Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Zarlin Menjaga Jarak
Pukul enam pagi, di ruang kerja Rahesa, Pak Bramasta sudah duduk di kursinya dengan raut wajah yang amat serius.
Di hadapannya, Hendra, orang kepercayaannya berdiri sambil menundukkan kepala setelah menyerahkan sebuah map berisi laporan pergerakan Theo Falcon sejak semalam.
Bramasta membuka map tersebut, membaca lembar demi lembar dengan teliti. Keningnya perlahan berkerut dalam.
"Hanya ini yang kamu dapatkan, Hendra?" tanya Bramasta, suaranya terdengar berat dan kurang puas.
"Benar, Tuan Besar," jawab Hendra hati-hati.
"Tim kami sudah memantau sejak semalam. Pergerakan Theo Falcon terbilang sangat biasa dan datar. Dia hanya bergerak dari rumah, pergi ke kantor, lalu malamnya sempat ke apartemen sekretarisnya, Bianca, untuk urusan darurat perusahaan, dan langsung kembali pulang tengah malam. Tidak ada indikasi hubungan aneh atau perlakuan fisik yang mencurigakan terhadap Nona Zarlin dalam beberapa hari terakhir."
Bramasta menyandarkan punggungnya, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Informasi ini tidak sepenuhnya salah, karena Theo memang sengaja menyembunyikan pertengkarannya dengan Zarlin agar tidak mengacaukan saham Falcon Corp yang sedang di ujung tanduk.
"Begitu ya..." gumam Bramasta, sedikit bernapas lega namun instingnya sebagai seorang ayah belum sepenuhnya tenang.
Seketika, Bramasta teringat bahwa Zarlin pernah berkata jika suaminya kerja diluar kota.
"Apa mungkin sudah pulang." pikirnya
Padahal Theo tidak kerja diluar kota melainkan tetap dirumahnya.
...****************...
Sementara itu, di dalam mobil mewah menuju kantor Rahesa Group, situasi di antara Zarlin dan Tristan terasa sedikit canggung.
Zarlin duduk diam di kursi samping pengemudi, disamping Tristan yang menyetir.
Zarlin tahu, teguran halus ibunya semalam adalah sebuah peringatan. Sang ibu sudah curiga ada yang tidak beres.
Zarlin tidak ingin rencana pembalasan dendamnya yang sudah dia susun rapi menjadi berantakan hanya karena orang tuanya ikut campur terlalu dalam.
Dia ingin menghancurkan Theo Falcon dengan tangannya sendiri, perlahan dan menyakitkan, tanpa mengotori nama besar keluarga Rahesa.
"Zarlin, kamu banyak diam sejak tadi," ujar Tristan
Zarlin menoleh, lalu memaksakan sebuah senyuman profesional yang tipis.
"Tristan, mulai hari ini di kantor... aku harap kita bisa menjaga jarak yang profesional sebagai rekan kerja."
Tristan terdiam sejenak, tangannya yang berada di setir mobil tampak mengencang sesaat.
"Kenapa? Karena ucapan Ibu Amelia semalam?"
"Itu salah satunya," jawab Zarlin pelan, matanya menunduk menatap tangannya sendiri.
"Bagaimanapun juga, secara hukum, aku masih istri sah Theo sebelum ketuk palu pengadilan keluar. Aku tidak ingin ada desas-desus miring yang merugikan nama baikmu dan keluargaku."
Zarlin menarik napas dalam-dalam, ada kepedihan di matanya yang coba dia sembunyikan.
"Dan lagi pula... aku belum siap, Tristan. Pernikahan tiga tahunku dengan Theo... telah meninggalkan luka yang terlalu dalam. Aku masih trauma dengan laki-laki, selain ayahku sendiri. Aku butuh waktu untuk benar-benar menyembuhkan diriku sendiri sebelum bisa membuka hati untuk siapa pun."
Mendengar kejujuran Zarlin yang sarat akan trauma mendalam, kemarahan atau rasa kecewa di hati Tristan seketika menguap, digantikan oleh rasa iba dan hormat yang semakin tinggi. Tristan mengangguk pelan.
"Aku mengerti, Zarlin. Aku akan menghormati batasanmu. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap dan bebas dari bayang-bayang bajingan itu."
...****************...
Begitu tiba di kantor pusat, Zarlin langsung disibukkan dengan dokumen megaproyek pelabuhan yang baru saja mereka urus lewat revisi kontrak semalam.
Di koridor utama lantai atas, Pak Bramasta kebetulan sedang berjalan bersama beberapa direksi dan berpapasan dengan putrinya.
Bramasta sengaja berhenti, matanya langsung tertuju pada interaksi antara Zarlin dan Tristan.
Namun, apa yang dilihat Bramasta pagi ini sangat berbeda dengan keakraban penuh letupan romansa di rumah semalam.
Zarlin berdiri agak berjarak dari Tristan, menyapa pria itu dengan anggukan formal dan wajah yang dipenuhi senyuman profesional yang ceria, seolah-olah tidak ada beban hidup yang sedang menghimpit pundaknya.
"Pagi, Ayah," sapa Zarlin dengan senang, berjalan mendekati Bramasta dan mencium pipi ayahnya dengan manja seperti biasa.
Melihat senyuman putrinya yang tampak begitu lepas dan tidak melihat adanya kedekatan yang mencurigakan dengan Tristan di area kerja, hati Bramasta yang sempat dirundung kecurigaan menjadi jauh lebih tenang.
"Mungkin semalam Amelia hanya terlalu sensitif" batin Bramasta mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Pagi, Putri kesayangan Ayah. Bekerjalah dengan baik hari ini," ujar Bramasta sambil menatap Zarlin dengan penuh kasih sayang, sebelum melanjutkan langkahnya bersama jajaran direksi.
"Kalau kamu lapar, ayah ada bawakan roti tadi. Nanti diambil saja diatas meja ayah, ya." ujar Bramasta
"Iya ayah, makasih."
Zarlin mempertahankan senyumannya sampai ayahnya benar-benar menghilang di balik lift. Begitu suasana sepi, senyuman manis itu seketika luntur dari wajah cantiknya, digantikan oleh tatapan mata yang kembali sedingin es.
Zarlin melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dan langsung mengunci pintu dari dalam. Dia mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat, menyandarkan tubuhnya di pintu.
Melepas topeng keceriaan di depan orang tuanya ternyata menguras tenaga yang luar biasa.
Zarlin berjalan menuju meja kerjanya, lalu perlahan menggulung lengan blazer hitam premium yang dia kenakan hingga ke siku.
Di sana, di atas kulit lengan kanannya yang putih bersih, masih terlihat dengan sangat jelas bekas memar keunguan yang cukup lebar.
Itu adalah luka akibat cengkeraman kasar tangan Theo Falcon saat pria itu mengusirnya dari rumah.
Karena cengkeraman Theo saat itu terlalu kuat dan penuh emosi, memar itu menjadi sangat parah dan terasa sangat sulit untuk hilang, bahkan setiap kali tidak sengaja tersenggol, rasa nyerinya masih membuat Zarlin mendesis kesakitan.
Zarlin menatap memar itu dengan tatapan mata yang berkilat penuh dendam yang membara. Tangan kirinya mengelus permukaan memar tersebut perlahan.
Setiap rasa sakit dari memar ini sebuah pengingat baginya. Pengingat akan setiap makian, setiap penghinaan, dan setiap tetes air mata yang dia korbankan demi pria tidak tahu diuntung seperti Theo Falcon.
"Kamu pikir masalah dua puluh miliar semalam sudah membuatmu aman, Theo?" bisik Zarlin lirih pada keheningan ruangan, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman sinis yang mematikan.
"Itu baru permulaan. Aku akan memastikan, setiap rasa sakit yang kau lakukan di tubuhku ini, akan dibayar lunas dengan kehancuran total dari seluruh hidup dan harga dirimu."
Di dalam kesendirian ruang kerjanya, Zarlin kembali merapikan lengan blazernya, menyembunyikan luka fisik dan traumanya rapat-rapat di balik kain mahal, siap untuk melanjutkan pembalasan dendamnya sendirian tanpa perlu bantuan siapa pun.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!
dah nikmati aja karmamu 🤪