NovelToon NovelToon
ARSHEL (Arion & Sheril)

ARSHEL (Arion & Sheril)

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:455.4k
Nilai: 5
Nama Author: haniyahhputri

Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.

Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.


Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.

Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - Kesalahpahaman (2)

"Arion!" Panggil Adena, ia berlari kecil menghampiri Arion.

"Kenapa Adena?"

"Sorry, nyokap gue mau minta gue sampaikan ke elo kalau nyokap gue gak bisa jadi tutor elo selama sebulan ini. Ada masalah personal. Gak apa-apa'kan?" Adena langsung menyampaikan apa yang hendak di sampaikan tanpa basa-basi terlebih dahulu.

Arion mengangguk santai, tidak merasa keberatan sama sekali. "It's okay. Gue juga udah mulai bisa menyesuaikan diri sama Jakarta, dari mulai bahasa sampai kebiasaan. Kalau emang masalah penting banget, gue gak akan maksa nyokap lo untuk kembali ngajar gue." Meskipun begitu, Arion masih pelan-pelan jika mengucapkan sesuatu menggunakan bahasa Indonesia dalam kalimat banyak sekaligus. Berhati-hati agar tidak salah berbicara.

Adena menghela napas lega. "Thank's Yon, nanti bakal gue sampaikan ke nyokap. Istirahat nih, lo mau ke kantin? Tadi Sheril bilang mau ke kantin bareng Radinka," ajak Adena seraya melirik jam tangannya.

Mulut Arion terbuka, hendak menolak ajakan Adena. Namun sebelum Arion menolak, Adena sudah menarik Arion terlebih dahulu menuju kantin sekolah.

Selama di perjalanan, Arion mengikuti ajakan Adena tanpa membantah. Tapi, Adena dan Arion sama-sama mengurungkan niatnya ketika melihat Gara, Sheril dan Radinka sedang tertawa terpingkal-pingkal. Mereka bertiga terlihat sangat akrab, apa lagi mengingat kejadian jam pelajaran pertama tadi ketika Sheril sedang mengeroki punggung Gara membuat perasaan Arion semakin tidak nyaman.

Arion baru mengetahui tentang 'kerokan' setelah Andre memberitahunya tadi di awal jam istirahat.

"Mereka akrab?" Tanya Arion dan Adena secara bersamaan. Keduanya saling melemparkan tatapan penasaran.

🌞🌞🌞

Salah seorang guru akhirnya mendatangi tempat kejadian terjadinya keributan di jam istirahat. Pak Doni harus mengurunkan niatnya untuk makan karena ada seorang siswi mengadu kepadanya tentang perbuatan Gara.

"Itu tu pak, si Gara sama temennya." Tunjuk siswi itu kearah Radinka, Gara dan Sheril yang masih tertawa jahat.

"GARA! KENAPA KAMU SUKA CARI GARA-GARA MULU HAH? PANTESAN NAMAMU GARA!" Omel pak Dono.

Tidak memberi kesempatan untuk Radinka, Sheril dan Gara kabur dari hadapan Pak Doni karena mereka kalah cepat.

"Gara, Sheril ikut bapak ke ruang BK! Kamu juga Radinka!"

Radinka mendengus, Sheril berdecak malas, sementara Gara bersikap biasa saja seakan ia tidak melakukan kesalahan. Mereka bertiga membuntuti pak Dono menuju ruangan Bimbingan Konseling.

Sesampainya di ruang Bimbingan Konseling, Gara duduk di kursi kelewat santai, Sheril berekspresi biasa saja, berbeda dengan Radinka yang memasang raut wajah sanik alias santai tapi panik.

"Nah, apa lagi ulah kalian?" Pak Doni duduk dengan tegak, tatapan tajamnya menghujani ketiga murid itu yang telah membuat ulah.

Gara mengernyit, "kok kalian? Kan cuma saya doang pak yang tadi nyalain petasan,"

Berani bertindak berani menananggung resiko, itulah Gara. Senakal-nakalnya Gara, ia akan selalu bertanggung jawab dan tidak pernah lari dari masalah dan senakal-nakalnya Gara ia paling tidak mau membawa nama teman kedalam perbuatannya.

"Mereka gak bersalah pak, biarin mereka istirahat kan saya yang salah." Lanjut Gara tetap membela kedua temannya.

Pak Doni menghela napas kemudian mengatakan, "ya sudah, Radinka dan Sheril boleh istirahat. Gara biar sama bapak dulu,"

"Gar," gumam Sheril, merasa tak enak dengan Gara.

"Udah sana lo berdua keluar terus istirahat!" Usir Gara galak.

Sheril dan Radinka saling melirik, saling memberi kode sebab mereka berdua merasakan hal yang sama, tidak enak kepada Gara.

Padahal yang menyuruh Gara untuk menyalakan petasan adalah mereka berdua, tapi Gara yang terkena imbasnya.

"Tapi saya yang nyuruh Gara buat nyalain petasan pak," Sheril berusaha membela Gara sebagaimana Gara telah membela dirinya

"Saya juga yang nyuruh pak," tambah Gara.

"Bohong pak, dari awal juga saya yang udah nyalain petasan itu. Kalau gak percaya tanya aja Aidan, dia jadi korban pertama saya," ujar Gara cepat, tidak ingin merumitkan masalah ini.

"Udah sana lo berdua keluar!" Usir Gara, kini suara perintahnya lebih tinggi di bandingkan sebelumnya, menegaskan jika Sheril dan Radinka harus keluar.

Mau tak mau, Sheril dan Radinka harus segera keluar dari ruang Bimbingan Konseling mendengar Gara sudah mempertegas perintahnya.

"Sorry Gar," ujar Sheril merasa bersalah lalu keluar dari ruang Bimbingan Konseling.

"Thank's Gar," susul Radinka.

Selepas Sheril dan Radinka keluar dari ruangan Bimbingan Konseling, pak Doni menghela napas. Merasa bingung hendak memberi siraman rohani apa lagi kepada Gara. Segala macam model ceramahan sudah pak Dono sampaikan kepada Gara sejak lelaki itu masih menginjak kelas X.

"Bingung Gar, bapak mau ceramahin kamu apa lagi." Ungkap pak Doni jujur.

Gara menanikkan alisnya sebelah menatap pak Doni, menahan bibirnya yang ingin menyunggingkan sebuah senyuman miring.

"Kamu pasti sudah tahu kalau di buku kasus itu nama kamu sudah banyak, kamu juga tahu kalau sekarang kamu sudah kelas dua, terus apa lagi? Jangan cari gara-gara terus dong Garaze mentang-mentang nama panggilanmu Gara bukan berarti kamu selalu mencari gara-gara," pak Doni menghela napas kemudian melanjutkan memberi nasihat kepada Gara.

"Kalau kamu mencari gara-gara sekali lagi, surat peringatan yang akan bertindak. Kamu akan di skors selama dua minggu."

Yang di nasihatinya hanya diam sambil memgetuk-ngetukkan sepatu di lantai, ia mulai merasa jenuh.

"Gara, kamu gak kasihan sama orang tuamu yang sudah kasih kamu segala fasilitas dan membiayai kamu sekolah. Kalau kamu mau berubah bapak akan bantu,"

"Enggak tuh saya gak merasa kasihan," jawab Gara tak acuh.

"Saya gak berubah pak, di kira saya power ranger kali berubah, atau bapak mau nyamain saya kayak bunglon yang suka berubah?" lanjut Gara dengan nada malas.

Gara bersumpah, ia lebih memilih untuk di hukum dengan gamparan saja seperti satu tahun yang lalu tanpa ada embel-embel nasihat panjang lebar seperti siraman rohani. Cukup di gampar lalu urusan selesai. Tidak seperti ini terus di ceramahi yang berefek samping akan membuat Gara sakit hati.

"Iya pak, saya ngerti. Kalau gitu saya boleh keluar? Sudah bel masuk," ucap Gara karena tak ingin berlama-lama di sini.

Akhirnya pak Doni mengangguk, percuma saja rasanya ia memberi nasihat kepada Gara. Tanpa basa-basi lagi, Gara langsung melenggang pergi keluar ruangan Bimbingan Konseling.

🌞🌞🌞

"Berulah apa lagi lo?"

Sheril menghentikan langkah kakinya mendengar suara bass menusuk itu. Sudah tidak asing lagi, ini adalah suara Arion.

Saat ini Sheril setengah senang dan setengah merasa kesal. Senang karena ternyata Arion masih memperhatikannya, senang karena Arion sampai menyusulnya kemari tapi Sheril juga merasa kesal karena apa harus pertanyaan itu yang di ajukan setelah mereka tidak bertegur sapa setelah sekian lama.

Sheril melipat kedua tangannya, "Gak ada pertanyaan lain mbak?" Berusaha mempertahankan tembok yang telah Ia bangun susah payah.

Arion mengedikkan bahunya, kemudian melenggang pergi begitu saja dari hadapan Sheril.

"Ish, nyebelin banget sih tuh bule! Gak jelas banget!" Sheril menghentak-hentakkan kakinya kesal melihat sikap Arion, ia mendengus lalu pergi ke arah berlawanan Arion pergi.

Untuk kali ini, Sheril tidak ingin mengejar Arion seperti biasanya.

* * *

"Gue gak tahu kalau ternyata elo seakrab itu sama Adena,"

Gara tak bisa menahan bibirnya untuk mengatakan hal-hal yang telah ia pendam sejak tadi. Berhasil menahan tangan Gara agar tidak memukul saja adalah suatu kemajuan.

Arion menghentikan langkah kakinya mendengar sindiran Gara. Ralat, bukan sindiran, kalimat itu memang jelas-jelas di tujukan kepadanya.

"Gue juga gak tahu kalau ternyata elo sama Sheril seakrab itu," balas Arion tak mau kalah.

Gara menyeringai, melipat kedua tangannya dan bersandar di balkon depan kelas. Melayangkan tatapan menantang kepada Arion.

"Gimana Sheril? Dia yang selalu dukung dan ada buat lo, tapi apa yang lo balas?" Gara tidak bisa menahan dirinya untuk menyerang Arion.

"Emang Adena punya lo?" Sarkas Arion.

Rangga benar, selagi Adena belum menjadi miliknya, siapa saja termasuk Arion bebas merebut Adena.

Tapi Gara tetap merasa tidak adil jika masih ada orang yang ingin merebut Adena darinya. Apa masih kurang perjuangan Gara selama 3 tahun ini?

Melihat Gara terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaannya, Arion tersenyum miring. "Bukan'kan?"

"Gue suka sama Adena. Jadi, gue berhak dong memperjuangkan Adena? Bahkan gue rela kalau harus merebut Adena dari lo,"

Tidak bisa di tahan, Gara langsung melayangkan tinjuan ke wajah tampan itu. "Berengsek!"

"Tuh kan kata gue juga apa, pasti Gara bakal jotos si bule!" Histeris Vian lalu segera berlari untuk memisahkan Gara dan Arion.

Vian menarik Gara agar tidak menyerang Arion lebih lanjut, baru saja Gara keluar dari ruang Bimbingan Konseling, masa iya tidak sampai satu jam Gara harus kembali di panggil ke sana?

"Udah Gara udah! Sesuai kesepakatan pertemanan kita, gak ada yang namanya berantem karena cewek!" Vian menjadi panik sendiri.

Tanpa sempat Aidan menahan, Arion membalas pukulan Gara tak kalah kencang.

Aidan langsung menarik Arion sekuat tenaga, memberi jarak agar semakin tidak memperkeruh keadaan.

Andre berkacak pinggang, menghela napas melihat ulah kedua temannya. Sementara Rangga hanya diam, mengamati lebih lanjut sebab ia sudah tidak terkejut lagi jika hal ini terjadi.

"Gue gak akan membela salah satu dari kalian, karena kalian berdua disini sama-sama salah." Andre memang selalu menjadi penengah di antara teman-temannya jika sudah terjadi keributan. Wataknya yang setenang air dan tegas selalu berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

"Gara, Arion berhak memperjuangkan apa yang dia ingin perjuangkan termasuk memperjuangkan Adena. Gue tahu apa yang terjadi di antara elo dan Adena itu bukan suatu hal mudah.

Elo juga gak bisa memaksakan Adena untuk tetap di samping lo, Adena bukan barang, dia juga punya keputusan sendiri demi kebahagiaanya. Lo ngehajar Arion, itu gak akan menyelesaikan masalah, malah semakin memperburuk keadaan."

Gara dan Arion bungkam, tidak ada yang membuka suara, mereka mendengarkan nasihat Andre dengan saksama.

"Buat lo Arion, seperti yang gue bilang tadi, lo berhak memperjuangkan apa yang ingin lo perjuagkan. Tapi ingat, ini bukan cuma tentang lo sama Adena. Ada hati yang mesti lo pertimbangkan juga. Sheril, pernah gak sih sekali aja lo lihat keberadaan cewek itu? Gue gak mau apa yang elo sia-siakan sekarang bakal jadi penyesalan elo di masa depan,"

Rangga dan Andre saling melemparkan tatapan, seolah mereka berdua sedang melakukan telepati. Rangga dan Andre memang mengetahui secara detail apa yang terjadi di antara Arion, Sheril, Adena, dan Gara.

Rangga memang terkadang sama rusuhnya seperti Vian, tapi cowok itu juga memiliki sisi misterius seperti Andre.

"Udah udah abangnya udah mau pulang, lo berdua sekarang minta maaf, kalau lo berdua gak baikan hari ini juga gue bocorin ban motor lo pada," ancam Rangga.

Gara memutar bola matanya malas, "bocorin aja, gue tinggal telpon supir buat jemput gue," rupanya Gara masih mengibarkan bendera perang.

Geregetan, Vian menyentil telinga Gara hingga cowok itu meringis kesakitan.

"Bandel ya udah di bilangin! Minta maaf sekarang!" Vian mulai mengomel macam emak-emak kompleks.

Tentu saja Gara tidak langsung menuruti perintah teman-temannya. Gengsi cuy! Dia yang mencari gara-gara duluan masa ia juga yang harus minta maaf? Gak banget itumah buat Gara!

Gara masih terdiam, pura-pura tidak mendengar apa yang Vian katakan.

Sementara Arion terdiam, memikirkan kembali apa yang telah ia lakukan barusan. Ini sudah jauh di luar kendalinya.

Rangga menjadi gemas, ia menarik tangan Gara dan Arion secara paksa untuk bersalaman. Kedua belah pihak itu sama ogah-ogahan untuk berbaikan.

"Bilang minta maaf!" Suruh Rangga galak.

"Sorry." ujar Arion secara singkat, padat dan jelas.

Gara mengangguk malas. "Gue juga, minta maaf,"

Mereka tersenyum senang melihat Gara dan Arion sudah saling meminta maaf walau secara ogah-ogahan.

"Nah kan gini enak, pelukan dong!" Aidan dan Vian secara serempak mendorong Arion dan Gara hingga bertubrukan.

Tidak sampai di situ saja, Aidan, Vian, Rangga dan Andre juga ikut berpelukan. Kini mereka seperti keluarga teletubbies.

Otak Arion tidak bisa berpikir jernih setelah apa yang ia katakan barusan. Dalam hati, Arion terus-terusan merutuki dirinya sendiri.

Andre diam-diam mencuri pandang ke arah Arion, setelah bel berbunyi, yang lain langsung masuk ke dalam kelas sementara Arion Andre tahan di tempat.

"Berhenti membohongi semua orang Arion, termasuk berhenti membohongi diri lo sendiri."

Arion merasa tertohok dengan perkataan Andre.

1
Iceu Ktp
novel mu bagus aku suka cerita nya semangat untuk berkarya
Niyan Wahyuni
😭😭😭
Pipit Sopiah
dari season pertama sekarang season kedua serasa sheril ngejar-ngejar Arion 🤦‍♀️
Pipit Sopiah
di season 2 lanjut lagi,,, tp tolak dong sheril jangan berharap terus. ubah sikap dan tingkah lakumu.
Pipit Sopiah
maaf Thor setiap bab aku ga kasih komen habisnya aku nangis terus bacanya
Pipit Sopiah
lanjut
Pipit Sopiah
hadir di ceritamu thor
haniyahhputri
Arion is such a lovely because he exists in Author's real life. Rayhan also exists in Author's real life.
Meidy Mangalengkang
visualnya dong
abel
kak season 3 kapan up?
udh nunggu lama bgt 😭
mrs.wang
ceritanya bagus, detil bgt, tiap bab nya gak ada yg aq skip, pernah nyoba skip biar langsung ke bab yg sheril sm arion lg mani2nya, eh malah gak nyambung, akhirnya baca lagi yg diskip td, overall ceritanya bgs bgt, cm part uwu sheril arionnya dikit bgt, dan endingnya kayak kurang greget gtu, krn yakin deh banyak yg pengen arion sm sheril resmi pacaran trs nikah. kli seandainya di season 3 sheril gak sm arion, atau arion dibuat meninggal fix aq gak lanjut baca cerita ini, krn aq pengen arion sheril segera happy ending, dan buat rayhan kasi cewek baru
mrs.wang
arion tinggal lamar sheril lalu nikah, gampang toh?
mrs.wang
sheril hrs sm arion, kasi cewek baru buat raihan
mrs.wang
gak rela klo sherli gak sama arion, sherli hrs sm ariob
mrs.wang
🥰🥰🥰🥰🥰
mrs.wang
love bgt sm cerita ini
mrs.wang
bagus bagus bagus ceritanya🥰
mrs.wang
bagussssss bgtttt ceritanya😭😭😭
mrs.wang
huhuhu manis bgt ceritanya🥰
Ayuu Puspiitaa
kapan nih season 3 dah lama banget nunggunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!