NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:54.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

“Mii… kok mami cepat banget pulangnya sih? Nginep di sini lagi aja, Mi…” rengek Aska sambil memeluk pinggang Vana erat-erat, seolah takut perempuan itu menghilang kalau dilepas.

Siang itu mereka semua berdiri di depan rumah, mengantar Vana yang bersiap pulang setelah mengurus dua bocah remaja itu sejak pagi.

Vana tersenyum lembut, mengusap rambut keduanya.

“Kan tadi kita sudah bicara, sayang. Lain kali mami nginep di sini lagi, ya. Tapi hari ini mami harus pulang dulu. Mami juga harus kerja,” ucapnya pelan, mencoba memberi pengertian meski pelukan mereka tak kunjung longgar.

 “Kalau gitu kita ikut mami pulang aja.”ucap Aksa langsung menimpali.

Aska mengangguk cepat. “Iya, kita ikut!”

“Tidak ada yang ikut. Kalian harus istirahat.”

Tatapannya singkat tertuju pada wajah Aska yang masih pucat. “Terutama kamu Aska.”

Aska dan Aksa menoleh bersamaan,menatap Leo sejenak dan kembali menatap Vana.

“Boleeh yaa, Mii…” rengek merekamenatap Vana dengan mata memohon., pura-pura tidak mendengar Leo sama sekali.

Dari samping, Kenan menyilangkan tangan di dada, menggeleng tidak percaya. “Pelet apa sih yang dikasih Vana sama mereka? Gue juga mau lah, biar dua singa itu bisa jinak.”

Leo menatap sinis. “Mereka anak gue, bukan anak singa.”

“Lah, emang gue salah?” Kenan mengangkat bahu. “Bahasa Inggrisnya singa apa? Leo, kan?”ucap nya mencoba menguji kesabaran Leo yang setipis tisu yang di belah tujuh.

Leo menghela nafas beratnya,“Itu Lion. Bukan Leo.”ucap Leo penuh penekanan.

“Cuma beda tipis!”jawab Kenan dengan santai tanpa takut yang membuat Agam tak kuasa menahan tawanya.

“Tipis dari Hong Kong, Ken.”ucap Agam.

Kenan cemberut, sementara Leo hanya mendengus.

Sementara itu, Vana masih terjebak di antara dua remaja yang menolak melepaskan pelukan mereka. Keduanya tak mau melepaskan Vana, seakan pelukan itu adalah kunci agar Vana tetap tinggal.

Vana terkekeh kecil, menepuk-nepuk punggung keduanya.

“Sayang… kalian nanti bikin mami nggak bisa napas loh,” godanya.

Aska mengerang pelan. “Yaudah kalau gitu kita napas bareng aja mi…”

Leo memutar bola mata. “Aska, itu bukan jawaban.”

Aska dan Aksa malah saling pandang, lalu menghela nafas berat bersamaan. Wajah murung terpampang jelas,tapi pelukan mereka belum juga kunjung lepas.

Vana tersenyum tipis melihat wajah murung keduanya. Ada rasa kasihan dan tidak tega untuk meninggalkan mereka, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan tanggungjawab nya di tempat kerja.

Walaupun mereka bukan darah dagingnya… tapi entah kenapa, kehilangan dua anak ini terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kehidupan yang pernah ia jalani.

“Kalian istirahat dulu, ya?” Vana menunduk menatap mata mereka satu per satu.

“Kalian ada obat, ada jadwal makan, ada… tugas sekolah. Mami balik lagi kalau kalian nurut.”

“Janji?” tanya Aksa cepat.

“Janji,” balas Vana mantap.

Aksa dan Aska mendesah pasrah, akhirnya melepas pelukan mereka.

“Tapi telepon kami tiap jam,” ucap Aska seolah itu hal yang normal.

Leo mendesah panjang. “Aska…”

“Tiap jam, Mi,” ulang Aska keras kepala, tanpa menghiraukan teguran dari Leo.

Vana tersenyum lebar, matanya hampir berkaca.

“Oke, tiap jam kalau kalian mau.”

Dua remaja itu pun akhirnya tersenyum, walaupun bukan senyuman lebar. Disisi lain, Leo hanya bisa diam sambil menghela nafasnya.

Ada ketakutan yang tak pernah ia akui:

Jika Vana pergi… apakah senyum anak-anaknya ikut pergi?

Kenan memecah suasana dramatis itu tanpa ampun.

“Kalau jam pertama telepon mami kalian nggak angkat telpon, kita bakar mobil kesayangan papi kalian!”seru Kenan dengan keras membuat semua mata langsung menatap nya.

Agam langsung nyengir. “Gue ikut bagian bensinnya!”sahut Agam mendukung sahabatnya itu.

Leo memijit batang hidungnya, wajahnya penuh kelelahan. Tidak anak, tidak sahabat, keduanya membuat Kepala Leo rasanya ingin meledak.

“Kalian berdua mau hidup sampai besok atau tidak?”ucap Leo dengan suara yang dalam dan penuh pengancaman.

Reflek Agam dan Kenan mengangkat tangan mereka tanda menyerah.

"Tenang broo, serius amat jadi orang. " ucap Kenan masih dengan nada bercanda nya.

"Kalian nggak usah ikut ikutan kayak mereka. Jangan buat papi marah." ujar Leo memperingati keduanya anaknya.

“Kalau papi marah, ada mami yang bela kami.”jawab Aska.

Vana terkekeh. “Mami bela kalau kalian bener.”

“Kami selalu bener.”ucap kompak Aksa dan Aska

“Kalian selalu ngotot,” balas Vana sambil mencubit pipi mereka satu-satu.

Aksa meringis. “Mi… itu sakit!”

“Makan hati mami lebih sakit,” balas Vana dramatis.

Agam dan Kenan langsung bersiul rendah.

“Wah, ini nih emak sejuta umat.”

Leo memperhatikan interaksi itu dalam diam—terlihat biasa dari luar, tapi hatinya… hangat.

Sangat hangat.

Dan sedikit… takut kehilangan.

“Sudah.” Leo menepuk pelan bahu kedua anaknya. “Lepaskan maminya dulu.”

Meski berat, Aksa dan Aska akhirnya mengangguk pelan.

Vana pun melangkah mundur, menghela napas panjang.

“Oke… mami pergi pergi dulu, ya… Permisi semuanya”

Langkah kecilnya memutar ke arah mobil—

Namun baru dua langkah Vana berjalan, Aska kembali berseru.

“MII! Jangan lupa bales chat kami kalau kami spam!”

Vana menoleh sambil tertawa.

“Iya anak tampan.”

Vana pun masuk ke Mobil,pintu Mobil tertutup rapat. Mobil berjalan perlahan…

Aksa dan Aska berdiri berdempetan, melambaikan tangan dengan wajah muram, seolah Vana pergi untuk perang dunia.

Leo menatap mereka singkat.

“Masuk.”ucapnya.

“Kepala duluan atau kaki duluan pi?” ucap Aksa mengeluh.

“Buntut duluan,” sahut Aska sambil lesu.

Leo mendengus. Pertanyaan bodoh macam apa ini?,"Pilih yang paling cepat saja." ucap Leo.

Keduanya akhirnya masuk. Mereka tidak ingin berdebat dengan Leo.

Dari sisi lain Kenan berbisik pada Agam.

“Dua bocah itu galau.”ucap nya.

Agam mengangguk. “Gue aja nggak pernah digituin cewek.”

Leo memutar badan, menatap dua sahabatnya itu.

“Wajar.”ucap singkat Leo.

“Maksud lu?”tanya Agam bingung.

Leo mengangkat dagu.“Liat muka kalian.”ucap pedas Leo yang seketika membuat keduanya langsung memegang dada keduanya. Setelah itu Leo meninggalkan keduanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Sungguh menyakitkan. " ucap Kenan dramatis.

"Emang nggak ada rem mulut manusia satu itu. " ucap Agam.

🍁🍁🍁

Tak butuh waktu lama, Vana akhirnya sampai di apartemennya. Begitu pintu terbuka, aroma lavender langsung menyambutnya, menyatu dengan kehangatan ruangan yang meski kecil, terasa rapi, bersih, dan penuh jejak kehidupan mereka berdua.

Lampu ruang tamu sudah menyala.

Di saat bersamaan, Azam baru keluar dari kamar mandi sambil membawa setumpuk pakaian basah. Rupanya ia baru selesai mencuci. Tanpa sadar kakaknya sudah pulang, Azam berjalan menuju jemuran dengan wajah santai.

"Kamu nggak kuliah Zam?. "tanya Vana memecah keheningan yang membuat baju yang di pegang Azam jatuh.

Mata Azam langsung membesar mendengar suara itu, “Kakak?!” Ia memutar badan secepat kilat—tatapannya syok seperti pencuri yang tertangkap basah.

“Kapan kakak sampai?”tanya Azam.

“Barusan. Waktu kamu keluar dari kamar mandi.” jawab Vana, matanya memperhatikan perubahan ekspresi Azam yang tiba-tiba tegang.

“Kok wajah kamu tegang banget, Zam?”tanya Vana.

Azam menelan ludah, tersenyum kaku.

“Azam nggak papa kok, Kak. Oh iya, kenapa kakak nggak telepon buat dijemput?” tanyanya cepat, jelas berusaha mengalihkan topik.

Tapi Vana hanya mengangkat satu alis—ia terlalu mengenal adiknya ini.

“Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kakak,Zam? ."ucap Vana penuh selidik.

Azam menggeleng keras,“Nggak ada, Kak. Serius.”ucap nya sambil mengangkat dua jari, sebagai tanda kalau ia tidak berbohong.

Vana tidak menjawab. Ia memandang adiknya lama, seolah mencari kebohongan dari sorot matanya. Pandangannya kemudian bergeser dan terhenti pada baju yang baru digantung Azam di jemuran.

Kaos oranye itu penuh noda hitam, seperti tinta spidol yang mengering.

Vana mengerutkan kening, pandangannya tertuju pada kaos oranye penuh noda itu.

“Itu baju kamu? Kenapa banyak noda kayak gitu?” tanyanya perlahan.

Bibir Azam langsung mengeras, tubuhnya menegang. Tak ada jawaban keluar—hanya napas yang tiba-tiba terdengar lebih berat.

“Azam,” ulang Vana, suaranya lebih dalam. “Jawab Kakak. Itu baju kamu kenapa?”

Azam menunduk pelan, ia tidak berani menghadap pada Vana.

“Anu, Kak…”ucap Azam gugup.

“Anu apa?” tekan Vana.

Azam menelan ludah sebelum akhirnya berkata,

“Sebenarnya… kemarin baju Azam yang ini dipinjam teman. Terus… dia nggak sengaja pakai baju Azam buat kerja dan kena noda kayak gitu.”ungkap Azam.

Vana mempersempit tatapannya.

“Kamu yakin?”tanya nya memastikan.

Azam mengangguk cepat.

“Iya, Kak. Kalau Kakak nggak percaya, Azam bisa telepon temen Azam sekarang.” Ia segera merogoh ponselnya dari saku, bersiap menekan nama seseorang.

Namun sebelum sempat melakukan apapun, suara lembut kakaknya menghentikan gerakan itu.

“Kakak percaya sama kamu.”ucap Vana.

Gerakan Azam langsung terhenti. Ia memandang Vana, sedikit terkejut dan sedikit bersalah.

“Tapi kamu harus ingat,” lanjut Vana, nadanya berubah tegas. “Kakak nggak suka kamu kerja sampingan sembarangan kayak gini. Bukan karena Kakak nggak mau kamu mandiri, tapi Kakak ingin kamu selesaikan pendidikan kamu dulu. Fokus ke tujuan kamu.”

Azam mengepal tangan pelan, suara kecil keluar dari mulutnya.

“Iya, Kak…”

“Untuk masalah biaya, sekarang biar Kakak yang selesaikan. Oke?. "

Azam hanya mengangguk.

“Iya, Kak."

Keheningan mengalir sebentar di antara keduanya. Lalu Vana menghela napas tipis.

“Ya udah… kalau gitu Kakak ke kamar dulu,” ucapnya sebelum melangkah pergi.

Azam hanya berdiri diam, memandangi punggung kakaknya yang menjauh. Sementara itu rasa bersalah makin menumpuk di dadanya

"Maafin Azam Kak. "bisik nya didalam Hati.

Azam kembali melanjutkan pekerjaannya. Untuk kali ini mungkin ia bisa selamat dari kebohongannya, tapi cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar juga. Azam hanya bisa menghela nafas nya sesekali.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!