Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mia bangun disaat matahari bahkan belum keluar dari tempat persembunyiannya. Kepalanya terasa pusing dan dia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Selimut berat disibakkannya dan Mia tahu apa sebabnya dia merasa aneh. Tubuhnya dalam keadaan tidak tertutup apapun dan ada desir sakit di bagian intim bawahnya.
Saat mengingat-ingat, Mia melihat tubuh laki-laki tepat di sebelahnya. Laki-laki itu memiliki tangan dan dada yang kekar, berkulit putih dan wajahnya ... . Mia akhirnya mengingat segalanya. Dia ingat kalau laki-laki yang menjadi suaminya selama dua tahun tapi tidak pernah mempedulikannya itu memaksa Mia untuk ... lagi.
Mia menggigit bibir bawahnya lalu segera mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan keluar dari kamar. Kemarin malam, dia tidak sempat memperhatikan keadaan apartemen Benjamin. Terlihat minimalis tapi tetap terkesan mewah dan luas sekali. Jadi, ini adalah tempat dimana Benjamin sering menghabiskan waktunya dengan kekasihnya. Lalu, kenapa laki-laki itu membawanya kemari?
Jam yang ada di atas meja, memperlihatkan bahwa sekarang masih belum terlalu pagi tapi juga tidak lagi malam. Mia sudah memakai semua bajunya dan mencari kamar mandi. Dia harus segera membersihkan tubuhnya lalu pergi dari tempat ini. Belum menemukan kamar mandi, terdengar dering telepon yang kecil sekali. Bukan ponselnya, apa mungkin ponsel Benjamin?
Mia mendengar ada pergerakan dari laki-laki yang ada di atas ranjang depan matanya.
"Ada apa? Aku tertidur. Aku akan segera ke rumahmu untuk menemanimu tidur. Tenanglah. Aku mencintaimu" kata Benjamin seperti tidak pernah ingat akan keberadaan Mia di kamarnya. Dengan perlahan, laki-laki itu turun dari ranjang dan melihat ke tubuhnya.
Mia segera berpikir untuk menghilang saat dia menemukan pintu di dalam kamar. Ternyata ini lemari atau bisa disebut sebagai kamar ganti. Luas sekali. Hampir seluas ruang tamu di rumah Mia. Terdengar laki-laki itu berjalan mendekat ke arah ruang ganti, Mia memilih untuk segera bersembunyi di balik semua jas yang tersusun rapi itu.
Setelah terdengar di dalam kamar ganti, Benjamin keluar dan menutup pintu. Hal itu membuat Mia merasa lega dan sedikit kesal. Apa sebenarnya yang laki-laki itu lakukan dua hari ini? Menyentuhnya, menyatakan kepemilikannya dan membuatnya merasa ... hina.
Mia perlahan keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat satu lemari penuh dengan barang-barang perempuan. Pakaian dalam, gaun, baju, perhiasan, tas dan sepatu. Pasti semua ini milik Olivia, kekasih hatinya. Dan selera perempuan itu sangat berbeda dengan Mia. Semuanya memiliki merk terkenal dan tidak dapat dibeli oleh gaji Mia. Menakjubkan, melihat bukti bahwa suaminya, Benjamin Clay benar-benar mencintai kekasihnya.
Selesai melihat-lihat, Mia keluar dari kamar ganti dan Benjamin tidak ada di dalam apartemen. Dengan mudah Mia menemukan kamar mandi lalu membersihkan dirinya sendiri. Matahari muncul saat Mia selesai mandi dan memakai pakaiannya lagi. Untunglah sistem kunci di apartemen ini akan terbuka bila dibuka dari dalam. Mia segera meninggalkan apartemen Benjamin lalu pergi ke rumahnya.
Ibunya sedikit terkejut melihat putrinya datang saat pagi mulai menyapa. Tapi Mia tidak mengatakan apapun dan memutuskan segera tidur di kamarnya sendiri. Mia harus menghindari pertemuan dengan Benjamin sampai mereka resmi bercerai. Tidak akan ada lagi kesalahan yang akan Mia buat lagi hari ini.
Pukul sembilan tepat, Mia bekerja di studio dan melihat mobil beserta Kay datang. Mari tentu saja terkejut melihat hal itu, tapi Mia mengatakan kalau dia meminjamkan mobilnya pada Kaiykemarin. Laki-laki itu masuk ke dalam studio dan bertatapan mata dengan Mia. Tentu saja itu membuatnya malu. Kay menyatakan suka tapi Mia diseret Benjamin ke apartemennya.
Tapi, hari ini tidak ada pekerjaan keluar kota. Dengan alasan itu, Mia segera keluar dan mengambil kunci yang diletakkan Kay di atas meja lalu segera berlari keluar studio.
"Aku harus membantu ibu membuka toko. Hari ini ada banyak pelanggan yang akan datang. Studio kuserahkan pada kalian" teriak Mia yang segera menginjak gas mobilnya. Kay seperti ingin bicara tapi Mia tidak ingin mendengar apapun saat ini.
Benjamin yang sejak pagi harus merayu kekasihnya mulai merasa kelelahan. Tenaganya telah terkuras karena kegiatan semalam. Tapi ... ada yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Kemana perempuan yang menjadi pelepas nafsunya kemarin? Kemana istrinya?
"Apa yang sedang kaupikirkan? Apa kau marah denganku lagi?" tanya Olivia dengan nada kesal.
"Tidak. Aku harus pergi ke perusahaan untuk mengurus kepindahanku" jawab Benjamin lalu berdiri dan meninggalkan rumah Olivia. Namun sebelumnya, Benjamin harus pergi ke apartemennya untuk mencari keberadaan Mia.
Sampai di apartemen, Benjamin tidak melihat adanya Mia dimanapun. Apa Mia pergi sebelum dia pergi?
'Sial' pikir Benjamin. Bagaimana bisa dia melupakan perempuan yang bersamanya semalaman hanya karena panggilan Olivia. Padahal, tadi malam juga tidak bisa dilupakan dengan mudah begitu saja. Kelembutan kulit Mia dan semua desahan saat Benjamin menyentuh membuatnya memanas dengan sangat mudah. Dia mengambil ponsel dan mencari sebuah nomor. Benjamin lupa kalau selama ini dia tidak pernah memintanya tanpa alasan.
Pagi ini, Benjamin harus pergi ke perusahaan untuk membahas pemecatannya sebagai Direktur Utama. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat ibunya juga datang. Selama ini, ibunya tidak pernah ikut campur dalam masalah perusahaan.
"Ayah dan ibu datang kemari hanya ingin merubah keputusan kami" kata ayahnya membuat Benjamin bingung.
"Olivia datang ke rumah semalam. Dia berjanji untuk meninggalkanmu asalkan semua barang dan rumah yang telah kauberikan tetap menjadi miliknya"
Benjamin tentu saja merasa linglung. Baru pagi ini Olivia merajuk dan bersikap manja padanya. Dan sekarang? Apa sebenarnya keinginan Olivia? Kenapa kekasihnya itu berbuat seperti ini?
"Ibu akan bicara dengan Mia untuk membatalkan proses perceraian. Kalian pulang ke rumah lagi saja" Benjamin tetap diam sampai kedua orang tuanya menyadari sikapnya.
"Atau ... kau masih tetap ingin bercerai dari Mia?"
Pertanyaan ini menyadarkan Benjamin.
"Ayah dan ibu sebaiknya pulang dulu. Aku harus pergi sebentar"
Benjamin meninggalkan orang tuanya yang berada di perusahaan untuk pergi ke rumah Olivia. Dia perlu memastikan sesuatu.
"Oli!!! Oli!!" teriaknya ketika sampai di rumah keluarga Quinn.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" jawab Olivia tidak kalah kerasnya dari arah jendela.
"Apa yang kau lakukan semalam?" tanya Benjamin membuat Olivia sedikit salah tingkah.
"Sayang, apa kau tidak tahu? Aku sudah memberitahu kedua orang tuamu kalau kita akan berpisah asalkan semua ini tetap menjadi milikku. Tapi ... kau tidak akan benar-benar meninggalkanku, kan. Sayang?"
"Apa?"
"Aku tidak akan berpisah denganmu. Tapi, kita akan membuat orang tuamu mempercayainya" kata Olivia dengan sangat mudah. Benjamin segera mendekati perempuan yang selama ini menduduki tahta di hatinya itu lalu menatap matanya.
"Aku melamarmu, tapi kau tidak mau. Dan sekarang? Kau ingin aku tetap menikah dengan istriku dan menjalin hubungan dengamu?"
"Memangnya kenapa? Istrimu itu juga tidak keberatan selama ini kan? Dan lagi, dia tidak akan bisa menandingiku di matamu, iya kan?"
Terkejut. Benjamin benar-benar terkejut dengan kebenaran tentang kekasihnya yang berani mengorbankan orang lain demi dirinya sendiri. Kalau begini, Mia yang akan terluka. Dan Benjamin tidak ingin hal itu terjadi lagi.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla