Sebuah takdir yang tidak pernah terduga, membuat Qirani Andara, terpaksa menikah dengan pria yang merupakan kekasih dari kakaknya sendiri, yang meninggal akibat kecelakaan.Namun,sebelum mengembuskan napas terakhir, kaluna masih sempat meninggalkan wasiat agar jantungnya didonorkan pada Qirani yang memang sudah mengalami kelainan jantung dari kecil. Langit Radhitya Ganendra, pria tampan yang sangat mencintai Kaluna, kakak dari Qirani itu, terpaksa mau menikah dengan adik kekasihnya. Kenapa? Karena jantung wanita yang dia cintai itu bersemayam di tubuh Qirani. Harusnya pernikahan mereka menjadi kebahagiaan bagi Qirani karena gadis itu selama ini juga sudah jatuh cinta pada pria itu. Namun, bukan kebahagiaan yang dia dapat, karena suaminya sama sekali tidak pernah bisa mencintainya. yang dia pedulikan hanyalah jantung sang kakak yang ada di tubuhnya. Akankah Qirani tetap bertahan dan sabar melihat suaminya yang hanya mementingkan jantung almarhumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan hati Nathan
"Kenapa dengan wajahmu? Setelah menerima telepon, aku lihat wajahmu kusut. Kalau boleh tahu siapa yang meneleponmu tadi?" cecar Nathan dengan tangan yang tetap aktif melakukan kegiatannya.
"Tidak siapa-siapa, Kak. Apa sudah selesai masaknya, Kak? Aku sudah lapar," Qirani sengaja mengalihkan pembicaraan. Wanita cantik itu tidak ingin ada yang tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya yang rumit.
"Sebentar lagi. Kamu sabar aja!" sahut Nathan. Sementara Nathan fokus pada masakannya, setidaknya itulah yang terlihat sekarang, sedangkan Qirani sibuk berperang dengan pemikiran-pemikiran negatif tentang apa yang akan terjadi di saat makan malam nanti.
"Qirani, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" celetuk Nathan tiba-tiba, membuat Qirani tersentaj kaget.
"Hah?" Qirani memasang wajah bingungnya.
"Kenapa? Apa pertanyaanku tadi kurang jelas? Apa perlu aku ulang lagi?" Nathan mengalihkan pandangannya sekilas dari masakannya ke arah Qirani yang kini terlihat terdiam.
"Aku dengan, Kak. Kakak tidak perlu mangulangnya. Hanya saja aku bertanya-tanya, kenapa kakak bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia. Kamu kan tahu sendiri kalau aku menikah dengan orang yang aku cintai," sahut Qirani berusaha untuk tersenyum.
Nathan sontak menghentikan kegiatannya sebentar lalu menatap ke arah Qirani.
"Aku tahu kamu menikah dengan orang yang kamu cintai, tapi tidak dengan orang yang mencintaimu. Kamu yakin bahagia dengan Cinta sepihak?" pertanyaan Nathan yang menohok langsung membuat Qirani terdiam seribu bahasa.
"Kenapa kamu diam? yang aku katakan barusan benar kan?" tukas Nathan sembari kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ti-tidak. Kakak jangan sok tahu!" sangkal Qirani.
"Aku bukan sok tahu, tapi memang sudah tahu. Aku tahu kalau suamimu hanya memikirkan jantung yang ada di tubuhmu. Karena pemilik awal dari jantung itu wanita yang sangat dia cintai. Kamu hebat bisa bertahan dengan suamimu itu lebih dari satu tahun,"
Qirani bergeming diam seribu bahasa. Wanita itu cukup kaget, tidak menyangka kalau pria yang merupakan dokter yang menangani penyakitnya dulu, ternyata sudah tahu tentang kondisi rumah tangganya, padahal dia sama sekali tidak pernah mengungkapkannya pada pria yang tidak kalah tampan dari suaminya itu. Bahkan kalau dibandingkan dokter muda itu lebih tampan dilihat dari sisi manapun dibandingkan dengan Langit suaminya.
"Sudahlah, Kak. Jangan bahas itu sini. Karena aku tidak mau ada yang mendengar dan akhirnya tahu bagaimana kondisi rumah tanggaku," ucap Qirani dengan lirih.
Nathan menarik napas dan mengembuskannya dengan pelan.
"Qirani, kamu adalah wanita kuat yang pernah aku kenal. Tapi, tolong saat kamu sudah tidak kuat lagi, menyerahlah. Semua orang punya batas kemampuan. Cobalah membuat dirimu sendiri bahagia, karena kamu juga pantas bahagia," tutur Nathan panjang lebar, membuat pertahanan wanita itu rubuh. Air mata yang sebenarnya sudah berusaha dia tahan dari tadi akhirnya berhasil lolos membasahi pipinya.
"Apa aku memang pantas, Kak? Selama ini aku merasa tidak pantas untuk bahagia. Kondisi rumah tanggaku, aku anggap sebuah hukuman. Aku merasa Kak Luna ingin aku juga bisa merasakan bagaimana sakitnya diabaikan seperti dia yang selalu diabaikan mama dan papa dulu, karena fokus pada penyakitku," ucap Qirani.
Nathan kembali mengembuskan napasnya, lalu menyisihkan salad yang baru saja selesai dia buat. Kemudian, pria itu kembali menatap ke arah Qirani dan tersenyum manis.
"Sebenarnya, kamu yang menghukum dirimu sendiri, karena merasa bersalah pada kakakmu. Padahal, aku yakin kalau kakakmu tidak pernah berniat membuat kamu merasa bersalah. Ia ikhlas memberikan jantungnya padamu, agar kamu bisa melanjutkan hidup dan bisa bahagia.Tolong jangan terus-terus merasa bersalah sampai-sampai mengorbankan perasaaanmu sendiri. Sekali lagi aku tegaskan, kamu itu pantas bahagia dengan orang yang menghargaimu. Cintai diri kamu sendiri mulai saat ini!" tegas Nathan.
Qirani tercenung, diam seribu bahasa. Kata-kata Nathan barusan tidak bisa dia bantah dan bahkan jauh dilubuk hatinya, wanita cantik itu membenarkan ucapan pria itu.
"Kak, terima kasih!" suara Qirani terdengar lirih.
Nathan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ingat, kamu jangan pernah merasa sendiri. Masih ada papa dan mamamu yang pasti akan selalu mendukungmu. Dan ingat juga, kalau kamu sudah tidak kuat, kamu bisa datang padaku, karena aku akan selalu untukmu,"
"Sekali lagi terima kasih, Kak. Tapi, aku rasa tidak baik aku datang pada Kakak, karena aku tidak mau wanita yang ingin kamu cintai itu salah paham padamu, "
"Dia tidak akan Salah paham,"
"Kenapa? Apa karena dia sudah tahu aku?" alis Qirani bertaut tajam.
Langit tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Karena dia tidak mungkin salah paham pada dirinya sendiri," celetuk Nathan tiba-tiba.
Mata Qirani sontak membesar, benar-benar terkesiap kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut dokter muda itu.
"K-Kak?" suara Qirani bergetar.
"Iya, wanita yang sangat beruntung aku cintai itu kamu. Aku datang ke negara ini hanya ingin memastikan kamu sudah hidup bahagia atau tidak," tidak terlihat sedikitpun di raut wajah Nathan saat mengucapkan ucapannya.
"Ta-tapi, bagaimana bisa?"
"Kenapa tidak? Ada banyak alasan yang membuat aku mencintaimu. Saking banyaknya aku sulit untuk menyebutkannya satu-satu. Tapi, yang pasti Salah satunya, karena kamu adalah wanita hebat dan kuat yang pernah aku temui," tutur Nathan. "Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin memaksakan kehendakku agar kamu bisa mencintaiku balik." Nathan berhenti bicara untuk beberapa saat untuk mengambil jeda sekaligus mengatur napasnya.
Sementara Qirani masih sulit untuk berkata-kata, karena masih shock dengan pengakuan dokter itu. Ya, dia memang sudah bisa merasakannya sejak dulu, tapi dia berusaha menepisnya dan menganggap kalau pemikirannya tidak benar. Namun, apa yang didengarnya sekarang, membuat mulutnya seketika kaku.
"Dulu saat aku mendengar dari kedua orang tuamu kalau kamu akan mendapatkan donor jantung, aku begitu bahagia dan tidak sabar melakukan operasi transplantasi itu sendiri. Tapi, aku sedih ketika mendengar kabar juga kalau setelah kamu sembuh, kamu akan menikah dengan pria yang sering kamu ceritakan padaku. Aku selalu melihat binar Cinta di matamu saat kamu bercerita tentang pria itu. Walau kadang-kadang binar itu seketika meredup, ketika kamu mengingat kalau pria itu kekasih kakakmu sendiri. Bohong kalau aku mengatakan tidak cemburu, tapi apa yang bisa aku lakukan? Kenyataannya kamu memang mencintai pria yang sekarang jadi suamimu itu. Yang bisa aku lakukan hanya mengiklaskan, karena aku tahu kalau derajat tertinggi dari mencintai itu adalah bisa melihat orang yang kita cintai bahagia walaupun bukan dengan kita. Tapi, apa yang aku lihat sekarang? Ternyata suami kamu hanya menjadikan kamu wadah untuk menampung jantung wanita yang dia cintai. Bagaimana mungkin aku bisa iklas, Ran?"
Cairan bening kembali menetes membasahi pipi putih Qirani. Dia tidak menyangka kalau Cinta dokter yang selalu ada untuknya selama di Amerika itu sangat besar Dan dia dengan bodohnya menutup mata karena hatinya diisi dengan pria yang sama sekali tidak pernah mencintainya.
"K-Kak, aku minta maaf. Tapi__"
"Sudahlah, kamu jangan jadi merasa bersalah. Aku mengatakan ini semua bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Aku hanya ingin mengembalikan rasa percaya dirimu, kalau kamu pantas untuk dicintai," potong Nathan dengan cepat.
"Aku harap, dengan pengakuanku ini tidak membuat kamu menjauh dariku. Aku tidak akan memaksakan kamu menerima perasaanku. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu, kalau kamu butuh sesuatu, aku akan selalu ada untukmu," pungkas Nathan sembari tersenyum.
"Sudahlah, ayo kita makan. Masakannya sudah jadi," Nathan berusaha kembali mencairkan situasi.
Tbc
kira kira bawangnya sampe bab berapa Thor, AQ mau siapin mental buat baca biar kuat /Grin//Grin/