Raya Adha gadis manis berambut panjang dan hidup sebatang kara karena orang tua dan adiknya meninggal karena kecelakaan. Raya kemudian terusir dari rumahnya sendiri oleh adik tiri ayahnya.
Tak ingin terpuruk raya memilih pergi ke Jakarta menyusul temannya untuk melanjutkan hidup dan bekerja.Namun karena sebuah kejadian raya harus terikat sebuah pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai bahkan tidak di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Tikus Kecil
Hari ini Raya sangat senang karena ia sudah di perbolehkan untuk pulang, Raya masih menunggu Rendy di ruang rawatnya,karena Rendy yang izin untuk keluar sebentar.
Tak lama Rendy pun akhirnya datang membawa sesuatu yang sangat Raya sukai.
Raya yang menerima hadiah dari Rendy sangat senang ia langsung memeluk suaminya.
"Mas...terimakasih ini bagus sekali." Ucap Raya yang mencium tipis bibir suaminya.
"Jangan menggoda ku sayang." Ucap Rendy yang melihat tingkah istri nya.
"Apaan sih mas...ayo pulang aku rindu kasur empuk ku."
Dengan perasaan bahagia pasangan suami istri itu pulang, senyum mengembang terlihat jelas dari wajah cantik Raya.
Sesampai nya di rumah mereka di sambut oleh Artha dan beberapa pelayan.
"Istirahat lah." Ucap Artha kepada Raya.
"Iya pah."
"Oh ya..mba susi tolong buatkan makan siang yang enak-enak ya." Pinta Rendy kepada susi.
"Baiklah." Ucap Susi yang langsung beranjak pergi ke dapur.
Raya dan Rendy langsung pergi menuju kamar nya dan Raya langsung merebahkan diri ke tempat tidur milik mereka.
"Ahh...enak nya." Ucap Raya sambil berguling-guling di atas tempat tidur.
"Hati-hati sayang jangan seperti itu kasihan anak kita." Ucap Rendy yang melihat tingkah istrinya.
Baru saja Raya dan Rendy ingin beristirahat mereka di kejutkan dengan ketukan pintu kamar mereka, dengan malas Raya membuka pintu kamar nya.
"Ada apa mbak susi?" Tanya Raya setengah mengantuk.
"Anu..mbak di luar ada yang mencari mbak Raya."
"Siapa?" Tanya Raya singkat.
"Nama nya Irma dia mengaku sahabat mbak Raya "
Deg...Raya terdiam mendengar siapa tamu yang mencari nya sedangkan Rendy yang mendengar percakapan Susi langsung bangkit dan menghampiri Raya.
"Jangan temui dia biar aku saja." Ucap Rendy yang melihat Raya masih mematung.
"Tidak mas, aku akan menemui nya sendiri biar bagaimana pun aku ingin mendengar penjelasan nya." Ucap Raya yang mulai sedih.
"Baiklah..aku akan menemani mu."
Dengan tatapan marah Raya melangkahkan kaki nya menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang tamu.
Dia lihat nya Irma perempuan yang dulu adalah sahabat nya sejak kecil yang tega menjual Raya hanya karena uang.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Raya datar.
"Raya...maafkan aku." Ucap Irma langsung memeluk Raya dengan sigap Rendy mendorong tubuh Irma.
"Jangan menyentuh istri ku." Bentak Rendy.
"Maafkan aku Ray...aku salah aku khilaf."Irma mulai menangis.
"Kamu sangat jahat Irm..kamu tega kurang baik apa aku dan keluarga kepada mu." Raya masih menahan air mata nya yang akan keluar.
"Maafkan aku." Ucap Irma kembali "Aku sangat membenci mu Ray..sebab kamu lah Tian memutuskan hubungan nya dengan ku."
"Kamu bahkan tahu Irma..aku tidak pernah punya rasa untuk Tian kalian sahabat ku kita tumbuh besar bersama." Ucap Raya emosi "Kamu tidak pernah tahu bagaimana penderitaan ku Irm..bagaimana tersiksanya aku, kamu tahu aku baru kehilangan kedua orangtua dan juga adik ku tapi kamu malah menambah masalah dalam hidup ku, Kebencian mu tidak beralasan Irm pergi lah aku memaafkan mu tapi aku tidak ingin bersahabat dan melihat mu lagi." Air mata yang tertahan mengalir begitu saja dari mata Raya.
"Kamu dengar atau tidak? Pergi sekarang juga." Bentak Rendy.
"Ray...ku mohon." Rengek Irma.
Rendy kemudian memanggil penjaga rumahnya.
"Usir perempuan licik ini..ingat baik-baik wajah nya jangan sampai dia menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Perintah Rendy kepada Pak Harun.
Dengan kasar Harun menarik tangan Irma meski Irma berontak namun ia kalah kuat dengan laki-laki tua itu.
"Aku akan membalas nya." Teriak Irma yang sudah berada di ambang pintu.
Raya hanya bisa memeluk tubuh suami nya rasa takut nya kembali muncul mengingat kejadian yang pernah di alami nya.
"Sudahlah dia tidak akan berani mengganggu mu." Ucap Rendy menenangkan.
"Tidak mas..aku tahu siapa Irma apa pun akan di lakukan nya untuk memenuhi semua keinginannya.
Rendy kembali menenangkan Raya dan mengajaknya pergi ke kamar.
Di sudut ruangan Laki-laki tua yang mendengar seseorang mengancam anak menantunya segera memberi perintah untuk anak buahnya.
"Aku melupakan tikus kecil ini." Ucap Artha.