.

Namun kedekatan itu tidak pernah diberi ruang untuk menjadi sesuatu yang lembut, karena setiap langkah mendekat selalu diikuti oleh satu pengingat yang sama: mereka berada di sisi yang berlawanan.

Leo adalah hukum yang bisa menjatuhkan segalanya jika ia memilih untuk bertindak, sementara Ella adalah seseorang yang bergerak di wilayah abu-abu, menyimpan rahasia yang jika terbuka bisa mengubah posisi mereka sepenuhnya.

Maka setiap tatapan yang sedikit terlalu lama, setiap percakapan yang sedikit terlalu jujur, selalu berakhir dengan jarak yang sengaja diciptakan kembali, bukan karena mereka tidak ingin mendekat, tetapi karena mereka tahu persis konsekuensinya.

Justru di situlah hubungan ini menjadi berbahaya: bukan karena mereka saling membenci, melainkan karena di tengah kecurigaan dan permainan yang mereka jalani, perlahan muncul sesuatu yang tidak seharusnya ada, ketertarikan yang tumbuh di tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan di antara dua orang yang, cepat atau lambat, harus memilih untuk saling menjatuhkan.

***

"Kamu terlalu sering bertemu dengannya." tiba-tiba saja Tante Rosa mengejutkan Ella. Perempuan itu sudah berdiri di samping mobil Ella.

"Tante? Sejak kapan Tante disini?" tanya Ella.

"Sejak kamu senyum-senyum sambil menatap jaksa muda itu."

"Tante!" wajah Ella memerah, kontras dengan kulitnya yang putih. Ia buru-buru masuk ke mobil agar perubahan itu tidak disadari tantenya.

"Ella, ingat misi kamu." Tante Rosa menyusul masuk di kursi sebelah.

"Aku ingat Tante, aku nggak akan ...."

"Apa? Jatuh cinta? Aku yakin kamu sudah terlanjur."

"Tante," Ella mencoba mengelak, tapi sulit.

Ia harus mengaku kalau benar ada sesuatu yang mulai terasa di hatinya pada Leo. Ia tak tahu apakah benar ia sudah jatuh cinta. Tapi Ella hanya perempuan biasa yang juga punya perasaan meski sebenarnya cara mereka jatuh cinta aneh.

"Kamu belum berpengalaman dalam urusan cinta. Tante tahu kamu belum pernah merasakannya sebelumnya. Jadi tolong jaga diri dengan baik Ella. Sekarang belum waktunya dan Leo bukanlah orang yang tepat."

***

Perlahan, gambaran tentang ayahnya mulai retak bukan hancur sekaligus, tapi pecah dalam potongan-potongan kecil yang semakin sulit disatukan kembali seperti semula.

Data yang Ella lihat, pola transaksi yang berulang, nama-nama yang terus muncul, semuanya tidak lagi bisa dijelaskan hanya dengan satu narasi sederhana bahwa ayahnya adalah korban yang dijebak.

Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, dan jauh lebih tidak nyaman untuk diterima: ayahnya mungkin memang berada di dalam sistem itu. Bukan sebagai pusat, bukan sebagai pengendali utama, tapi cukup dekat untuk tahu bagaimana semuanya berjalan cukup dalam untuk terlibat, dan mungkin, cukup berani untuk mencoba keluar.

Kemungkinan itu datang seperti pukulan yang tidak bisa ia hindari, karena jika ayahnya benar-benar bagian dari sistem, maka semua yang selama ini ia yakini harus dipertanyakan ulang tentang kejujuran, tentang pilihan, tentang batas antara bertahan dan berkompromi.

Namun di saat yang sama, ada jejak lain yang tidak bisa diabaikan: pesan terakhir, sepatu kaca, data yang disimpan dengan cara tersembunyi semua itu bukan tindakan seseorang yang ingin menyembunyikan kejahatan, melainkan seseorang yang sedang menyiapkan sesuatu untuk dibuka.

Di situlah konflik itu tumbuh semakin dalam di dalam diri Ella, menariknya ke dua arah yang sama-sama tidak mudah untuk dipilih; di satu sisi, ia ingin membela ayahnya, menjaga nama yang selama ini ia percaya bersih dari noda, mempertahankan keyakinan bahwa semua ini hanyalah rekayasa besar yang menjerat orang yang salah, namun di sisi lain, semakin banyak yang ia temukan justru menunjukkan bahwa kebenaran itu tidak sesederhana hitam dan putih.

Jika ayahnya memang terlibat, maka membela tanpa memahami berarti menutup mata terhadap kenyataan; tapi jika ia memilih untuk mengungkap semuanya, maka ia harus siap menghadapi kemungkinan paling menyakitkan, bahwa orang yang paling ia percayai ternyata menyimpan sisi yang tidak pernah ia kenal.

Sejak saat itu, pencarian Ella tidak lagi hanya tentang membuktikan sesuatu kepada dunia, melainkan tentang menghadapi satu pertanyaan yang semakin sulit untuk dihindari: apakah ia akan terus mempertahankan bayangan ayah yang ia kenal, atau berani membuka kebenaran yang mungkin akan menghancurkan cara ia melihatnya selamanya.

***

Sore itu berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang akan terjadi. Ella sudah bersiap sejak tadi, bukan dengan sesuatu yang mencolok, hanya pakaian sederhana yang cukup untuk keluar tanpa menarik perhatian.

Ia duduk di ruang depan, sesekali melirik jam, menunggu Niko yang katanya akan datang menjemput. Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan, sesuatu yang tidak bisa ditunda, sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di situ.

Sejak pertemuannya dengan Leo di kampus, ada sesuatu yang terus mengganggu, cara pria itu mendekat tanpa memaksa, cara ia berbicara seolah tahu lebih banyak dari yang ia katakan, dan yang paling berbahaya cara ia tidak menjauh.

Suara mobil berhenti di depan rumah membuat Ella langsung menoleh. “Kayaknya Niko,” gumamnya pelan.

Sisil yang sejak tadi duduk santai di ruang tamu ikut melirik ke arah jendela. “Cepat juga.”

Tapi beberapa detik kemudian, ekspresi Sisil berubah. “Bukan,” katanya pelan, nadanya sedikit berbeda. “Ini… bukan dia.”

Ella berdiri, melangkah ke arah pintu, dan saat ia membukanya ia berhenti.

Leo berdiri di sana. Rapi seperti biasa, tapi kali ini tanpa kesan formal yang kaku. Di tangannya, ada buket bunga sederhana, tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat kedatangannya terasa personal.

Deg. Untuk sesaat, Ella tidak berkata apa-apa.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!