"Ketika undangan wisuda ku tak kamu hadiri, maka ku harap undangan pernikahan ku nanti akan kamu hadiri bersama keluargamu."
Kalimat yang begitu membekas di hati dan pikiran Rizal kala ia melakukan kesalahan karena lagi dan lagi ia membohongi Claudia.
Perempuan yang kerap kali iya bohongi dalam keseharian nya, memberikan perhatian, ungkapan cinta, dan harapan untuk kedepannya.
Nyatanya hal itu adalah sebuah kebohongan yang menjadi kebiasaan Rizal selama ini. Namun, semua berubah setelah Claudia menyadari bahwa selama ini ia melakukan kesalahan terbesar karena terpengaruh dengan setiap kata yang Rizal ucapan kepadanya.
Hal tak terduga kini terjadi pada Rizal pelaku utama yang memerankan peran kebohongan yang begitu dalam sampai dua tahun lamanya seorang Claudia baru sadar bahwa selama ini ia hanya dijadikan mainan oleh Rizal.
Yuk ikuti ceritanya, jika kalian penasaran tentang yang akan terjadi pada Rizal dan Claudia selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Menenangkan
Seiring berjalannya waktu Rijal terus bercerita tentang adiknya yang meninggal di usia lima tahun. Betapa sedihnya ia kala itu, sampai rasa penyesalan ia rasakan.
Namun rasa sedih yang katanya mulai hilang, ternyata terjatuh lagi saat ia bercerita mengenai adiknya tersebut.
Claudia yang mendengar cerita Rijal pun kembali empati dan ikut menenangkan hati Rijal yang sedang teringat adiknya itu.
Cerita adiknya pun berlanjut di malam takbiran tahun pertama Claudia kenal dengan Rijal. Dimalam itu Rijal berkata bahwa ia teringat kembali dengan adiknya.
"Sedih... jika di malam takbiran ini, aku sering banget teringat adik ku. Bahkan sekarang aja aku lagi nangis." ucap Rijal dalam chat yang ia kirim di malam takbiran pada Claudia.
"Sabar ya, walau kata sabar itu tak bisa mengubah segalanya. Tapi sekarang lebih baik kamu doain adik kamu di sana. Insyaallah adik kamu akan senang jika kamu mengirimkan doa untuknya." ucap Claudia dalam chatnya.
"Aku juga sering doain adik aku. Tapi sekarang rasanya sedih banget." ucap Rijal.
"Nangis aja kalau gitu, jangan takut di katain cengeng kalau mau nangis kamu nangis aja. Tapi jangan lama-lama nangisnya, adik kamu pasti nggak mau liat kakaknya nangis seperti ini terlalu lama." ucap Claudia sudah tak bisa mencegah Rijal untuk tidak menangis karena ia tahu rasanya kehilangan seseorang yang sudah tak bisa ia lihat lagi di dunia.
Dunianya seperti hilang tapi sulit untuk di jelas kan, namun dapat di rasakan oleh siapapun yang di tinggalkan oleh orang-orang tersayang untuk selamanya.
Kadang kata sabar itu tak bisa mengobati rasa sedih yang mereka alami. Namun mereka harus berusaha tetap tegar karena mereka juga nggak mau melihat seseorang yang telah pergi menangis melihat mereka.
Rasa sakit kehilangan tak bisa mereka jelaskan satu persatu karena tentunya mereka akan memendam sedih itu sendiri dan akan mereka perlihatkan saat mereka diam sendirian di dalam kamarnya.
Orang-orang yang terlibat tegar saat kehilangan, bukan berarti mereka tak sedih saat semua orang telah pergi dari rumah mereka.
Yang dimana mereka tinggal sendiri di kamar mereka, lalu mereka merenung akan kepergian seseorang. Rasa nggak nyangka yang beberapa jam lalu mereka masih melihat seseorang itu berada di dekat mereka.
Dan tentunya hembusan nafas seseorang yang telah pergi masih bisa mereka lihat, namun di jam berikutnya mereka hanya melihat tubuh yang sudah kaku tanpa bernafas lagi.
Satu atau dua hari kehilangan itu masih biasa, namun lama kelamaan mereka mulai kehilangan, yang dimana setiap hari selalu berjumpa di hari berikutnya tak bisa mereka temui lagi.
Apalagi sudah bertahun-tahun lamanya, rasa sedih itu pasti akan muncul dengan sendiri nya. Dimana rasa sedih itu tentunya akan muncul di hari raya.
Dimana semua orang akan mengunjungi makam keluarga mereka. Air mata yang tadinya mau di tahan untuk tidak keluar. Tiba-tiba akan keluar dengan sendirinya.
Dan itu alami karena hampir sebagian orang merasakan hal tersebut ketika mereka telah kehilangan seseorang yang berharga dan seseorang yang mereka sayangi.
Cerita Rijal mengenai adiknya pun juga membuat Claudia berpikir ulang untuk menyimpulkan. Apakah cerita ini hanya karangan lagi atau memang adanya.
Namun setelah itu, Claudia akhirnya percaya saat ia sempat telpon dengan ibunya Rijal lagi mengenai anak-anak beliau.
Cerita yang singkat namun penuh makna itu membuat Claudia sadar bahwa cerita Rijal tentang adiknya yang ini mungkin memang benar adanya. Karena kata ibunya Rijal pun demikian.
Rijal sebenarnya punya banyak adik, jika adiknya Rijal tak pergi. Satu yang sudah meninggal di usia balita dan dua lagi waktu masih di dalam kandungan.
Sekarang adiknya Rijal ada dua, satu cowok dan dua cewek. Dimana nomor handphone keduanya sudah sempat Rijal gunakan, jika ia dan Claudia sedang tidak baik-baik saja.
Namun itu dulu, waktu rasa penasaran Rijal masih ada. Seiring berjalannya waktu Claudia sadar semua ini akan berakhir. Ia bahkan tau waktu dimana dirinya harus berhenti jika sudah tak di butuhkan lagi.
Karena jika dulu ia ingin pergi itu sulit. Karena Rijal masih memiliki rasa penasaran yang tinggi dan juga ego untuk menaklukkan hati Claudia.
Namun sering berjalan nya waktu, akhirnya Claudia menemukan titik, dimana ia sadar tentang perkenalkan dirinya dengan Rijal yang sudah waktunya untuk berakhir.
Selain karena Claudia tahu ini sudah waktunya. Ia juga sadar perubahan demi perubahan yang muncul dalam diri Rijal dan pada saat ia telah selesai sidang dan yudisium. Di sana ia sempat mempertimbangkan juga perasaan nya.
Dimana ia memang sudah tak komunikasi lagi dengan Rijal selama kurang lebih satu bulan.
Di bulan ke dua waktu itu, Claudia sempat mempertimbangkan untuk memberitahu Rijal tentang jadwal wisuda nya atau tidak. Namun ia bingung karena dulu dalam percakapan ia dan Rijal selalu bilang jika wisuda nanti kalau nggak ada halangan mau datang tapi itu juga kalau Claudia ngundang dirinya.
Kata-kata itu selalu Claudia ingat, karena ia juga sempat bilang. "Iya nanti aku kasih tau kamu jadwal wisudanya. Lagian kan masih lama."
"Jangan lupa kasih tau aja." ucap Rijal dalam obrolan mereka waktu itu.
"Iya nanti di kasih tau lagi." ucap Claudia.
Kata-kata itulah yang membuat Claudia bimbang antara memberitahu Rijal tentang wisudanya atau membiarkan semuanya asing. Karena posisi mereka juga sudah tak berkomunikasi.
Tapi jujur di dalam hati Claudia selalu bilang dan tanya ke Allah, apa yang harus ia lakukan. Apakah ia yang lebih dulu chat Rijal atau menunggu Rijal untuk chat dirinya dan jika Rijal menchat dirinya lagi.
Barulah ia memberitahu Rijal. Keajaiban Allah begitu nyata. Di saat Claudia bimbang dan merasa janjinya harus ia penuhi. Satu Minggu kemudian, Rijal mengirim chat lagi pada Claudia.
Disana Claudia tak langsung memberitahu Rijal tentang wisudanya. Tapi justru Rijal lah yang bertanya tentang wisudanya dan juga tugas kuliahnya waktu itu.
Sehingga Claudia pun mulai memberi tahukan Rijal tentang jadwal wisuda nya yang akan berlangsung di tanggal 23.
Rijal yang di beritahu Claudia mengenai jadwal wisuda nya, langsung antusias bertanya lebih jauh.
"Jadi tanggal 23 bulan depan kamu wisuda?" ucap Rijal.
"Iya bulan depan." ucap Claudia.
"Tempatnya dimana?" ucap Rijal.
Claudia lalu memberitahu Rijal tentang tempat wisudanya. "Tempatnya di hotel L daerah puncak. Kalau nggak salah hotel itu, tapi masih nunggu informasi lagi. Soalnya takut di udah lagi." ucap Claudia.
"Hotel apa barusan?" ucap Rijal.
"Hotel L." ucap Claudia mengulangi lagi.
"Sebentar, aku liat dulu di internet." ucap Rijal.
Rijal kemudian mencari nama hotel yang di sebutkan Claudia barusan. Tak lama setelah Rijal mencari, ia kemudian mengirimkan satu ss pada Claudia untuk memastikan bahkan hotel yang Rijal kirim ss nya benar atau tidak sebagai tempat wisuda Claudia.
Bersambung...