Moza merasakan hari pertama magang seperti sebuah bencana karena harus berurusan dengan atasannya. Tugas yang dia terima terkadang tidak masuk akal dan logika membuatnya emosi jiwa. Sadewa, produser Go TV. Dikenal sebagai playboy karena pesonanya membuat banyak wanita berada di sekitar hidupnya.
===
“Jangan suka mengumpat di belakangku, mana tahu besok malah jatuh cinta.” Sadewa Putra Yasa.
=====
Kelanjutan dari Bosku Duda Arogan dan Bosku Perawan Tua.
Follow IG : dtyas-dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 ~ Moza Vs Mahalina (2)
“Siapa lo ngatur-ngatur gue.”
Moza mendekat lalu menunjuk wajah perempuan yang tadi mengambil gambar dirinya.
“Gue bilang hapus!” Moza berteriak.
“Dia benar, sebaiknya kamu hapus dan Mahalina bawa teman-teman kamu ini menjauh. Kalian hanya bikin kacau." Dewa menambahkan karena situasi mulai tidak kondusif.
“Kenapa kami harus ikuti ucapan dia, memang dia siapa?” Mahalina malah bersedekap dan tersenyum sinis.
“Mahalina, kamu bisa jadi perhatian. Ini tempat umum,” ungkap Fabian.
“Wah, daebak. Semua membela perempuan ini, yang Cuma staf rendahan dan kita-kita diusir,” ejek Mahalina dan teman-temannya bersorak bahkan menunjuk-nunjuk wajah Moza.
“Peringatan terakhir, gue bilang hapus!” teriak Moza.
Dewa merangkul pundak Moza, agar lebih tenang. Dia ingin menyelesaikan tanpa membuat gadis itu turun tangan apalagi menggunakan kekuasaan keluarganya. hanya akan membuat kacau dan masalah pada hubungan mereka.
“BIar aku saja,” bisik Dewa. Wajah Moza sudah sangat geram menatap perempuan yang masih menatapnya sinis.
“Mahalina, kalau kamu ingin karir di Go TV tetap aman. Hapus apa yang sudah kalian ambil dan pergi dari sini,” ancam Fabian dan memilih duduk di kursi yang tadi ditempati Dewa.
Ada petugas keamanan menghampiri dan menenangkan Mahalina cs yang rusuh.
“Tenang aja pak, kamu bukan bikin ribut. Ini Restoran mewah kok bisa ada perempuan kampungan begitu masuk ke sini,” ujar wanita yang masih dalam tatapan tajam Moza.
“Aku pastikan kamu dan urusan di Go TV … selesai,” ujar Dewa pada perempuan yang masih kekeh tidak menghapus foto yang tadi diambil. Mahalina bersama artis-artis figuran yang namanya saja tidak Dewa kenal.
“Halah kelamaan,” pekik Moza lalu merangsek maju dan merebut ponsel wanita itu.
“Woi, balikin ponsel gue.”
“Ada berita tentang gue keluar di media, gue pastikan isi ponsel lo juga bakal tersebar!” ancam Moza.
“Sayang,” tegur Dewa melihat Moza yang mulai mengeluarkan taringnya.
“OMG, lihat dia ancam kita!"
“Pak, tolong usir mereka!” titah kerabat Dewa. “Mereka yang mengganggu kami.”
“Eh, gak bisa gitu dong pak. Woi balikin hp gue.”
“BEsok gue urus," ujar Mahalina mengajak komplotannya pergi.
“Gak bisa begitu.”
“Udah ah. Kita diusir beg0, lo mau malah kita yang viral dan gue nggak mau dipecat sama Pak Fabian,” ujar Mahalina lirih tapi bisa didengar oleh semua hanya hadir.
Fabian dan dua rekannya yang ingin meninggalkan resto malah tertahan karena insiden tadi, wajah Moza cemberut dan Dewa mengambil alih ponsel sitaannya.
“Biar aku saja, kamu nggak usah ngurus yang kayak beginian.”
“Ini gara-gara Pak Dewa, aku malas jadi bahan gosip,” sahut Moza.
“Jangan khawatir, saya yang pastikan kejadian ini tidak akan dipublish dari kami. Dewa, urus Mahalina dan cecunguknya," titah Fabian.
***
“Senyum dong, kalau cemberut gitu malah bikin aku pengen nyosor,” ejek Dewa lalu tergelak karena lirikan sinis dari gadis di sampingnya.
Dewa akan mengantar Moza pulang dan sudah tiba kompleks hunian elit milik Arya. Hanya tinggal berbelok di depan.
“Papa kamu ada di rumah?”
“Mau ngapain, jangan aneh-aneh deh.”
“Ya ampun Moza, mata kamu masih normal ‘kan? Masa ganteng kayak gini dibilang aneh.”
“Sangking gantengnya, Mahalina nggak mau move on.”
Pernyataan tadi cukup telak menyudutkan Dewa, meskipun di antara dia dan Mahalina memang tidak ada hubungan apapun hanya dekat karena urusan pekerjaan. Rupanya keramahan dan ke playboy-an Dewa menjadi masalah ketika dia akan serius dengan seseorang.
“Sumpah Za, nggak pernah aku ada hubungan dengan Mahalina.”
“Tapi pernah kalian berduaan ‘kan? Mbak Yuli bilang Mahalina pernah datang ke ruangan Pak Dewa dan kalian lama di dalam. Pasti iya-iya ‘kan?”
“Astaga, nggak ada. Sumpah! Wah si Yuli minta di pecat kali. Seingat aku, Mahalina memang pernah datang, tapi dengan asisten atau managernya gitu. Kamu pikir dia cerdas bisa membicarakan masalah kontrak dan bukan hanya aku ada dari tim legal juga.”
“Ngeles aja kayak bajaj.”
“Aku bukan bajaj sayang, lamborghini.”
“Bodo amat.”
Moza melayangkan pandangan ke jendela dan Dewa terkekeh geli. “Tapi aku senang kalau kamu cemburu gini. Cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang.” Dewa malah bersenandung dan menekan klakson saat melewati gerbang kediaman Arya Bimantara.
Brak.
“Astaga!” Dewa mengusap dadanya ketika Moza keluar dari mobil dan langsung masuk mengabaikan Dewa yang baru keluar.
“Kenapa dia?” tanya Mada yang kebetulan ada di beranda rumah.
“Biasa, ngambek,” ungkap Dewa dan menceritakan kejadian di restoran.
“Siap-siap aja dicuekin Moza, dia kalau ngambek rese. Beresin bang, Moza memang nggak suka identitasnya ke publish.”
Malam ini Dewa pulang ke apartemennya. ‘rese’ yang dimaksud Mada mulai dirasakan oleh Dewa karena Moza mengabaikan panggilan dan pesan darinya.
[Za, jawab telponku dong]
[Moza, sayang]
[Za …]
[Nyonya Sadewa]
Layar ponsel Dewa berganti panggilan masuk dan nama ‘Moza My Love’ tertera di layar, membuat Dewa gembira luar biasa.
“Halo sayang,” sapa Dewa.
“Sayang-sayang, kepalamu peyang. Jangan berisik atau aku blokir.”
“Eh, jangan Za. Besok aku jemput ya atau mau sekarang aku jemput.”
“Mau ke mana?”
“KUA,” ujar Dewa lalu tergelak.