NovelToon NovelToon
My Perfect Husband

My Perfect Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Patahhati / Lari Saat Hamil / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:375.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Marianay

Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak

Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.

Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri

Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?

maraton bacanya entah bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piknik 1

Berjalan pelan tertatih menuruni tangga, entah kenapa ini pertama kali aku tak suka kamar dilantai atas. Perihh. Bang Yusuf berbalik melihatku dibelakangnya.

"Kamu kenapa pucat?" Hanya gelengan dan tersenyum sebangai jawaban 'aku tidak apa-apa'

Kami turun bersama menuju meja makan, bang Yusuf memapahku setelah melihatku pucat tadi. Sampai di meja makan aku duduk tepat diantara Bang Yusuf dan Bella.

"Kakak ipar kenapa? Ada yang sakit, atau dipukuli sama kak Yusuf?"tanya Bella

"Gak papa kok, kakak baik-baik aja. Kak Yusuf juga baik"jawabku

Aku hanya makan dalam diam setelah

melayani bang Yusuf tadi. Aku memang baik-baik saja hanya perih yang sedikit menganggu.

 

"Yuna, kamu kenapa, Nak?"tanya Mama padaku setelah kami sarapan bersama. padahal aku merasa baik

"Yuna baik kok Ma, gak papa. "jawabku sopan

"Beneran, kami mau piknik kalau minggu gini, lihat kamu agak kesakitan tadi, kita batalin aja ya Bell?"tanyanya pada Bella, mungkin Bella yang paling antusias

"Eh, gak usah. Kita bisa pergi, akhir pekan pasti seru, gak usah dibatalin"kilahku

"Beneran? Kamu bener baik?"tanya Mama lagi

"Bener Ma, kita pergi ya?, Semua juga senang kalau pergi, Yuna baik kok"

Kupasang senyum paling manis agar tak ada yang menyangka aku sakit, kasian gak jadi piknik mungkin ini waktunya kelurga berkumpul, kan kasian tak jadi pergi .

"Yeaahh. Bilang yeah Rico, kita jadi pergi"

Bella mengguncang Rico kegirangan sambil menggendongnya.

"Yaudah, kamu boleh pergi tapi hati\-hati nanti ya,"peringat Mama

"Iya, Ma"

"Yusuf anterin Yuna kekamar gih, nanti kita berangkat jam 9:30, Yuna bisa istirahat bentar "titah Mama

"Ehh.. gak usah Ma. Aku bisa bantuin siapin keperluan piknik"

"Gak usah, semua udah siap tinggal dimasukin dalam mobil aja"-Mama

"Bener nih"

"Bener!!" Jawab Mama, Bella dan Kak Nara bersamaan.

"Ayo dek"tarik bang Yusuf pada tanganku

"Kemana?"

"Istirahat"

Terus berjalan menaiki tangga menuju kamar.

"Tapi aku gak sakit"

"Terus tadi kenapa pucat?"tanyanya bingung

Menjinjit pelan mendekati telinganya serta berbisik pelan.

"Tadi aku lapar"

Bang Yusuf mengenyit heran, mungkin saja tak mengerti.

"Kalau lapar kenapa gak bilang?"

"Ya karena Abang ngejar terus,"

Mendahului bang Yusuf berjalan didepannya. Bang Yusuf tetap berjalan santai. Aku memasuki kamar cepat disusul Bang Yusuf.

"Ngapain Abang disini?"tanyaku

"Ya mau nemenin kamu lah"

"Keluar aja sana, aku bisa istirahat sendiri"usirku,

Mendudukkan diri disofa tak jauh dari ranjang meraih satu majalah.

"Aah. Gak percaya, sini!" Bang Yusuf sudah merebahkan diri, dengan sebelah tangannya menepuk bagian yang kosong, mengisyaratkan aku kesana.

"Gak "bantahku

"Kok gak?"Dia bangun, duduk dibibir ranjang.

"Ya karena aku gak sakit!"

"Yaudah, kalau gak duduk sini "

"Gak mau!"

"Kenapa gak mau?"

"Ya gak mau, abang suka mesum orangnya"

"Apa?suka mesum"

"Kenyataannya gitu. Haha"

"Ya iyalah, sama istri pun. Kalau mesum sama istri orang gak boleh"

"Awas aja kalau berani mesum sama istri orang"

Entah bagaimana caranya, dia sudah berada didepanku dengan senyum menyerigai.

"Kalau gitu gak masalah dong dimesumin sama suami sendiri, ya gak?"tanyanya makin mendekat.

"Gak!!, mesum lagi kalau berani, sendal nih melayang"

Melepas sandal kamar menunjukkannya padanya dengan wajah garang

"Haha. Layangin terus dek"

Tangannya mencekal tanganku yang memengang sandal. Benar susah, padahal dia tak mencekal kuat.

"Haha. Bisa dek?"tanyanya

"Mana bisa,lepasin!"

"Gak mau, harus ada imbalan dulu kalau abang lepas"

"Imbalan apa coba, tanganku lepasin"

Menarik pelan tanganku hingga aku berada tepat didepannya. Dengan cepat dia memelukku.

"Cium dulu sini sini "tunjuknya pada kedua pipi.

"Gak mau, sana. Dasar mesum!"

"Haha, itu bukan mesum, tapi permintaan."

"Sama aja"

"Aah. Gak seru, kita main aja yuk"

"Main apa sih,"

"Main ini siapa yang kalah boleh lakuin apa aja ke lawannya selama 5 menit"

"Oke deal"

"Deal"

•••••••••

"Yaahh."

"Yess. Menang. Sini deket gak sabar "antusiasnya

"Ihh. Gak adil bang, masa aku yang kalah mulu sih"rengekku

"Hahaha. Sini cepetan"

Dengan berat hati kudekati lagi dia untuk kesekian kalinya, wajahku mungkin sudah tak berbentuk lagi sekarang penuh coretan lipstikku sendiri. Aku jadi kesal sendiri. Jilbabku pun tak tau kemana, niat ingin mengerjainya malah aku yang kena.

"Duduk!, sekarang apa ya?" Bang Yusuf nampak berfikir.

"Aha!!, sini duduk. Menghadap kedepan"

Aku duduk tepat didepannya dengan posisi membelakanginya.

"Aah. Enaknya peluk istri" tangannya sudah bertengger diperutku mengusapnya pelan, aku geli sendiri

"Apaan sih, geli tau" kupegang tangannya agar tak bergerak lagi tapi percuma dia tetap melanjutkan.

"Ahaha. Abang lepas, aku gak tahan"

Memberontak sekuat tenaga, aku tak kuat, dia terus mengelitik pinggangku.

"Ahaha. Rasakan kamu senang!!. "

"Hahaha. Please gak kuat "teriakku

Aku benar-benar tak kuat, mengeliat cepat hingga aku menghadapnya dan terjatuh. Dia pun menghentikan aksinya, mata kami bertemu beberapa saat.

"kak, ayo siap-siap " pintu terbuka, dengan cepat kembali tertutup.

Memalingkan wajah menoleh pada pintu, kembali menatap bang Yusuf.

"siapa?"tanyaku, dia hanya menggeleng tak tau, tapi bisa jadi itu Bella

Melihat pada jam di nakas sudah menunjukkan pukul 9: 10, berarti 20 menit lagi berangkat.

"Bang, kita siap-siap bentar lagi berangkat"mencoba melepaskan diri

"Gak usah pergi aja ya?"ucapnya

"Yaudah, aku aja yang pergi"ucapku enteng

"Emang kamu berani keluar tanpa izin suami"ujarnya

Terdiam, benar. Aku tak berani keluar tanpa izinnya, aku sudah belajar masalah ini diwaktu kuliah dulu.

"Gak bisa gitu dong, kita pergi ya?"Aku memelas

"Tapi ada syaratnya"

"Apa?"

"Sini sekali "menunjuk pada bibirnya sendiri.

"Masa itu sih, gak adil "

"Buruan sebelum abang berubah pikiran"

Syaratnya aneh sekali, awas aja suatu saat akan kubalas dan kenapa pikirannya selalu hal begini. Ingin ku tarik saja bibirnya agar maju 5 inci

"Cepat waktu kita gak banyak"

"Iya tunggu, tutup mata tapi"

"Oke. Abang tutup"

Aku yang dibawahnya menangkup wajahnya serta menutup mata hingga bibir kami bertemu beberapa saat, jantungku berontak hebat, dia kembali menekan hingga aku merasa lemas, tak lama dia pun menjauh.

"Udah, Makasih sayang" dia beranjak bangun mengecup pipiku sekilas dengan wajah senang. Aneh.

Aku berjalan kekamar mandi membersihkan wajah dan mengganti baju. Setelahnya aku keluar dengan handuk mengelap wajah.

"Udah siap?"

"Belom bentar lagi"

"10 menit lagi, jangan telat. Kalau telat kita gak jadi pergi "

"Iya\-iya bentar napa, bantu pilihin mana yang cocok sama baju"

Aku memilih dua warna jilbab yang cocok dengan gamisku

"Itu aja yang maroon cocok"

"Oke. Aku pilih maroon. Cocok memang"

Aku memakai bedak tipis dengan lipstik natural. Memakai jilbab menyematkan satu sisi kearah kiri bagian satunya tetap ditempatnya menutupi bagian depan.

"Udah, ayo"

"Ehh. Tunggu"

"Apa lagi"

"Kamu cantik" ucapnya sambil mengusap kepalaku pelan dan berlalu.

'Selalu muji terus, yang harus dipuji tuh Allah bukan aku!. Ck..'

"Biasa aja kali bang"jawabku pelan

Mengikutinya dari belakang sambil menuruni tangga, lihatlah dia bahkan sangat besar, sudah seperti om-ku saja.

"Gimana semuanya, udah siap?"

Mama bertanya saat kami sudah berada di lantai bawah berkumpul dengan yang lain.

"Kayaknya udah Ma"ujarnya Kak Nara

"Ya udah kita berangkat aja"

Satu persatu masuk dalam mobil, aku dan bang Yusuf bersama Bella dalam satu mobil, sementara kak Nara,Mama dan Papa serta abang ipar dalam satu mobil.

Hening...

Mobil melaju membela jalanan yang cukup sibuk karena akhir pekan, didalam mobil hening, hanya suara klakson mobil saling bersahutan terdengar.

Pandanganku fokus pada jalanan diluar sana, tanpa ada niat memulai pembicaraan.

"Kakak ipar kenapa kok lesu banget?"

Ditanyai oleh Bella seketika aku menoleh padanya.

"Gak papa kok, kakak baik"

Tak puas dengan jawabanku, Bella malah menanyai kakaknya.

"Kak Yusuf apain sih kakak ipar sampe lesu gitu?" Ucapnya dengan nada kesal.

"Gak di apa\-apain kok, beneran" jawabnya santai sambil menunjuk dua jari berbentuk huruf 'V'

"Gak bisa dipercaya nih, Kak Yusuf pasti apa-apain kan kak?"

Kembali Bella bertanya menuntut kejujuran. Belum sempat menjawab, dengan cepat ditimpali oleh bang Yusuf

"Enak aja kamu Bell, suka banget nuduh kakak gitu emang kakak cowok apaan sampe berani kasar"

"Ya mana tau kan, selama ini kakak gak pernah ketahuan suka sama cewek, bisa jadi kakak gitu-gitu tuh"Bella menuduh seakan kakaknya gay

"Awas kamu berani banget ngatain ya, bulan ini gak kakak kasih jajan. Haha"

"Yah..Yaah. jangan gitu lah kak"rajuknya

"Hahaha. Ngatain lagi, rasain. Nih ya kalau kakak gak suka sama cewek udah dari awal gak nerima perjodohan ini. Pikiranmu masih dangkal ya. Haha"-Yusuf

"Mana tau aku kakak gitu"-Bella

"Oo. Ngatain lagi, dua bulan gak ada jajan dari kakak."Yusuf

"Iss. Kak Yusuf nyebelin, lihat tuh kakak ipar. Kak Yusuf jahat. Hiks.."-Bella

"Udah deh bang, ngalah, sama adek pun"ucapku mengelus lengannya pelan.

"Tuh denger kak!"-Bella

"Eitss. Yang kecil juga gak boleh nuduh sembarang, bisa termasuk fitnah loh."peringatku

"Denger tuh Bell!"

"Masih aja berantem, damai dong. Kita mau piknik ini!"

"Iya kak ipar, maaf kak"pinta Bella pada bang Yusuf

"Gitu dong"

"Iss. Iya-iya kakakku sayang. Makasih"

"tapi jangan potong ya, jajannya"

"Iya. Ini kita udah masuk taman bentar lagi nyampe"-Yusuf

"Yeah. Gak sabar"girang Bella

Aku hanya tersenyum melihat tingkah Bella, memang benar jika sangat dekat dengan saudara pasti akan selalu bertengkar, jika jauh malah rindu. Aku jadi merindukan teriakan Hana sekarang.

"Udah sampe. Turun"

Bella sudah dan aku turun lebih dahulu, disusul oleh bang Yusuf setelahnya. Dengan cepat Bella merengkuh tangan kiriku.

"Kakak ipar, aku suka deh deket sama kakak"-Bella

"Pasti ada apa-apanya tuh"tuduh bang Yusuf

"Iss. Kak Yusuf nih ada-ada aja, aku kan mau manja-manjaan sama kakak ipar"alasan Bella menarikku ke bangku taman

"Yeelaahh"Bang Yusuf berlalu bergabung dengan yang lain.

"Kakak gimana ceritanya sih kak Yusuf bisa suka sama kakak,?" Bisiknya tapi mungkin terdengar hingga pada bang Yusuf.

"Hehe. Kakak juga gak tau Bell,"

"Yaahh. Padahal aku mau banget dapat pendamping kayak kak Yusuf"

"Kok gitu?"

"Kakak gak tau, kak Yusuf tuh lelaki tipe aku benget setelah ayah. Mereka berdua lelaki idaman banget"

Sebenarnya aku juga tau Bang Yusuf memang lelaki idaman, mungkin aku pun tak pantas untuknya.

"Kalau lelaki idaman banyak kan diluar sana"ucapku

"Iya sih. Tapi aku sukanya kayak kak Yusuf, selain tampan juga baik hati, murah senyum. Kakak tau gak?"

"Gak tau"ucapku seraya menggeleng.

"Nih aku kasih tau, pas malam Papa bilang mau jodohin kak Yusuf sama kakak, dia sempat nolak, eh pas liat foto kakak, kak Yusuf malah kayak berfikir keras gitu, sampe paginya langsung terima. Kan Aneh kak" jelas Bella panjang lebar.

"Padahal pas aku lihat difoto itu, kakak biasa aja, eh pas akad nikah rupanya kakak cuantik banget, aku jadi pangling loh. Malah aku kira orangnya beda."

"Ah kamu bisa aja"

"Bener loh kak, nih ya yang pernah aku tau dari Kak Nara, dulu kak Yusuf tuh cuma pernah suka sekali sama perempuan, kalau gak salah waktu dia SMA dan sekarang aku lihat kak Yusuf pandang kakak ipar persis kayak orang jatuh cinta gitu loh."jelasnya

"Ah kamu ada-ada aja, kakak kesana dulu bantu yang lain"kilahku

"Bener loh kak "teriaknya

"Iya-iya "jawabku sambil berlalu meninggalkannya

 

1
Royani Arofat
ngapain sih g jujur.udah mau d lecehkan jg.
Royani Arofat
unting aja yusuf sabar.cemburunya menakutkan.tdk sesuai porsi.kl kayak gitu lamaw g betah loh suaminya
tambahan bonus bunga karena sudah mau berteman dengan myako
kok aku belum di polback kak?
Ryana: udah kok kak
total 1 replies
mantul
suaminya maksa njerr
lanjutkan cuyy
singkat sekali
jangan lupa mampir di karyaku juga ya dan beri dukungannya. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman
bagus banget semangat terus kak
udh mampir nih☺semangat
Ig : Author_fanie.liem
AK mampir kak
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati
snow angel
😍😍
Natassa Putri
Ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran buat baca chapter selanjutnya
Natassa Putri
Semangat trs Kak nulisnyaa💪😊
Ryana: iya kak mampir juga di novelku yang lain judulnya Hutang Cinta Helena
total 1 replies
Sry Purwanti
gak jelas novel ya.perempuan ya ter lalu muter2 pikiran ya dan naif
Ryana: Makasih kak, aku bakal jadi lebih baik lagi, baca novel lainnya juga, moga gak muter-muter kayak blender
total 2 replies
Ryana
terimakasih
harie insani putra
mampirrrr baca
Anariy
semangat Author
harie insani putra
Tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!