NovelToon NovelToon
Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:19.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rou Hui

Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.

Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.

"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-

"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Janji Akan Selalu Bantu Kamu

Mengingat waktu yang sudah larut malam, tadinya Jeany mengira Kevin akan mengajaknya ke kafe tidak jauh dari rumah laki-laki itu. Namun, Kevin ternyata mengajaknya ke ujung Jakarta Utara, ke sebuah kafe yang memiliki pemandangan laut lepas. Saking besarnya, menurut Jeany kafe tersebut juga cocok disebut sebagai restoran.

Mereka duduk di bagian luar kafe, di kursi dekat pagar kayu yang langsung berbatasan dengan laut. Mungkin karena akhir pekan, hingga larut malam kafe tersebut masih ramai. Kevin memilih tempat duduk yang di sebelah kanan dan kirinya tidak ada pengunjung lain.

"Sebenernya lebih bagus ke sini waktu sunset, tapi kita kemalaman banget," ucap Kevin sedikit menyayangkan.

"Gapapa begini juga cantik pemandangannya."

Dan romantis, tambah Jeany dalam hati.

Pemandangan laut lepas di malam hari yang dihiasi lampu-lampu bangunan di kejauhan memberi kesan tersendiri di matanya. Suasana yang berbeda membuat mereka seolah-olah tidak sedang berada di Jakarta.

"Jadi mau mulai dari mana ceritanya?" tanya Jeany tidak lama kemudian.

Kevin tertawa melihat Jeany yang memasang wajah serius. Rupanya atmosfer tenang dan menyenangkan yang tercipta dari hamparan lautan tersebut belum mampu meredakan ketegangan gadis itu.

"Sabar dulu. Kita pesen makan dulu ya," jawab Kevin.

"Oh iya ...." Jeany tersenyum malu.

Kevin kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan. Ternyata menunya sangat bervariasi, tidak melulu hidangan laut. Jeany memilih nasi goreng karena merasa lambungnya tidak nyaman dan harus diisi nasi.

"Yakin nasi goreng? Gak mau nyobain kepiting campurnya?" tanya Kevin menyebutkan nama menu favorit di kafe tersebut. Karena menurutnya kalau mau makan nasi goreng, di rumah juga bisa.

Jauh-jauh diajak ke tempat bagus, masak cuma makan nasi goreng?

Jeany menggelengkan kepalanya. Ia sudah membayangkan repotnya mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya. Kevin tidak memaksa, ia sendiri memilih tenderloin steak. Jadilah mereka berdua makan di tepi pantai tanpa hidangan laut sama sekali.

Dalam diam mereka berdua menunggu datangnya makanan dan minuman yang telah dipesan. Kevin sengaja membiarkan Jeany menikmati suasana yang ada. Matanya tak lepas memandang wajah gadis itu. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika dilihatnya seulas senyuman terbentuk di bibir Jeany.

"Dulu sekali papaku pernah ngajak ke pantai pasir putih," ucap Jeany tiba-tiba. "Tapi waktu itu aku gak suka," lanjutnya kemudian.

"Kenapa gak suka?"

"Soalnya panas banget." Jeany tertawa kecil. "Habis itu papaku bilang lain kali mau ajak ke tempat yang sejuk biar aku senang. Tapi gak pernah kesampaian."

"Kenapa?" Kevin agak kesal pada dirinya yang tidak bisa berkata lain selain menanyakan kenapa.

"Papaku keburu gak ada."

"Oh. Sorry."

Jeany menggeleng.

"Udah lama banget kok. Udah 10 tahun yang lalu."

"Oh? Tapi bukannya adik kamu baru umur 8 tahun?"

Jeany cukup terkejut karena ternyata Kevin tidak melupakan percakapan ringan mereka yang ketika itu dilakukan sambil makan.

"Dia adik tiri."

Kevin tertegun. Wajah Jeany yang semula sendu berubah menampakkan kebencian.

"Apa ... apa kamu ada masalah sama adik kamu?" tanya Kevin perlahan.

Jeany tersenyum pahit.

"Sejak dia ada, mamaku gak pernah memperhatikan aku lagi. Wajar kan kalo aku benci dia?" tanya Jeany sambil melihat langsung ke mata Kevin.

"Errr .... Mungkin mama kamu kerepotan mengurus bayi, jadi kamu merasa kurang diperhatikan," jawab Kevin berhati-hati.

"Iya mungkin." Jeany berkata sambil tersenyum tipis.

Mereka berhenti berbincang karena minuman yang dipesan telah tiba. Jeany yang merasa tenggorokannya tiba-tiba kering, berkonsentrasi menikmati minumannya. Kevin juga sejenak bermain-main dengan minumannya. Ia mengaduk-aduk isi di dalam gelas tanpa meminumnya, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Kok cuma diaduk-aduk minumannya?" tanya Jeany

"Jean, apa orang tua kamu sekarang udah gak biayain kamu?" Kevin malah balik bertanya.

"Engga. Papa tiriku bangkrut. Mamaku sampai jual mobil peninggalan papaku."

"Mobil yang kamu pakai waktu SMA dulu?"

Jeany mengangguk.

"Dulu di parkiran SMA kita sering banget papasan. Tapi kamu sombong gak pernah nyapa." Kevin tertawa mengenang masa SMA mereka. Bisa jadi salah satu tempat ia paling sering bertemu dengan Jeany selain di kelas adalah di tempat parkir.

"Kita gak akrab waktu itu. Aneh aja kalo aku tiba-tiba nyapa. Kamu juga gak pernah nyapa," balas Jeany.

"Kalo gitu kita sama-sama sombong hehehe ... Ngomong-ngomong kamu kok bisa SMA di Jakarta? Maksudku di Surabaya kan sekolah udah bagus, beda ama kotanya Randy."

"Di kota ini papa meninggal dan dimakamkan. Lagian aku cuma pengganggu di keluarga baru mamaku, jauh dari mereka seperti ini yang terbaik buat semua."

"Ah. Kapan terakhir kali kamu ketemu mamamu?"

"Dua tahun yang lalu."

"Udah lama ya."

"Dia bilang hasil penjualan mobil mau dibagi dua, buat sekolah adikku dan biaya kuliahku. Tapi aku cuma dibohongi."

Lagi-lagi Kevin melihat sorot mata penuh kebencian itu.

"Kamu udah coba bicara sama mama kamu?"

"Buat apa? Dia udah gak peduli sama aku. Apa dia gak mikir gimana aku bertahan hidup di Jakarta tanpa kiriman uang dari dia? Sekadar telpon tanya kabar aja gak pernah!" jawab Jeany sedikit terbawa emosi.

"Enggalah, Jean. Mana ada ibu yang gak sayang sama anaknya?"

Jeany tiba-tiba tertawa sumbang.

"Kamu mau bukti kalo dia gak sayang aku? Gak lama setelah jual mobil, dia ajak aku ke notaris. Aku diminta tanda tangan untuk persetujuan penjualan tanah papaku. Tadinya aku gak mau karena takut kejadiannya seperti waktu jual mobil. Tapi aku mau kasih dia kesempatan. Lagian aku juga lagi butuh banget uang."

Melihat Jeany yang hingga saat ini masih kesulitan, Kevin dapat menebak cerita selanjutnya. Ia sungguh sulit mempercayai ada ibu yang bisa bersikap seperti itu terhadap putri kandungnya.

"Jadi sekarang kamu bener-bener putus kontak dari mama kamu?"

"Iya."

Kevin dapat melihat betapa kebencian mampu mengubah seseorang yang biasanya lembut menjadi keras hati. Sering dikecewakan membuat Jeany terjebak dalam kebencian yang tidak berujung. Pemuda itu sungguh takut suatu hari akan mengecewakan gadis itu dan dibenci olehnya.

"Jean, aku janji akan selalu bantu kamu. Kamu harus bilang ya soalnya aku kadang gak peka orangnya."

"Iya."

Ketika makanan datang, keduanya langsung menyantap makanan tersebut karena sudah sangat lapar. Tidak ada lagi yang berkata-kata. Tiba-tiba Kevin meletakkan satu potong besar daging steak ke atas piring Jeany.

"Cobain, enak banget deh," kata Kevin antusias.

Jeany memasukkan potongan daging steak tersebut ke dalam mulutnya. "Iya enak banget," ucapnya sepakat.

"Betul kan? Aku kira kafe ini cuma jual pemandangan aja, ternyata makanannya juga enak. Boleh nih lain kali ke sini lagi."

"Ini pertama kalinya kamu ke sini?"

"Iya. Aku memang udah lama pengen ajak Stevi ke sini, tapi malah kamu duluan yang aku ajak hehe ...." Kevin merasa benar adanya pepatah yang mengatakan manusia merencanakan, tetapi Tuhanlah yang menentukan.

"Kan masih ada banyak waktu buat ajak Stevi," ucap Jeany menahan rasa cemburu yang menyeruak di hatinya.

Cemburu? Sadar, Jeany kamu gak ada hak buat cemburu. Kamu bukan siapa-siapa dia.

Tanpa sadar Jeany menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran buruk yang muncul tanpa permisi.

"Kamu kenapa?" tanya Kevin heran.

"Eh? Gapapa kok cuma sedikit dingin aja," jawab Jeany berbohong.

"Oh. Aku ke toilet bentar ya." Kevin memberitahu Jeany.

Pemuda itu meninggalkan ponselnya di atas meja, yang tidak lama kemudian berdering menunjukkan nama Stevi sebagai pemanggil. Jeany sesaat merasakan godaan untuk mengangkat panggilan tersebut.

1
Nona En En
g tau udah berapa kali aku baca novelmu ini thooor,,,,
Rou Hui: Bahagia sekali baca komentar ini. Makasih ya Kakak masih ingat novelku 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hutami Putri Wulandari
walau udah berkali2 baca tp tetep kangen sama novel ini ... novel yg bawa aku jadi suka baca sedari anak pertama aku bayi dan sekarang udah SD masih balik lagi kesini tengok siapa tau ada karyawan baru...
Rou Hui: Ya ampun kayaknya anak kita seumuran. Aku nulis ini pas anakku masih bayi. Sekarang dia udah kelas 1 SD. Makasih banyak ya, Kak, udah suka ama novelku 🥰🥰🥰
total 1 replies
Starry💫
Hai, Thor. Aku balik lagi kesini, entah untuk ke berapa kalinya, karena sudah lebih dari tiga kali aku baca novel ini 🤩
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
Rou Hui: Ya ampun makasih sekali, Kak. Aku senang karya lamaku masih diingat ❤️❤️❤️
total 1 replies
Monica Gendut Gendut
aku udah baca novel ini 2 Kali Thor, tp novel satunya kenapa ndak diselesaikan
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang
Rou Hui: Maaf, Kak. Semoga saya bisa lanjut nulis lagi. Makasih udah suka sama karya saya.
total 1 replies
ken darsihk
Rika teman nggak ada akhlak 😠😠😠
ken darsihk
Syukak sama pesan nya author bijak bngtt 😍😍
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Kevin Masih aja percaya sama mamanya,Sedangkan dia tau mamanya dr dulu gak suka dan gak restu hubungan mereka,Bukannya cari tau,Malah lebih membela mamanya,Untung aja mamanya sekarang udah mati,Jadi dia bisa bersama dgn Jeany dan anaknya,Ciba aja kalo mamanya masih ada..ckk
Qaisaa Nazarudin
KENNY=KEvin jeaNY
Qaisaa Nazarudin
Lisa..Lisa..Dengan kamu tahu dengan kamu membocorkan semua ini, Secara tak sengaja kamu telah memberi tau Kevin kalo itu bukan anaknya Randy, Berarti itu anaknya Kevin,Maka Kevin akan lebih semangat lagi utk mengejar Jeany..🤣🤣🤣🤣👍👍
Qaisaa Nazarudin
Ternyata banyak banget komplik nya..
Qaisaa Nazarudin
Kan Kevin jadi salah paham,Di sini seperti nya hanya Kevin yg berjuang sendiri..
Qaisaa Nazarudin
Jeany terlalu Egois,Di ahak nikah gak mau,Padahal Kevin udah berjuang demi hubungan mereka,Sanggup di usir dari rumah,Lha Jeany malah anteng2 aja dekat dengan Pria lain..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Gak salah Kevin mikir gitu,Selama ini Jeany selalu melarang Kevin masuk ke kosan,Lha Randy? Hanya alasan SAKIT di bolehin masuk?? ckck..
Qaisaa Nazarudin
Temen yg gak patut di ikutin dan contohin..
Qaisaa Nazarudin
Lha mulai deh DRAMA nya..
Selviana Budi Lestari
Luar biasa
Septi Bklu
jln cerita nya bagus banget tp sayang gak ada kelanjutan nya
Rou Hui: Terima kasih apresiasinya, Kak ❤️
total 1 replies
Kg Mughni Siddiq
Lumayan
Dewi Sri
/Good//Good/
Lusia Emilia Titik Kristiani
beberapa kali baca episode ini selalu mengandung bawang thor....😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!