NovelToon NovelToon
Darah Dibalas Darah

Darah Dibalas Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Kadhitana

Latar belakang Watanabe Miho cuma orang biasa saja. Hanya yang membedakannya adalah ia seorang praktisi ilmu bela diri Ninja. Di umur 22 tahun barulah hidup Miho berubah 180° derajat. Orang-orang yang ia usaha lindungi, dicelakai dan terperangkap rangkaian peristiwa traumatis. Ujian kematian ini terungkap, Miho tidak sendirian melawan sebuah tokoh mitos yang hidup dalam masyarakat selama ratusan tahun.

Ketika utas rahasia masa lalunya terkoneksi, faksi dari Oda Nobuyoshi terancam akan dibungkam mati. Orang-orang kepercayaan Watanabe Toshitsugu juga menutup-nutupi tentang jati dirinya, yang mana mengarahkan rasa penasarannya ke arah sarang harimau.

Berbagai upaya pun Miho lakukan demi bisa bertahan hidup dan membalaskan dendam lewat jejak berdarah yang mereka tinggalkan. Pada akhirnya pertarungan terakhir yang akan menjadi penentu. Mengubur kebenaran di balik punggungnya? Maka, Miho sanggup mengupas tuntas!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadhitana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membunuh Reputasi

Hashiba Jiro mengulum senyum tipis bak rubah lapar yang menemukan celah mangsa. “Acara malam ini tanpa tantangan tanpa taruhan hanyalah latihan sia-sia. Aku minta kalian menyebutkan persyaratan masing-masing. Siapa pun yang menang, syarat itu harus dilaksanakan. Apa yang kalian ucap didengar para mahasiswa malam ini!”

Sawano Shinji tertawa pongah. Ia membusungkan dada. “Sudah lama aku menunggu momen ini, Miho!” Shinji sesumbar mampu menghukum Miho. “Syaratku simpel saja, jika aku menang dan itu sudah pasti. Aku minta wajah Miho tampil sebagai pecundang di video dan siaran langsung kalian merekam wajah si pecundang.”

Otot pelipis Matsudaira Ryusho menegang dorongan emosinya nyaris meledak.

Publik tertegun, taruhan yang besar berpotensi mempermalukan nama, publik makin bersemangat.

Hashiba Jiro tidak terkejut setelah menilai sendiri orang seperti apa Sawano Shinji. “Bagaimana denganmu Watanabe?”

“Aku?” Watanabe Miho tidak gentar. Tatapan lurus ke arah Shinji tanpa keraguan. “Aku ingin kau berhenti bersikap layaknya orang bodoh yang mencari pelampiasan marah karna tidak terpilih sebagai peserta lomba tempo lalu. Yang kau katakan hari ini sebagai taruhan, aku ingin hal yang sama berlaku padamu.”

“Sebut apa kau tadi—“ Shinji terus menebar teror dari arah matanya.

Orang-orang pada tertawa karna itu memang fakta.

“Kita sudah dengar mereka mengatakan taruhan,” potong Jiro menyela. Tanpa menunda-nunda lagi, Jiro berseru mulai.

Bak aba-aba balap liar, suara itu memicu keriuhan instan.

Miho dan Shinji serentak menyambar gagang gelas. Gelas kaca masif berisi 1000 ml itu terangkat berat.

Shinji memulai dengan tegukan agresif. Meneguknya dengan rakus, jakunnya naik-turun dengan cepat. Ia menunjukkan dominasi sejak detik pertama, matanya melirik tajam ke arah Miho yang tampak lebih tenang namun konsisten.

“Shinji! Jangan kalah!” seru Ebina Ayumi tiba-tiba saja muncul dari balik pintu masuk bar. Keberadaan Ayumi menguatkannya.

Bisa-bisanya Miho meminum dengan ketenangan, sementara dirinya tersendat-sendat akibat menelan bir dalam jumlah banyak.

Miho, maupun temannya berkehendak kuat memenangkan tantangan ini, seolah aliran air bir yang menuruni tenggorokannya. Serbuan tegukan seakan menghantam logika.

Hashiba Jiro memperhatikan Miho dengan tatapan penuh persepsi, menyerap pesona gadis itu dari tetesan peluh yang menetes dari ceruk leher. Sementara itu, benaknya beranggapan bahwa meremehkan dengan mengkhawatirkan Miho, tidak berbeda jauh seperti malam ini.

Dalam mulut Miho masih tiga seperempatan penuh, menjelang mau habis dalam waktu yang amat singkat.

Sebelum Shinji menyusul ketertinggalannya menghadapi Miho. Di sisi lain, entah alam bawah sadar mana, hingga ia melempar botol kaca berwarna hijau ke langit-langit atap.

Rahang-rahang mahasiswa senior perfilman jatuh ternganga. Mahasiswa di sana merangsek maju, membentuk lingkaran yang semakin menyempit.

Di tengah kepungan tangan-tangan yang melambai dan sorakan yang memekakan telinga.

“Miho semangat!!” Takeshi dan Jun bersorak menyemangati, menggabungkannya bersama kepalan tangan ke langit.

Gelas di tangan Shinji mulai terasa berkurang beratnya. Baru setengah jalan, ritme napasnya berantakan. Shinji terbatuk, wajahnya memerah padam.

Ryusho bersedekap penuh harap.

Krisis ini Miho perbaiki sedikit demi sedikit.

“Ayo, Miho sedikit lagi,” gumam Jiro.

Miho berhenti di tengah-tengah seakan menimbang-nimbang. Tapi inilah masalahnya...

Miho bukanlah orang biasa di tengah-tengah mereka, ia berlatih mempertahankan daya fokus walau dikuasai oleh alkohol saat menginjak umur 18 tahun.

Semua gerakan orang-orang melambat, pandangan Jiro mengamati pesona Miho yang terletak pada kontrol diri.

Gadis tersebut meneguk sampai tetes terakhir, lalu menjilati busa di sekitar bibir atasnya.

Ia mengacungkan gelas berat itu ke langit-langit, sontak anak-anak jurusan Perfilman memekik-mekik gembira.

“Hebat, Miho!!” Pujian beruntun ini keras mengejek harga diri Shinji, walau pemuda itu sudah meminumnya sampai habis.

Tepuk tangan meriah menyebar ke seisi ruangan. Sebagai penutup, ia menempelkan gelas kaca itu ke dahinya. Memejamkan kedua mata, embun-embun es menetes, begitu pula kelegaan menuju babak terakhir. Kemudian, memergoki Hashiba Jiro menepuk tangan, sorot bangga mengetahui ia pantang mundur. Ia meletakkan gelas dengan isi kosong melompong.

Shinji kalah telak.

Keangkuhan yang tadi dipamerkannya runtuh seketika.

Merasa pertarungan pembuktian ini tak berefek apapun padanya, Shinji membanting gelas. Menciptakan kehebohan juga kepanikan. Shinji memang ahlinya, membuktikan. Namun, terjatuh dengan kata-katanya.

Harga diri Shinji meradang, sekian napasnya menderu bak pesawat jet. Ia terlampau membiarkan Miho menginjak-injak peluang minatnya, terutama kepercayaan yang dibangun antara Dosen Sato Ryuga kepadanya juga berlahan luntur. Pemuda ini pun tak memikirkan lagi konsekuensi.

“Sialan!” raung Shinji.

Dalam ledakan campuran amarah dan malu. Ia mengayunkan lengan dan membanting gelas beer 1000 ml ke lantai.

Pecahan kaca berhamburan mengenai alas kaki mahasiswa yang selangkah mundur menghindari kaca.

Bir yang tersisa sedikit menciprat—mengotori permukaan lantai abu-abu.

Suasana bar yang tadinya riuh mendadak ditelan kesenyapan, menyisakan deru napas Shinji yang naik-turun cepat.

Takatsuki Yuma yang sedari tadi bersandar menonton tantangan itu langsung marah.

Miho melirik ember di lantai lalu kembali menatap Shinji. Firasatnya memberi petunjuk kemungkinan terdekat.

Entah Shinji terpengaruh alkohol atau memang emosional. Shinji meraung dan menerjang maju, berniat mengintimidasi Miho.

Namun, bir memiliki tingkat karbonasi.

Akibat pola jalan cepat, tekanan gas meningkat dalam lambungnya. Rasa mual naik—mencoba menahan gejolak di tenggorokan.

Mulut Shinji terbuka lebar—mahasiswa di sana termasuk Ebina Ayumi, Hardin Haneda, dan lainnya mengibrit menghindari tanda gejala muntah Shinji.

Dengan gerakan yang sangat efisien, Miho merunduk dari momentum serangan Shinji—melesat menyambar ember plastik yang tergeletak di dekat kaki meja.

Tepat saat Shinji kehilangan keseimbangan, tangan kanan Miho melesat dan mencengkeram tengkuk Shinji dengan kuat. Ia menekan kepala pemuda di atas ember.

“Keluarkan semuanya,” kata Miho kemudian disusul suara menjijikan dari perut Shinji menyembur keluar, membuat seisi bar spontan meringis jijik.

Tetapi Sawano Shinji tidak menyadari semua momen telah terekam oleh sorotan kamera ponsel Nakazato Hiroki dalam siaran langsung.

Hashiba Jiro merinding geli dengan ulah Shinji. Ia membuang muka. Tingkat kebodohan Shinji di luar akal sehat.

Setelah muntahan mengerikan itu meredah, menyisakan Shinji yang berjongkok lemas. Ia menyodorkan ember penuh ke arah Ayumi.

“Apa—“ Ayumi mematung, wajahnya campuran antar rasa jijik dan malu. Ia ragu bergerak namun teman-teman satu kelompok Shinji melemparkan tatapan tajam seolah mendesak Ayumi untuk segera membereskan kekacauan yang dibuat pacarnya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Ayumi menerima ember itu sembari menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan mahasiswa di sana.

Miho tidak banyak ekspresi.

Tidak ada senyum kemenangan.

Ia berbalik badan, meraih jaketnya di atas meja dan menyampirkannya ke bahu.

“Permisi.” Miho berjalan menuju pintu keluar bar.

Kerumunan mahasiswa Perfilman menepi secara otomatis, memberi jalan lebar bagi Miho sang pemenang.

Melintasi ambang pintu tanpa menoleh ke belakang.

“Miho ...” Ryusho mencoba menghentikannya. Tapi ia teringat pada ucapan bahwa Miho sama sekali tak dapat menyelesaikannya.

Menuju angka malam, Miho membuktikan bahwa ia menyimpan kekuatan mental yang jauh lebih stabil dibandingkan gertakan kosong yang selama ini merendahkannya.

Sudut bibir Hashiba Jiro terangkat samar. Seperti penilaiannya Watanabe Miho mampu membalikkan situasi yang diarahkannya dan membuat Sawano Shinji kehilangan muka, ah, lebih tepat adalah menghancurkan reputasi Shinji secara permanen. Kerja kerasnya memanipulasi anak-anak ini berguna membatasi pemikiran Matsudaira Ryusho yang sempit pada kemampuan Miho.

Sungguh ironi, orang-orang yang hanya terbiasa mengenal permukaan luar dan menganggap diamnya Miho pertanda kerapuhan. Padahal di balik itu semua, Miho menahan agar kelebihannya tidak menyakiti masyarakat.

Keberadaan Jiro di sana membunuh dua burung dengan satu batu. Itu hanya permulaan dan dia tidak akan berhenti.

...Bersambung ......

1
🥔Potato of evil✨
Ceritanya seru banget sampai aku lembur nge-baca, hehehe. 👍
Pluto
Next chapter, please! Aku harus tahu kelanjutan ceritanya.
Andi Akhasay: coba baca ceritaku
total 2 replies
Đông đã về
Author TIDAK BOLEH berhenti menulis, terus berikan karya yang memukau seperti ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!