Bertransmigrasi?
Satu kata yang mampu membuat Nala, mengumpat di tempat. Dia yang awalnya membenci tokoh utama pada sebuah novel karena bunuh diri akibat diselingkuhi mengakibatkan dirinya bertransmigrasi ke tubuh Carissa.
bagaimanakah jika Nala, si gadis super aktif mengubah hidup Carissa yang flat menjadi lebih heboh dan mengejutkan sekeluarga serta teman-temannya.
Ikuti kisah Nala yang akan mengubah alur hidup Carissa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28| Kok aku ditinggal?
Carissa memulai aktingnya.
"Kok, kak Gina panggil aku murahan? Memangnya aku salah apa?"
Bima tersentak melihat pelupuk mata Carissa sudah ada airnya. Dia gelagapan sendiri baru kali ini menyaksikan Carissa menangis.
"Kalau kak Gina nggak suka aku deket-deket sama kak Bima, bilang aja tapi jangan ngatain aku murahan. Lagian emang salah deket sama sepupu sendiri? Kak Bima aja nggak masalah, kok!"
Carissa menunduk, sebenarnya hanya ingin menyengir kuda saja. Sunggu menyenangkan menggoda Bima dan Gina.
"Aku ke kamar dulu. Besok aku pulang sendiri aja, nggak usah nunggu sore."
Carissa melenggang pergi seperti orang yang tersakiti padahal dia hanya ingin tertawa saja apalagi melihat wajah panik Bima.
Gina mengepalkan tangannya erat, dia benci Carissa. Segera mematikan panggilan video membuat nenek Rima langsung mendengus kesal.
"Salah kamu Bima, liburan ini jadi nggak seru buat Carissa. Cari cara biar gadis itu ceria lagi!"
Abian memberikan ponsel pada Bima dan mereka bergegas meninggalkan pria itu.
Dulu, Indra tak sengaja memergoki Gina sedang berpelukan mesra dengan laki-laki lain di sebuah mall Bandung. Bima pernah menunjukan foto kekasihnya itu pada kedua orang tuanya, jadi itulah mengapa Indra langsung menjadi kesal.
Mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memotret serta mereka perbuatan Gina. Sayangnya Bima masih saja buta dan mau balikan dengan gadis itu.
Ayah Bima sendiri bekerja sama dengan Wijaya untuk membangun perusahaan. Perusahaan yang ada di tangan Wijaya adalah hasil jerih payah keduanya.
Memiliki dua Owner, tentu saja membuat mereka menjadi mudah untuk membagi tugas. Apalagi sekarang perusahaan mereka sudah ada yang di luar negeri dan sedang ditangani oleh adik Indra dan Wijaya yang paling bungsu.
Bima mengusap wajahnya kasar. Tidak tahu mengapa semuanya menjadi semakin rumit. Dia juga merasa sikap Gina akhir-akhir sedikit menjengkelkan. Selalu minta uang, uang dan uang hanya untuk berbelanja bahkan tak sampi sebulan, uang itu telah habis.
Jika di tanya, Gina akan menjawab bahwa Bima sudah tidak menyayanginya lagi.
Di sisi lain, Carissa sedang mengirim pesan pada kedua temannya dan menceritakan kejadian tadi. Teman-temannya tentu ikutan tertawa apalagi mereka juga mendukung perbuatan iseng Carissa.
Merasa mengantuk, dia memilih untuk tidur saja.
Keesokan harinya, Carissa tentu tidak akan benar-benar kembali. Dia masih ingin pergi ke pantai, mengingat dia tidak pernah liburan selama berada di sini.
Dengan menggunakan celana santai selutut serta kaos hitam oversize, dia melangkah dengan perlahan. Masih pagi, jadi orang-orang sedang asik tidur. Carissa sendiri telah menyembunyikan kopernya di bawah kasur di mana semua baju dan barang-barangnya telah dia letakan di dalam.
Rencananya ingin membuat mereka shock pagi hari dengan menghilangnya gadis itu. Setibanya di pantai, dia tak lupa memotret laut dan mengirimkannya pada kedua temannya. Setelahnya, dia mematikan ponselnya dan berjalan menuju pinggiran pantai.
Matanya menatap langit pagi yang sangat cerah, sungguh ini liburan yang lumayan menyenangkan. Hingga matahari mulai meninggi, Abian yang pertama kali bangun langsung bergegas menuju kamar Carissa. Takutnya jika ucapan gadis itu semalam memang benar.
Abian sudah mencarinya bahkan ke kamar mandi dan membuka lemari, tetapi tidak menemukan satu pakaian Carissa. Dia berlari keluar dan memanggil ayahnya.
Merasa terganggu, mereka keluar secara bersamaan. Wijaya melihat wajah panik Abian, langsung menegur pria itu.
"Kamu ini kenapa?"
"Carissa, pa. Carissa nggak ada di kamar, baju sama kopernya juga nggak ada!"
Mendengar itu, Bima langsung berlari dan mengecek dan memang tidak ada baju Carissa. Bahkan rasanya seperti gadis itu tidak pernah ada sebelumnya. Bima mulai merasa bersalah, harusnya semalam dia tak menerima panggilan video dari Gina dan menikmati waktu liburan bersam keluarganya.
Wijaya lantas mengambil ponsel dan menelepon Carissa yang sayangnya tidak tersambung.
"Hape Carissa mati. Papa khawatir dia pulang duluan, sebaiknya kita juga bergegas menyusul dia."
Di sisi lain, terlihat Carissa tengah bermain dengan beberapa anak kecil. Membangun istana pasir dan berlari ke sana dan ke mari.
Setelah menjelang siang, perutnya mulai berbunyi. Untunglah Carissa sempat menari uang dari ATM sehingga dia tidak akan kelaparan nantinya. Kebetulan sedikit jauh dari bibir pantai, beberapa ibu-ibu terlihat sedang berjualan. Entah makanan ataupun buah-buahan.
Perutnya semakin meronta, minta untuk di isi. Carissa pun berjalan dan membeli cumi bakar, aromanya benar-benar membuatnya ngiler, sungguh.
Setelah matang dan membayarnya, Carissa menyantap dengan lahap.
"Hmm, enak banget gila. Pokoknya kapan-kapan gue sama Dina, Lala harus ke sini buat nyobain cumi bakar ini. Beuh, bumbunya meresap banget."
Sang penjual hanya tersenyum mendengar ucapan Carissa. Banyak yang memuji cumi bakarnya enak, tetapi tidak seperti yang gadis itu katakan. Gesturnya pun menunjukan bahwa memang seenak itu.
Lanjut dia membeli air kelapa muda dan meminumnya hingga habis. Dia kembali ke penjual sebelah dan membeli rujak buah. Untunglah ada tempat duduk sehingga dia bisa menikmati rujak tersebut sembari menatap orang-orang yang hampir memadati pantai tersebut.
Selain villa, ada juga beberapa penginapan dan rumah warga di sana. Memang Wijaya suka jika villanya berada di daerah dekat pantai.
Setelah selesai makan dengan perut yang telah kenyang, Carissa berinisiatif untuk duduk menikmati semilir angin pantai di bawah pohon kelapa. Dia tersenyum menyaksikan beberapa anak kecil bermain di bibir pantai.
Hingga akhirnya dia terlelap saking lelahnya. Padahal hanya jalan untuk membeli makanan dan bermain dengan beberapa anak kecil, tetapi dia sudah kelelahan. Ah, ini pasti efek dari tiupan sepoi-sepoi angin pantai. Memang menyejukan, sih.
Tak terasa hari mendekati sore, Carissa terkejut bangun saat seseorang menyentuh pundaknya.
"Maaf, kami pikir kakak kenapa!" ucap seorang bocah laki-laki dengan memegang apel di tangan kanannya.
Carissa mengucek mata dan melihat matahari sudah mulai menurun.
"Terima kasih sudah membangunkan kakak. Sekarang kakak harus pulang. Dadah!"
Carissa melambaikan tangan dan dibalas oleh anak-anak itu. Setibanya di villa, Carissa kebingungan karena pintunya terkunci, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam.
"Loh, kok villanya kosong?"
Dia mengetuk hingga berubah menjadi gedoran yang tetap saja tidak ada suara dari dalam.
"Jangan-jangan mereka ngiranya gue beneran balik jadi pada nyusul? Parah, sih."
Carissa bergegas mengeluarkan ponsel dan menyalakannya. Sekitar belasan panggilan tak terjawab dari Wijaya dan Abian. Dia menyengir tak berdosa telah membuat mereka khawatir.
Lantas dia menelepon Wijaya yang kemudian tersambung.
"Halo pa?"
"Carissa, kamu di mana nak? Papa cari kamu di rumah, tapi nggak ada!"
Tiba-tiba sebuah suara menyela ucapan Wijaya.
"Carissa, kamu itu di mana? Jangan buat kami panik!"
Itu Abian. Carissa menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tertawa tanpa dosa.
"Tadi iseng doang. Kirain kalian bakalan nyariin, eh taunya malah pulang. Ini udah mau sore, masa Carissa di suruh tidur di luar?"
"Kamu ... Terserah. Itu akibat karena kamu jahil."
"Ish, kak Abian. Jemput Carissa, kek. Mau Carissa kelayapan di luar sini terus diculik sama om-om galak sama perutnya buncit? Terus Carissa dijual sama orang yang beli orang tubuh manusia?"
"Mengada-ngada kamu. Malahan, tuh om-om yang kewalahan ngelawan kamu. Sudah resiko karena kamu tiba-tiba ngilang. Kakak mau pergi main!"
Carissa kesal lantas menghentakan kakinya.
"Ya udah sana pergi main. Carissa pulang jalan kaki, biar ntar ketemu beneran sama om-om hidung belang. Awas aja kalau kak Abian beneran nggak jemput, Carissa bakalan pergi buat selamanya!" ancamnya yang sebenarnya hanya candaan semata.
Sayangnya Abian menanggapi itu dengan serius. Dia berpikir bahwa pergi untuk selamanya adalah kembali ke dunia asalnya maka tidak akan ada lagi Carissa dan keceriaan di dalam rumah. Abian tak mau itu.
"Ya sudah, tunggu di villa. Jangan ke mana-mana, awas aja kamu sampai ngilang lagi!" Abian bergegas mengambil kunci villa dari Wijaya serta kunci mobil dan pergi bersama Bima.
Nenek rima serta kakek Janu nampak khawatir dengan Carissa. Mereka seharusnya tidak pergi begitu saja dan meninggalkan dia seorang diri.
Di villa, Carissa menatap ponselnya. Dia lantas memasukan benda persegi itu ke kantung celana dan duduk di ayunan.
"Ish, mana perjalanannya bisa tiga jam lagi. Lagian salah gue sendiri, hadeh!"
Hingga menjelang malam, perutnya sudah meronta-ronta minta di sini. Keadaan dalam villa gelap karena lampu tak dinyalakan.
Carissa menunggu dengan sabar hingga bunyi klakson mobil membuat senyuman di bibirnya mengembang.
"Akhirnya datang juga."
Abian setelah memarkirkan mobil, langsung berlari keluar dan menghampiri sang adik. Dia mencubit pelan pipi Carissa hingga gadis itu mengaduh kesakitan.
"Kamu itu, yaa. Kalau kenapa-napa, siapa yang salah?" marahnya membuat Carissa mengelus pipinya pelan dan menunduk.
"Iya, maaf. Carissa salah, janji gak ngulangin lagi!"
Abian membuang napasnya, dia pun tersenyum.
"Kakak ambil barangmu dulu setelah itu kita pulang."
"Iyaa, Carissa taruh di bawah kasur."
Setelah koper milik Carissa di ambil, mereka bertiga pulang. Gadis itu duduk sendirian di belakang, sudah hampir tiga jam di perjalanan, perut Carissa mendadak berbunyi.
"Kak, ayo mampir. Perut Carissa udah laper banget," ucapnya sembari mengelus perut ratanya.
Abian akhirnya berhenti di tepi jalan, karena melihat adanya warung makan. Mereka tidak berada di tengah hutan, tetapi rumah-rumah disekitaran sana memang berjarak.
Carissa langsung duduk dan memesan nasi ikan. Abian dan Bima duduk di sisi kiri dan kanan Carissa, juga ikut memesan makanan.
Abian menatap gadis itu dengan senyuman yang masih bertahan. Sikap tidak pemilih makanan ini sangat mirip dengan adiknya. Mungkin inilah alasan Tuhan mengirimkan jiwa Nala ke tubuh Carissa.
Malam itu diakhiri dengan mereka yang tiba di kekediaman Brawijaya dalam keadaan selamat.
Bersambung...
mampir yuk ke novel aku yang berjudul transmigrasi jiwa Lien Hua
jangan lupa like & komen
saya tahu perasaan clarissa karena gw juga kesel pas bapak gw selingkuh ada mak gw