Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gerutu Jae Hwa mondar - mandir didalam ruangan nya.
"Ini semua gara - gara kau, andai saja aku tidak melihat mu ditaman mungkin aku gak akan binggung seperti ini." Kesal Jae Hwa Memandang wajah Daniah yang begitu cantik meski pingsan.
Jae Hwa terpaksa membawa Daniah keruangan nya, karena jika dirinya membawa nya kerumah sakit yang ada dirinya akan direpotkan. Pikir nya.
Jae Hwa menjongkokkan badannya dan menatap wajah cantik Daniah seksama.
"Cantik." Batin Jae Hwa.
Ia mengelus lembut rambut Daniah dan tiba - tiba pandangan matanya tertuju kearah bibir Daniah Semerah cerry dan tangan nya tidak sengaja menyentuh bibir itu dengan lembut.
"Tidak - tidak, Jae Hwa kamu jangan berpikiran yang aneh - aneh " Jae Hwa mengelengkan kepalanya menghilangkan pikiran yang menguasainya.
"tapi...., ah cuma rasa dikit aja kok. dia ngak akan tahu." Jae Hwa mendekati bibir nya dengan bibir Daniah sehingga bibir itu menempel sesaat.
Brakkkk!
"Ja.....?"
Seketika Jae Hwa langsung menjauhkan wajahnya dari Daniah dan menghadap kearah sosok yang datang itu.
"Fe... Febby." Jae Hwa hanya mampu menelan salivanya tidak bisa berkata apapun.
"katanya kamu ingin menjauh dari nya, katanya kamu hanya mencintai ku. ternyata kamu bohong!" Ujar Febby dengan berurai air mata dan berlari keluar dari ruangan kekasih nya.
"Febby tunggu!"
"Ah arghhhh! Kenapa harus jadi gini sih?!!!" teriak Jae Hwa menjambak rambut nya prustasi.
••
Nana yang sedari tadi berkeliling perusahaan mencapai keberadaan Daniah belum juga kunjung ditemukan.
Kini Nana berdiri didepan pintu lift, sembari berkacak pinggang. "Aishhh, Daniah kemana sih tuh anak?" Gerutu Nana.
Ting.
Pintu lift terbuka, menampakkan sosok pria dengan wajah datar nya dan kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong celana nya. Ia melewati Nana begitu saja.
"Hey bentar - bentar." Nana Merentangkan kedua tangannya dihadapan pria itu dan menghentikan langkahnya.
"Aku sedang sibuk, tidak ada urusan dengan kau hari ini." Ucap Ken menatap jam tangan nya berlalu berjalan.
"Eh tunggu dulu!" lagi - lagi nana mencengat tangan Ken kembali menghentikan langkahnya. "Aku cuma mau tanya apa kau melihat Daniah??" tanya Nana.
"diruangan Jae Hwa." Jawab nya singkat. lalu menepis tangan Nana yang masih menyentuh nya dan pergi begitu saja.
"Dasar cowok datar. oppa bagaimana sih? masa punya bawahan kayak gitu." Gerutu Nana masuk kedalam lift.
"Oppa!!!!!!" teriak Nana masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Jaeraaaa!!!! Bisa tidak jangan kagetin oppamu ini?!" Bentak Jae Hwa yang sedang membantu Daniah minum air yang baru siuman dari pingsan nya.
"oppa!! nama ku Nana!! bukan Jaera!!!!" Kesal Nana terduduk disofa.
Nana baru mengingat sesuatu, ia menatap kearah Daniah. "Astaga Daniah kamu sakit??" Pekik Nana memandang wajah Daniah terlihat pucat.
"tidak, aku cuma.....,"
"Nah untung kamu datang, sekarang ajak tuh teman kamu menikmati udara segar dipantai. biar sesaknya ngak kambuh. oppa berikan liburan satu hari." Jae Hwa memotong pembicaraan Daniah.
"Oppa, yang benar?! Masa ke pantai siang bolong begini?! yang ada disengat matahari kalau siang begini. panas." Ucap Nana mengipaskan tangan kewajahnya.
"Bukankah kafe banyak kan dipantai, disana nyantai."
Jae Hwa menyodorkan beberapa kartu card, pada Daniah. "apa ini?" tanya Daniah.
"Ya apa lagi kalau bukan kartu untuk menarik uang, kalian pakai itu. belanja sepuasnya." ucap Jae Hwa kembali duduk pada tempatnya.
"tidak. aku tidak perlu ini. Aku bisa belanja dengan uangku sendiri, lagi pula uangku tidak akan habis untuk berfoya - foya." Daniah menaruh kartu debit diatas meja.
"ayo na, kita pergi." Daniah menarik lengan Nana keluar dari ruangan itu.
"Dasar wanita sombong! Bagaimana bisa jika dia memiliki banyak uang? Untuk apa bekerja, buang - buang waktu saja." kesal Jae Hwa menatap kearah pintu yang sudah ditutup.