Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama
"Itu nggak gratis, Bebe. Ada bayaran mahal untuk ini."
GLEK
Amanda terdiam seketika, sembari menatap Brian dengan tatapan cemas. Ia lantas menelan salivanya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Senyuman yang Brian perlihatkan seperti sinyal jika dirinya dalam bahaya.
"Kamu mau bayaran apa? Aku nggak punya uang banyak," kata Amanda, suaranya tidak jelas lantaran napasnya seolah tercekat.
Brian mendengkus mendengar perkataan Amanda. Bagaimana bisa sang istri merasa jika dirinya menginginkan uang darinya.
"Uangku sudah banyak. Aku nggak butuh uang darimu yang nggak seberapa itu," kata Brian sarkas.
"Huh, sombong," balas Amanda ketus.
Brian tak merasa marah dengan ucapan Amanda, ia justru terkekeh seolah makian Amanda hanya sebuah lelucon.
"Lalu kamu mau apa? Jangan aneh-aneh ya," ucap Amanda seraya menatap Brian dengan curiga.
Brian kembali menoleh ke arah Amanda, menatap wanita itu datar, tetapi mampu membuat Amanda merasa terintimidasi, bahkan untuk sekedar menarik napas ia merasa kesulitan.
"Turuti semua yang kukatakan!" kata Brian.
"Hah! Menuruti semua maumu?" tanya Amanda dengan keterkejutan yang tak bisa dirinya sembunyikan.
"Tanpa terkecuali," imbuh Brian.
Bayaran mahal yang Brian inginkan memang terdengar sederhana, tetapi berhasil mengguncangkan seluruh dunia Amanda. Wanita itu tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dirinya menuruti semua perkataan pria itu. Semuanya! Tanpa terkecuali. Terdengar mengerikan.
"Mulai detik ini pindah ke apartemen. Kita tinggal bersama," lanjut Brian.
Amanda terdiam sesaat masih dengan menatap Brian. Ia merasa hidupnya mulai kehilangan arah. Namun, sesaat kemudian Amanda mulai menyingkirkan keraguan dalam dirinya. Awalnya Amanda ingin menolak lantaran dirinya masih merasa canggung, tetapi mengingat kembali status mereka dan anak dalam kandungannya membuat Amanda akhirnya menyetujui itu.
"Ya baiklah. Tapi kita ke kosanku dulu, aku harus mengambil barang-barangku," kata Amanda disambut gelengan oleh Brian.
"Buang semua barang-barang murahan itu!" suruh Brian. Nada suaranya yang tegas dan sorot mata yang tajam membuat Amanda tidak bisa berkutik.
"Tapi, itu sayang. Barang-barangku masih bagus. Dari pada dibuang lebih baik disumbangkan," ucap Amanda dengan suaranya yang lirih nyaris tidak terdengar.
"Aku nggak terima bantahan, Bebe. Lagi pula aku nggak semiskin itu untuk menyumbangkan barang-barang bekas," kata Brian sarkas.
Amanda memutar bola matanya malas, mulutnya membuka bersiap ingin memaki pria itu karena kesombongannya, tetapi kembali lagi, pria di sampingnya itu memang kaya raya tidak mungkin juga menyumbang barang-barang bekas, mau ditaruh di mana harga dirinya nanti. Pada akhirnya keinginan untuk memaki Brian, ia urungkan. Amanda hanya menggerundel di dalam hati.
"No, debat," ujar Brian.
Amanda mendesah pelan, kemudian menoleh ke arah Brian. "Ya baiklah," sahut Amanda akhirnya memilih untuk menyerah.
"Good girl." Brian tersenyum puas seraya mengacak-acak rambut Amanda, merasa gemas dengan ekspresi wanitanya itu.
Kesunyian kembali merebut situasi di antara mereka, tak ada lagi perdebatan kecil di tengah mereka, mereka terdiam dengan kegiatan masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba di apartemen. Keduanya masuk ke dalam lift pribadi yang akan membawa mereka menuju unit apartemen milik pria itu. Sepanjang jalan tangan Brian melingkar di pinggang Amanda berhasil menciptakan rasa yang sulit untuk Amanda ungkapkan.
Jantung Amanda bergetar hebat lebih dari biasanya. Entah sejak kapan ia mulai merasa nyaman dengan sikap posesif pria di sampingnya itu.
Bayangan masa lalu tiba-tiba melintas, membuatnya teringat saat masih bersama Reno, meskipun sang mantan melakukan hal sama, tetapi rasanya jauh berbeda, tidak se nyaman saat bersama Brian. Sentuhan Brian tak memberikan keresahan sedikit pun.
TING
Dentingan halus dari lift memecah keheningan serta membuyarkan lamunan Amanda yang sejak tadi tenggelam dalam masa lalu bersama pria bernama Reno. Sesaat kemudian Amanda menghela napas dalam-dalam mencoba membuang bayangan masa lalunya yang meninggalkan luka begitu dalam di hatinya.
Pintu lift terbuka, Amanda dan Brian melangkah keluar. Kaki mereka menelusuri lantai marmer menuju pintu masuk apartemen yang akan mereka tinggali bersama.
Keduanya kini berdiri di depan pintu dengan desain modern yang menjulang dan terlihat begitu kokoh. Tangan Brian lantas terangkat, menekan pin, enam angka. Pintu pun terbuka, memberikan keduanya akses masuk ke tempat itu. Kedatangan mereka langsung disambut oleh kemegahan tempat itu.
Untuk kesekian kalinya Amanda masuk ke tempat itu, selalu merasa kagum dengan kemewah tempat itu. Langit-langit yang menjulang dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya tamaran, serta dinding kaca yang mampu memperlihatkan pemandangan kota.
Ia lantas berjalan ke arah berlainan dengan Brian, langkahnya menuju dekat dinding kaca. Matanya berbinar seolah takjub menyaksikan pemandangan kota pada malam hari. Dari tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat hampir keseluruhan kota, sangat indah dengan lampu-lampu gedung dan jalanan yang menyala, terlihat seperti bintang yang bertaburan.
Amanda kembali mengayunkan langkah ke sisi lain, menginjakkan kaki di lantai marmer yang indah, nampak bercahaya oleh pantulan lampu. Di hadapannya ada pintu kaca yang memisahkan ruangan itu dengan dunia luar. Tangannya kemudian terulur untuk membukanya. Di balik tempat itu ada kolam berenang yang cukup luas, airnya nampak berkilau diterpa cahaya lampu di tempat itu.
Beberapa saat kemudian bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, bentuk kekaguman tanpa kata. Sebelumnya dirinya tidak membayangkan bisa berada di tempat se-mewah itu. Anggaplah kali ini dirinya beruntung.
Sementara itu masih Brian berdiri dalam diam, nyaris tidak bergerak, tatapannya memerhatikan Amanda begitu dalam, memerhatikan setiap gerakan kecil sang istri. Matanya yang tajam tak melepaskannya dari Amanda meskipun hanya sesaat, seolah tak ingin kehilangan moment berharga itu.
Namun, sesuatu seolah menariknya untuk mendekat ke tempat wanita itu. Brian lantas mengayunkan langkah dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, gerakannya pelan tetapi penuh perhitungan. Sampai di dekat Amanda, ia langsung memeluk wanita itu dari belakang.
"Ngapain?"
Amanda tersentak saat merasakan pelukan Brian. Bibirnya pun mengerucut sebal. "Bisa nggak sih nggak buat aku kaget."
Alih-alih merasa bersalah, Brian justru terkekeh. "Mau berenang?"
Amanda langsung menggelengkan kepala. "Orang bodoh mana yang berenang malam-malam. Mana dingin banget lagi."
"Tapi aku bisa bikin kamu hangat nanti." Brian berucap lirih seperti sedang berbisik, nadanya pun terdengar sedang menggoda.
"Maksud kamu, kita berenang sambil pelukan?" tanya Amanda polos.
Brian terkekeh pelan lantas berucap, "Lebih dari itu, Bebe."
Tubuh Amanda dibuat merinding oleh ucapan Brian. Ia mulai tahu ke mana arah pembicaraan pria itu. "Nggak ya."
Brian kembali terkekeh, lantas membalikkan tubuh Amanda hingga membuat tubuh mereka saling berhadapan.
"Tidur, ini sudah malam," kata Brian. Pria itu lantas memberikan kecupan di kening Amanda yang mampu menghantarkan kehangatan ke seluruh tubuhnya.
Amanda lantas mendongak menatap Brian secara langsung. "Tapi aku mau dikelonin."
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣