Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Delapan
Pintu kamar sudah diketuk beberapa kali sebab penghuninya yang sedari pagi hingga waktu hampir menunjukkan pukul tujuh tak ada tanda-tanda akan keluar, sementara Akram pagi ini dijadwalkan akan meeting dan sore tanpa pulang berencana akan lanjut ke Singapura, rencana yang harusnya lusa diajukan satu hari lebih awal.
Tujuannya mengetuk pintu tak lain dan tak bukan adalah berpamit menemui putrinya, namun melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya ketika terpaksa membuka pintu membuat sorot matanya memaku.
Kini yang dilihat putrinya amat pulas tertidur, mendekap nyaman di samping wanita yang biasanya tak pernah akur. Mungkin karena terbawa suasana, Akram menarik ke dua sudut bibirnya memperhatikan ke duanya.
"Akram..." Panggilan itu berasal dari luar kamar, Maharani memperhatikan putranya yang berdiri lama tanpa pergerakan.
Tersentak, Akram merasa seperti kedapatan tengah dipergoki Ibunya sendiri, dirinya lalu buru-buru merubah ekspresinya datar dan beralih memutar tubuhnya beranjak pergi menghampiri sang Ibu dengan serta mengangkat jari telunjuk mengisyaratkan agar Ibunya tak lagi bersuara.
"Masih tidur?" ucap Ibunya lirih saat Akram menutup pelan pintu.
Kini Akram mengangguk. "Iya Ibu biarkan Nagita istirahat dulu," ucap Akram lalu menggandeng Ibunya menuntun menuju ruang makan.
Maharani menipiskan bibirnya, berusaha mentolerir apa yang dia lihat tadi. Melihat Manda, wanita itu yang masih tertidur. Tak hanya sekali dua kali dirinya mendapati Manda yang bangun kesiangan, yang baginya itu adalah kebiasaan aneh menyadari kalau Manda adalah wanita yang berstatus lajang dan tak ayal sampai sekarang belum menikah, batinnya.
"Pantas saja Nak Manda sulit dapat jodoh. Padahal seumuran sama kamu. Ucapan-ucapan orang dulu memang ada benarnya, kalau bangunnya kesiangan maka rejekinya dipatok ayam. Sulit dapat jodoh, itu contohnya," ucap Maharani saat sudah mendudukan diri di kursi makan.
Akram menanggapinya pun dengan seulas senyum, lalu berujar, "Mungkin Manda kecapekan Bu. Nagita akhir-akhir ini kan rewel."
Mendesah pelan, kemudian Maharani mengangguk membenarkan. "Kadang Ibu lihat Manda sering gregetan menghadapi putrimu. Yang Ibu lihat anak itu makin malah manja, kalau Ibu perhatikan mereka itu cocok."
Akram mengernyit membuat Maharani mencebik. "Waktu Ibu lebih banyak dibandingkan dengan kamu di rumah. Ibu tahu apa yang terjadi di rumah ini. Sedikit banyak Ibu perhatikan kamu lalu putrimu yang tiba-tiba kamu bawa kemari dan kamu akui sebagai anakmu. Tapi Ibumu tetaplah Ibumu yang tahu meski ada yang kamu sembunyikan dari Ibu."
Sejenak Maharani menghela, lalu menarik tangan putranya. Menggenggam dan menepuknya beberapa kali. "Ibu mengenalmu. Kamu gak mungkin berbuat hal lebih tanpa seijin Ibu, dan Nagita— mungkin kamu belum siap menceritakannya. Tapi yakin lah Ibumu ini juga menyayanginya."
Akram tersenyum mendengar penuturan Ibunya, dia beralih menarik pelan lalu mengecup punggung tangan Ibunya. "Terimakasih Bu. Jaga diri Ibu selama Akram tidak di rumah, titip Nagita juga. Terimakasih karena telah menyayangi dan menerimanya," ucap Akram tulus akan pengertian Ibunya.
Dari balik pintu Manda mendengar semua percakapan itu tanpa terlewati sedikit pun. Sebenarnya sejak dari saat Akram membuka pintu mendatangi kamarnya hingga terdengar suara panggilan dari Maharani sebenarnya dirinya telah terjaga. Hanya dia ingin tahu bagaimana respon Akram kala melihatnya dan putrinya bisa sangat dekat, meski pun salah satunya dalam keadaan tidak sadar yaitu Nagita.
Dan atas penuturan Maharani tadi Manda kini dibuat terkejut, mengetahui bahwa Nagita bukan anak dari Akram dan kemudian menyimpulkan bahwa Akram bukan lah seorang Ayah, dan pikirnya bisa jadi Akram bukan lah seorang duda seperti yang orang-orang katakan.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Akram?" gumam Manda makin penasaran akan kehidupan Akram, lantas yang dilakukannya perlahan menutup kembali pintu kamarnya.
To be Continue