"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
"Apa kamu tidak apa-apa, Runi? Aku lihat gaun mu basah." Dokter Gio paham apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa, Dokter. Saya baik-baik saja." Runi menggelengkan kepala.
"Dia jelas kedinginan dan sakit hati. Aku akan membawa dia pulang terlebih dulu, Gio." Judan mengambil keputusan sepihak.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Runi seraya mendelik. Judan mengangkat alisnya. Merasa kalimatnya benar. Gio tersenyum tipis.
"Ya, sebaiknya kamu pulang terlebih dahulu. Aku tidak mengusir kamu, tapi lebih baik begitu," ujar dokter Gio memberi nasehat. Dia mengatakan dengan penuh perhatian seorang kakak pada adiknya. Mungkin seperti Gio pada Judan. Ya, minuman yang di siramkan istri dokter Ronal lumayan membuat baju itu sangat basah. Bahkan melekat pada tubuh dengan ketat. Meskipun hanya bagian atas, tapi dengan itu tubuh akan sedikit menggigil karena dingin.
"Ayo, Runi. Kita pulang sekarang," ajak Judan. Terpaksa Runi mengikuti pria ini karena menghormati dokter Gio. Lena pun setuju kalau Runi pulang lebih dulu. Karena bisa saja istri dokter Ronal menggila lagi.
"Ya. Aku permisi dokter Gio." Runi berpamitan.
"Ya. Hati-hati. Aku tinggal ke depan." Dokter Gio menepuk bahu Judan.
"Oke. Istrimu pasti cemas. Terima kasih."
Dokter Gio mengangguk seraya tersenyum.
"Lena, aku pulang dulu ya ..." Runi berpamitan pada temannya.
"Iya hati-hati. Jaga teman saya ya, Tuan ..."
"Judan. Panggil saja namaku, Judan. Jika kamu teman baik Runi, berarti kamu juga teman baik ku," ujar Judan menyebut namanya dengan ramah. Melihat kedekatan mereka berdua, dia menebak kalau perempuan ini adalah kawan baik Runi.
Lena tersenyum. Dia melirik Runi kemudian. Runi tahu apa yang ada di dalam pikiran perempuan ini. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Judan. Pria ini pun mengikutinya di belakang.
*****
Kaki mereka tiba di area parkir gedung. Klik! Suara mobil sudah tidak di kunci terdengar. Runi menarik pegangan pintu mobil dan masuk. Tak lama kemudian Judan juga melakukan hal yang sama. Ia duduk di samping Runi sebelumnya menatap perempuan itu sejenak.
"Seharusnya aku langsung menghajar pria itu di sana," ujar Judan.
"Siapa?" tanya Runi terkejut.
"Ronal. Dokter itu."
"Kenapa harus menghajarnya?"
"Kamu enggak setuju kalau pria itu terluka?" Judan justru menanyakan hal lain. Pertanyaan Runi mengatakan kalau dia tidak setuju dengan rencananya tadi.
"Huh, kalau bisa kamu menyeretnya keluar bersama dengan istrinya ..." Di luar dugaan, Runi justru menyarankan hal yang sama. Bahkan lebih kejam.
"Hahahaha ... benar bukan, seharusnya aku mengajarnya. Dia membuatku marah." Judan mengatakan apa yang ada di benaknya ketika keributan tadi terjadi.
Runi tersenyum tipis. "Aku yang di hina bukan kamu. Kenapa terlalu bersemangat untuk membalasnya?"
"Justru itu. Karena kamu di hina, aku marah Run. Karena aku tahu bagaimana kamu. Menggoda? Huh, yang benar saja ... Kamu enggak seperti yang perempuan tadi katakan." Judan tahu benar kalau Runi punya dinding kokoh tentang itu. Mesin mulai menyala. Mobil bergerak menjauh dari parkir gedung tempat pernikahan.
"Terima kasih sudah membela ku tadi," ujar Runi tulus. Judan tersenyum tipis. " ... tapi, kenapa kamu mengatakan kalau aku kekasihmu?"
Judan teringat lagi soal kata-katanya saat itu. Sesaat ia lupa apa yang dikatakannya ketika berada di pesta tadi. Pertanyaan Runi mengingatkannya lagi. Bahkan dia pikir perempuan ini tidak mengindahkan setiap kata yang ia luncurkan dari bibirnya tadi. Namun ia salah, perempuan ini mendengarnya.
"Sebenarnya aku paham. Kamu mengatakan itu untuk membalas kata-kata istri dokter Ronal. Namun kenapa harus kekasih? Itu akan mempengaruhi kehidupanmu, Judan." Ada nada menasehati di sana. "Kamu seorang pria terpandang. Apa jadinya kalau ada kolega yang mendengar keributan di pesta itu."
"Kenapa dengan itu?" tanya Judan menoleh sebentar.
"Melihat reaksi mu yang biasa saja ketika orang lain menyebut status janda-ku, aku yakin kamu sudah mendengarnya lebih dulu. Apa dokter Gio mengatakan itu padamu?" tanya Runi. Judan menoleh sebentar.
"Ya, tapi dokter Gio mengatakannya bukan ingin menjelekkan mu." Judan tidak ingin Runi salah paham. Lalu ia kembali fokus menyetir sambil mendengarkan Runi bicara.
"Aku mengerti. Yang tidak aku mengerti adalah, kenapa kamu justru mengatakan aku adalah kekasihmu padahal kamu tahu aku adalah seorang janda. Itu bisa membuat reputasi mu tidak baik di kalangan orang-orang itu."
Judan menoleh lagi pada Runi sejenak. Kemudian ia mendadak menepikan mobil dan berhenti. Runi mengerjap.
"Ada apa?" tanya Runi seraya melihat ke sekitar. Ia yakin ada sesuatu karena Judan menghentikan mobilnya tiba-tiba. Namun ternyata tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Runi sedikit bingung. Ia menoleh pada Judan ingin bertanya lagi, tapi melihat pria itu hanya menghela napas dengan diam ... Runi sadar bahwa kemungkinan memang tidak terjadi apa-apa di sekitar mereka. Namun Judan ingin membicarakan sesuatu.
"Kamu terlalu menganggap remeh diriku, Runi," ucap Judan membuat Runi mengerjap. Kemudian pria itu menoleh ke arahnya. "Tidak ada yang bisa mengucilkan aku ataupun memberiku sanksi sosial meski aku mendekati seorang janda." Wajah Judan terlihat serius meski bibirnya tersenyum tipis. Runi mendengarkan dengan baik walaupun dia agak terkejut. "Entah apa yang sudah terjadi selama ini denganmu, tapi buatku ... status janda bukanlah suatu kejahatan. Kamu tidak perlu merasa sudah membuatku terlihat buruk hanya karena pengakuan ku di pesta itu. Perlu kamu perhatikan ... pengakuan itu bukanlah sekedar caraku untuk menolong mu dari perempuan kurang ajar itu, tapi itu adalah keinginanku sebenernya padamu. Aku ingin menjadikan kamu kekasihku."
...----------------...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA