Perjuangan seorang CEO dingin dan suka gonta ganti wanita, yang jatuh hati pada wanita cantik beranak satu yang penuh misteri.
penasaran dengan kisah mereka. ayo baca ceritanya.
Jangan lupa like and comment.
kritik dan saran dari pembaca sangat di hargai.
Follow me on :
Instagram @agistawulur
Facebook @Derry Agista Wulur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Derry Agista Wulur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 28
"Hah,. sudah kuduga."
Bunga tersenyum licik melihat informasi yang ditemukannya.
"Sudah lama aku tidak bermain, sepertinya ini sedikit menyenangkan."
Bunga dengan senyum liciknya mulai mengotak atik laptopnya. Selama 1 jam Bunga berkutat dengan laptopnya, setelah selesai dia menyadarkan badannya di kursi sambil meregangkan tangannya ke atas.
"Tidak buruk, ternyata tikus nakal ini punya keahlian juga, walau tidak sebagus Rara."
Bunga menyilangkan tangannya dan tersenyum bangga sambil membandingkan kemampuan putrinya.
"Aahh, aku jadi kangen putri cantikku."
Bunga menyimpan lagi laptopnya ke dalam brankas besi dan berjalan meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar Rara.
ceklek
Bunga masuk ke kamar Rara, berjalan pelan mendekati ranjang Rara dan ikut tidur di samping Rara. Bunga memandangi wajah putri semata wayangnya dengan senyum getir di bibirnya, tanpa sadar Bunga meneteskan air matanya, Bunga membelai lembut wajah Rara.
"Maafkan mommy sayang."
Gumam Bunga dalam hati dengan derai air mata. Bunga sangat merasa bersalah terhadap Rara, karena selama ini Rara tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah. Rara adalah anak yang sudah berpikiran dewasa yang tidak sesuai dengan usianya Bunga juga tahu kalau selama ini Rara berusaha menyembunyikan kesedihannya karena tidak memiliki Ayah, Rara memang anak yang cerdas dan cepat tanggap tapi bukan itu yang diharapkan Bunga, Bunga ingin Rara tumbuh seperti anak - anak seusianya, yang penuh dengan tawa dan berbagai macam kenakalan mereka, Bunga berusaha dengan keras memberikan semua kasih sayangnya hanya untuk Rara.
Bunga yang terlarut dalam pikirannya ikut tertidur di samping Rara.
-----
tok,. tok,. tok
"Masuk."
ceklek
"Permisi pak, ada nona Maya ingin bertemu."
"Baiklah."
"Tumben sekali kau ingin bertemu di kantorku."
Januar beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah sofa. Maya berjalan anggung dan duduk di sofa dan bersandar di sofa.
"Hah., "
"Ada apa?? kenapa kau menghela napas seperti itu ??"
"Apa Alex dekat dengan wanita lain?? "
Maya membenarkan duduknya dan menatap Januar tajam.
"Wow,. wow,. nona, kau bisa membunuh orang dengan tatapanmu itu."
"Aku datang bukan untuk mendengar omong kosongmu itu. "
Maya menahan emosinya dan berusaha berbicara dengan nada yang biasa.
"Baiklah,. baiklah,. hhmm,. setahuku Alex sedang tidak dekat dengan siapapun saat ini, memangnya kenapa?? "
"Benarkah, kau sedang tidak membohongiku karena kalian bertemankan?? "
"Ayolah,. untuk apa juga aku membohongimu?? "
"Baiklah, aku pergi dulu."
Maya mengambil tasnya dan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan Januar.
"Dia pergi begitu saja, dasar wanita ular."
Januar berkata dengan suara kecil sambil menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Maya yang sudah berjalan keluar.
"Kasihan sekali sahabatku karena berurusan dengan wanita ular."
Gumam Januar dalam hatinya. Dia kembali ke kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya. Januar tidak fokus dengan pekerjaannya saat ini, dia sudah menatap lembar dokumen yang sana selama 10 menit.
tut,. tut,. tut
"Halo."
"Hei kawan, apa kau bertengkar dengan Maya?? "
"Bertengkar?? "
"Tadi wanitamu datang ke kantorku, dan menanyakan apa kau dekat dengan wanita lain."
"Lalu?? "
"Aku bilang tidaklah."
"Cuma itu?? "
"Cuma itu, memangnya kau sed.,. "
Januat belum menyelesaikan perkataannya Alex sudah lebih dulu memutuskan telepon di antara mereka.
"Wah., wah,. lihatlah dia, aku belum selesai dia sudah mematikannya,. dasar laki - laki berhati dingin."
Januar yang kesal teleponnya dimatikan tidak bisa melakukan apa - apa dengan sikap sahabatnya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tau benar sifat dan watak dari Alex karena mereka berteman sejak kecil.