Kisah cinta Dev dan Maya yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
Saat mengetahui tentang perjodohan itu, keduanya sama-sama tidak mau dijodohkan karena mereka sudah memiliki kekasih masing-masing. Walau begitu Maya tetap berusaha menerima perjodohan itu.
Maya atau Vina adalah seorang mahasiswi jurusan keguruan atau PGSD,
Sedangkan Dev atau Vano, adalah mahasiswa fakultas ekonomi, jurusan Manajemen Bisnis.
Maya dan Dev, kuliah di universitas yang sama, tapi keduanya tidak tahu kalau orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka ternyata orang yang mereka sukai.
Bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran?
Lanjut baca yuk👉🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom's chaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin kita berjodoh
Maya merasa bingung, apa ia harus menemui orang yang mengiriminya pesan itu atau tidak. Setelah terus memikirkan, akhirnya jam 10.00 malam Maya pergi menemui orang itu. Dia naik ke geladak atas kapal mencari orang yang mengirim pesan kepadanya, tapi Maya tidak melihat siapapun disana.
Maya mengedarkan pandangannya kesemua arah, tapi dia benar-benar tidak melihat siapapun. Dia memutuskan untuk kembali ke kabin, karena dia pikir mungkin saja yang mengirim pesan itu hanya orang iseng yang mengerjainya.
Maya membalikkan badannya dan, dugggg.....tubuhnya membentur seseorang.
Maya sangat terkejut karena dari tadi dia tidak merasa melihat orang lain disana. Dia mendongakkan kepalanya, ingin tahu siapa orang yang ditabraknya, dan ternyata dia adalah Dev.
Dev memang sudah lama menunggu Maya. Dari tadi dia memperhatikan Maya yang sedang mencarinya "Maaf." Ucap Maya.
Dev tersenyum kepada Maya."Tidak apa. Apa kamu mencari seseorang?." Tanya Dev.
Maya menoleh ke arah Dev, dia memandangnya, seolah bertanya, apa dia menyuruhnya datang kesana?. Tapi sepertinya Maya salah. Bukan Dev yang mengirim pesan itu. Apalagi setelah Maya mendengar pertanyaan Dev tadi.
"Tidak, saya tidak mencari siapa-siapa, permisi."Jawab Maya sambil hendak pergi dari sana, namun Dev mencekal tangan Maya, membuat langkahnya terhenti. "Kamu sudah disini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Aku yang mengirim pesan itu, kita harus bicara." Ucap Devano.
Maya merasa lega setelah mendengar kalau pesan yang ia terima, benar-benar dari Dev. "Apa yang mau kak Van...., maksud saya kak Dev bicarakan?." Tanya Maya.
Devano tersenyum mendengar pertanyaan Maya, lalu membawa Maya duduk disisi geladak. "Aku tahu, kamu pasti heran kan dengan semua ini?. Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya.
Nona Davina Maya Anastasya, perkenalkan namaku Devano Indradi Saputra. Biasa dipanggil Vano kalau di kampus, tapi dirumah aku biasa dipanggil Dev. Iya aku adalah Dev, laki-laki yang dijodohkan dengan Maya, anak om Surya. Namun sayangnya Vano hanya mengenal Vina. Vano tidak mengenal Maya, dan Vina juga tidak mengenal Dev." Ujar Dev, menjelaskan.
"Apa?"
Maya tersentak kaget mendengar penjelasan Devano. Sekarang ia mulai mengerti, kalau Dev dan Vano adalah orang yang sama, hanya nama panggilannya saja yang berbeda.
"Seperti kamu yang tidak mengetahui kalau Dev dan Vano adalah orang yang sama, aku juga tidak tahu, kalau Vina dan Maya adalah orang yang sama. Sekarang kamu mengerti kan?." Tanya Vano.
Maya masih diam. Dia sungguh terkejut mendengar semuanya.
"Kenapa kamu diam saja Maya?. Apa kamu meragukan penjelasanku?." Tanya Vano.
"Tidak....saya hanya sedikit terkejut mendengar semua ini. Kenapa kak Vano tidak mengatakan semua ini saat kita dirumah nek Darsih?" Tanya Maya.
"Apa kamu akan percaya, kalau waktu itu aku mengatakan semuanya disana?." Tanya Vano.
"Lalu siapa sebenarnya Nek Darsih, dan kakek Karman itu? Apa mereka benar-benar kakek dan nenek kak Vano?."
"Mereka itu adalah yang mengasuh Aku dan adikku sejak kecil. Kami memang sudah menganggap mereka seperti kakek dan nenek kami sendiri." Jawab Vano.
"Oooh...."
"Maafkan aku Maya, aku tidak bermaksud, menyembunyikan semua ini. Aku tidak bermaksud tidak jujur sama kamu waktu itu"
"Tidak apa-apa kak. Oh ya kak, kalau kak Vano adalah laki-laki yang dijodohkan dengan saya, lalu siapa laki-laki yang saya temui di kafe?."
"Aku tidak tahu Maya.Yang jelas, kita harus mencari orang itu. Aku tidak terima dia mengaku sebagai diriku, dan bersikap seolah-olah aku ini pria brengsek dimata kamu." Ucap Vano.
"Hehehe...."
"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Dev.
"Nggak apa-apa. Lucu aja."
"Apanya yang lucu?"
"Kak Vano yang lucu. Kak Vano kan waktu itu kabur, karena tidak mau bertemu dengan saya. Lalu kenapa kak Vano mengkhawatirkan pendapat saya tentang kak Vano?." Tanya Maya masih dengan senyum di bibirnya.
Vano menoleh ke arah Maya. Dia memandang Maya yang sedang tersenyum. Hatinya bergetar melihat senyuman Maya. Wajah polosnya terlihat sangat cantik, rambut yang melambai tertiup angin, kulitnya yang putih, tampak sangat kontras dengan warna baju yang ia pakai malam itu.
Aku bisa gila, kalau memandangnya terus. Batin Devano
"Kak Vano, kakak kenapa kabur waktu itu?." Tanya Maya, sambil tersenyum sedikit meledek Vano.
"Siapa yang kabur?. Aku tidak kabur. Waktu itu, aku memang ada urusan mendadak." Bohong Vano.
"Kak Vano jangan bohong. Saya tahu, kak Vano memang kabur kan waktu itu?.Saya mendengar sendiri tante Dina mengatakan kalau kak Vano kabur dan menulis sebuah pesan, sebelum kak Vano pergi." Ucap Maya, membuat Dev sangat malu, mendengar perkataan Maya. Devano tidak menyangka, kalau Maya mengetahui perbuatan bodohnya waktu itu.
"Kamu tahu Maya?.Kenapa waktu itu aku kabur?." Tanya Vano.
"Saya tahu. Kak Vano kabur karena kak Vano tidak mau dijodohkan dengan saya. Iya kan?."
"Tapi..apa kamu tahu, alasanku tidak mau dijodohkan dengan gadis bernama Maya itu?."
Maya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. "Kamu tahu Maya, sama seperti kamu yang sudah bertemu dengan Dev palsu, aku juga bertemu dengan Maya palsu, sebelum aku kabur. Wanita yang mengaku sebagai Maya itu, sungguh berbanding terbalik dengan kamu. Sikapnya sungguh membuat aku muak, hingga aku memutuskan untuk kabur, dan menolak perjodohan itu."
"Masa sih kak?."
"Iya..makanya aku kabur. Kalau saja aku tahu, yang dijodohkan denganku itu adalah kamu, aku tidak mungkin kabur."
Mendengar perkataan Dev, Maya refleks menoleh ke arahnya dan Dev juga memandang Maya, sehingga mereka berdua saling pandang. Dev tersenyum kepada Maya. Maya membalas senyum Dev, lalu ia memalingkan wajahnya.
"Tapi ternyata, walaupun aku kabur, aku masih saja ketemu kamu. Aku nggak nyangka, kita bisa bertemu dirumah nek Darsih." Ucap Dev.
"Mungkin ini memang sudah takdir." Jawab Maya.
"Menurutku, kita mungkin memang berjodoh. Buktinya kamu dan aku tetap bertemu dihari dimana orang tua kita ingin mempertemukan kita. Walaupun aku sudah kabur dari rumah, tetap saja kita bertemu kan?." Ucap Dev, sambil tersenyum ke arah Maya.
"Mungkin ini hanya kebetulan saja." Sahut Maya.
Mereka berdua masih betah mengobrol disana padahal sudah tengah malam. Angin laut dan udara yang dingin, tidak membuat mereka segera beranjak dari sana. Sampai akhirnya, Maya pamit terlebih dahulu.
"Maya?."
"iya.!
"Apa kamu mau dijodohkan denganku?." Tanya Devano, pada saat Maya beranjak dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
.
Bersambung🍂