Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Gibran
"Kok Ibu saya perhatikan dari tadi terus menunduk, katakan saja Bu, sebenarnya ada apa?, mungkin aku bisa membantu kamu," tanya Gibran membuatku hanya bisa tersenyum simpul padanya, aku tidak mungkin memberi tahukan kalau ada penampakan di ruangan ini.
"Gak papa kok, terima kasih atas perhatiannya," jawabku kikuk
"Yaudah, sekarang saya tinggal ya bu, silahkan kalau ibu masih mau melihat-lihat atau mau beres-beres ruangan ini,"
"Aku juga mau pulang saja pak, mungkin beres-beresnya besok saja, biar dibantuin anak-anak,"
" Iya silahkan saja bu,"
Aku segera mengikuti pak Gibran keluar dari Lab IPA.
Aku segera menuju ke parkiran, setibanya disana kulihat ban motorku dua-duanya kempes membuatku langsung lemas.
Masa iya aku harus menuntun motorku sambil mencari tambal ban.
"Pulang bareng saya saja bu, tinggal saja motornya disini. Nanti biar aku suruh Tono untuk menambal ban motor ibu," ucap Pak Gibran yang sudah ada dibelakangku
"Rumah saya jauh lo Pak, biar saya naik angkot saja, maaf merepotkan," tolakku halus
"Kita searah lo bu, rumah aku juga di Dukuh Turi, jadi gak papa bareng aja, gak ngerepotin kok," jawab Gibran
Dengan berat hati akhirnya aku berboncengan dengan Pak Gibran, karena aku tidak enak terus menolaknya.
"Ngomong-ngomong Rosma belum pernah ngajar sebelumnya,"
"Belum Pak,"
"Kalau di luar panggil Gibran saja, kalau tidak panggil Mas Gibran juga boleh,"
"Iya Mas," jawabku
"Kita mampir beli bakso dulu ya Ros," ajak Gibran
"Iya," jawabku terpaksa
Ia menghentikan motornya disebuah kedai bakso yang lumayan ramai.
Aku hanya duduk manis menunggu Gibran yang sedang memesan bakso untuk kami.
Para pengamen silih berganti memasuki kedai yang sangat ramai ini, membuat suasana tidak nyaman saat menikmati bakso disana.
"Enak gak baksonya?" tanya Gibran
"Enak,"
"Kedai bakso ini adalah yang terenak di Tegal, makanya jangan kaget kalau selalu ramai dan banyak pengamen yang datang silih berganti, walaupun suka menganggu saat makan bakso, tapi para pengunjung gak pada kapok tuh datang lagi kesini," tambahnya
Aku hanya mengangguk.
Selesai makan aku langsung mengambil uang di dompetku untuk membayar bakso dan es teh yang sudah aku habiskan.
"Gak usah Ros, biar aku yang bayar," Gibran langsung mendorong aku dari meja kasir dan membayar semuanya.
Selesai makan, Gibran mengantarku menuju ke rumahku.
"Terima kasih Pak, eh Mas Gibran sudah mengantarku sampai ke rumah,"
"Sama-sama Ros, yaudah aku pamit ya. Assalamualaikum," Lelaki itu segera meninggalkan rumahku setelah berpamitan dengan Ibuku.
Aku segera masuk menuju ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur untuk melepaskan penat seusai mengajar.
**Dreet...dreet...dreet!
Aku segera mengangkat ponselku yang sedari tadi bergetar.
"Halo Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam Ros, kamu udah sampai rumah?" tanya Aida khawatir
"Iya, baru sampai. Ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku cuma khawatir saja, soalnya tadi teman-teman bilang kalau ban motor kamu bocor, terus kamu pulang sama Pak Gibran, apa benar?" selidik Aida
"Iya benar, kenapa?"
"Hati-hati Ros sama Pak Gibran, jangan sampai kau jadi tumbal yang kesekian kalinya," jawab Aida membuat aku penasaran
"Tumbal, tumbal apa?" tanyaku penasaran
"Pokoknya kamu harus hati-hati, aku gak bisa cerita di telpon, besok akan aku ceritakan langsung saat kita ketemu," ujar Aida menutup telponnya
*******
Pagi harinya aku berniat berangkat lebih awal dari biasanya, supaya tidak terlambat lagi, apalagi karena aku harus naik angkot yang sudah pasti memerlukan waktu yang lama untuk bisa sampai kesekolah dibandingkan dengan naik motor.
Sebuah sepeda motor berhenti tepat didepanku, saat aku sedang menunggu angkot.
"Selamat pagi Ros," sapa Gibran membuka helmnya
"Pagi Mas,"
"Kita bareng yuk, aku sengaja lewat sini supaya bisa berangkat bareng kamu loh," ucap Gibran
"Gak usah, pak , makasih. Aku naik angkot saja," ucapku ramah
"Nanggung Ros, aku sudah jauh-jauh ke sini ,masa kamu menolakku, ayolah naik, lagian sudah jam tujuh kurang dua puluh menit loh, kalau kamu naik angkot nanti bisa telat lho," ujar Gibra tu.
Sekali lagi aku tidak bisa menolak ajakan Gibran dan langsung setuju dengan ajakannya.
rindu kok sama genderuwo