NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam pertama di karang wilis dan tugas

Bab 9

Raditya baru saja selesai dari mengantar Nayla

Dia meninggalkan area penginapan.

Langkahnya seperti biasa—mantap, tidak terburu-buru, tidak juga terlambat. Sepatunya berbunyi pelan di atas tanah lembap, meninggalkan jejak tipis di lumpur yang belum kering sepenuhnya.

Malam Karang Wilis berbeda.

Bukan gelap biasa, tapi gelap yang terasa penuh. Langit di atas kepalanya luas tanpa gangguan cahaya kota. Bintang-bintangnya muncul berlebihan, terlalu terang

Angin malam bertiup pelan dari utara. Dingin. Membawa aroma tanah basah dan daun yang baru selesai diguyur hujan sore tadi. Pohon-pohon di pinggir lapangan bergoyang pelan, daunnya berbisik dalam bahasa yang hanya mereka mengerti.

Di kejauhan, suara jangkrik mengisi keheningan.

Raditya berjalan terus.

Pikirannya sudah lebih dulu sampai di lapangan. Menghitung. Memetakan.

Dua bulan. Tiga puluh prajurit. Satu dokter sipil yang tidak bisa diam.

Satu variabel yang belum bisa ia kalkulasi sepenuhnya.

Lapangan muncul di balik tikungan setapak.

Di bawah cahaya lampu portabel, tiga puluh prajurit duduk bersila dengan rapi. Barisan lurus, punggung tegak, mata menunggu tanpa gelisah.

Sersan Dimas berdiri di sampingnya, selembar kertas di tangan. Ia menoleh saat mendengar langkah yang sudah ia hafal.

"Letnan." Dimas mengangguk singkat.

Raditya tidak menjawab. Ia mengambil posisi di depan barisan, tangan di belakang punggung. Matanya menyapu tiga puluh wajah satu per satu.

Diam sedetik.

"Dimas," katanya pelan.

"Mulai."lanjutnya

Dimas membuka kertasnya. Jadwal dua bulan ke depan,

"Baik, dengarkan baik-baik." Suaranya tegas, menjangkau prajurit di barisan belakang.

"Ini agenda kegiatan selama penugasan di Karang Wilis."

"Pertama—Patroli Wilayah. Dua kali sehari, pagi dan sore. Rute mencakup batas desa bagian utara, timur, dan selatan. Tujuan: memantau pergerakan pihak yang bersengketa dan memastikan warga sipil tidak terdampak langsung."

"Kedua—Pengamanan Pos Perbatasan. Tiga titik pos, shift dua belas jam sekali. Setiap shift dua orang. Tidak ada pos yang boleh kosong."

"Ketiga—Mediasi dan Pendekatan Warga. Seminggu sekali, tim kecil turun ke pemukiman tanpa senjata tampak. Tujuan: warga merasa dilindungi, bukan diawasi."

"Keempat—Latihan Fisik dan Taktik Lapangan. Setiap pagi pukul 05.00. Medan di sini tidak mudah. Tidak ada yang boleh lengah."

"Kelima—Koordinasi dengan Pemerintah Desa. Pertemuan rutin seminggu dua kali dengan kepala desa dan tokoh masyarakat."

"Keenam—Pengawalan Distribusi Bantuan. Kawal sembako, obat, dan peralatan medis agar tidak disalahgunakan."

"Ketujuh—Penjagaan Tenda Medis. Dua prajurit berjaga setiap saat. Dokter dan tenaga medis adalah aset yang harus dilindungi."

"Kedelapan—Laporan Harian. Setiap malam pukul 20.00, perwakilan regu melapor ke pos komando."

"Kesembilan—Protokol Darurat. Bentrokan terjadi, evakuasi warga sipil prioritas pertama. Tenda medis kedua. Baru penanganan konflik."

"Terakhir," suara Dimas pelan tapi berat,

"Kesepuluh—Jaga kepala. Kalian satu tim. Satu orang ceroboh, tiga puluh orang menanggung risikonya."

Hening.

Angin lewat sekali lagi.

Raditya melangkah maju satu langkah. Matanya menyapu barisan pelan.

"Ada pertanyaan?"

Satu tangan terangkat di barisan tengah. Prajurit muda, wajahnya masih baru.

"Lapor, Letnan. Kalau terjadi bentrokan saat patroli malam, prosedurnya bagaimana?"

"Tidak ada tembakan tanpa perintah. Tidak ada provokasi balik. Prioritas mundur dan laporkan posisi. Paham?"

"Siap, paham."

"Pertanyaan lain?"

Hening lagi.

Raditya mengangguk kecil.

"Bubar. Istirahat. Patroli pertama besok pagi jam lima."

Dimas melipat kertasnya, menyelipkan ke saku. Ia melirik Raditya.

"Ketat juga jadwalnya," gumamnya pelan.

Tiga puluh prajurit berdiri serentak. Suara sepatu dan gesekan tas memecah keheningan sebentar, lalu mereka berpencar.

Raditya memutar tubuh.

Melangkah ke arah tendanya. Melewati pohon-pohon yang masih bergoyang pelan, melewati lampu portabel yang cahayanya mulai ditelan malam.

Langkahnya tenang. Seperti selalu.

Lalu—

"Ehem. Ehem."

Raditya tidak berhenti.

Dimas menyusul di sampingnya, mata terangkat ke langit malam dengan ekspresi orang yang tiba-tiba jadi ahli astronomi.

"Bintangnya bagus ya, Let," gumamnya. Nadanya terlalu santai untuk jadi kebetulan.

"Banyak banget malam ini. Cerah."

Raditya tetap diam.

"Jarang-jarang bisa lihat bintang sebanyak ini. Di Jakarta mana bisa," lanjut Dimas, masih pura-pura menatap langit.

"Kalau langit sebersih ini biasanya... tandanya hari esok bakal menarik."

Hening.

Angin lewat.

"Atau mungkin bukan hari esoknya yang menarik,"

Tidur Dimas ucap Raditya singkat padat dan jelas

---Letkol Aldi duduk santai di kursi kayu di luar tenda. Satu kaki menyilang di atas lutut, tangan melingkar di sekitar cangkir kopi yang masih mengepul tipis. Matanya terpejam setengah, wajahnya damai seperti orang yang sedang tidak punya beban apapun di dunia ini.

Angin malam menerpa pelan. Ia menghela napas panjang — puas.

Buk.

Sebuah tas besar mendarat keras di sampingnya.

Aldi membuka mata.

Dimas berdiri di depannya dengan tangan di pinggang dan ekspresi yang tidak bisa memilih antara kesal atau tidak percaya.

"Wah, wah, wah." Dimas menggelengkan kepala pelan — tapi justru itu yang paling berbahaya dari Dimas, geleng kepala pelannya. "Nggak bener nih. Nggak bener sama sekali."

Aldi melirik tasnya yang mendarat di tanah, lalu melirik Dimas, lalu kembali ke kopinya.

"Masa seorang perwira berpangkat Letkol—" Dimas melanjutkan, suaranya naik satu nada, "—nggak ada disiplinnya sama sekali? Orang lagi rapat, dia malah enak-enakan di sini."

Aldi menyeruput kopinya.

"Mana ada kopinya lagi." Dimas menunjuk cangkir itu dengan satu jari. "Santai banget. Kayak lagi di teras rumah sendiri."

Aldi menurunkan cangkirnya pelan. Menoleh ke Dimas dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali.

"Kopi mau?" tanyanya kalem.

Dimas terdiam sedetik.

"...Mau."

Ia menarik kursi di sebelah Aldi, duduk, lalu menyandarkan punggungnya dengan cara yang persis sama seperti yang baru ia kritik dua detik lalu.

Aldi tersenyum tipis. Tidak berkata apa-apa.

Angin malam lewat lagi. Pohon-pohon bergoyang pelan.

Dimas menerima cangkir kopi yang disodorkan Aldi, menyeruputnya sekali, lalu menghela napas panjang.

"Enak juga malamnya di sini." gumamnya.

"Kan." balas Aldi singkat.

Raditya yang kebetulan melintas di depan tenda pos berhenti sedetik.

Matanya jatuh ke arah dua sosok yang sedang duduk santai di kursi kayu — Aldi dengan kopinya, Dimas yang baru saja mengkritik tapi sekarang sudah duduk dengan posisi yang persis sama.

"Dendeng."

Satu dengus sinis keluar dari hidungnya.

"Cih."

Ia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi — melewati tenda pos, melewati lampu portabel yang cahayanya mulai redup, sampai akhirnya resleting tendanya sendiri terbuka dan ia masuk ke dalam.

Di dalam tenda, senyap.

Hanya suara angin yang sesekali menekan dinding kain dari luar.

Raditya melepas topinya, meletakkannya di atas meja kecil di sudut tenda. Jarinya bergerak ke kancing seragam — satu per satu, dari atas ke bawah — sampai seragam hijaunya terbuka dan ia lepaskan dari bahunya.

Tubuhnya yang kekar tampak dalam cahaya lampu portabel yang redup — otot bahu dan punggung yang terbentuk bukan dari gym, tapi dari tahun-tahun lapangan. Bekas luka tipis di sisi rusuk kanan, samar tapi ada.

Ia duduk di tepi ranjang lapangannya.

Meletakkan siku di lutut. Menunduk sebentar.

Pikirannya kembali ke lapangan tadi. Ke tiga puluh wajah yang menunggu. Ke peta Karang Wilis yang sudah ia hafal tapi belum tentu ia kuasai.

Dan tanpa ia rencanakan — ke satu perempuan yang berdiri diam di depan pintu tenda medis tadi.

Matanya sipit. Lelah. Tapi tidak takut.

Raditya mengembuskan napas pelan.

Ia berbaring, menatap langit-langit tenda.

Besok.

Selesaikan besok.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!