NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERUSAK DAN KELAPARAN

Matahari sudah mulai condong ke barat, menyinari halaman tengah kompleks kuil yang luas itu. Di sana, tepat di bawah naungan pohon raksasa yang batangnya sekeras baja, tumpukan dahan yang baru tumbang terhampar besar.

Suasana seharusnya tenang, namun saat ini dipenuhi suara tek-tek-tek yang tak beraturan, diselingi bunyi besi yang bergesekan keras dengan kayu keras.

Deon Key sedang bekerja. Tapi kalau dilihat caranya... ini bukan bekerja, ini lebih mirip perang.

Dengan semangat yang menggebu-gebu, Deon mengayunkan berbagai alat. Mulai dari gergaji tangan, pahat besar, hingga kapak kecil. Karena ia terlalu bersemangat dan menggunakan tenaga yang tidak sesuai teknik (atau mungkin karena kayunya memang terlalu keras), alat-alat itu satu per satu menjadi korban.

Jleb! Gergaji macet.

Krak! Mata pahat bengkok sedikit.

Prak! Ujung kapak tumpul seketika.

Dalam waktu singkat, di sebelah Deon sudah terkumpul tumpukan alat kerja yang kondisinya memprihatinkan. Ada yang tumpul, ada yang berkarat karena dipaksa, ada yang gagangnya hampir copot.

Kakek Genpo yang tadinya sedang duduk santai sambil membetulkan ikat pinggang, mendekat untuk memeriksa hasil kerja cucunya. Namun begitu melihat tumpukan alat itu, wajahnya yang tadi ceria langsung berubah menjadi pucat, lalu memerah padam.

Mata Genpo membelalak. Mulutnya terbuka lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.

"ASTAGA !!! JANDA KAYU!!! APA INI?!"

Teriak Kakek Genpo menggema ke seluruh penjuru reruntuhan kuil, membuat burung-burung yang bertengger di dinding batu langsung terbang berhamburan.

"INI ALAT KERJA ATAU ALAT PERANG?! Deon!!!" Genpo memegangi kepalanya, kakinya seolah lemas. "Kakek asah ini semalam sampai tengah malam! Mata gergaji tajamnya bisa buat nyukur bulu kuduk! Sekarang lihat! Jadi tumpul kayak gigi orang tua yang mau copot semua!"

Deon berhenti menggergaji. Ia mengusap keringat di dahi, lalu menatap tumpukan alat itu dengan wajah polos campur sedikit bersalah.

"Hehehe... tadi kayunya nolak keras kek. Jadi alatnya yang kena imbas," jawab Deon santai, tapi matanya mengelus dada.

"Nolak keras apanya?! Itu namanya kamu yang nggak punya teknik!" Genpo mulai mondar-mandir sambil tangannya bergerak-gerak emosi. "Kakek ajarin kan, potong kayu itu kayak ngajak wanita berunding. Pelan tapi pasti, rasakan seratnya, jangan dipaksa! Eh kamu ini kayak orang kesurupan! Dibabat habis semua!"

Genpo mengambil satu kapak yang tumpul, lalu mengetuk-ngetuknya ke tanah dengan kesal.

"Dasar Ahli Merusak! Gelar jeniusmu kakek cabut! Mulai sekarang nama panggilanmu bukan Deon si Jenius, tapi Deon Si Perusak Alat! Hahaha! Gila ya, satu set alat kayu habis dalam sejam!"

Melihat omelan Kakek Genpo yang dramatis—mulai dari teriak-teriak, memegang dada, sampai geleng-geleng kepala—Deon malah tidak takut. Justru ia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahaha! Kakek ini mah lebay! Nanti diasah lagi kan bisa kek! Lagipula lihat hasilnya!" Deon menunjuk potongan kayu yang sudah terbelah. "Rapi kan? Lurus kayak garis penggaris! Itu kan karena otak jeniusku yang menghitung sudut potongnya!"

"Rapi apanya! Pinggirannya kasar kayak parut singkong!" sahut Genpo ketus, tapi diam-diam ia melirik potongan kayu itu. Memang, meski alatnya jadi korban, potongannya benar-benar presisi dan lurus sempurna.

Genpo mendengus, lalu duduk di atas sebuah balok kayu besar. Ia mengambil sebatang rokok kretek dari saku, lalu menyalakannya. Asap mengepul, dan wajahnya sedikit lebih tenang, tapi mulutnya masih belum berhenti.

"Kamu tahu nggak Deon... Dulu Kakek itu dikenal sebagai 'Tukang Kayu Emas' di kampung halaman," kata Genpo dengan nada sombong yang dibuat-buat, sambil menghembuskan asap cerutu pelan. "Orang-orang datang dari jauh-jauh minta dibuatkan pintu, jendela, sampai rumah adat. Karya kakek itu awet bertahan ratusan tahun!"

"Oh yaa? Hebat dong Kek," Deon ikut duduk bersila di tanah, memainkan pisau kecilnya.

"Tentu saja hebat! Kakek bangun gubuk ini buat kamu itu pakai hati lho," lanjut Genpo, matanya menatap bangunan sederhana di samping kuil itu. "Kayunya dipilih yang paling bagus, sambungannya dibuat rapat sampai angin pun susyu masuk. Biar cucu kesayangan kakek ini bisa tidur nyenyak, terlindung dari hujan dan panas."

Deon terdiam sejenak. Senyumnya melembut. "Iya deh, makasih Kakek. Gubuknya nyaman kok. Bahkan lebih bagus dari gedung universitas."

"Halah, jangan memuji, nanti kakek lupa marah," Genpo tersenyum tipis, lalu kembali mengomel ringan. "Tapi lain kali jangan begitu lagi ya! Alat itu nyawanya tukang kayu. Kalau alat sakit, kita yang susah. Kamu itu punya otak encer, pakai itu buat kerja, jangan pakai tenaga kuda!"

"Tapi Kek..." Deon menggaruk kepalanya, perutnya tiba-tiba berbunyi keras.

GROOOOAAARR!!!

Suaranya keras sekali, memecah keseriusan omelan Genpo.

"Hahaha! Dengar itu! Perutmu memberontak!" Genpo tertawa keras. "Sudah kerasa kan? Capek, lapar, haus! Itu efek main kasar sama kayu!"

"Iya nih Kek... tadi semangatnya ngebut, sekarang rasanya mau pingsan," Deon mengeluh sambil memegangi perutnya. "Tenggorokanku kering kayak tanah tandus. Sepertinya aku butuh setidaknya satu ember air dan satu karung nasi goreng."

"Dasar rakus!" Genpo tertawa, menepuk bahu Deon. "Ya sudah, kerjaannya dihentikan dulu! Matahari juga sudah mulai capek, kita juga harus isi tenaga. Kalau sampai pingsan di sini, siapa yang mau bantu kakek angkat kayu?"

"Aku kan masih muda Kek, cuma lapar doang," Deon bangkit dengan susah payah, kakinya terasa gemetar sedikit. "Tapi beneran deh, rasanya perutku mau menempel ke punggung."

"Ayo masuk! Kakek simpan ubi rebus sama teh manis hangat di gubuk. Itu saja dulu, jangan minta yang aneh-aneh!" seru Genpo sambil membereskan alat-alat yang tumpul itu dengan hati-hati (meski masih mengomel kecil).

"Siap Bos! Asal jangan kacang lagi ya Kek, kemarin makan kacang perutku kembung!" teriak Deon berlari kecil mendahului kakeknya.

"BERANI-ANI KAMU MENOLAK REZEKI! Hahaha dasar anak nakal!"

Tawa mereka berdua kembali bergema, menghapus sisa-sisa kemarahan tadi. Angin sore berhembus membawa aroma kayu segar dan bau asap cerutu Kakek Genpo yang khas, bercampur dengan rasa lapar yang kini justru membuat suasana menjadi lebih hidup dan hangat.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!