Aku hanya ingin mengetahui aku layak meneruskan kemampuan ayahku sebagai Paranormal atau tidak, tapi aku justru terjebak dalam sebuah petualangan mistis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkarnya Kedok Mbah Paing
Mbah Paing tampak menikmati secangkir kopi yang diberikan oleh mbak Sumi. Wanita itu tampak santai di Pos jaga perkebunan Apel tanpa menghiraukan Gunawan yang terbaring sendirian di kediamannya.
Di sana juga tampak Purnomo dan para rewang Gunawan sedang menikmati kopi bersamanya.
"Bagaimana keadaan Pak Gun, apa saya sudah boleh kembali ke rumah?" tanya Sumi dengan hati-hati
Wanita itu kemudian duduk di depan Mbah Paing untuk mendengarkan kondisi sang majikan.
"Gunawan sudah membaik, namun serangan santetnya bisa kembali kapan pun. Untuk itulah kalian harus tetap berada di sini selama proses pengobatan. Aku tidak mau salah satu dari kalian ikut menjadi korban jika tetap tinggal di sana. Karena santet kali ini berbeda dengan sebelumnya," jawab Mbah Paing
"Baik Nyai," jawab Sumi
Setelah menghabiskan kopinya, Mbah Paing memutuskan untuk kembali ke kediaman Gunawan. Wanita itu merasa jika sekarang Gunawan sedang merasa kesakitan karena santet kembali menyerangnya.
Senyumnya mengembang saat membayangkan pria itu mengerang kesakitan sambil memanggil namanya.
Purnomo buru-buru menyiapkan sepeda motornya untuk mengantar sang dukun.
Namun saat Mbah Paing melangkahkan kakinya menuju parkiran, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan sosok makhluk tinggi besar yang terlempar kearahnya.
*Bruughh!!
Betapa terkejutnya Mbah Paing saat sesosok makhluk tinggi besar terkapar di depannya.
"Siapa yang melakukan ini kepada mu!" seru Mbah Paing saat melihat makhluk suruhannya sekarat
"Bromo Sengot," jawab Makhluk itu kemudian menghilang menjadi kepulan asap hitam.
Seketika wajah Mbah Paing berubah memucat saat mendengar nama Bromo Sengot. Wanita itu tak habis pikir jika penguasa sungai akan ikut campur dalam urusannya.
"Bromo Sengot, siapa yang mengendalikan makhluk itu??" ucapnya ketakutan.
"Motornya sudah siap Nyai?" ucap Purnomo membuyarkan lamunan Mbah Paing.
Ia buru-buru menghampiri Purnomo dan naik keatas motornya. Purnomo melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Gunawan.
Setibanya di sana, suasana rumah tampak lengang. Tak ada suara rintihan kesakitan Gunawan yang diharapkan oleh Mbah Paing.
Ia segera melangkah menuju kamar Gunawan, namun sayangnya pria itu tak ada di kamarnya membuat ia terlihat panik.
"Pak Gunawan menghilang Nyai!" seru Purnomo dengan wajah panik
"Cepat kerahkan teman-temanmu untuk mencarinya!" seru Mbah Paing
"Baik Nyai!"
Purnomo segera bergegas pergi meninggalkan kediaman Gunawan.
"Kemana dia pergi, aku yakin dia tidak mungkin pergi jauh, apalagi dengan kondisinya sekarang?"
Mbah Paing kemudian mengeluarkan boneka jerami dari balik bajunya. Senyumnya mengembang saat ia melihat boneka tersebut.
"Dengan boneka ini aku yakin dia pasti akan segera kembali lagi ke rumah ini, hahahaha!"
Mbah Paing kemudian masuk ke kamar Gunawan. Ia duduk bersila di depan sesaji yang memang sudah dipersiapkan di kamar itu. Aroma dupa mulai tercium di seluruh ruangan, dan Mbah Paing mulai merapal mantera. Ia pun mengeluarkan sekotak jarum dan meletakannya diatas kembang tujuh rupa.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah lepas dari cengkeraman ku Gunawan!"
Mbah Paing mengambil satu buah jarum dan mulai menancapkan jarum itu ke boneka jerami yang dipegangnya. Bukan hanya satu jarum, Mbah Paing menusuknya dengan beberapa jarum.
"Apa yang kau lakukan Nyai!" Seru Gunawan membuat Mbah Paing terperanjat melihatnya
Wanita itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana bisa??" ucapnya kaget saat melihat Gunawan baik-baik saja meskipun ia sudah menusukkan beberapa jarum ke boneka santetnya.
"Mbah pasti kaget karena Bapak tak apa-apa meskipun dia sudah beberapa kali menusukkan jarum ke boneka santetnya," ucap Anas perlahan muncul dan berdiri di samping Gunawan
Sontak saja wajah Mbah Paing langsung berubah pucat melihat kemunculan pemuda itu.
"Bagaimana bisa kau ada disini, bukankah kau harusnya sudah mati??"
Anas tersenyum simpul menanggapi ucapan Mbah Paing.
"Harusnya aku memang sudah mati saat putramu membuangku ke sungai dan kau menyantet ku, tapi sayangnya ada orang baik yang rela mengorbankan nyawawa demi menyelamatkan diriku. Dan tentu saja aku tidak bisa menyia-nyiakan kebaikannya begitu saja. Aku sudah berjanji kepadanya untuk membersihkan nama baik ayahnya dan juga akan menggunakan kekuatan yang ia berikan kepada ku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan terutama aku harus membasmi dukun jahat seperti dirimu!" jawab Anas
"Hahahaha!" Mbah Paing terkekeh mendengar ucapan Anas seolah meremehkannya.
"Kau ini hanya bocah kemarin sore, tahu apa soal perdukunan, yang ada kau hanya akan mati mengenaskan jika berusaha melawanku!" jawab Mbah Paing dengan nada mengejek
"Aku memang masih hijau dalam dunia supranatural, tapi satu yang selalu ku pegang teguh adalah kebenaran akan selalu menang melawan kebatilan,"
Kembali Mbah Paing tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar jawaban Anas.
"Terserah apa katamu anak muda, yang jelas waktu yang akan membuktikan apa ucapan ku yang benar atau ucapan mu !" sahut Mbah Paing
Wanita itupun kemudian berdiri dan menatap lekat kearah Anas seolah sedang menscan kemampuan supranatural yang dimiliki oleh pemuda itu.
"Meskipun kau berhasil memiliki Keris sakti Bromo Sengot, namun jika kau tidak bisa menggunakannya ya percuma saja. Itu sama saja seperti memberikan kacamata kepada orang buta hanya bisa menutupi kekurangan mu tanpa bisa membuat mu melihat indahnya dunia, jadi jangan jumawa anak muda!" jawab Mbah Paing
Merasa tak dibutuhkan lagi oleh Gunawan, Mbah Paing pun melangkah pergi. Namun Gunawan yang masih penasaran dengan siapa yang di santet olehnya berusaha menahannya untuk mencari tahu kebenarannya.
"Apa benar kau berusaha menyantet ku tadi Nyai?" tanya Gunawan membuat Mbah Paing menghentikan langkahnya
Wanita itu kemudian membalikkan badannya dan menatap lekat kearahnya.
"Sepertinya kau sudah termakan hasutan bocah ingusan itu, jadi percuma saja aku menjelaskannya," jawab Mbah Paing
"Selama ini aku selalu berusaha mempercayai mu meskipun banyak yang menyarankan kepada ku agar menjauhi mu. Semua itu aku lakukan sebagai bukti hormat ku kepada mu Nyai. Kau adalah seseorang yang selalu menjaga adat dan tradisi desa kita. Jadi itulah yang membuat ku respect kepada mu. Jadi aku harap apa yang diucapkan Anas itu salah, aku selalu ingin Nyai menjadi sesepuh desa ini yang selalu menjaga dan melindungi desa kita,"
"Hahahaha, dasar munafik. Kalau kau sudah tahu jika aku yang sudah berusaha menyantetmu jadi untuk apa lagi meminta ku menjaga desa ini, apa kau tidak takut jika aku menyantet seluruh desa ini, atau kau sengaja ingin menunjukkan kepada warga betapa baiknya dirimu!" jawab Mbah Paing
"Jangan terlalu bahagia karena berhasil memasang pagar gaib kepada Gunawan, tunggu saja tanggal mainnya!" seru Mbah Paing kemudian meninggalkan ruang itu
Namun Purnomo dan anak buahnya sudah bersiap menghadang Mbah Paing dengan golok di tangannya.