Di bunuh oleh ayah kandung nya sendiri di pesta ulang tahun nya yang ke 21 tahun. Ketika Queen Anabelle membuka mata, jiwanya menempati raga putri ke empat kekaisaran Lythonsen. Anabelle Lythonsen.
Tidak hanya berbagi wajah dan nama. Nasib keduanya juga sama mirisnya. Mati di tangan ayah kandung mereka sendiri.
...
Putri ke empat yang di rumorkan tidak bergun4 yang bahkan tidak bisa berkultivasi, selalu mendapat perlakuan buruk dari orang-orang. Bahkan seorang pelayan rendah berani menghina dan melayangkan tangan.
Namun, kali ini jiwa dalam raga itu adalah Queen Anabelle, genius dokter di abad 21.
"Jika di kehidupan sebelumnya aku selalu menyelamatkan nyawa seseorang, bagaimana jika sekarang waktunya mempermainkan nyawa seseorang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Bungloon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
"Yang Mulia, ini adalah gubuk kami. Maaf, jika tempat ini kotor dan lusuh." Ucap Jang Hua.
"Jika di dalamnya penuh kehangatan dan kasih sayang, itu lebih baik daripada istana megah yang penuh permusuhan dan perang, bahkan antar saudara."
Jang Hua menundukkan kepalanya mengerti. Setelah ia memasuki istana, semua ekspektasi nya jauh dari realita. Nyatanya terlahir di keluarga kerajaan itu bisa jadi sebuah keberuntungan, atau kesialan.
"Yang Mulia, silahkan masuk." Ucap Jang Hua mempersilahkan.
"Siapa di sana?" Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam, mengerutkan keningnya melihat dua orang di depan rumah'nya.
"Maaf, siapa Tuan dan Nona?" Tanya wanita itu, Sang Hua, ibu Jang Hua.
Jang Hua melepas ikat rambutnya. "Ibu, ini aku Jang Hua. Apa ibu tidak mengenali putri ibu sendiri?"
Sang Hua menutup mulutnya terkejut. "Jang'er? Kau mengejutkan ibu, mengapa berpakaian seperti pria? Dan, mengapa kau di sini?"
"Kamu sedang mengabdikan diri pada Yang Mulia, jangan pergi sesuka hati. Istana bukan tempat bermain." Ujar Sang Hua.
Jang Hua meringis pelan. Ekor matanya melirik Putri ke empat yang masih diam di tempat.
"Ibu, sudahlah, kita bicarakan nanti. Putri ke empat ada di sini, sebaiknya membiarkan dia masuk lebih dulu."
"Apa?"
...
"Yang Mulia, silahkan di minum teh nya. Ini sama dengan teh yang saya sajikan tadi siang." Ujar Jang Hua menyajikan teh untuk Anabelle.
"Yang Mulia, maafkan hamba yang tidak mengetahui kedatangan anda." Sang Hua bersujud di hadapan Anabelle.
Anabelle yang melihat itu, membantu Sang Hua berdiri.
"Jangan lakukan itu. Kamu adalah ibu Jang Hua, dan Jang Hua adalah pelayan yang loyal." Ucap Anabelle.
"Aku dengar jika suamimu sakit, apakah benar?" Tanya Anabelle.
Raut wajah wanita itu berubah sedih. Lalu menghela nafas pelan.
"Benar, sudah berbulan-bulan suamiku sakit. Kami sudah banyak memanggil tabib terbaik, tapi juga belum berhasil menyembuhkan sakit nya."
"Bisakah aku melihat keadaan nya?"
...
Anabelle menatap pria yang terbaring di ranjang. Wajah pria itu pucat, tubuhnya juga terlihat kurus.
"Sayang, siapa yang datang?" Noan Hua bertanya sembari menatap sang istri.
Sang Hua menghampiri sang suami, lalu berbisik. "Suamiku, dia adalah Yang Mulia Putri Anabelle."
Wajah pria itu nampak terkejut. "Yang Mulia, maaf hamba tidak mengetahui itu Anda."
"Tetap di tempat mu, Tuan Hua." Ucap Anabelle kala tahu pria yang terbaring itu akan bersujud untuk nya.
"Tuan Hua, aku memiliki beberapa ilmu media, jika anda tidak keberatan, saya akan memeriksa nadi Anda." Ucap Anabelle kemudian.
Mereka semua tampak terkejut. Jang Hua menghampiri Anabelle.
"Yang Mulia, benarkah jika Anda bisa medis?" Tanyanya dengan mata berbinar.
Anabelle hanya tersenyum tipis. Kemudian berjalan menghampiri Sang Hua dan Noan Hua.
"Silahkan, Yang Mulia. Sebuah kehormatan untuk kami." Ucap Sepasang suami istri itu kompak.
Anabelle memeriksa denyut nadi Noan, keningnya berkerut. Jang Hua dan Sang Hua memperhatikan Anabelle seksama.
"Semoga, sakit ayah tidak parah." Ucap Jang Hua.
Sang Hua memeluk putri nya. "Ayahmu pasti baik-baik saja, Jang Hua. Jangan khawatir. Putri Anabelle sedang memeriksa nya."
Anabelle menghela nafas pelan, kamudian menghampiri ibu dan anak yang sedang berpelukan. Bibirnya tersenyum hambar.
"Jang Hua, ayahmu keracunan. Tuan Noan, kau merasakan perutmu seperti terbakar bukan? Lalu pusing dan tidak bisa tidur?"
Ketiganya tampak terkejut. Noan mengangguk kepala nya, Jang Hua semakin erat memeluk tubuh sang ibu.
"Yang Mulia, apakah anda bisa mengobati suami saya? Saya akan mengabdikan diri saya melayani anda seumur hidup saya. Tolong obati suami saya." Sang Hua bersujud di hadapan Anabelle.
Jang Hua juga ikut bersujud. "Saya juga akan melayani anda seumur hidup saya, Yang Mulia. Hamba tidak akan menikah dan mengikuti anda hingga kematian saya. Tolong obati ayah saya."
"Tuan, anda harus mengobati Noan. Ini adalah salah satu misi Anda." Ujar Bee.
Anabelle menghampiri Sang Hua dan Jang Hua. Membantu dua wanita itu untuk berdiri.
"Jangan katakan itu, Jang Hua. Bukankah kau tadi sore begitu bersemangat mencari jodoh? Kamu telah melayani ku dengan baik, sebagai gantinya, aku akan berusaha mengobati ayahmu."
Sang Hua dan Jang Hua tersenyum senang. "Terima kasih, Yang Mulia."
Anabelle mengeluarkan secarik kertas dan tinta. Kemudian menulis resep obat di kertas.
"Nyonya Hua, apakah kau bisa mendapatkan ini untuk ku? Aku membutuhkan ini untuk mengobati suamimu."
Sang Hua menerima secarik kertas itu. "aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan suamiku."
Noan Hua menatap terharu istri dan anak perempuan nya.
"Terima kasih, Yang Mulia."
...***...
"Yang Mulia, anda benar-benar murah hati. Hamba sungguh beruntung bertemu dengan Yang Mulia."
Anabelle memutar bola matanya malas. Jang Hua tidak berhenti mengucap terima kasih.
"Yang Mulia, itu adalah pohon jodoh. Sebaiknya kita juga membeli lentera dan menulis harapan kita, lalu menghanyutkan di sungai harapan."
Jang Hua membeli dua lentera di dekat mereka dan kembali menghampiri Anabelle.
"Satu untuk Yang Mulia, silahkan tulis harapan yang Mulia."
Anabelle menerima lentera itu, memperhatikan lentera itu lalu menatap Jang Hua yang sepertinya sedang menulis harapan.
"Saya akan menghanyutkan nya di sungai harapan." Ucap Jang Hua.
Gadis muda itu kemudian berjongkok di tepi sungai di bawah pohon jodoh yang besar. Gadis itu tersenyum lembut ke pohon jodoh dan menghanyutkan lentera nya.
"Jang Hua benar-benar gadis yang naif." Gumam Anabelle memijat pelipisnya.
Namun, pekikan Jang Hua membuatnya menatap ke arah gadis muda itu. Gadis itu sepertinya sedang memarahi seorang pemuda.
"Yue Feng?"
...
Jang Hua terus menatap lentera nya yang mulai hanyut, tapi lentera nya tiba-tiba bertabrakan dengan lentera seseorang.
Yang membuat gadis itu melotot, seorang pria bertopeng meng oggrok-ogrok lentera nya dengan batang kayu.
"Tuan, apa yang kau lakukan dengan lentera ku!" Pekik Jang Hua menghampiri pria bertopeng itu.
Yue Feng, pria bertopeng itu bangun berdiri dan menatap wanita yang jauh lebih pendek darinya.
"Lenteramu mengganggu harapan ku terkabul." Ucap Yue Feng acuh.
Jang Hua menginjak kaki Yue Feng. "Dasar sialan! Kau yang mengganggu harapan ku terwujud!"
"Dasar kau!" Jang Hua terus menginjak kaki Yue Feng.
Yue Feng membelakkan mata nya. Menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.
"Memangnya apa harapan mu? Aku yakin, harapanku lebih baik darimu." Yue Feng menggunakan peringan tubuh untuk melayang di atas sungai dan mengambil lentera harapan Jang Hua.
Jang Hua membelakkan mata nya.
Yue Feng membaca harapan yang di tulis Jang Hua.
" 'Aku berharap, aku bertemu lelaki tampan dan baik hati. Laki-laki semanis permen dan setangguh tuan putriku.' " Yue Feng tertawa setelah membaca isi harapan wanita muda di depan nya.
Membuat Jang Hua menahan malu.
"Kau laki-laki jahat!" Pekik Jang Hua mulai menangis.
"Yue Feng, apa yang kau lakukan pada orangku?" Anabelle menghampiri keduanya.
"Putri Anabelle?" Yue Feng terkejut melihat kehadiran Anabelle.
Annabelle menatap tajam Yue Feng. Sementara Jang Hua berlari ke belakang tubuh Anabelle.
"Yang Mulia, pria brengs3k itu menindas hamba." Adunya.
Anabelle menatap tajam Yue Feng. Yue Feng menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah, kau tulis lagi harapan mu dan hanyut kan di sungai harapan." Ujar Anabelle memberikan lentera miliknya.
Jang Hua mengangguk seperti anak kecil, lalu menerima lentera itu dan menulis harapan nya. Tatapan nya tajam ketika bertemu mata Yue Feng.
"Karena bertemu dengan Nona di sini, hamba akan langsung menyampaikan nya. Tuan Li ingin Anda menemuinya. Hamba akan mengantar anda ke tempat di mana Tuan Li menunggu."
"Baiklah. Kita pergi sebentar lagi, Yue Feng. Kau juga sedang menikmati festival ini bukan?"
Yue Feng mengangguk kikuk. "Baiklah, setengah jam lagi kita bertemu di bawah pohon jodoh, Nona." Ujar Yue Feng, kemudian melesat secepat angin.
"Anabelle, apa kau akan membuat harapan?" Tanya Arion yang muncul dengan wujud Ion.
"Benar, Tuan. Mungkin anda juga akan bertemu jodoh Anda." Goda Bee.
Anabelle terdiam. "Jodoh?"
"Benar, tuan. Berbicara tentang itu, bagaimana kriteria pria anda?" Tanya Bee lagi.
Anabelle mengeluarkan cadarnya, mengangkat nya ke udara dan memperhatikan nya. Ya, sedari tadi di pasar, ia membuka cadarnya. Tidak banyak yang mengenalinya, karena putri Anabelle Lythonsen sejak dulu selalu tertutup dan menetap di istana.
"Di kehidupan sebelumnya aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah atau memiliki kekasih. Ibu ku sama sekali tidak mengizinkan aku untuk dekat dengan pria."
"Baginya, karir dan kekuasaan adalah segalanya. Pria hanya akan menghambat kehidupan kita. Dan dia sesali pernikahan nya dengan ayahku. Yang artinya, kelahiran ku juga ia sesali dan tak harap kan."
"Sebelumnya adalah sebelumnya, Tuan. Sekarang adalah sekarang. Anda tidak harus terikat masa lalu, bukankah Anda ingin menentukan takdir anda sendiri?"
Anabelle terdiam mendengar ucapan Bee.
"Kau benar, Bee. Baiklah, mungkin aku bisa memulai membuka hati dan mencintai pria. Tapi, pria seperti apa?"
Tepat ketika Anabelle bergumam. Cadarnya tertiup angin dan mendarat di wajah seorang pria berambut perak.
"Tuan, maafkan saya." Ucap Anabelle meraih cadarnya kembali.
Maniknya terkunci dengan manik merah pria berambut perak itu.
bahkan Dy master kultivasi hebat banget👍🏻🥰