Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murkanya Rayyan..
Hans pulang dengan pikiran yang bimbang. Ucapan tegas Raisha sungguh mengganggu otaknya. Hans tidak ingin berpisah dengan Raisha karena wanita itu berbeda dengan wanita lainnya. Disisi lain Hans juga tidak bisa meninggalkan Ajeng dan Haura begitu saja. Entah mengapa Hans begitu berat dengan pesan terakhir Abangnya itu.
Memang jika seorang suami telah tiada, Dari pihak suami tersebut boleh peduli, Menjenguk atau memastikan kondisi istri atau anaknya. Tapi bukan berarti harus setiap saat seperti yang di lakukan Hans. Apa yang Hans lakukan sungguh sangat berlebihan. Dia sudah punya tunangan atau lebih tepatnya calon istri. Dan sebentar lagi keduanya akan menikah. Lalu ketika sudah menikah apakah masih akan tetap mengutamakan iparnya?
Jika seperti itu, Percuma. Karena pernikahan itu bersatunya dua orang yang saling mencintai yang jelas tidak boleh ada orang ketiga diantaranya terutama seorang ipar.
Sabda Nabi Muhammad SAW yang paling masyhur mengenai ipar adalah "Al-Hamwu al-mawt" yang artinya "Ipar adalah maut". Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari (No. 5232) dan Muslim (No. 2172) sebagai peringatan keras agar berhati-hati dalam berinteraksi dengan ipar (saudara suami/istri) guna menghindari khalwat (berduaan), fitnah, atau maksiat.
Dan sepertinya Hans tak mengidddahkan peringatan itu. Yang Hans ingat hanya pesan terakhir alm Abangnya yang meminta Hans menjaga Ajeng dan Haura.
Dan memang terbukti bukan? Baru semalam Hans menginap dirumah Ajeng keduanya sudah melakukan hal yang tak senonoh yang memang seharusnya tidak mereka lalukan.
Setelah pulang dari rumah sakit, Hans pulang kerumahnya. Pria itu belum merasa puas kalau belum bertanya dan memastikan pada kedua orangtuanya mengenai aduan Ajeng.
"Tumben kamu udah pulang?" Tanya Ayah Mansyur pada sang putra. Pria paruh baya tersebut duduk santai sembari menonton tv dengan ditemani secangkir teh jahe hangat.
Tak lama, Bunda Fatimah pun ikut datang. Wanita itu mengabaikan keberadaan sang putra. Mungkin saja masih rasa kecewa terhadap sikap Hans.
"Ayah, Bunda..." Mereka tidak menjawab. Hans menghela nafas panjang.
"Ayah, Bunda.. Hans mau bicara..
"Kalau kamu pulang cuma buat tanyain tentang Bunda dan Ayah yang datang kerumah Ajeng lebih baik kamu pergi saja.. Bunda malas bahas dia.." Setelah mengatakan itu, Bunda fatimah beranjak di ikuti Ayah Mansyur dari belakang.
Hans mengusap wajahnya dengan kasar, Entah apa yang harus dia lalukan saat ini. Sebentar lagi pernikahannya dengan Raisha akan digelar, Bagaimana kalau tiba-tiba wanita itu tiba-tiba mengurungkan niatnya.
"Enggak.. Raisha itu wanita yang sangat penurut sekali.. Semua orang sudah tahu kalau putri seorang pengusaha Damian Pangestu akan menikah. Jika pernikahan itu tiba-tiba dibatalkan apa tidak mencoreng nama.." Monolog Hans yang sangat yakin kalau pernikahannya dengan Hans akan tetap dilaksanakan.
Ddrrttt... Ddrrttt..
"Papa..." Gumanya, Dengan ragu Hans mengangkat panggilan dari calon ayah mertuanya tersebut.
"Ha.. Halo Pa..
"Kamu itu kemana aja? Pamit makan siang malah tidak kembali.. Sebenarnya kau ini niat kerja atau tidak? Jangan mentang-mentang kau adalah tunangan Raisha kau bisa jadi seenaknya.. " Dari seberang sana Damian marah besar. Jangan mentang-mentang dia adalah calon menantu keluarga pangestu bisa bertingkah seenaknya saja.
"Urusan diperusahaan belum selesai.. Kembali!!
"Iya pa.. " Hans pun terpaksa kembali ke perusahaan. Mau bagaimana lagi, Ayah dan Bundanya pun tak memberikan jawaban apapun. Belum juga dia bertanya sudah ditinggalkan sendiri begitu saja.
...****************...
Seorang pria tampan baru saja turun dari burung besi yang sejak tadi ia tumpangi. Pria tampan tersebut membuka kacamata hitamnya melempar jas yang sejak tadi terselampir dilengan kirinya itu pada sang asisten.
"Pegang..
"Baik Bos.." Pria yang tak lain adalah Rayyan itu berjalan dengan langkah panjang dan lebar. Dia baru saja pulang dari luar kota bersama sang asisten yang bernama Haidar.
Rayyan adalah kakak sodara kembar Raisha. Wajah keduanya non identik namun masih ada kemiripan.
Rayyan pergi keluar kota karena ada meeting penting perusahaan yang harus dia hadiri. Sebenarnya Papa Damian bisa, Akan tetapi pria paruh baya itu sudah enggak pergi bolak balik keluar kota karena sudah ada sang putra yang mewakilkannya.
Sebuah mobil jemputan telah menunggu. Haidar segera membukakan pintu untuk sang Bos sebelum akhirnya Asistennya itu ikut masuk dan duduk dikursi yang paling depan.
"Kita kemana Bos?
"Langsung ke kantor.. Badjingan itu pasti ada disana.." Katanya dengan raut wajah emosi yang ditahan sejak tadi. Rayyan membuka kacamata hitamnya lalu melemparkannya begitu saja, Tak peduli apakah rusak atau tidak.
Kedua tangan Rayyan terkepal. Dua hari yang lalu Rayyan mendengar adiknya kecelakaan, Dan yang membuat Rayyan emosi ialah setelah pria itu mendengar kalau Raisha kecelakaan karena menyelamatkan keponakan calon adik iparnya.
Rayyan juga mendengar dari Kaivan kalau Hans lebih mendahulukan bocah kecil itu ketimbang Raisha yang katanya terluka parah.
"Kita langsung ke kantor.." Ucap Haidar pada sang supir. Supir itupun mengangguk dan mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak lama mobil yang ditumpangi oleh Rayyan telah sampai dikantor dimana sang ayah masih menjadi direktur disana. Sementara Rayyan sendiri, Pria itu menjadi direktur diperusahaan cabang yang letaknya tak jauh dari gedung perusahaan ini.
Rayyan turun dari kendaraan roda empatnya dengan emosi yang tertahan. Kakak mana yang tidak murka mendengar kalau adik kandungnya atau lebih tepatnya adik kembarnya disakiti oleh oleh pria yang tak lain adalah tunangannya sendiri.
Sejak dari dalam kandungan keduanya sudah bersama, Mustahil Rayyan baik-baik saja mendengar adiknya yang sangat ia sayangi itu celaka.
"Dimana Badjingan itu?" Tidak ada angin tidak ada hujan, Rayyan tiba-tiba saja masuk dan langsung bertanya dimana keberadaan Hans.
Para karyawan yang tak sengaja mendengarnya jadi heran siapa badjingan yang Tuan mudanya itu maksud.
"Begini.. Dimana keberadaan Hans.." Haidar yang akhirnya bertanya sekaligus membenarkan. Karena kalau disebutkan seorang Badjingan mereka tidak mungkin tahu.
"Pak Hans? Tadi dia ada.. Tapi saat tiba jam makan siang sepertinya Pak Hans tidak kembali lagi.." Jelas seorang karyawan perempuan yang makan siang satu cafe dengan Hans tadi. Bahkan setahunya, Hans belum menghabiskan makan siangnya kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Pergi kemana dia?
"Saya kurang tahu Tuan.." Rayyan mengepalkan tangannya. Sungguh dia merasa marah sekali, Sudah dipastikan Hans pasti bertemu dengan wanita itu.
"Haidar..
"Ya, Gus..
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu.." Haidar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya, Bos..
"Hubungi orang kepercayaan mu.. Katakan dan selidiki pria yang tidak tahu diri itu.." Haidar mengangguk, Baru saja hendak menghubunginya. Orang yang dicari-cari akhirnya datang.
Hans masuk tepat pukul 14.30. Tatapan Rayyan sudah tidak mengenakan sejak tadi.
"Ada apa ini? Kenapa..
Bugh!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tanpa aba-aba Rayyan langsung menyerang Hans. Tak hanya satu pukulan tapi berulang-ulang. Bahkan Rayyan tak membiarkan Hans bertanya atau melawan sedikit pun.
"BERHENTI!!
Belum juga dirasa puas, Rayyan terpaksa menghempaskan Hans yang sudah babak belur itu ke dinding setelah mendengar teriakan Papanya. Damian mendekat menatap tajam putranya itu.
"Kalau mau ribut jangan disini Rayyan.. " Namun Rayyan tak peduli dengan perkataan Papanya, Tujuan utamanya adalah Hans, Bukan Papanya.
Pria ini harus diberi pelajaran agar jera. Raisha hidup dan dirawat dengan oleh keluarganya. Diberikan kasih sayang dan pernah Raisha bersedih karena keluarganya. Dan sekarang, Pria asing yang menjadi tunangannya ini justru menyakiti nya? Rayyan tidan bisa membiarkan itu..
"Sebenarnya mau mu itu apa? " Hans menyentuh sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari calon kakak iparnya itu.
"Sudah berulang kali aku katakan jangan sekali-kali kau menyakiti adikku! Kenapa kau tidak mendengar!! Raisha itu adalah kesayangan kami dan kau hanya orang asing yang bahkan belum masuk kedalam keluarga kami justru malan seenaknya menyakiti Raisha?? Badjingan!!" Hans diam, Mau melawan atau menyangkal pun rasanya percuma karena memang itulah kenyataannya.
Apalagi ini adalah Rayyan. Pria nomor satu yang akan selalu membela Raisha. Itupun karena Raisha benar dan tak bersalah. Adiknya itu selalu bersabar selama ini.
"Sekali lagi kau sakiti adikku.. Sampai kapanpun aku tidak akan mau punya adik ipar yang plinplan seperti dirimu itu.." Setelah mengatakan itu Rayyan pergi. Damian yang juga ada disana pun tak peduli pada calon menantunya itu. Mau luka mau tidak terserah saja..
Diapun ikut kembali masuk ke lift. Bahkan karyawan pun banyak yang tak peduli pada Asisten Bos besarnya tersebut.
•
•
•
TBC