Menikah karena kesalahannya dimasa muda, namun setelah ia mempunyai dua orang anak, suaminya malah berkhianat dan menikah dengan wanita lain. Ayyara Ariani harus menelan pil pahit pernikahan.
Ia menjalani kehidupan sebagai janda dengan dua orang anak. Hidup dengan cacian dan hinaan orang-orang disekelilingnya tak membuat Yara berputus asa.
Arzan Alvaro memilih hidup sendiri setelah istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil saat ia mengandung buah cinta mereka. Arzan menghabiskan waktu dengan bekerja dan menjadi pria yang dingin tak tersentuh. Sukses membangun bisnis peninggalan sang ayah yang terancam bangkrut dan menjadi kan Zein's company semakin maju dan tak terkalahkan di bidang industri dan perdagangan di kancah internasional.
Bagaimana kisah mereka berdua? yuk mari kita simak...
selamat membaca...
cover by noveltoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perhatian kecil
Udara pagi begitu sejuk menyapa kedua insan yang masih saling berpelukan dalam satu selimut. Cahaya mentari pagi masuk melalui celah-celah kecil jendela kamar yang tertutup gorden tebal.
Terdengar lenguhan kecil dari Yara. Dia membuka matanya dan satu-satunya pemandangan indah pagi ini adalah dada pria dengan bulu-bulu halus menutupi nya yang kini masih berada di alam mimpi.
Yara mendongak menatap wajah tampan yang matanya masih terpejam dan tersenyum kala mengingat kembali apa yang telah mereka lakukan tadi malam. Entah berapa kali Arzan mencumbunya, Yara tak menghitungnya.
Sayup-sayup ia mendengar suara Abhi dan Yasmine berbicara pada pengasuh yang ditugaskan oleh Bu Fatma untuk membantu Yara.
Pelan-pelan Yara bergeser dan memindahkan tangan Arzan yang masih memeluk pinggangnya erat.
Yara duduk ditepi ranjang. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali. Yara berusaha berdiri dengan menahan rasa nyeri dan lutut yang lemas.
"Mau kemana? Ayo sini tidur lagi... Ini kan hari libur, ayo sini.." ujar Arzan yang ternyata terbangun karena merasakan pergerakan dari samping ranjang menepuk sisi ranjang agar Yara kembali berbaring disana.
"nggak bisa , meski ini hari libur kan bukan berarti aku juga bisa bersantai. Kasihan anak-anak nanti harus sarapan sendiri." sahut Yara yang masih berusaha bersikap tenang.
Arzan yang melihat Yara yang mengernyit langsung berinisiatif untuk menggendongnya. Alhasil,Yara berteriak tertahan.
"mas.... turunin ... Aku bisa sendiri..." ujarnya.
"lama, kamu kan masih kesulitan berjalan. Jadi biar aku membantu mu. Sudahlah, terima saja perhatian ku tanpa protes" sahut Arzan yang tak perduli dengan keadaan mereka yang masih sama-sama polos.
Arzan meletakkan Yara ke bathtub dan langsung mengisinya dengan air hangat agar Yara bisa berendam sejenak. Sementara Arzan sendiri kini sedang mengguyur dirinya dibawah shower.
"Aku tinggal sebentar, kamu rileks aja dulu. Nanti kalau sudah selesai panggil mas ya..." ujar Arzan yang begitu perhatian sekali pagi ini berbeda dari biasanya yang selalu bersikap canggung dan dingin.
Yara hanya mengangguk. Ia benar-benar lelah sekali.
...****************...
"selamat pagi anak-anak" sapa Arzan begitu ia sampai ke meja makan dan mendapati anak-anak sedang menikmati sarapan mereka ditemani oleh pengasuh nya Anne.
"Papa udah pulang? Kapan pulang?" tanya Yasmine yang selalu ceria menyapa Arzan.
"papa pulang tadi malam, sewaktu kalian sudah tidur" sahut Arzan yang kini mencoba mengakrabkan diri dengan anak-anak sambung nya itu.
Yasmine mengaguk kecil.
"oh iya, kamar Yasmine dan kamar Abhi kemungkinan akan selesai direnovasi seminggu lagi. Jadi kalian nanti sudah bisa menempati kamar masing-masing" lanjut Arzan lagi.
"kenapa begitu, Yasmine nggak biasa tidur sendiri. Yasmine takut..." ucap Yasmine yang ingin protes.
"Yasmine kan udah besar begitu pun Abang Abhi, jadi kalian harus terbiasa mulai sekarang pisah kamar. Lagi pula pasti Abang Abhi ingin mempunyai dan menata kamarnya sendiri, ya kan Abhi " ujar Arzan mencoba memberikan pengertian kepada keduanya.
Abhi yang jarang sekali berbicara pada Arzan hanya mengangguk saja.
Sejujurnya, Abhi bukan tidak menyukai suami bundanya ini, hanya saja terbiasa tumbuh tanpa ayah menjadikan sikap bocah ini menjadi kaku dan sedikit gengsi untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Dan Arzan menyadari hal itu. Semakin Arzan mengetahui kehidupan ibu dan anak ini semakin Arzan ingin mengenal dan membahagiakan mereka bertiga.
"bagaimana Abhi, apa Abhi juga takut tidur sendirian?" ulang Arzan mencoba mengambil fokus putra sulung Yara itu.
Abhinaya ragu-ragu menatap wajah Arzan yang kini menatapnya lembut.
"apa benar boleh jika Abhi punya kamar sendiri" ucap Abhinaya akhirnya mengungkapkan keinginannya.
Arzan mengaguk dan tersenyum.
"hmm .. Tentu saja boleh, inikan rumah Abhi juga jadi Abhi boleh punya kamar sendiri" ujar Arzan mengizinkan.
keduanya anak-anak itu saling pandang dan tersenyum riang.
"pa...bunda mana?" tanya Yasmine yang menyadari jika sang bunda belum kelihatan.
"oh iya papa lupa..." ucap Arzan.
Arzan segera berlari menuju lantai dua ke kamar Yara dan membuka pintu dengan sedikit kasar.
Yara yang hanya memakai handuk sebatas pahanya tentu saja terkejut. Mata keduanya saling pandang.
"kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya Yara heran.
Arzan mengusap tengkuknya. Canggung.
"Maaf aku lupa jika kamu masih aku tinggal tadi di kamar mandi" ujar Arzan meringis.
Yara tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"aku nggak pa-pa, aku bisa sendiri. mas udah sarapan?" ucap Yara menghilangkan rasa canggung itu.
"sedang sarapan, ayo sekalian kita turun. Anak-anak sedang menunggu mu" ujar Arzan yang mengajak Yara turun bersama.
...****************...
Asisten Kevin tiba ke kediaman Anderson saat jam menunjukkan pukul dua siang.
Saat ia akan menemui Arzan di ruang kerjanya, Kevin tak sengaja berpapasan dengan istri bos nya itu.
"selamat siang nyonya Yara, bagaimana kabar anda hari ini?" sapa Kevin formal seperti biasanya.
Yara yang heran dengan sikap asisten Kevin hanya menatap pria itu." kabar ku baik" sahut nya singkat.
"syukurlah" guman Kevin.
"kenapa? Apa kamu pikir aku akan kenapa-kenapa?" tanya Yara yang mendengar gumaman Kevin.
"eh... Tidak... tidak apa-apa. Maksud saya, syukur jika anda sehat, ya begitulah. Saya pamit ke ruang kerja tuan Arzan, permisi nyonya" ujar Kevin gugup dan langsung pamit pada Yara.
Yara menatap heran tingkah asisten suaminya itu.
"dasar asisten aneh" pikir Yara.
Kevin mengusap dadanya lega.
"kau kenapa? Apa ada yang mengejar mu?" ucap Arzan mengagetkan Kevin saat ia membuka pintu ruang kerjanya.
"bukan apa-apa tuan, ayo tuan kita harus bicara " ujar Kevin dan langsung mengunci pintu ruang kerja Arzan.
Arzan duduk di sofa tunggal sambil melipat tangannya ke dada.
Matanya kembali berubah dingin dengan tatapan yang tajam menusuk.
"tuan William yang sudah merencanakan menjebak Anda menggunakan Andreas dan Desy" ujar asisten Kevin sembari menunjukkan sebuah rekaman percakapan telepon antara Andreas dan William paman Arzan.
Rahang Arzan mengeras.
"Apa mau orang tua itu sebenarnya. Jika ia hanya ingin anak perusahaan Zein's company sebenarnya ia tidak ada hak, karena ia hanya adik tiri papi. saya sudah berbaik hati memberikan nya jabatan yang sebenarnya tidak berhak ia dapatkan karena kinerjanya sangat buruk" ujar Arzan kesal bukan main dengan sifat tamak sang paman yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan ayah Arzan.
"lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa kau sudah memberi nya pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya?" lanjut Arzan yang menanyakan perihal wanita yang akan dijodohkan dengan nya atas usulan paman William.
"Kami sudah membereskan nya tuan, sebentar lagi akan ada berita heboh yang akan tayang dari berbagai portal berita online maupun televisi" sahut Kevin tersenyum sinis.
"Sebaiknya kita tetap waspada dengan apa yang akan paman William lakukan selanjutnya. Ya sudah, kau bisa libur hari ini Vin. Saya mau berenang dengan anak-anak" ujar Arzan yang kini telah berdiri dan akan menghabiskan waktu libur nya mengajari Yasmine berenang.
Kevin mengusap kupingnya sendiri. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"kau tidak salah dengar Vin, jadi tidak usah seperti kau sedang mengejek ku" ujar Arzan yang kembali muncul dari balik pintu.
Kevin tersenyum, pelan-pelan bos nya itu sudah kembali jadi manusia yang sebenarnya bukan lagi robot penghasil uang yang kaku dan dingin.
Bersambung....