Freya tidak pernah menduga ia harus melepaskan sang kekasih, menyakiti perasaan pria yang ia cintai dan juga mengubur dalam perasaannya demi menikah dengan seorang Billionaire yang tidak ia kenal sama sekali.
Takdir seperti apa yang akan Freya jalani dan apa alasan dibalik ia bersedia menikah dengan pria asing tersebut? Lalu bagaimana jadinya jika ternyata pria yang sudah menjadi suaminya ternyata memiliki seorang istri yang artinya Freya hanya dijadikan sebagai istri kedua. Akankah Freya mempertahankan pernikahannya atau justru mengakhirinya dan kembali kepada kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss
**Hai.Hai semua😁 Happy Monday, jangan lupa tersenyum dan selalulah berbahagia😄 Sampai sini bagaimana ceritanya?
Dan untuk para readers tidak bosan-bosannya saya mengucapakan terima kasih yang sudah memberikan dukungan like👍 Favorit❤ bintang 5, dan juga komennya, terlebih yang sudah menyumbangkan vote baik poin maupun koin, hingga cerita ini masuk dalam 100 besar. Sekali lagi terima kasih yang sebanyak-banyaknya, sungguh saya sangat terharu🥺🥺
Happy reading gaeesss😍, tap jempolnya sebelum membaca😉😘, tinggalkan komen yang sebanyak-banyaknya😆🥰**
***
Daniel tidak bisa fokus mendengar cerita Freya, yang sedang meminta izinnya untuk membiarkan Clara tinggal bersama mereka. Sesekali ia melirikkan matanya pada Freya, dan sesekali ia menatap Clara yang juga sedang menatapnya intens. Will, yang duduk di sampingnya sangat menikmati kepanikan sahabatnya itu, walau tak ia pungkiri ia juga merasa prihatin terhadap nasib sahabat tersayangnya itu. Will tau, Daniel tidak akan kuasa menolak permintaan istrinya, Clara. Tapi ia juga tahu, Daniel adalah pria yang mempunyai rasa empati tinggi, ia pasti masih bingung akan memperlakukan Freya seperti apa disaat wanita itu menganggapnya seorang pria penyuka sesama jenis.
"Bagaimana, apa kau mengijinkannya untuk tinggal beberapa hari?" untuk kesekian kalinya Freya bertanya. Will, menyikut Daniel hingga Daniel mengalihkan tatapannya pada Freya.
"Terserah padamu," akhirnya hanya itu yang bisa Daniel ucapkan. Ia segera beranjak dari tempatnya, sepertinya ia butuh udara segera, untuk menenangkan otaknya yang hampir meledak. Mungkin yang dikatakan Will benar adanya, ini adalah awal mimpi buruknya. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Clara, hingga istrinya itu memilih untuk tinggal bersama mereka.
"Aku harap jantungmu kuat, Dude" kekeh Will yang sudah duduk di bangku kemudi. Ia segera menyalakan mobilnya, membawa sahabatnya itu mencari hiburan.
"Pelajaran yang bisa kau petik jangan sampai memiliki istri lebih dari satu," Daniel menyandarkan kepalanya ke sandaran belakang kursi.
"Clara ingin segera aku menghamili Freya, sementara Freya menganggapku pria penyuka sesama jenis, apa lagi yang lebih menggelikan dari ini?"
"Semangat!!" Will mengepalkan tangannya ke atas, dan percayalah wajah pria itu terlihat sangat mengesalkan menurut Daniel, ingin rasanya ia membogem kembali wajah sahabatnya itu, karena sepertinya sangat menikmati derita yang akan dilaluinya.
Daniel hanya bisa pasrah saat Will membawanya ke sebuah klub, dan bukan hal yang baru juga baginya begitu mereka memasuki klub, para wanita pramunikmat segera datang menghampiri mereka menawarkan jasa mereka, dengan suka rela alias tidak meminta bayaran. Ayolah, kedua pria itu terlalu seksi, wajah dan kedudukan mereka membuat para wanita takluk begitu saja. Wajah tampan rupawan tidak akan berguna jika tidak ditopang dengan tahta, sebaliknya wajah tidak rupawan atau standar tidak akan jadi masalah jikalau si wajah standar mempunyai tahta dan kedudukan. Kebobrokannya akan ditutupi dengan harta yang dimilikinya. Tapi percayalah harta bisa dicari, tapi keturunan tidak bisa diubah. Dan bersyukurlah Daniel dan Will yang mempunyai wajah rupawan, serta harta dan tahta, nikmat Tuhan mana lagi yang mereka dustakan, bahkan seorang Daniel di anugerahi dengan dua wanita cantik.
Daniel menepis tangan seorang wanita bahenol yang meraba dadanya dengan nakalnya, Will terkekeh seraya memberikan satu kecupan di bibir wanita yang menggodanya.
"Sweetheart, maaf hari ini kami hanya butuh alkhol" usir Will dengan sangat halus sambil memamerkan senyum indahnya. Wanita itu terlihat merengut, kesal bahwa ikan pancingannya tidak berhasil ia tangkap, Will kembali terkekeh, ia mengeluarkan sejumlah uang dan memasukkannya ke dada wanit itu. Yup! buah lemon wanita itu hampir mencuat keluar, karena baju yang dikenakannya selain terbuka, juga sangat ketat hingga memperlihatkan semua bentuk tubuhnya. Sangat miris.
Melihat apa yang dilakukan temannya, Daniel hanya berdecak kesal. Ia memberi isyarat melalui matanya kepada Will agar dua wanita yang sedang berusah menggodanya segera menjauhkan diri mereka.
Bibir Will terlihat berkedut, seperti sedang menahan tawanya, "Kenapa kau selalu dikelilingi oleh dua wanita," celetukannya membuat Daniel memutar bola mata jengah, dan hal itu membuat Will semakin terkekeh.
"Nona-nona, menjauhlah darinya, pria ini sudah mempunyai istri dua, dan salah satu istrinya belum disentuhnya sama sekali, dan percayalah dia sangat merasa frustasi" Kembali Will mengeluarkan sejumlah uang dan meletakkannya di tempat yang sama, dengan lirikan nakalnya. Will memang terkenal royal di klub itu.
"Mungkin istrimu tidak ahli dalah hal pe-ranjangan, aku bisa memuaskanmu " goda salah satu wanita.
"Harusnya kau tidak meragukan kemampuan istri pertamanya, darling. Setelah 4 tahun menikah, ini pertama kalinya sahabat tersayangku ini memasuki tempat lakanat ini," Will mengerling nakal, ia mengibaskan sebelah tangannya memberi isyrat agar para wanita itu pergi dan tidak menghalangi jalan mereka. Dengan desahan kasar ketiga wanita itu akhirnya pergi dengan melenggak lenggokkan tubuh bahenol mereka. Will menarik napas dalam menatap keindahan yang biasanya jarang ia lewatkan.
"Bokong yang Woow" kedua tangannya seakan melukis bokong para wanita itu.
Daniel berdecak, lalu melanjutkan langkahnya memasuki ruangan VVIP, ruangan yang biasa mereka tempati dulu, dan sampai sekarang ruangan itu Will datangi disaat ia merasa penat dan butuh hiburan, hiburan yang menyenangkan tentunya.
Dan alhasil, Daniel pun benar-benar mabuk. Entah berapa banyak minuman yang sudah dihabiskannya, dan Will hanya menyaksikan dan membiarkannya begitu saja. Kedua pria itu tidak banyak bicara, hingga akhirnya Daniel tepar. Will terkekeh, ia menepuk punggung Daniel memberi semangat. Will segera mengambil ponselnya, ia tidak ingin direpotkan dengan keadaan Daniel yang mabuk, dan pantang bagi Will untuk tidak bersenang-bersenang kalau sudah berada di tempat terkutuk itu. Jangan katakan namanya Will, jika tidak membuat hidup Daniel semakin kacau. Apakah ia akan menghubungi Clara? Tentu saja tidak, ia memilih untuk menghubungi Freya? What? Dari mana Will mendapat nomer Freya? Acara mengeringkan rambut memberi Will keuntungan banyak, selain bisa mencium aroma wanita itu, ia juga sengaja meminta nomer Freya untuk memancing Daniel, dan Freya yang baik hati memberikannya begitu saja. Siapa sangka ternyata nomer itu benar-benar berguna.
"Anggap ini balasan atas bogemanmu di wajah tampanku, dude. Ck, kurang baik apa aku?!"
Will pun menekan nomer Freya, panggilan pertama diabaikan, Will melirik jam tangannya, hampir jam 12 malam. Wil pantang menyerah, ia kembali mencobanya, dan ya Freya menjawab panggilannya.
"Ya, halo" suara serak khas bangun tidur wanita memang terdengar sangat seksi.
"Ini aku, Will"
"Hmm"
"Bisakah kau membantuku?"
Freya memijat pelipisnya, ia segera duduk, memalingkan wajahnya untuk melihat jam, dahinya pun mengernyit begitu melihat waktu menunjukkan jam 23.55.
"Ada apa, Will?"
"Aku dan Daniel sedang berada di klub, kami dalam keadaan mabuk, bisakah kau datang. Aku tidak yakin aku mampu mengendarai mobil dengan baik," Will melancarkan aksinya dengan kebohongan kecil yang ia ciptakan.
"Kirim alamat klubnya, aku akan segera ke sana, jika bukan karena aku baru mendapatkan hadiah mobil, percayalah aku enggan mengorbankan jam tidurku demi kalian" rungut Freya yang mendapat kekehan dari Will.
Setelah menempuh perjalan selama 20 menit, akhirnya Freya pun sampai di klub yang sesuai dengan alamat yang dikirimkan oleh Will. Freya segera turun dari mobilnya, bukan mobil bugatti yang diberikan oleh Daniel, tapi mobil lain milik Daniel yang memungkinkan untuk manampung lebih dari satu penumpang, dan yang terpenting ia tidak ingin Pangerannya terceceri muntahan dari para pria itu.
Seseorang bertubuh besar menghampiri Freya, "Ms. Freya?"
Freya mengangguk ragu, melihat tubuh besar itu sedikit membuatnya takut, ia segera menghubungi Will, dan sial nomernya tidak aktif.
"Saya akan mengantar, Anda. Tuan Will yang memerintahkan saya" Freya bernapas lega begitu algojo tersebut menyebut nama Will, ya Will memang sengaja mematikan ponselnya dan meminta seseorang menunggu Freya agar menuntun wanita itu ke ruangan mereka tanpa mendapat gangguan dari para pria kucing garong yang kelaparan.
Begitu sampai di ruangan mereka, Freya mengernyit karena hanya melihat Daniel seorang di sana.
"Di mana Will?" Freya menoleh kepada algojo tersebut.
"Tuan Will sudah pergi Nona, baiklah saya permisi," tanpa menunggu jawaban Freya algojo itu pun meningalkan Freya. Freya pun melangkahkan kakinya masuk.
"Hei, Daniel. Bangunlah" Freya menggoyang bahu Daniel. Secara perlahan Daniel mengangkat kepalanya, menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya. Daniel pun kemudian tersenyum.
"Freya" panggilnya.
"Thanks God, ternyata kau cukup sadar. Kau masih mengenali wajahku. Kekasih brengsekmu meninggalkanmu."
Grep
Daniel menarik tubuh Freya ke dalam pelukannya. "Maafkan aku." Freya tidak tahu Daniel meminta maaf untuk apa, tapi ia bisa merasakan kegundahan pria itu. Tangannya pun terulur membalas pelukan Daniel, ia mengusap lembut punggung pria itu dalam diam. Mereka berpelukan cukup lama, dan Daniel pun akhirnya mengurai pelukannya, menangkup wajah Freya dan menatapnya dengan lekat.
"Daniel, kendalikan dirimu. Aku Freya, dan aku wanita!" tegas Freya mulai gugup.
Mengabaikan kicauan Freya, Daniel memiringkan wajahnya mengikis jarak yang tipis semakin menipis, dan bukankah seharusnya Freya memundurkan kepalanya? menjauh dari Daniel, respon yang seharusnya ia berikan.
Apa ini? apa yang akan terjadi? Freya menjauh dari darinya!! Batin Freya menjerit, tapi tubuhnya seakan menolak perintahnya hingga akhirnya ia merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Daniel menciumnya!! Terkejut? tentu saja, pupil matanya bahkan hampir keluar dari tempatnya. Ingin rasanya ia memberontak tapi kembali respon tubuhnya mengkhianatinya, dan sial kini Daniel bahkan dengan nakalnya memperdalam ciumannya dan...
Ya Lord, ciumannya lembut sekali, batin Freya.