NovelToon NovelToon
SCANDAL

SCANDAL

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:689.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wina

Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.

"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindar

Semenjak kejadian itu, Dika membawa Anna pindah rumah. Berharap Anna bisa move on secepatnya. Namun di luar dugaan, Anna sakit sampai harus di rawat di rumah sakit. Dengan penuh rasa sayang, Dika merawat dan membiayai semuanya. Dika merasa mendapatkan pengganti adiknya yang telah lama tiada. Setiap hari, Dika harus bolak balik toko, rumah, lalu ke rumah sakit menemani Anna.

Gadis itu terbaring lemah di atas tempat tidur, sebelumnya Anna tidak mau makan dan minum. Hingga tubuhnya lemah dan tak sadarkan diri. Awalnya Dika berniat untuk memberutahu kedua orang tua Anna tentang kondisi dan keberadaannya pada mereka. Namun, Anna melarangnya. Gadis itu tidak ingin siapapun tahu keberadaannya, termasuk Genzo.

"Anna."

Anna melirik ke arah Dika yang baru saja datang lalu duduk di kursi.

"Hai.." ucap Anna pelan.

Dika menghela napas dalam, menatap sendu wajah Anna. Hatinya ikut teriris perih melihat kondisi Anna. Satu minggu sudah Anna di rawat. Namun tidak ada tanda tanda kondisi Anna semakin membaik. Dokter bilang, kalau Anna depresi. Dan dia butuh ketenangan dan dukungan orang terdekatnya. Setelah diskusi dengan Dokter tentang kondisi Anna. Dokter menyarankan Anna di rawat di rumah, supaya pikirannya lebih tenang. Dan Dokter juga tidak memperbolehkan membebani pikiran Anna.

"Hari ini, kau di perbolehkan pulang."

Anna tersenyum samar menatap langit langit kamar.

"Syukurlah, aku sudah bosan di sini."

Dika berdiri dari duduknya menatap Anna sesaat.

"Kita pulang sekarang."

Kemudian Dika mengemas barang barang, lalu di masukkan ke dalam tas berukuran sedang. Setelah semua selesai, Dika kembali keluar ruangan untuk menyelesaikan semua administrasi.

Langkah Dika terhenti di lorong rumah sakit saat melihat dua saudara, Sano dan Genzo. "Apa aku katakan saja ya pada Genzo tentang Anna? tapi kasihan Anna, dia butuh ketenangan."

"Hei kau?" sapa Sano saat berpas pasang dengan Dika.

"Eh, Pak Sano" Dika membungkukkan badan sesaat.

"Kau sedang apa di sini?" tanya Genzo. "Siapa yang sakit?"

Dika mengusap tengkuknya sesaat. "Anu, Tuan.. itu saudaraku sakit." Dika menjawab dengan gugup.

"Saudara? memang kau punya saudara mana lagi?" Sano tertawa kecil. Sano tahu betul latar belakang Dika.

"Saudara perempuanku," Dika menutup mulutnya, menatap tajam Sano dan Genzo. "Ups, maksudku tetanggaku yang sudah kuanggap saudara. Permisi Pak Sano, tuan Genzo." Dika membungkuk sesaat, lalu buru buru pergi.

Sano mengangkat kedua bahunya menatap punggung Dika. "Ada ada saja."

Kemudian Sano dan Genzo kembali melangkah menuju kamar rawat Haira, sudah dua hari Ibu mereka terkena serangan jantung.

Sesampainya di kamar rawat Anna. Dika langsung menceritakan pertemuannya dengan Sano dan Genzo pada Anna.

"Dik, ayo kita pulang."

Dika menganggukkan kepalanya, lalu ia menggendong tas punggungnya. Membantu Anna turun dari atas tempat tidur, lalu duduk di kursi roda. Anna tengadahkan wajahnya menatap Dika.

"Aku tidak mau ketemu Genzo."

Dika menganggukkan kepalanya. "Kau tenang saja, Anna."

Kemudian Dika mendorong kursi roda yang Anna duduki keluar dari ruangan. Dengan hati berdebar debar, mata melirik kiri kanan. Dika terus mendorong kursi roda dan berdoa supaya tidak bertemu lagi dengan mereka. Namun sayang, saat mereka hampir di ujung lorong. Anna dan Dika melihat Genzo tengah berjalan menuju ke arahnya. Anna menepuk tangan Dika.

"Dik, Dik, Genzo Dik."

Dika langsung memutar arah dan setengah berlari mendorong kursi roda kembali ke arah semula. Genzo yang melihat punggung Dika merasa aneh, kenapa Dika menghindarinya?

Genzo berjalan lebih cepat menyusul Dika.

"Dika, tunggu!" seru Genzo.

"Celaka, Anna. Genzo mengejar kita."

"Cepat, cepat." Anna menepuk tangan Dika. Tubuh Dika yang gendut membuat pria itu sedikit lambat larinya membuat Anna panik.

"Berhenti, Dik."

Dika berhenti mendorong kursi roda Anna. "Kenapa?"

Anna langsung turun dari kursi roda lalu berdiri. Menarik tangan Dika berlari melalui pintu belakang.

"Anna?" Langkah Genzo semakin cepat saat melihat punggung Anna. Sekarang ia mengerti kenapa Dika menghindar saat berpas pasan dengannya.

"Anna!!" pekik Genzo terus mengejar hingga pintu belakang rumah sakit. Genzo kehilangan jejak mereka.

"Anna!"

Genzo kembali berjalan memperhatikan sekitar luar. Namun Anna dan Dika tidak di temukan.

"Anna!"

Genzo berdiri terpaku di tepi jalan raya, memperhatikan sekitar. "Ada apa Anna, kenapa kau menghindariku? apapun yang terjadi padamu. Aku tetap mencintaimu, Anna." Pria itu kembali melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan raya berharap menemukan Anna dan Dika.

Sementara Anna memperhatikan Genzo di balik pintu gudang rumah sakit. Matanya berkaca kaca saat Genzo hilang dari pandangannya.

"Maafkan aku Genzo, maafkan aku."

Dika yang memperhatikan Anna, menatap sedih lalu mengusap punggung Anna. "Kita pulang, lalu pindah rumah kalau kau tidak ingin ketemu Genzo lagi."

Anna menganggukkan kepala, lalu mereka keluar dari persembunyian.

***

Hari berlalu, minggu berganti. Genzo terus berusaha mencark keberadaan Dika, pria itu menelusuri tempat di mana Dika tinggal. Namun sayang, Dika sudah lama pindah dari rumahnya.

"Anna, aku akan tetap bertahan menunggumu sampai kau kembali kepadaku. Berapa lama kau meminta waktu, aku tetap di sini menunggumu."

Genzo melangkah gontai menuju mobil miliknya yang terparkir di tepi jalan raya. Pria itu tidak perduli dengan desakan Ibunya untuk menikahi Olivia. Sampai detik ini, Genzo masih mempercayai Anna dan berharap gadis itu kembali padanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Jika Anna kembali padanya, dengan senang hati akan meninggalkan kemewahannya demi tinggal bersama Anna.

Sementara itu Dominic, pria yang telah menodai Anna. Telah kembali lagi ke Indonesia. Ia senang, karena pemberitaan tentang dirinya perlahan mulai hilang. Dia juga bisa bernapas lega lepas dari jerat hukum. Dominic bahagia? seharusnya dia bahagia. Tapi kenapa pria itu tidak bahagia? ada yang salah dengan hatinya. Tapi ia tidak mengerti apa dan kenapa?

Sepulang dari luar Negeri, Dominic sering berdiam diri di kamar memperhatikan foto foto syur Anna yang masih berserakan di atas meja. Seharusnya ia dengan mudah melupakan gadis biasa seperti Anna. Baginya mudah mendapatkan gadis cantik manapun lalu melupakan dan membuangnya sesuka hati. Namun kali ini berbeda, wajah Anna enggan pergi dari pikiran Dominic.

"Ah, tidak mungkin aku menyukainya. Aku yakin ini hanya perasaanku saja."

Dominic coba menepisnya, lalu ia berdiri mengambil ponsel di atas meja. Pria itu menghubungi orang kepercayaannya untuk mendatang gadis cantik ke rumahnya. Setelah selesai menelpon, Dominic tersenyum menyeringai.

"Anna, hanyalah gadis kampung. Dia tidak ada apa apanya di banding wanita yang aku kenal selama ini."

Sepuluh menit berlalu Dominic menunggu, akhirnya orang kepercayaannya membawa tiga gadis cantik dan seksi ke ruangan Dominic. Di ruangan itu sudah tersedia minuman beralkohol dan musik untuk bersenang senang dengan tiga gadis sekaligus. Dominic tersenyum saat melihat para gadis hanya menggunakan bikini berjalan melenggok bak model profesional, berjalan mengelilingi Dominic yang duduk di kursi. Di iringi suara musik, di tangannya segelas wine. Dominic menghirup aroma tubuh salah satu gadis yang duduk di pangkuannya.

Pria itu meletakkan gelas wine di atas meja lalu menarik wajah si gadis. Bibirnya ia majukan hendak mencium gadis itu. Namun detik berikutnya ia mendorong tubuh gadis itu dari pangkuannya hingga terjungkal ke lantai. Matanya melebar mulutnya menganga menyebut satu nama 'Anna'

Dominic berdiri, mendengus kesal. Lalu berjalan tergesa gesa meninggalkan ruangan. "Anna! Anna! Anna! mengapa gadis itu menghantui pikiranku!" ucapnya kesal.

1
Ran Aulia
👍👍👍👍👍👍👍👍
Ayu Dwi S
kok ad yg ide penulis membuat cerita semacam ini d mana peran utama nya teraniyaya, kalo d kategori yah mirip drama indosiar, yg karna bahagianya d penghujung cerita
Runa💖💓
Wah berabe jadinya jika Rangga suk Anna
Istilahnya pagar makan tanaman nih
HARTIN MARLIN
lebih baik kamu tolak perjodohan itu buat papa mu bungkam
HARTIN MARLIN
lebih baik gak usah kembali lagi ke orang tua mu Anna
Retno Isusiloningtyas
sama...
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
Retno Isusiloningtyas
bagus ceritanya..
lanjutkan
HARTIN MARLIN
orang tua yang tidak punya perasaan, udah di buang setelah itu mau di nikahkan dengan cara bayar hutang
HARTIN MARLIN
itu lah hukuman untuk orang tua Anna tapi sayang yang kena Taysa
HARTIN MARLIN
yang sabar ya Anna,nanati orang tua mu akan ketemu dan akan mendapatkan karmanya
HARTIN MARLIN
Assalamualaikum hai 🖐🖐salam kenal dari ku
✨Mohammad Yusuf✨🐾🌀🎏
Lanjut Thor
Komalasari Hidayat Prasodjo
sumpah ya....kesel sama emak bapaknya, anna ga punya dosa apa2, udah dibuang, diambil buat jd tumbal....pada kagak ada otak
sahaqi
rumit
Alvaro Alfahri
nyesek aku bacanya
Alvaro Alfahri
ceritanya gni amat
Alvaro Alfahri
njiiiiiiiirrrr
Attuy
semoga kalian bahagia Anna Genzo😁
🌻Ruby Kejora
D sini ramai sekali.
Salam kenal kak💐💐
Aul Zhaeiu
bad story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!