Aletta Nanda Saraswati yang awalnya bermimpi dan membayangkan menjadi istri CEO dari perusahaan barunya, terwujud tanpa ia duga-duga. Namun, ternyata menjadi seorang istri dari Pengusaha Sukses (CEO) bukanlah hal yang mudah seperti yang mereka lihat. Banyak air mata yang tumpah karena keegoisan, pertikaian, dan perselingkuhan...
Bahkan ketika Aletta merasa semua sudah berubah, ia kembali mendapatkan cobaan yang menguras kesabarannya...
Inilah kisah Aletta Nanda Saraswati istri CEO kaya raya bernama Eric Sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Harapan Bertemu
-ERIC POV-
Aku berlari menuju mobil pribadi yang baru saja datang di depan pintu bandara, jantungku terus berdegup karena tidak sabar untuk bertemu Aletta.
"Pak, cepetan ya!" tegurku pada sopir pribadiku.
"Iya, Tuan."
Mobil pun melaju pesat menuju tempat sesuai infrormasi dari si pengawal yang berhasil membuntuti Aletta. Aku berharap banyak akan segera bertemu istri dan anakku yang telah lama menghilang, karena harapanku bertemu begitu besar sampai aku tak sadar air mataku menetes. Sekarang ini Eric sering sekali di buat Aletta menangis.
(bukan Aletta sebenernya ya, tapi kelakuan dia sendiri yang udah kurang ajar! Makanya Aletta pegi - author)
Jadi begitulah penampilan Eric yang sekarang, ia tidak lagi merawat dirinya, terkhusus rambut yang biasanya pakai pomade sekarang dibiarkan berantakan dan sering sekali menangis. Duh duh galau banget nih dia.
Sesampainya di tempat tujuan, aku langsung turun dan menelfon pengawal yang berhasil membuntuti Aletta.
"Halo! Kamu di mana?"
"Halo, Tuan saya berada di dalam toko mencari Nyonya tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi saya kehilangan jejaknya ..."
"Apa!"
*****
-ALETTA POV-
"Udah, kamu tunggu di dalam sini aja enggak usah keluar-keluar ya, Letta!" ujar Lisa sambil menaruh semua barangku di atas meja rumah baru.
"Lisa, ini rumah siapa?" tanyaku yang penasaran.
"Ini rumah nenek aku yang lama kosong, rumah ini di kasih ke aku tapi aku enggak nempatin karena jauh dari kota. Semoga kamu aman!" jelas Lisa membuat hatiku tenang.
"Thaks ya, Lis," ungkapku amat berterima kasih.
Setelah membawaku di rumah neneknya yang jauh dari kota, Lisa izin untuk keluar sebentar dan aku tidak tahu dia akan pergi ke mana. Aku menunggunya di rumah dengan membantunya membersihkan beberapa debu yang menempel di barang-barang rumah baru Lisa. Aku melihat foto Lisa tengah bersama mama dan papanya, otomatis saat itu aku pun baper merindukan keluarga karena aku menghilang sudah hampir setengah tahun dalam keadaan hamil.
"Pasti mereka sangat mengkhawatirkan aku," tuturku sembari mengelus perut dan memandang foto itu dalam-dalam.
*****
-ERIC POV-
Aku dengan pasrah merebahkan diri di jok mobil sambil menghirup aroma rindu yang begitu sesak di dada. Sopir pribadiku hanya kebingungan saat melihatku hampir putus asa. Begitupun pengawalku yang terus meminta maaf akan kehilangan jejak Aletta.
'TOKK ... TOKKK ...' suara kaca mobil yang di ketuk oleh seseorang.
Aku pun memerintahkan sopir pribadiku agar membukakannya dan bicara pada seorang yang mengetuk kaca mobil itu.
"Tuan muda, mohon maaf, perempuan ini ingin bicara dengan Tuan," ujar sopirku yang membuat aku terpaksa turun dari mobil dan menemui perempuan yang hendak bicara denganku.
Siapa sih, batinku kesal.
"Tuan Muda, ini wanita yang bersama Nyonya Aletta tadi!" seru pengawalku yang baru saja datang dari membelikan aku secangkir kopi.
Aku pun tersontak kaget mendengar pengawalku dan aku memandangi wanita itu dalam-dalam,
"Di mana Aletta?!" seruku pada wanita itu.
Tanpa berkata apa-apa dia dengan spontan menonjok wajahku dengan kencangnya, hingga aku hampir terjatuh. Pengawal dan sopirku pun turun tangan memegangi tangan wanita itu.
"Lepaskan dia!" ujarku pada pengawal dan sopirku sembari memegang bagian bibirku yang sakit karena tonjokkan wanita itu.
"Jadi ini cowok pe******* yang beraninya nyakitin Aletta!" seru cewek itu.
"Siapa kamu?" tanyaku masih sopan.
"Gue Lisa, temen Aletta, yang selama ini ngejagain dia dan bayi di kandungannya yang ditinggalkan oleh suami jahatnya!" ketus Lisa.
"Aku mohon izinkan aku bertemu dengan Aletta, aku ..." "Gue enggak akan percaya sama tuh mulut lo, yang udah sering banget kan minta maaf sama Aletta tapi tetep aja lu ulangin!" seru Lisa.
"Maaf ... tapi apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bertemu Aletta lagi?" pintaku pada Lisa.
"Gue enggak akan izinin lu ketemu sama Aletta! Sekarang gue cuma mau ngasi lu kesepakatan karena gue kasihan sama Aletta temen gue yang berhari-hari ini nyebut nama cowok be******* ini!" cetus Lisa.
"Jadi ... dia masih baik-baik saja kan? Apa kesepakatannya?" tanyaku.
"Iya dia baik, kesepakatannya gue bakal ngabarin lu setiap hari tentang Aletta asal lu enggak usah cari-cari dia lagi!"
"Oh syukurlah," ucapku dengan senang dan sedih bercampur jadi satu.
Aku pun menyetujui kesepakatan yang diberikan Lisa, aku sudah lumayan senang karena mendengar istri dan anakku baik-baik saja. Apalagi aku akan mendengar kabar tentang Aletta setiap harinya. Setelah kesepakatan itu dibuat, Lisa akhirnya meninggalkan aku sambil menendang tulang kering dan menonjokku sekali lagi. Rasanya memang sakit tapi tidak sesakit aku lama berpisah dengan Aletta.
*****
-AUTHOR POV-
Setelah 3 bulan berlalu, Eric menjalani hidupnya seperti biasa berangkat ke kantor dan mengurus perusahaannya ia juga tak pernah lupa membawa tabletnya yang khusus untuk kabar Aletta. Ia juga sudah memblokir semua hubungannya dengan Dewi baik melalui perusahaan atau pun dirinya pribadi. Selama berbulan-bulan ia hidup tanpa Aletta dirinya merasa bahwa hanya Aletta lah yang berada di dalam hatinya.
Namun, walaupun selalu mendapatkan kabar dari Lisa tentang Aletta. Eric sangat ingin kembali bersama Aletta dan memeluk tubuhnya apalagi dia sedang hamil besar. Eric selalu teringat saat ia tengah sakit, wajah Aletta yang sebenarnya sangat sedih namun ia mau menemani sampai Eric sembuh.
#TAHAN THOR, JAN BAPER....
Lisa mengirimkan pesan berisikan video Aletta sedang main dengan kucing peliharaannya dan Eric tidak segan-segan untuk memarahi Lisa dan tidak membiarkan ibu hamil itu dekat-dekat dengan kucingnya karena ia khawatir pada bulu kucing yang akan masuk dalam tubuh Aletta.
-Aletta POV-
"Letta! udahan main kucingnya, enggak baik buat kamu!" sontak Lisa mengagetkanku yang sedang asyik.
"Kenapa?" tanyaku dengan cemberut.
"Udah, ntar ada yang marah!" ujar Lisa sambil memotoku.
Entah mengapa beberapa bulan ini, aku melihat Lisa sering sekali memoto diriku bahkan mem-videokannya. Aku pun dengan penasaran bertanya pada Lisa,
"Kamu kenapa sih, beberapa bulan ini sering banget fotoin aku? Ngefans ya?"
"Iya dah iya ... demi Aletta," sautnya.
"Eh serius nanya,"
"Enggak, kan kamu lagi hamil besar-besarnya nih kan. Emang kamu enggak mau apa, ada dokumentasi pas lagi hamil?" celoteh Lisa.
"Iya juga sih, btw makasih ya Lisa!" seruku sambil tersenyum.
"Sama-sama gendut!" ujar Lisa sambil mencubit pipiku.
Setelah itu kami pun saling ngobrol dan membicarakan rencanaku setelah aku melahirkan.Sampai....
"Kamu nanti anaknya mau di kasih nama siapa, Letta?" tanya Lisa penasaran.
"Aku sih biar Eric aja yang ngasih nama..." ceplosku tanpa sadar dan membuat Lisa melongo.
"Oohh ... Jadi ada yang kangen gitu!" seru Lisa membuatku kaget.
"Emang tadi aku ngomong apa sih?"
"Dasar ibu hamil!" seru Lisa kemudian pergi meninggalkanku sendirian di ruang keluarga.
Aku pun hanya terdiam dan memandang kosong taman yang terlihat dari jendela bening ruang keluarga, aku tidak tahu apa yang tadi kuucapkan dan mencoba mengingatnya. Apa aku bicara aneh? tanyaku dalam hati
................
teh juga ada kafeinnya jg bahaya klo lg kambuh
eaaaaaaaa🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Salut sama Rendy cintanya ga pernah pudar untuk alleta😢