" Mencintaimu memberikan warna baru dalam hidupku. Terima kasih. " ucapnya mencium sekilas lelaki yang telah menjadi suaminya saat ini.
Bianca(23th) harus menelan pil pahit akibat kecelakaan tragis yang mengakibatkan kematian suaminya Alexander(27th).Belum habis rasa kecewanya karena perselingkuhan sang suami tapi kematian sang suami juga menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.
Begitu banyak teror yang dialaminya karena beberapa pihak yang menyalahkannya akibat kejadian tersebut.Dia merasa membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya hingga dirinya bertemu Alvin (26th) yang menyelamatkannya ketika akan diculik..
Siapakah Alvin ? Bagaimana dia bisa menjadi bodyguard Bianca? Bagaimana cinta bisa tumbuh dan bersemi dihati keduanya?
Baca terus kisah perjalanan cinta mereka ya...ini adalah karya pertamaku semoga bisa diterima oleh readers semuanya..Makasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA LALU DION..
Dion kembali ke apartemennya. Setelah insiden yang baru saja terjadi, ia memutuskan untuk menginap di apartemen miliknya.Ia tak mau Mamanya menanyakan perihal dirinya yang babak belur sehabis dihajar preman tadi.
Dion menjatuhkan dirinya di sofa, pikirannya kembali teringat kejadian tadi. Bukan karena ia dihajar para preman melainkan ketika Alvin merengkuh Bianca dalam pelukannya.
Sorot matanya menajam menampakkan kecemburuan yang teramat pada Alvin.
Bruakkk...
Dion menghempaskan semua yang ada di atas meja hingga jatuh berceceran.
" Kurang ajar kau Alvin !! " teriaknya sambil menghentakan tangannya diatas meja kaca.
Seketika semua jadi hancur berkeping- keping hingga menyisakan tetesan darah dari tangannya akibat terkena serpihan kaca.
" Bie, aku sangat mencintaimu dari dulu hingga saat ini, aku tidak akan melepaskanmu lagi untuk yang kedua kalinya. " ucap lelaki itu frustasi.
Flashback On..
Lima tahun yang lalu..
" Dion, ada anak ospek baru tuh. " kata salah seorang temannya sambil menunjuk seorang gadis berkacamata dengan membawa buku di tangannya.
Dion pun melirik gadis yang dimaksud oleh sahabatnya. Kedua matanya tak berkedip melihat pemandangan di hadapannya.Seorang gadis cantik yang terlihat sangat polos dan begitu memesona.
" Woi ! Udah ngeliatnya ? " ucap sahabatnya itu sembari melambaikan tangan di depan wajah Dion.
" Cantik bukan? Anak-anak disini banyak yang mengicarnya. Saingan lo banyak." lanjutnya sambil menertawakan tingkah Dion.
" Biasa aja. Ayo buruan cabut. " jawab Dion berpura-pura tak tertarik pada gadis itu. Sebelum pergi ia sempat melirik sebentar ke arah gadis itu.
Dionpun semakin penasaran dengan gadis tersebut. Diam-diam ia mencari tahu tentangnya.
Dia bernama Bianca Aditya Permana salah satu mahasiswi baru jurusan Management di kampusnya.
Pelan- pelan Dion menyelidiki tentang kebiasaan hoby dan asal usul gadis itu agar bisa mendekatinya. Ternyata, ia adalah seorang kutu buku yang hanya senang menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah. Sangat dingin terhadap lelaki, tetapi baik dan ramah terhadap sahabat-sahabatnya.
Hari ini Dion pergi ke perpustakaan. Ini bukanlah dirinya yang sesungguhnya, bahkan selama kuliah bisa dihitung berapa kali ia menginjakkan kakinya ditempat itu.
Ia sangat terkenal di kampusnya karena selain merupakan anak konglomerat, ia juga pandai bergaul dan suka tebar pesona dengan lawan jenis.
Akan tetapi, ia belum pernah berpacaran dengan siapapun. Ia hanya merasa bangga bisa menjadi idola kampus terutama bagi kaum hawa.
Dion bersembunyi di balik rak buku, ia menantikan kedatangan gadis itu. Pucuk dicinta ulampun tiba, gadis itu mulai berjalan mendekat kearahnya.
Bruughhhh....
Tubuh keduanya saling bertabrakan hingga membuat buku-buku mereka berceceran.
" Maaf aku tidak sengaja. " ucap Dion sambil mengulurkan tangannya berniat membantu gadis itu berdiri.
" Iya, nggak pa pa. " jawab gadis itu tanpa melihat lawan bicaranya. Diambilnya buku-buku miliknya dan pergi begitu saja dari sana.
Dion hanya mematung dan memandang kepergian Bianca. Seutas senyum tersirat di wajahnya.
" Benar-benar gadis yang berbeda. " gumamnya dalam hati.
Biasanya para gadis akan berteriak histeris dan salah tingkah saat bertemu dengannya. Akan tetapi wanita itu berbeda. Bianca justru cuek dan acuh terhadapnya.
Dion tak kehabisan akal, ia menyuruh teman-temannya untuk berpura-pura menggoda gadis itu.
Kali ini rencana nya berhasil, gadis itu benar-benar ketakutan saat teman-teman Dion menggodanya. Seperti seorang pahlawan, Dion berpura-pura menolongnya dari gangguan mereka.
" Aku Dion. Kamu nggak pa pa ? " sapanya sambil mengulurkan tangan pada gadis itu.
Gadis itupun membalas uluran tangan Dion untuk berkenalan.
" Bianca. Makasih banyak, aku nggak pa pa . " ucap gadis itu ramah.
Dion begitu senang melihatnya, gadis itu mulai membuka diri untuknya.
Semakin lama keduanya semakin dekat. Punya hoby yang sama ,makanan kesukaan yang sama, dan banyak lagi kesamaan diantara keduanya.Itu semua karena Dion telah mencari tahu sebelumnya.
Hingga suatu saat, Dion berusaha mengungkapkan perasaannya pada Bianca. Tetapi, ternyata ia harus menelan kekecewaan karena Bianca menolaknya.
Bukan karena ada pria lain, melainkan ia hanya ingin fokus belajar karena ia akan menggantikan ayahnya memimpin perusahaan suatu saat nanti.
Dion tetap semangat, ia tidak gampang menyerah. Mungkin suatu saat Bianca akan menerima perasaannya.
Hingga suatu hari, seperti disambar petir Dion mendapati kabar bahwa Bianca akan dijodohkan dengan kakaknya, Alexander.
Ternyata kedua orang tua mereka bersahabat dekat, baik dalam hal bisnis maupun pertemanan.
Orangtuanya menjodohkan Alex karena diusianya yang sudah matang, ia belum mau memikirkan untuk berkeluarga.Sedangkan Bianca, ia gadis yang tertutup bahkan tidak pernah sekalipun ia membawa seorang pria ke hadapan orang tuanya.
Dion tidak terima dengan keputusan orang tuanya, tetapi ia tidak mau mengungkapkan alasannya.Ia hanya mengatakan bahwa di jaman modern seperti sekarang mana ada yang namanya perjodohan?
Ia mencoba mempengaruhi Alex , namun ternyata Alex memiliki pandangan yang berbeda. Ia menerima perjodohan itu dengan alasan pasti orang tuanya tahu yang terbaik untuknya.
Dion sangat kecewa, ia keluar dari mansion menuju apartemen miliknya untuk menenangkan diri. Setelah beberapa hari dirasa tenang, ia mencoba menghubungi Bianca untuk bertemu dengannya.
Sama seperti Alex ,Bianca juga ternyata punya pemikiran yang sama.Ia menerima perjodohan itu dengan besar hati.
Dion semakin kecewa dan frustasi, ternyata kedekatan mereka selama ini belum berarti apa-apa bagi Bianca.
Karena merasa tidak sanggup menghadapi semua itu, Dion memutuskan untuk pindah keluar negeri. Ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan lelaki lain.
Keputusannya membuat seluruh keluarga kaget, tetapi mereka menerima alasan Dion bahwa ia ingin belajar di tempat yang lebih baik sambil mengelola anak cabang perusahaan papanya di luar negeri.
Beberapa tahun disana, ia berusaha melupakan perasaannya pada Bianca namun hasilnya tetap sama. Hatinya begitu sulit terbuka untuk wanita lain.
Bahkan selama beberapa tahun ia jarang sekali pulang agar bisa melupakan Bianca.
Flashback Off..
Dion memegangi tangannya yang masih mengeluarkan darah. Ia baru tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya.
" Astagfirulloh,,apa yang sudah aku lakukan? sesalnya.
Ia berjalan menuju kamarnya dan mengambil kotak P3K disana.kemudian kembali ke ruang tengah untuk mengobati lukanya.
Ting...Tong..
Terdengar bel rumahnya berbunyi, ia penasaran dengan siapa yang datang malam-malam seperti ini.
Ternyata Pak Albert ayahnya yang datang kesana.bDion segera membukakan pintu.
Ia mempersilahkan ayahnya masuk ke dalam.
Albert begitu terkejut melihat semua barang-barang Dion hancur berantakan. Ia memandangi putranya itu,terlihat luka memar dan lebam-lebam diwajahnya.Belum lagi tangannya yang masih tampak mengeluarkan darah segar.
" Ada apa dengan mu? Apa ini ada hubungannya dengan Bianca?" tanya Albert penuh penekanan sambil memandang wajah putranya.
" Papa sudah bilang, tidak perlu menuruti keinginan Mamamu. Masih banyak wanita yang lebih cantik dan masih perawan yang bersedia kau nikahi. Dia itu hanyalah seorang janda. " lanjutnya kembali sambil tertawa sinis.
" Dion mencintainya, Pa!! " tegas Dion.
Matanya menatap tajam ke arah papanya.Ia tidak suka mendengar perkataan Papanya barusan.
Bersambung...
Jangan lupa dukung author ya readers..Happy reading.Tinggalkan like coment dan rate buat author.Kalau bisa vote seikhlasnya...makasih..