Malam pertama bagi setiap pasangan Yang saling mencintai adalah suatu malam Yang paling terindah. Berbagi cinta kasih dengan penuh kemesraan tanpa adanya hukum Yang membatasi setiap ungkapan sayang tuk melampiaskannya.
Berbeda dengan pasangan Kapten Jiandra bersama sang bos mafia Yang terlibat dalam sebuah kasus, Yang mengharuskan keduanya untuk saling mengikat janji suci tanpa ada perasaan Yang tercipta di hati keduanya.
bagaimana kisah kapten Dan si bos mafia menjalani cerita hidup berumah tangga mereka...?!
Akankah malam pertama Yang indah bisa mereka rasakan..?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengkhawatirkan Andra
Flash back on
Nayla keluar dari mobil ambulans diikuti beberapa dokter dan perawat lainnya. mereka membentuk barisan dan nayla sebagai pemimpin barisan itu.
"Tolong kenakan jubah kalian agar kita dapat dikenali oleh para korban. Kita akan menggunakan protokol triase. Beri tanda hijau untuk korban yang non darurat, kuning untuk cidera ringan, merah untuk pasien gawat darurat dan pasien kritis. serta hitam untuk korban meninggal. Ayo kita kerahkan semua ilmu dan kemampuan kita. Fokus pada mereka yang bisa diselamatkan. Untuk penggunaan obat pengurang sakit seperti morfin atau demerol, kita tidak bisa menggunakan sembarang pasien, tolong di analisis dengan cermat dan teliti setiap pasien sebelum menentukan obat atau penanganan apa yang utama harus kita dahulukan. ah.. satu lagi. satu hal yang perlu kita ingat selalu, jangan sampai kita terluka, karena jika kita terluka kita tidak bisa menyelamatkan para korban yang saat ini sangat memerlukan uluran tangan kita. Ayo teman-teman, semangat. Ayo kita saling bekerja sama dengan baik. Semangat.... " nayla meneriakan dengan lantang kata semangat.
Ibra melihat takjub kepada nayla. si gadis bertubuh mungil itu ternyata kalau sedang serius seperti itu terlihat makin menggemaskan. Ia pun tersenyum-senyum sendiri.
Jian dan ibra lalu menghampiri nayla yang sedang bersiap-siap dengan peralatannya.
"Hai nay, kamu kesini juga"sapa jian.
"Hai jian, iya nih, semoga aku dan timku tidak terlambat datang"
"Waktu kalian sangat pas, sebenarnya aku dan timku sudah kewalahan, semua persediaan obat-obatan dan peralatan medis kami hampir habis, sedangkan para korban masih banyak yang belum teratasi. "ucap jian
"wah kebetulan sekali kalau begitu, ternyata tidak sia-sia kami datang ke tempat ini, kamu ngapain liatin aku kayak gitu? tanya nayla kepada ibra yang dari tadi hanya cengengesan sendiri.
"semua bakalan baik-baik saja jika kamu tidak berulah dengan para 'teman-temanmu' dari dunia lain. "ibra menekan kata teman-teman nayla, teman yang di maksud tidak lain yaitu teman makhluk astralnya nayla.
"is kamu nih.. Saat seperti ini aku gak akan meladenin mereka. bahkan saat ini ada yang berdiri disampingmu sedari tadi, tapi aku tak menghiraukannya. "ucap nayla ingin menakuti ibra.
"oh ya? disebelah mana? kamu gak nanya ke dia apa maunya dia ke kamu? "tanya ibra terkekeh.
Tiba-tiba wajah nayla berganti bingung serta sedih. Matanya fokus di tempat kosong sebelah ibra.
"Aku akan mencarimu. kamu tenang saja. "tiba-tiba nayla berbicara dan langsung beranjak dari tempat itu. Jian dan ibra mengerutkan keningnya tak mengerti, tapi mereka pun mengikuti nayla.
Nayla terus berjalan, Ia terlihat masuk kw dalam batsman sebuah minimarket. Tanpa takut nayla terus masuk kedalam ruangan yang sudah di penuhi dengan lumpur dan sampah. Ibra lalu mencegat nayla.
"Sebenarnya kamu mau kemana? tadi aku cuma bercanda. "ujar ibra
"Aku harus menyelamatkan seseorang. 'katanya' adiknya dan ia terjebak di dalam basman ini. "ucap nayla menunjuk ke depan.
"kamu yakin? aku akan menemanimu"ucap ibra.
"Aku juga. "jian pun ikut bersuara.
mereka bertiga lalu masuk ke dalam basman itu, lumpur dan sampah memenuhi ruangan itu, mereka dengan sangat hati-hati melangkah masuk karena sampah kebanyakan potongan-potongan kayu dari bangunan yang rusak akibat hantaman tsunami.
Tak lama ibra menyuruh nayla dan jian untuk berhenti, karena ia seperti mendengar tangisan seorang bocah. Setelah memastikannya mereka segera berjalan lebih cepat ke arah tangisan itu. Ibra lalu mengintip ke dalam. ada seorang Balita yang sedang menangis, di sebelahnya ada kedua orangtuanya dan seorang gadis belia yang mungkin sudah tidak bernyawa lagi.
Ibra lalu mencoba menyingkirkan semua penghalang yang mengurung mereka di dalam. Jian dan nayla ikut membantu. Setelah berhasil membuka jalan masuk, ibra menghampiri anak itu, di gendongnya balita itu, jian dan nayla pun ikut memeriksa keadaan ketiga korban yang tergeletak di lantai. Kedua orang tua dari bocah itu sudah tidak bernyawa, tapi gadis belia itu masih terasa denyut nadi karotisnya.
"Ibra, sini bayinya, kamu gendong gadis kecil ini, kita masih bisa menyelamatkannya. dan jian tolong hubungi tim lainnya, minta mereka menyusuri tempat itu takutnya masih ada korban selain mereka."ujar nayla
Jian mengangguk dan langsung berbicara ke talki walki yang ada di tangannya. Ibra dan nayla langsung keluar dari basman ini dan pergi ke tenda yang sudah disiapkan untuk menangani pasien lebih lanjut.
Flash back off
"Andraaaaaa"
Teriak jian histeris. seketika semua orang yang berada di dekat jianpun refleks menoleh ke arah pria yang di tangisi oleh jian. Jian berlari menghampiri andra.
"Andra... andra.. kenapa jadi begini.. hiksss.. hikss... "
"Hei aku gak... apa-apa, jangan nangis donk "suara serak andra masih terdengar tenang ia masih berusaha tersenyum walau darah mengucur deras dari luka tusukan.
"ah.. huaaaaa... "Jian terus menangis, ia berusaha menutupi luka tusukan di perut andra.
"Andra kenapa jian? "tanya ibra menghampiri jian
"Tadi ada yang menusuk andra. hiksss... hikss kok tega banget laki-laki itu, mana kabur lagi.. huwaaaaaa" umpat jian masih terus menangis..
Andra yang sudah kehilangan banyak darah berusaha untuk tetap tersenyum, walaupun kesadarannya mulai hilang..
"Kita harus segera membawa andra ke mobil ambulance. Biar aku aja yang menanganinya. kamu tenangin jian dulu. "ucap nayla kepada ibra. Nayla datang bersama beberapa perawat yang membawa tandu. Ibra lalu memegang pundak jian, dan memapah jian berdiri, sedangkan andra sudah tidak sadar. perawat dengan cekatan membawa andra ke dalam mobil ambulance, nayla juga ikut serta dalam mobil itu.
"bra aku mau ikut sama nayla, aku khawatir banget sama andra. "ujar jian
"iyah, sekalian kamu istirahat. sepertinya kelelahan membuat kamu tambah gelisah. kita ke tim dulu, habis itu kita susul nayla" nayla hanya mengangguk.
Setelah menemui timnya jian dan ibra langsung menyusul nayla ke rumah sakit. di sepanjang jalan jian terus menangisi andra sambil melihat tangannya yang banyak darahnya andra. Ibra prihatin melihat kesedihan jian.
Ternyata hatimu malah memilih andra jian. gumam ibra dalam hati. tiada lagi rasa sakit seperti penolakan jian tempo hari. Ibra sadar bahwa sedari awal jian memang hanya menganggap ibra tidak lebih dari sahabat.
Ibra dan jian lalu bergegas pergi ke rumah sakit. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang teru memperhatikan mereka sedari tadi.
Siapa laki-laki itu? mengapa jian seperti sangat mengkhawatirkannya? Apa jian sudah melupakanku? berbagai pertanyaan menyelimuti pikiran Agung. Agung yang semula ingin memberikan kejutan kepada jian malah sebaliknya.
****
TBC
penasaran nih
lama Bgt nunggu nya