“Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Cesilia Wicaksana binti .....”
Amanda, siswi kelas 3 SMA yang hobi balap liar sekaligus tawuran, mendadak dinikahkan dengan anak dari sahabat alm. mamahnya lantaran papah Amanda sudah terlalu malas berurusan dengan Amanda. Papah Amanda ingin fokus bahagia bersama istri baru sekaligus anaknya, dan ternyata juga menjadi alasan mamah Amanda sakit-sakitan hingga berakhir meninggal.
Ternyata suami Amanda merupakan seorang duda dan memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun, meski dari tampangnya, sang suami terbilang masih muda. Yang membuat Amanda tak percaya, pria dingin bernama Samudra itu justru guru baru di sekolahnya. Bahkan, pak Samudra yang juga menjabat sebagai wali kelas Amanda, wajib membuat Amanda menjadi murid berprestasi, agar Amanda tidak dikeluarkan dari sekolah.
Selain harus merahasiakan hubungan mereka, mampukah pak Samudra mengubah Amanda menjadi siswa berprestasi di tengah benih-benih cinta yang akhirnya tumbuh di antara mereka? Lalu, bagaimana keseruan kisah mereka? Ikuti kisahnya di novel ini. Jangan lupa juga buat follow Ig aku di : Rositi92 karena di sana, aku share perkembangan cerita-ceritaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 : Kabar Penangkapan Pak Edo
“Orang seperti Pipin Akbar, memang sangat kamu butuhkan, kan?” ucap pak Samudra setelah kepergian sang sahabat yang juga merangkap menjadi pengacara mereka.
Amanda yang baru dibantu duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga langsung mesem, walau dalam hati Amanda justru berkata, “Kalau ditanya orang seperti apa yang sangat saya butuhkan, tentu jawabannya Bapak. Terima kasih untuk semua perhatian sekaligus waktu indah ini, Pak!”
Tak mau menghabiskan waktunya dengan kesakitan, Amanda mencoba bangkit. Ia mengerahkan kedua tangan maupun kedua kakinya. Pak Samudra yang melihatnya langsung menegur.
“Enggak usah dipaksa, pelan-pelan saja.”
“Aku takut ketinggalan pelajaran, Pak. Kalau gini terus, kapan aku majunya?” balas Amanda.
Pak Samudra mengangguk-angguk, seolah paham pada apa yang tengah Amanda rasakan. “Saya mandi dulu, habis itu kita lanjut belajar.”
Sejak hari ini, hidup Amanda berjalan dengan semestinya. Amanda merasa telah menjadi manusia normal yang tak hanya merasakan kesedihan. Amanda benar-benar memiliki alasan untuk bertahan. Bukan hanya Pia yang ingin gadis itu bahagiakan agar tidak mengalami ketidakadilan layaknya yang pernah Amanda alami. Sebab kini menunggu kepulangan sang suami juga menjadi hal yang membahagiakan bagi gadis itu. Apalagi berdiam diri di rumah dan melakukan segala sesuatunya penuh keterbatasan, membuat Amanda merasa sangat bosan.
“Nilai bahasa Indonesia kamu jauh dari manusiawi, kok bisa?” todong pak Samudra di awal pertemuan mereka.
Amanda yang tengah duduk di ruang keluarga langsung menunduk lesu dan tak lagi menatap pak Samudra yang memang baru pulang.
“Nanti kita belajar lagi. Saya mau mandi dulu sekalian makan. Kamu sudah makan?” tanya pak Samudra yang menyempatkan diri untuk menghampiri kemudian duduk di sebelah Amanda. Ia melepas kaus kakinya di sebelah gadis itu.
“Besok aku boleh berangkat belum, sih? Aku enggak bisa fokus kalau sekolahnya secara online apalagi semacam bahasa Indonesia yang banyak teori. Yang ada aku ngantuk dan malah ketiduran,” ucap Amanda.
Tanpa menjawab, pak Samudra yang terus memandang Amanda sarat peduli, berangsur meraih kedua tangan Amanda yang memang masih lemas. Kemudian, ia juga mengecek kaki Amanda yang tidak jauh berbeda dari keadaan kedua tangannya.
Saat pemeriksaan kemarin, dokter mengatakan keadaan Amanda mengalami kemajuan pesat. Walau sampai ini masih lemas dan belum sepenuhnya normal, itu jauh lebih baik daripada kedua tangan maupun kedua kaki Amanda malah lumpuh.
“Amanda keluar kamu! Dasar anak durhaka, bisa-bisanya kamu mempolisikan papamu sendiri! ”
Suara meledak-ledak seorang perempuan barusan, Amanda dan pak Samudra kenali sebagai suara ibu Lista. Jika mendengar konteks dari ucapan ibu Lista, Amanda apalagi pak Samudra yakin, pak Edo sudah ditangkap polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Pak Samudra melihat emosi yang membuncah dari raut wajah Amanda. Termasuk ketika ia memastikan kedua tangan Amanda yang sudah langsung mengepal kencang di sisi tubuh. Tak kalah mencolok, tentu kenyataan Amanda yang menjadi kerap menghela napa.
“Kamu mau menemui ibu Lista?” tanya pak Samudra.
“Y-ya!” Amanda mengangguk-angguk, menatap yakin sang suami.
“Ayo!” sergah pak Samudra yang langsung merangkul punggung sang istri. Ia membantu Amanda bangun, tapi ternyata gadis itu sudah mulai bisa melakukannya sendiri. Walau ketika ia memastikan kedua kaki Amanda sudah langsung gemetaran hebat. Dokter memang sudah mengizinkan Amanda pelan-pelan jalan, tapi pak Samudra belum yakin jika harus mengizinkan Amanda ke sekolah.
“Aku sudah lumayan bisa, Pak. Ke dapur pun sudah bisa. Tapi aku belum berani naik tangga,” lirih Amanda.
“Enggak apa-apa. Begitu saja sudah bagus,” ucap pak Samudra yang langsung tersentak karena teriakan ibu Lista di depan sana. Dari suara yang mereka dengar karena jarak gerbang dengan ruang keluarga kebersamaan mereka tidak begitu jauh, satpam rumah sudah berusaha menenangkan, tapi ibu Lista tak menghiraukan.
“Sepertinya itu wujud aslinya dan selama ini sengaja disembunyikan,” kesal pak Samudra yang kemudian menuntun kedua tangan Amanda, membuat ruas jemari tangan mereka mengisi satu sama lain.
Pak Samudra begitu memperhatikan Amanda. “Semua orang pasti memiliki masa lalu, dan semua orang juga berhak memiliki masa depan lebih baik. Namun bukan berarti kita mengulur-ngulur waktu dalam berubah menjadi lebih baik, hanya karena semua orang berhak memiliki masa depan lebih baik.”
“Dia tahu selama ini dia salah, tapi dia sama sekali nggak ada niat buat jadi lebih baik lagi!” lanjut pak Samudra telanjur emosi.
Jujur, Amanda juga emosi. Namun karena terlalu emosi, Amanda memilih diam. Ketika akhirnya mereka sampai teras rumah, di sana sungguh sudah ada ibu Lista. Wanita itu tidak diizinkan masuk karena pak Samudra sekeluarga memang sudah menjadikan ibu Lista sekeluarga termasuk itu pak Edo papah Amanda, sebagai sosok terlarang masuk ke rumah.
Mata ibu Lista tak hanya basah dan merah. Karena mata yang dipenuhi maskara luntur itu juga sembam. Penampilan ibu Lista juga berantakan, khususnya rambut bergelombang terawatnya yang kini dicepol asal, tak digerai memesona layaknya biasa. Dan wanita itu langsung menatap Amanda maupun pak Samudra dengan tatapan marah.
“Tega kamu!” teriak ibu Lista sambil menatap emosi Amanda. “Bisa-bisanya kamu memenjarakan papah kamu sendiri!”
“Ada apa, sih? Kok ada yang teriak-teriak?” keluh ibu Sintia yang kebetulan ikut keluar untuk memastikan. “Oalah.” Melihat siapa yang datang, ia sengaja maju dan berdiri di depan Amanda maupun pak Samudra. Ia bersedekah dan siap maju melindungi Amanda maupun pak Samudra yang ia ketahui telah melaporkan pak Edo ke polisi.
“Ada apa lagi? Tambang emasnya diciduk? Itu terbukti kalau yang selama ini kalian lakukan memang salah!” ucap ibu Sintia.
Ibu Lista menggeleng tak habis pikir. “Bukan begini caranya menyelesaikan masalah!”
“Oh iya? Kalau bukan begitu, terus bagaimana? Coba kasih tahu apalagi kalau bukan dengan cara begini, kalian pun enggak akan mikir, kan?” balas ibu Sintia.
“Kita bisa selesaikan baik-baik!” kesal ibu Lista.
“Te-lat! Dari dulu, ke mana saja? Kenapa baru sekarang?” balas ibu Sintia masih menyikapi dengan sinis. “Lagian habis ini, wanita kayak kamu paling ya langsung nikah lagi, cari tambang emas baru. Sekarang saja masih usaha karena Edo terlalu menguntungkan buat kamu perboddoh!”
Layaknya anggapan mamah mertuanya, Amanda juga yakin, ibu Lista akan langsung menikah lagi apalagi jika wanita itu tak sampai mendapatkan warisan dari pak Edo.
“Tapi kan Anya anak kandung papah, dan Ibu Lista juga istri papah. Kemungkinan Ibu Lista ambil alih semuanya beneran besar banget, Pak.” Amanda berbisik-bisik kepada sang suami.
“Kalaupun memang begitu, yang dia dapat enggak berkah dan biasanya hanya bikin bahagia sesaat kok. Enggak usah khawatir, rezeki, usia, luka, semuanya sungguh sudah ada yang atur,” balas pak Samudra.
Amanda menghela napas pelan, pasrah. Namun, ia sungguh masih dendam kepada ibu Lista. Berharap, wanita itu juga mendapat balasan setimpal. Apalagi sejauh ini, ibu Lista dengan sadar melakukan kesalahan. Tak hanya kepada almarhumah mamahnya, tapi juga kepadanya bahkan hingga sekarang.
“Manda, kalau kamu beneran masih menganggap papah kamu, secepatnya cabut laporan kamu!” tegas ibu Lista.
“Loh, bukannya kemarin pak Edo sama situ sudah buang Amanda, ya?” sinis ibu Sintia dan langsung membuat seorang ibu Lista gelisah.
“Nanti kami memang akan langsung ke kantor polisi, tapi bukan berarti kami mencabut laporan seperti yang Ibu Lista mau. Karena alasan kami ke sana agar kasusnya langsung dilanjutkan!” tegas pak Samudra. “Kami sengaja melakukan ini agar orang-orang seperti kalian jera! Agar populasi orang-orang seperti kalian benar-benar punah!”
Sambil mengangguk-angguk, ibu Lista tersenyum licik dan membuat tampangnya terlihat begitu kejji. “Baiklah!” Karena apa pun hasilnya, ia sungguh tidak rugi. Karena andai pak Edo dipenjara, seperti apa yang ibu Sintia katakan, ia memang akan langsung menikah lagi, mencari mangsa baru yang bisa membuatnya terus hidup enak bahkan bila perlu lebih dari pak Edo.
Di tengah panas siang menuju sore yang terbilang terik, ibu Lista memilih pergi. Ia bermaksud untuk menyiapkan segala pengalihan kekayaan milik pak Edo. Karena biar bagaimanapun, apa yang ibu Sintia katakan membuatnya terinspirasi untuk melakukannya.
“Semoga kasus ini bikin Papah sadar, Pah. Semoga papah cepat dapat hidayah! Dan semoga, Ibu Lista juga dapat balasan setimpal!” batin Amanda yang melepas kepergian sang mamah tiri dengan lirikan penuh emosi. Wanita itu bahkan masih menggunakan mobil sekaligus sopir pribadi papahnya.
“Kesel banget rasanya ke tuh betina! Moga, dia ketemu lak-laki setipe dia biar dia ngerasain gimana dikadalin parasit rasa lintah darat kayak dia!” batin Amanda lagi yang memang telanjur dendam.