Aku di suruh pindah ke rumah nenek. Tapi bukannya ke rumah nenek aku malah masuk ke rumah pembawa petaka ini. Entah aku akan selamat atau tidak, setiap hari aku di hantui hal-hal yang mengerikan. Sungguh jika aku selamat dari sini, tempat ini akan menjadi pengalaman yang takkan terlupakan oleh ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elmi Sapitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Was - Was
Setelah tenda selesai kami pun duduk di depan kedua tenda. Tenda yang pertama di isi Dimas, Kelvin dan Rudi, sedangkan yang satunya lagi, aku dan Ocha yang menempati. Kami diam, tak ada yang memulai percakapan, hari sudah gelap, hanya api unggun kecil di tengah-tengah kami yang memberi pencahayaan. Karena di sini tidak ada bulan mau pun bintang.
Di dalam kesunyian tiba-tiba saja Ocha yang duduk di sebelah Dimas menangis. Sontak membuat kami semua menjadi terfokus padanya.
"Kenapa Cha?," Dimas memegang bahu Ocha dan mengusap kepalanya mencoba untuk menenangkan Ocha.
"Aku mau pulang, aku mau keluar dari sini," kata Ocha sambil terisak.
Aku mengerti dengan kegundahan dan kesedihan Ocha saat ini, di sini hanya ada kami berlima tidak ada orang lain, tapi tidak tau dengan ke tiga temannya Dimas, entah mereka masih hidup atau kemungkinan buruknya tidak.
Dimas yang mencoba menenangkan Ocha berusaha memasang muka tegar, padahal aku sangat tau, dia juga mengkhawatirkan kondisi kami saat ini, di tambah lagi dengan ke beradaan adiknya yang tak tau dimana.
"Ocha, tenanglah, kita akan mencari cara untuk keluar dari sini," kata ku yang berada di depannya yang di batasi api unggun di antara kami.
"Gimana aku bisa tenang Sa! Kita saja gak tau entah bahaya apa yang menanti kita lagi!" Nada Ocha meninggi, membuat keningku berkerut kesal.
"Semua orang juga tau itu Cha, tapi kalau kita membiarkan diri kita terus dalam ketakutan kita gak bakalan bisa bebas, kita harus tenang dan mencari jalan keluarnya," aku berusaha menahan emosiku.
Jika aku juga ikut emosi itu bisa membuat panas keadaan. Sedangkan kedua hantu yang membawa kami kemari tak ada kabarnya sama sekali, menghilang begitu saja.
"Benar kata Risa, kita harus tenang dan mencari cara agar bisa menghabisi hantu itu dan keluar dari sini," Kelvin yang berada di samping ku berusaha meyakinkan Ocha.
"Tapi gimana caranya? Kita bahkan tak tau apa pun, kemana kedua teman hantu mu itu Risa? Kenapa mereka menghilang begitu saja!" Sepertinya Ocha sudah emosi dimakan rasa takutnya.
Aku muak dengan orang seperti itu, di saat genting begini seharusnya kita tak perlu mengedepankan emosi kita. Iya aku tau, kita dalam bahaya, dan pastinya itu dapat membuat kita cemas. Tapi apa gunanya cemas di saat seperti ini? Kita harusnya lebih berani dan kompak agar bisa keluar dari sini. Namun gadis yang satu ini sepertinya lebih kekanak-kanakan dari pada Rudi. Rudi yang lebih kecil saja hanya diam dan tak mau memperkeruh keadaan yang sudah kacau. Kalau Ocha terus seperti ini, itu akan bahaya buat kami, karena orang yang panik biasanya bertindak tidak sesuai akal sehat mereka, dan itu sangat tidak bagus.
"Aku juga tidak tau mereka dimana Cha, tenanglah, aku yakin mereka akan membantu kita, mereka punya dendam yang belum terbalaskan, maka mereka tak akan membiarkan kita mati karena hanya kita yang bisa membalaska dendam mereka," Aku sudah lelah menenangkan cewek cengeng itu. Kepalaku rasanya sakit sekali.
Ocha hanya diam saja, sekarang tangisnya sudah mereda namun tetap meninggalkan jejak mata sembab di wajahnya, aku iba sekaligus jengkel dengan gadis itu.
"Sudahlah, hari sudah semakin gelap, sepertinya Sherly tidak akan datang hari ini, lebih baik kita tidur untuk istirahat, karena kita tak tau sebanyak apa tenaga yang kita perlukan untuk menyelamatkan diri," Kata Dimas yang di balas anggukan oleh kami.
Aku berjalan menghampir Ocha, gadis itu masih menatap api unggun, dia benar-benar terguncang. "Ayo Cha, kita masuk, di luar dingin," aku memegang bahunya dan dia hanya menurut dengan berusaha berdiri dan jalan duluan dari ku menuju tenda.
Setelah Ocha masuk aku pun berniat untuk masuk dan tertidur malam ini.
"Selamat malam kak," Kata Rudi sambil membersihkan pinggulnya yang sedikit kotor karena duduk di atas tanah.
Aku tersenyum ke arah adikku itu, dia pasti sangat ketakutan sekarang, ini semua karena ku, seandainya saja aku tak terjebak di sini,pastilah Rudi dan Kelvin tak akan menyusulku. Tuhan tolong jaga kami, biarkan kami melihat matahari besok.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
POV AUTHOR
Malam itu Rani tertidur dengan pulas, sampai dia tidak sadar ada sepasang mata terus memperhatikannya dari kejauhan. Mata itu berwarna merah, bercahaya seperti ada lampu di bola matanya. Samar-samar dari kegelapan kamar itu,di pojok ruangan ada yang tersenyum manis ke arah Rani.
ngaco si dimas
mo marah tp ya salah aku juga gak liat ujung dulu mlah buang waktu baca dr awal 😁🤭