Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.
Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.
Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.
Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Permintaan Cerai
Kembali ke rumah Gelora, tidak serta merta menghapus rasa sedihnya. Meskipun Faheera telah menyukai Gelora tiga tahun terakhir. Tapi perlakuan dan tudingan buruk dari keluarganya ataupun Gelora masih saja terngiang di kepalanya. Mungkin efek kehilangan janin membuat Faheera masih sangat sedih, sebab kabar keguguran dari Dokter saat masih di rumah sakit, sampai saat ini masih terngiang di kepalanya.
"Kenapa kamu harus meninggalkan mama, Nak? Seandainya saja kamu ada, maka mama tidak akan merasa sebatang kara seperti ini. Kalau kamu diberi kesempatan ada, bisa jadi mama hari ini akan gembira dan tertawa," gumamnya sembari mengelus perutnya yang rata. Faheera menangis kembali saat ini.
Gelora yang tiba di muka pintu, mendengar gumaman Faheera yang sedih. Gelora terharu, sebesar itu Faheera mencintai darah dagingnya yang sudah Tuhan ambil lagi. Itu artinya Faheera memang mencintainya, terbukti saat ini di depan matanya.
"Sayang, kita turun dan makan," ajak Gelora pada saat Faheera sedang termenung dan mengenang pada sang janin yang kembali kehadirat illahi.
Faheera menoleh sejenak, matanya sembab sisa tangisnya tadi. Gelora semakin iba dan rasanya ingin memeluk. Sayangnya Faheera menjauh dan sama sekali tidak menyahut Gelora.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Semua dugaan burukku kemarin-kemarin, aku mohon maafkanlah. Sekarang aku baru sadar bahwa kamu tidak seperti itu. Aku telah salah menilai hanya gara-gara menilai kamu dari luar. Sekarang kita makan, ya. Kamu harus sehat seperti semula," bujuk Gelora lagi sembari meraih lengan Faheera lalu menariknya.
"Lepaskan, aku tidak mau makan. Mas Lora tidak usah repot-repot kasih aku makan." Faheera lagi-lagi menepis Gelora sampai Gelora memilih menghindar dan berniat memanggil salah satu ART nya untuk membujuk Faheera makan.
Gelora keluar kamar, menuruni tangga menuju dapur. Sepeninggal Gelora, Faheera kembali menangis, dia merasa sesak dan ingin rasanya menjerit-jerit melepaskan sesak yang bergelayut di dadanya.
Tiba-tiba sebuah panggilan dari Moya memenuhi layar Hp nya. Faheera sedikit menerbitkan senyum meskipun hatinya masih sangat sedih.
"Tifa, bagaimana dengan kuliah kamu, apakah akan dilanjut atau DO? Kalau DO sayang banget, sih. Apalagi kamu sudah ketinggalan beberapa mata kuliah selama kamu minggat."
Suara Moya nyaring di dalam telpon memberitahu tentang kuliah Faheera yang beberapa minggu terakhir ini absen.
Faheera bingung menjawab, jika dilanjutkan, maka ia bingung biayanya dari mana. Tapi jika berhenti atau DO seperti yang dikatakan Moya tadi, rasanya sayang. Sebab tinggal beberapa bulan lagi dia skripsi dan lulus Sarjana.
"Aku juga bingung Moy. Aku tidak punya uang sama sekali. Uangku hanya dua juta, itupun uangnya masih tertahan di buku tabungan aku yang aku kasihkan pada Mas Lora bersama kartu ATM nya."
Faheera menjawab dengan bingung pertanyaan Moya.
"Kamu kan sudah bersuami, kamu tinggal minta sama suami kamu buat biaya kuliah. Kalau suamimu mencintai kamu, aku yakin dia akan rela berkorban demi kamu."
"Aku tidak mau menerimanya Moy. Sudah cukup aku sakit hati dengan tuduhan mereka tentang aku. Mereka menuduh bahwa aku mau menikah dengan Mas Lora justru karena hartanya. Padahal semua tidak benar. Kalau begitu, aku lebih baik DO saja."
"Apa maksud kamu? Tidak ada yang DO dari kampus. Kamu tanggung jawabku, kamu tetap kuliah sampai lulus," potong Gelora yang tiba-tiba sudah berada di belakang Faheera.
Faheera terkejut setengah mati saat mendapati Gelora sudah berada tepat di belakangnya. Tapi Faheera tetap tidak peduli dengan Gelora, dia bertekad bulat akan meminta berpisah dari Gelora.
"Tidak perlu, Mas. Sebab Heera ingin berpisah dari Mas Lora," balas Faheera lagi membuat Gelora tiba-tiba ubun-ubunnya menyala dan panas.
"Baiklah, jika memang itu ingin kamu. Tapi sebelum berpisah kasih dulu aku anak. Supaya aku punya kenang-kenangan dari kamu," tandas Gelora seraya menatap Faheera tajam.
***
Besoknya menjelang, Faheera terbangun tepat kumandang suara adzan. Faheera meninggalkan ranjang seraya melepas tangan Gelora yang membelit pinggangnya.
Faheera membersihkan diri, mendirikan sholat dan berdoa di sana, kembali tangisnya pecah. Ia tiba-tiba ingat akan almarhum sang ayah yang sudah tiada. Betapa Faheera rindu dengan almarhum ayahnya. Tidak hanya mengingat almarhum ayahnya saja, Faheera teringat ibunya yang jauh berada di pulau Sulawesi mengikuti suaminya.
"Semoga Ibu bahagia bersama suami baru Ibu," doanya mengingat semasa hidup berumah tangga dengan almarhum ayahnya, ibunya tidak pernah merasakan kebahagiaan. Kehidupan mereka saat masih hidup bertiga, terbilang miskin dan pas-pasan.
Gelora yang terbangun belakangan, dan sempat mencari Faheera, kini mendapati Faheera di mushola rumahnya. Faheera didapatinya tengah berdoa sehabis sholat.
"Faheera, maafkan aku Sayang, karena sempat menuduhmu tidak benar," bisik Gelora menyesal.
Setelah menunaikan sholat Subuh, Faheera bergegas menuju balkon beranda ruang tengah lantai dua rumah itu. Dia duduk melamun menatap jauh taman bunga yang terhampar di hadapannya.
Lagi-lagi Gelora mencari keberadaan Faheera yang tidak lagi di mushola. Kini Gelora melihat Faheera berada di balkon beranda ruang tengah lantai dua. Duduk termenung dengan wajah yang sedih.
Gelora merasa sangat bersalah melihat Faheera sesedih itu. Mungkin perlakuannya dulu memang terlalu menyakiti Faheera.
"Sayang, aku bawakan coklat panas untukmu." Kedatangan Gelora membuat Faheera terkejut sampai Faheera tersentak dan memegangi dadanya.
"Kenapa tidak sekalian bunuh saja, Heera, Mas?" celetuk Faheera spontan, dia benar-benar kaget. Setelah itu dia pergi meninggalkan Gelora menuju kamarnya. Gelora sungguh putus asa mengembalikan Faheera seperti dulu lagi, Faheera yang mencintainya dan memperlihatkan senyum manisnya yang merayu.
"Beginilah akibat terlalu menilai buruk Faheera, mungkin lukanya terlalu dalam membekas." Gelora berkata di dalam hatinya dengan kebingungan yang ada.
Untuk itu, Gelora bertekad akan mengembalikan keceriaan dan cinta Faheera kembali, agar Faheera bangkit dan memaafkan kesalahannya di kala itu.
Gelora memperlakukan Faheera bak ratu, meskipun Faheera tidak menganggapnya. Justru berkali-kali Faheera masih melontarkan kata berpisah. Di sinilah kesabaran Gelora mulai dipertaruhkan dan diuji.
Gelora tidak pantang menyerah, dia terus menunjukkan rasa cinta dan perhatiannya pada Faheera.
Usaha Gelora mulai memperlihatkan hasil setelah melewati bulan ketiga. Faheera tidak lagi meminta berpisah atau terlihat sedih lagi.
Faheera justru berubah manja dan sering kali meminta makanan yang segar-segar dan sedikit pedas.
Bahkan tadi sepulang dari kuliah, Faheera yang diantar jemput Gelora, tiba-tiba meminta dibelikan asinan dan rujak. Gelora merasa heran dan aneh, tapi dalam hatinya terbersit tanya, mungkinkah Faheera kembali mengandung?
Gelora senang tiada terkira jika itu benar adanya. Ini adalah hal yang dinantikannya. Itu tandanya rumah tangga ini akan semakin kuat dengan adanya anak.
"Mas, bukankah jika aku hamil, Mas Lora akan mengabulkan permintaan aku untuk berpisah?" Jleb, pertanyaan itu tiba-tiba membuat Gelora bagaikan digigit serangga.