Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 Gigitan Ikan Cupang
"Maaf bos apa itu tanda ..." Wisnu mengamati leher Maxime yang memerah di dua tempat.
Max langsung gugup dan salah tingkah mencoba menyembunyikan juga percuma. Wisnu tersenyum geli melihat bosnya panik.
"Bagaimana menutupnya?" gumam Max sembari menatap layar ponselnya yang memantulkan bayangan lehernya yang sedikit merah keunguan.
"Pakai makeup saja bos"
"Make up? memang saya punya?"
"Tenang bos kita panggil pakarnya" Wisnu beranjak memanggil Serly, sebelum masuk ke ruangan bos mereka, Wisnu sempat berbisik pada Serly soal leher bos yang di gigit ikan cupang. Serly cekikikan tidak bisa menahan geli sekaligus gemas.
"Jangan tertawa di depan bos, cepat sana" kata Wisnu yang juga menahan tawa
Serly berdiri di depan meja kerja Maxime sambil membawa make up-nya yaitu cushion.
"Apa itu?" tanya Maxime menunjuk cushion yang di pegang Serly.
"Ini bisa buat menutup noda di wajah atau kulit pak, cara pakaian tinggal di tap tap saja"
"Oke, pakaikan" kata Max.
Serly memakaikan cushion itu di leher Maxime karena bekas gigitan ikan cupang.
"Sudah pak"
"Serly ini rahasia kau jangan sampai bercerita pada siapapun!"
"Aman pak"
"Oke thanks panggil Wisnu, meeting kita mulai sekarang"
"Baik pak"
Meeting pagi ini cukup memanas karena Maxime marah besar. ada koruptor di perusahaannya. rugi yang di alami perusahaan mencapai lima puluh miliar. Max sampai menggelontorkan dan pribadinya untuk menutup kerugian itu. Max juga menjaga jangan sampai kolega dan cliennya tahu nanti reputasi perusahaan bisa turun.
"Saya sengaja tidak menghadirkan para koruptor itu di meeting ini karena saya tidak mau melihat wajah mereka" kata Max.
Semua tertunduk diam tidak ada yang berani membuka suara. termasuk Wisnu yang merasa kecolongan. selama ini memang Wisnu lebih banyak membantu Max di perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage. sementara di perusahaan otomotif Max juga memiliki asisten sendiri.
"Saya kecewa dengan kalian semua kenapa kinerja kalian seperti ini? apa sama sekali tidak ada yang curiga keuangan perusahaan di mark up?" Max menggebrak meja meeting, suasana serasa mencekam.
Max bisa saja langsung memutus hubungan kerja dengan para direksi itu. tapi ia mengurungkan karena masih memikirkan kehidupan mereka. semua juga tahu jika di pecat dari perusahaan Maxime maka akan sulit mencari pekerjaan di perusahaan lain.
Semua terdiam, Max dengan wajah kecewa mengakhiri meeting paginya. ia melangkah keluar ruangan meeting dan memutuskan pergi sebentar ke perusahaan milik mertuanya, ia ingin bertemu Aurora. baru berpisah beberapa jam saja Max rasanya sudah tidak tahan ingin melihat wajah cantik istrinya.
"Kita ke perusahaan papa Antoro" kata Max yang sudah duduk di dalam mobil.
"Baik bos, pasti bos sudah rindu dengan mba Aurora ya? padahal baru beberapa jam berpisah bos. tapi kalau orang kasmaran memang suka begitu bos maunya bertemu terus" oceh Wisnu sembari mengemudi.
Sebaliknya Max menatap tajam asistennya yang suka sok tahu itu. rasanya Max ingin memelintir leher Wisnu karena kesal.
Menyadari Max menatapnya tajam dan kesal Wisnu langsung panik.
"Maaf bos saya bukan maksud mau ikut campur, benar bos maaf" kata Wisnu cemas kalau di pecat.
"Kau masih mau bekerja dengan saya?" tanya Max santai.
"Mau bos, maaf bos saya lancang tadi"
"Hmmm sekarang diam dan fokus lihat ke depan!"
"Baik bos"
Max menggelengkan kepala, Wisnu dan Serly memang sering membuatnya pening. tapi secara kemampuan bekerja memang patut di acungi jempol hanya saja mulutnya suka tidak terkontrol kalau bicara. Wisnu adalah rekomendasi dari papa Gunanto dulu sewaktu pertama kali Max menjabat sebagai CEO di perusahaan makanan dan minuman milik papa Gunanto. sampai sekarang Wisnu masih setia bekerja dengan Maxime meski Max sering galak padanya tapi Max juga baik ada Wisnu. Max sering menaikkan gaji Wisnu lengkap dengan fasilitas dan lebih dari itu Max menganggap Wisnu seperti keluarganya
"Oh ya kau sudah tahu siapa bocah ingusan itu?"
"Bocah ingusan?" Wisnu sempat berpikir sesaat.
Max mengangkat wajahnya menatap Wisnu dengan pandangan tidak sabar dan seolah ingin menelannya bulat-bulat.
"Oh iya bos maksud bos teman sekolah mba Catherine kan?"
Max menghela napas sembari meremas jemarinya.
"Nama anak itu Abian Hendarso, ayahnya pejabat publik dan ibu tirinya sosialita gitu bos"
"Abian Hendarso? apa mereka berteman?"
Max merasa tidak asing dengan nama belakang anak itu.
"Mereka pacaran bos" kata Wisnu santai.
"Apa?! pacaran?!"
Wisnu sampai kaget melihat reaksi Max mendengar adik tercintanya sudah mulai pacaran.
"Memang kenapa bos? mba Catherine sudah dewasa bos dan anak itu juga dari keluarga terpandang"
"Saya tidak perduli mau dari keluarga terpandang atau apapun yang jelas kau gagalkan hubungan mereka. saya tidak suka anak itu"
"Tapi kenapa bos?"
"Wisnu kau menolak perintah saya?" tanya Max dengan nada lembut yang menakutkan.
"Eh tidak bos, siap saya akan gagalkan hubungan mba Catherine dan pacarnya"
Max tahu sekarang siapa pejabat bernama Hendarso itu. ia juga tahu bisnis dan reputasi orang itu. karenanya Max tidak setuju Catherine pacaran dengan anak itu. menurut Max seusia Catherine memang lebih baik fokus pada pendidikan bukan malah pacaran.