Apa jadinya jika menikahi seorang pria yang seperti kulkas berjalan? Pria itu sangat irit sekali berbicara.
Kisah ini dialami oleh Adinda Susanto. seorang gadis barbar dipaksa menikah dengan pria kulkas berjalan. namun Dinda nama panggilannya, tidak akan mau tunduk dengan segala perintah pria kulkas itu.
Justru Dinda akan membalikkan semua keadaan. gara-gara ulah Dinda, Budiman nama kulkas berjalan itu diam-diam jatuh cinta kepadanya.
Apakah mereka saling mencintai satu sama lain? Apakah rumah tangga mereka bertahan hingga akhir hayat? Apakah Budiman akan bercerai demi seorang kekasihnya yang sangat dicintainya itu?
Saksikan kisah Dinda gadis barbar bersama Budi si pria kulkas berjalan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sischa Daniasri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Setelah mengadakan pertemuan dadakan bersama Kartolo dan Malik, Adinda akhirnya meeting bersama divisi keuangan. Selama meeting Adinda sering sekali meninggalkan ponselnya di meja. Ia tidak ingin mengganggu acara sering bersama karyawannya itu.
Meeting berjalan lancar. Adinda akan memberikan sejumlah bonus untuk seluruh karyawannya. Memang Adinda sengaja memberikan bonus itu. Dikarenakan karyawannya bisa menjadi semangat bekerja.
Saat makan siang, Adinda memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangannya. Ia membawa makan siangnya dan makan bersama karyawannya. Adinda berjalan dengan santai sambil membaca email dari Fariz.
Adinda berhenti dikarenakan ada Andara. Ya... Andara sudah menjadi karyawan resmi dari SM Company. Adinda menatap wajah Andara sambil bertanya, “Ada apa memangnya? Kamu nggak istirahat terlebih dahulu?”
“Aku mau curhat sama kamu,” jawab Andara dengan wajah sendunya.
“Ayo kita pergi ke kantin terlebih dahulu. Supaya kamu bisa menikmati makan siang. Setelah makan siang kamu boleh curhat apapun,” ajak Adinda yang membuat Andara menganggukkan kepalanya.
Adinda akhirnya mengajak Andara pergi ke kantin. Entah kenapa wajah Andara sedih sekali. Dirinya tidak menyangka kalau sang adik iparnya memiliki masalah besar. Sesampainya di kantin mereka duduk dan menatap banyak yang antri makanan. Adinda dan Andara menunggu sepi untuk mengambil jatah makanannya.
“Tadi pagi kamu sangat ceria sekali,” ucap Adinda. “Kamu kenapa memangnya?”
“Gara-gara aku nggak masuk kerja. Abang Budiman memberikan aku pesan yang menohok ke dalam hatiku. Abang telah mengancamku dan mencabut seluruh fasilitas kantor. Padahal fasilitas kantor itu pun Papa yang memberikannya kepadaku. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi untuk saat ini,” Andara mulai mencurahkan isi hatinya.
“Kamu bagaimana? Kalau kamu ingin keluar dari sana ya sudah. Itu kan hakmu sendiri. Kewajibanmu sudah kamu tunaikan dengan baik. Tapi di mata abangmu kamu selalu salah. Padahal yang aku lihat selama kamu bekerja di sana. Kamu memiliki prestasi lebih. Kamu bisa membangun perusahaan keluargamu mulai merangkak menjadi besar. Kamu memiliki otak cerdas di atas rata-rata malahan. Kamu memiliki attitude yang bagus di mata karyawan maupun klien. Kamu juga memiliki jiwa pemimpin yang sangat baik sekali. Banyak orang yang sangat menyukaimu untuk dijadikan sebagai big boss,” jelas Adinda yang mengetahui sepak terjang Andara.
“Sekarang masalahnya Abang Budiman sudah tidak bisa diajak kompromi. Mas Tio sudah angkat tangan untuk menjadi asistennya. Meskipun Mas Tio sendiri adalah teman masa kecilnya. Abang Budiman sekarang banyak berubah. Abang juga sering menyakiti hati Mama. Makanya kami selaku dewan direksi angkat tangan. Jika Abang kelakuannya seperti itu dan nggak bisa dirubah sama sekali,” ungkap Andara yang kesal terhadap Budiman.
“Sekarang kamu maunya gimana? Apakah kamu masih bertahan?” tanya Adinda.
“Bertahan sama saja bunuh diri. Mbak Nafa selaku manajer HRD tadi menghubungiku. Katanya Mbak Nafa sudah lima orang mengundurkan dirinya. Mereka nggak sanggup menghadapi Abang,” ucap Andara yang mengetahui perusahaan tersebut.
“Kalau diteruskan kayak gini ya bubar itu perusahaan. Apa ini gara-gara Kanaya? Apakah Kanaya sudah mengancam abangmu itu?” tanya Adinda yang mulai kesal pada Budiman.
“Memang benar. Aku sendiri juga nggak bisa bertahan. Jika Kanaya tidak dipenuhi permintaannya hari itu juga. Abang menyuruh orang untuk mencarinya. Jika tidak dapat, Abang langsung marah-marah kepada semua orang. Termasuk satpam,” jawab Andara.
“Sebenarnya aku belum punya solusi. Kalau abangmu masih menjabat sebagai CEO. Ya wassalam perusahaan kamu. Jujur aku pengen membantu kalian. Tapi aku sendiri nggak bisa. Beberapa bulan lagi aku akan pergi ke Amerika. Kemungkinan besar rencana tadi pagi akan aku kerjakan. Ya sudah kamu harus bersabar untuk menunggu keputusanku,” jelas Adinda.
Mau tidak mau Andara menuruti keinginan Adinda. Dia juga tidak bisa meminta pertolongan lebih kepada sahabatnya itu. Andara semakin pusing ketika mendapatkan pesan lainnya.
Jam istirahat di kantor Njawen Group diundur oleh Budiman. Budiman siang itu tidak ingin keluar dari ruangannya. Bahkan Budiman memerintahkan sang manajer HRD yang bernama Nafa untuk tidak mengeluarkan para karyawannya. Alhasil semua orang sudah stres menghadapi Budiman. Dengan kata lain mereka harus menunggu hingga hari esok.