7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sesampainya di ibu kota Sendy langsung bergegas ingin menemui pemilik restoran yang mau bekerja sama dengannya namun sayang ia hanya bisa bertemu dengan perwakilannya saja
Seorang pria yang menjadi kepercayaan pemilik restoran tersebut cukup puas dengan sayur-sayuran segar yang dipasok dari perkebunan milik pak Didin
Pria yang bernama Pak Dava seorang manager yang bertanggung jawab penuh dengan pemasokan bahan masakan yang disuplai dari perkebunan pak Didin akhirnya menandatangani kontrak kerja sama mereka dan Sendy pun merasa puas dan akan berusaha untuk lebih giat lagi
Selama berada di ibu kota Sendy memilih tinggal di sebuah kontrakan yang tidak jauh dari restoran tersebut, pak Dava sengaja meminta Sendy untuk tinggal sementara di ibu kota untuk mengawasi setiap pengiriman sayuran yang masuk ke restorannya
Sendy yang tidak ingin mengecewakan pelanggannya pun tidak bisa menolak karena itu sudah menjadi salah satu tanggungjawabnya untuk memastikan barang yang masuk sesuai dengan permintaan
" Capek juga!" ucap Sendy seraya merebahkan tubuhnya di sebuah bale yang ada di depan kontrakannya
" Capek ya nak Aden?"
" Eh, mang Usep mari sini duduk mang!" Sendy pun membenarkan duduknya dan menyuruh mang Usep duduk
" Iya mang rasanya hari ini tuh cukup melelahkan" sahut Sendy sambil tersenyum
" Tapi Alhamdulillah ya nak Aden semuanya berjalan lancar" seru mang Usep merasa puas dengan hasil kerja keras mereka
" Iya mang Alhamdulillah, ya ini semua tidak luput berkat doa keluarga di rumah mang" Tutur Sendy
" Iya betul nak Aden, berkat doa isteri semoga jalan suami untuk mencari rezeki diberi keberkahan dan keridhoan sang illahi"
Sendy menganggukkan kepalanya sangat setuju dengan apa yang baru saja diucapkan oleh mang Usep
" Semoga saja yang berada di rumah dalam keadaan sehat ya mang" Doa dan harapan Sendy
" Amin!" ucap mang usep mengaminkan
" Kalau boleh tahu kita sampai berapa lama ya nak Aden tinggal di sini?" tanya mang Usep karena sudah hampir seminggu mereka tinggal di ibu kota
" Saya juga kurang tahu mang, semoga aja tidak ada kendala dan semua berjalan lancar" sahut Sendy
" Amin, semoga kita semakin dipermudah ya nak Aden!"
" Iya mang!"
Karena merasa sangat lelah akhirnya Sendy memilih untuk beristirahat, begitu juga dengan mang Usep yang juga tidur di kamar sebelah yang ada di kontrakan tersebut
Saat pagi menyapa Sendy sudah bergegas bangun untuk mandi dan melaksanakan sholat subuh bahkan pria tersebut pun tidak lupa membangunkan mang usep untuk sholat berjamaah dengannya
Usai sholat subuh dua rakaat Sendy dan mang Usep pun langsung berangkat ke restoran untuk mengecek pasokan sayuran segar di restoran tersebut dan tidak lupa juga untuk memeriksa sayuran segar yang baru saja di datangkan dari perkebunan miliknya
Sendy merasa lega karena pak Dava merasa sangat puas dengan pekerjaan dan juga pasokan sayuran yang nampak segar semuanya, bahkan sejak restoran tersebut memasok sayuran dari Sendy restoran tersebut semakin ramai pengunjung
Brak
" Maaf!" ucap Sendy merasa bersalah karena berjalan kurang hati-hati sampai tidak sengaja menabrak seorang wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan mata yang melotot saking terkejutnya
" Se... Sendy!" gumamnya pelan
" Permisi, maaf apa anda tidak apa-apa nona?" tanya Sendy seraya melambaikan tangannya tepat di wajah wanita yang tadi tanpa sengaja bertabrakan dengannya
" Eh? Iya aku tidak apa-apa" jawabnya dengan senyum yang dipaksakan