Dia, lelaki yang kini menjadi ayah tiriku, adalah sosok yang takkan pernah ku lepaskan dari kehidupanku. Meskipun tindakan ini mungkin salah, aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala resikonya. Awalnya, dendamlah yang mendorongku mendekatinya, namun seiring waktu, cinta telah tumbuh di dalam hatiku. Tak ada satu pun pikiran untuk melepaskannya dari pelukanku.
Kini, ayah tiriku telah resmi menjadi kekasihku. Dia terus memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Meskipun posisinya masih terikat sebagai suami ibuku, aku tidak peduli. Yang penting, aku merasa bahagia, dan dia juga merasakannya. Mungkin ini dianggap sebagai dosa, namun tak ada api yang berkobar tanpa adanya asap yang mengiringinya.
"Ayah, aku mencintaimu," apakah kalimat ini pantas untuk aku ucapkan?
AKAN LANJUT DI SEASON 2 YAA, HAPPY READING AND HOPE YOU LIKE:))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Tidak Bisa Di Hancurkan Oleh Siapapun
Beberapa saat pun telah berlalu, kini Jelita dan bundanya alias Widya telah tiba di rumah. Ya, Widya tidak membawa Jelita pulang ke apartemennya tetapi ke rumah. Dan hal itu sudah Jelita duga sebelumnya.
Ia tetap diam, selain rasa dendamnya yang terdahulu masih ada, ia juga bisa menjadikan hal kemarin sesaat bundanya berhubungan dengan Revan jadi alasan. Dalih kemarahannya.
Tetapi ia tetap tidak bisa tinggal diam. Sebentar lagi bundanya dan Revan akan liburan. Ia harus melakukan sesuatu agar mereka gagal liburan.
Setibanya di rumah Jelita langsung keluar dari mobil bersama dengan Widya. Mereka berjalan kearah pintu dan Widya yang membawa kuncinya segera membukanya.
Dan setelah pintu terbuka, Jelita segera memasukinya tanpa ragu. Ia berjalan kearah kamarnya di lantai atas tanpa memedulikan bundanya yang termangu menatap kearahnya.
Lalu setibanya di dalam kamarnya, Jelita segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya dan menatap langit-langit tanpa berkedip.
Pandangannya melayang kemana mana. Ke segala penjuru yang sebenarnya tertuju pada cara apa agar keduanya bisa gagal liburan. Karena jika ia hanya melarang mereka pergi pasti bundanya itu tetap juga akan pergi.
Pastilah gagal jika ia menggunakan cara itu. Lalu di saat pikirannya melayang ke segala cara, tetiba ia terpikirkan jika bagaimana kalau dirinya sakit?
Di dunia ini hanya Widya orang tuanya yang tersisa. Pasti bundanya itu takkan jadi pergi mengingat kondisinya. Tapi hal apa yang membuatnya sakit? demam? hal apa yang membuat demam?
Lantas Jelita pun mencarinya di google, ia mencari ke berbagai situs sampai menemukan jika hujan dapat membuat seseorang demam. Dan ya dia mengecek ramalan cuaca kapan hujan akan tiba.
Ternyata dia beruntung, hujan akan tiba besok. Jadi Jelita setelah mengetahui itu tentu sangat bahagia. Tapi bagaimana ia bermain hujan tanpa ketahuan bundanya yang cerewet itu. Pasti jika ketahuan olehnya, Widya akan mengomelinya habis-habisan.
Dan ya, dia terpikirkan sebuah ide untuk akan pergi kemana agar tidak ketahuan. Semua itu sudah ada di kepalanya hingga keesokan harinya sewaktu ia pulang sekolah Jelita sudah otw ke tempat itu.
Gedung terbengkalai di lima ratus meter dari sekolahnya. Gedung yang sudah lama tidak terpakai ini cukup bagus untuknya berhujan hujanan. Ataupun ingin menghabisi seseorang, hahaha
Lalu setibanya di sana Jelita segera saja melangkahkan kakinya naik ke gedung itu. Ia ingin ke rooftoop dan menunggu hujan di sana.
Namun, sesampainya di atas, ia mendapati seseorang hendak bunuh diri dengan meloncat dari atas gedung. Jelita yang mengetahui itu tentu tidak peduli. Itu bukan urusannya.
Alhasil ia hanya duduk di sisi rooftoop itu sembari menunggu hujan. Awan mulai mendung, pasti sebentar lagi hujan akan tiba.
Lantas si anak yang mengetahui keberadaan Jelita segera membatalkan niatnya dan berbalik menatap kearah Jelita.
"Lo! sedang apa Lo di sini, mau bundir juga Lo kayak gue?" tanya anak itu.
Dan Jelita yang tak peduli hanya tersenyum. Terserah sinis atau entah apa itu arti dari senyumnya. Sangat aneh.
"Gue, bundir? udah nggak waras kali ya gue bundir? gue masih banyak yang perlu gue lakuin. Bundir gak kan menyelesaikan masalah. Justru akan menambah masalah. Lo mau bundir silakan. Gue gak ngelarang, gue kesini karena mau nunggu hujan aja." sahut Jelita santai, namun benar juga ucapannya. Dengan bundir seperti ini pasti tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah.
Lalu si anak itupun tertawa, di berjalan kearah Jelita dan duduk di sampingnya. "Ngapain nunggu hujan, gak guna banget. Kek bocil Lo. Mau hujan-hujanan ya? hahaha," ejek anak itu.
Dan ya, Jelita santai saja. Ia tidak emosi karena apa yang di lakukannya memang seperti anak kecil. Namun, ini pilihannya. Dia melakukan ini juga karena suatu tujuan. Jika bukan karena tujuan itu sudah pasti ia takkan pernah mau kesini dan hujan hujanan.
"Mau ngapain gue itu bukan urusan Lo. Kalau Lo nggak jadi bundir, pergi aja sana. Jangan ganggu gue. Gue mau sendiri." ucap Jelita dengan maksud mengusir anak itu, dan ya, anak itu benar-benar pergi.
Dia tidak jadi bundir. Nyalinya ciut duluan.
Lantas beberapa saat setelah si anak tadi pergi. Hujan pun tiba, di tempatnya Jelita melempar tasnya sedikit menjauh agar tidak kena hujan, dan setelah benar-benar aman, ia pun langsung pergi ke tengah rooftoop itu.
Ia menengadahkan kepalanya keatas dan menutup matanya. Berharap hujan kali ini bisa membuatnya sakit. Jelita tidak tahan air hujan, jadi dengan ini sudah pasti ia akan sakit.
Terlebih berdiam diri hujan-hujanan beberapa jam seperti ini. Rasanya dingin, menggigil, tapi ia tetap bertahan.
Jelita tetap bertahan hingga hujan pun reda dan dirinya berganti pakaian dengan pakaian lain yang dibawanya agar tidak terlihat basah. Soal rambut pun itu hal gampang. Jelita tidak terlalu memikirkannya.
Yang terpenting ia segera pergi dari sana dan berjalan kearah sekolahnya dan setelah tiba di sana, lagi-lagi ia mendapati adanya bundanya di sana. Wanita itu tengah menunggunya di depan gerbang dengan raut cemas.
"Ngapain sih Bun pake jemput aku lagi. Aku bisa pulang sendiri. Atau gak ayah mana, kok gak jemput?" tanya Jelita. Ia merasa kesal melihat bundanya di sini. Rasanya ia tidak nyaman dengan bundanya yang selalu menjemputnya.
Lalu sembari tersenyum, Widya pun menjawab. "Ayahmu lagi sibuk di kantor. Lagi meeting. Bunda jemput kamu ya itu juga udah jadi kewajiban bunda. Yaudah yuk sayang kita pulang." ajak Widya sembari berjalan kearah mobilnya terparkir diikuti Jelita di belakangnya.
"Nggak sadar sama gue yang hujan-hujanan ya Bun, rambut gue yang basah gini tetep gak sadar juga. Hahaha dasar. Pikirannya dah di penuhi Revan aja sampe gak mikirin gue. Sialan!" batin Jelita.
Dan setelah selesai memasang seatbelt, Widya pun menyalakan mesin mobilnya dan mereka berangkat.
Kali ini lagi-lagi Widya membawa Jelita ke rumah bukan ke apartemennya. Tapi hal ini lah yang dia inginkan.
Lalu selang beberapa jam kemudian atau lebih tepatnya pas malam hari. Jelita merasakan tubuhnya menggigil parah. Kepalanya pusing, perutnya mual dan tubuhnya rasanya tidak enak sama sekali.
Sepertinya caranya ini berhasil. Ia berhasil sakit dan karena sakitnya ini ia berhasil mengundang kecemasan Revan dan bundanya yang saat itu langsung mendatanginya dengan penuh kekhawatiran.
Widya langsung menyentuh kening Jelita dan dengan penuh kasih sayang mengompresnya.
Dia menjaga Jelita hingga pagi menjelang, tanpa keluar ataupun pergi ke manapun. Fokusnya hanya pada Jelita.
Sampai rencana liburannya berhasil membuatnya kepikiran. Hari ini adalah hari liburannya. Tapi anaknya sakit dan tidak ada keluarga lain selain dirinya. Apakah ia setega itu untuk meninggalkan anaknya yang sedang sakit untuk liburan?
Tidak. Widya tidak setega itu. Lalu dengan berat hati Widya pun memanggil Revan ke kamar Jelita dan mendiskusikan sesuatu hal dengannya.
"Sayang," ucap Widya dengan suara lembut, "kita batalin aja ya liburan kita. Aku nggak bisa ninggalin Jelita yang lagi sakit gini. Aku nggak tega, kita liburannya lain kali aja ya atau gak pas Jelita udah sembuh gitu. Aku mau jagain dia di sini. Kasian, badannya panas banget." dan ya, rencananya berhasil. Mereka gagal liburan meski ini harus mengorbankan kesehatannya.
"Kamu benar, sayang. Kesehatiannya lebih penting daripada liburan kita. Kita bisa mengatur ulang rencana liburan ini. Yang terpenting sekarang adalah Jelita pulih sepenuhnya," kata Revan dengan penuh kasih sayang.
Widya merasa lega mendengar dukungan suaminya. Meskipun dia merasa kecewa karena gagal berlibur, dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang benar. Mereka berdua sepakat untuk tetap di rumah dan merawat Jelita dengan penuh perhatian.
"Yes, yes, yes. Gagal liburan juga kan. Akhirnya berhasil juga. Gak sia-sia gue hujan-hujanan sampai sakit gini." batin Jelita, ia merasa begitu bahagia mendengar gagalnya rencana liburan kedua orang tuanya.
Rasanya sangat membahagiakan untuknya, lebih dari apa yang dia kira. Ehm, apakah mungkin karena perasaannya? entahlah.
..............................................
Keesokan harinya, tubuh Jelita masih terasa tidak enak. Demam yang menghampirinya telah menyiksanya, namun di balik rasa tidak enak itu, ia merasa bahagia. Bahagia karena ia bisa melihat kedua orang tuanya gagal pergi liburan. Meskipun mereka berdua terlihat kecewa, Jelita merasa lega bahwa mereka tetap berada di sampingnya.
Jelita membalikkan badannya perlahan, mencoba untuk melihat ke sekeliling. Matanya terasa berat, namun ia tak ingin melewatkan momen ini. Dan di sampingnya, ia melihat bundanya, tidur seranjang dengannya. Wajah bundanya terlihat lelah, namun tetap cantik seperti biasa. Jelita merasa hangat di hatinya saat melihat bundanya begitu dekat.
Bunda adalah sosok yang selalu ada di sampingnya, memberikan kasih sayang dan perhatian tanpa batas. Ia adalah sosok yang selalu menghiburnya saat Jelita merasa sedih atau sakit. Jelita merasa beruntung memiliki bunda yang begitu penyayang. Sampai semua rasa itu tertampar keras oleh apa yang telah dilakukannya pada almarhum ayahnya di masa lalu.
Ia merasa terhempas dalam kebingungan dan kekecewaan yang mendalam. Bagaimana mungkin sosok yang begitu penyayang dan perhatian bisa melakukan hal yang mengerikan pada almarhum ayahnya? pertanyaan-pertanyaan itu menghantui Jelita, merobek kepercayaan dan menggoyahkan pondasi hubungan mereka.
"Bunda," bisik Jelita dengan suara lemah.
"Andaikan saat itu aku tidak mendengar semuanya, pastilah saat-saat kebencian ini tak akan terjadi. Aku tak akan membencimu dan sosokmu yang selalu hangat dan penuh kasih sayang akan selalu menjadi penyemangatku setiap hari ...,"
"Aku merindukanmu, tapi aku juga tidak bisa melupakan semua rahasia mengerikan itu. Maafkan aku, tapi penderitaanmu adalah yang kuinginkan saat ini." tambah Jelita dengan suara lirih, sembari menunjukkan ekspresi wajah yang tajam dan penuh dendam.
Dalam tatapan matanya yang tajam, terpancar kekuatan yang tak tergoyahkan. Suara lirihnya menggema di ruangan, menggambarkan kekuatan emosional yang mendalam.
Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang menusuk hati, mengungkapkan keinginan yang kuat untuk membalas dendam
Jelita dengan penuh keanggunan dan ketegasan mempertahankan haknya dan menunjukkan bahwa ia tak bisa dihancurkan oleh siapapun.
Bersambung ...