S1_Akankah Aku Bisa Memiliki Akhir Yang Aku Harapkan Bersama Salah Satu Dari Kedua Pria Itu Atau Malah Terjebak Dalam Cinta Monyet Itu Selamanya??
S2_Tranmigrasi ketubuh seorang nona muda dan mengubah segala takdir yang tertulis apa aku bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vallerie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapt | 028
Dan demi tampil beda di hadapan Hajime, sore hari ini aku ingin menemuinya dengan mengenakan jersey BFC Aku yakin dia senang melihat aku mengenakan jersey dari timnya.
Pada lipatan baju yang sulit sekali dijangkau, akhirnya aku menemukan jersey yang kumaksud Kubuka lipatan Jersey BFC seraya membayangkan tampannya seorang Hajime saat mengenakan kaus yang sama. Benar kata Ayumi, ketika kita mulai sibuk dengan cinta yang lain maka dengan sendirinya cinta yang lama akan terlupakan. Bukan Kamazaki yang berada di atas segalanya, kini semuanya berbalik. Hajime adalah segalanya, adalah pangeran yang tiada duanya.
Tepat ketika aku mengenakan jersey kebesaran tim sepak bola Bunkyo Football Club, jantungku berdegup lebih kencang, Aku merasa menjadi bagian dari sebuah tim sepak bola besar yang banyak melahirkan bintang dunia. Tidak mustahil juga kelak Hajime menjelma menjadi pemain sepak bola profesional yang hebat, melebihi Kamazaki. Jika hal itu benar-benar terjadi, yang kumau Hajime tetap menjadi Hajime yang mencintaiku. Bukan Hajime yang berubah lantaran kesibukannya bermain sepak bola melebihi cintanya kepadaku, seperti yang terjadi pada Kamazaki
"Wah..., wah..., mimpi apa aku semalam melihat Kak Ran memakai kostum Bonkyu?" tegur Akira yang muncul tiba-tiba di kamarku. Aku yang sedang senyum-senyum sen diri di depan cermin kontan menjadi gelagapan tak keruan.
"Kau bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk kamar ku, kan?" protesku kepada Akira, dan kurasakan kedua pipi ini panas dan memerah. "Bukankah di sekolah kau diajari tentang sopan santun?"
Akira hanya tersenyum seraya berjalan mendekat.
"Wuih..., Kak Ran keren juga pakai kaus ini," ledek Akira seraya menggoyang-goyangkan lenganku tak keruan. Aku salah tingkah sendiri. Akira berhasil menangkap basah diriku yang sudah mengenakan kostum tim Bunkyo Football Club. "Cocok juga jadi cheerleaders. Kalau Kak Ran berminat, nanti aku daftarin ke grup cheerleaders di tempatku latihan. Dengan begitu, Kak Ran bisa mendapat tiket gratis setiap Bunkyo bertanding."
Cih, amit-amit! Dikira aku tidak punya uang untuk membeli tiket masuk sebuah pertandingan, sampai-sampai mencari gratisan segala? Menyebalkan sekali kau, Akira!
"Jangan bilang kau mulai suka sepak bola dan berniat bergabung dengan Bunkyo Football Academy, Kak Ran," lanjut Akira yang tak kenal lelah meledek penampilanku.
"Memangnya ada, sepak bola perempuan?" tanyaku
sekenanya.
"Jiah, masa Kakak tidak tahu?" ujar Akira setengah ter kejut. Aku memang tidak tahu ada tim sepak bola perem puan di Jepang ini. Iya, aku memang pernah mendengar kejuaraan sepak bola perempuan, tapi selama ini aku tidak tahu Jepang juga memiliki tim untuk ajang kompetisi itu.
"Aku memang tidak tahu sepak bola perempuan yang kau maksud, Akira."
"Nadeshiko adalah julukan tim sepak bola perempuan Jepang, Kak Ran. Pada Olimpiade ke-15, Nadeshiko berhasil menjadi juara dunia, mengalahkan tim kuat Amerika Serikat."
"Mirip cerita manga Kapten Tsubasa saja, ya?" kataku menyela.
"Kak Ran jangan salah. Sekarang Jepang sudah men jelma menjadi raksasa Asia yang berani bersaing dengan tim-tim dari Eropa. Kita harus bangga menjadi warga negara Jepang, Kak Ran. Karena bukan hanya teknologi kita yang maju, olahraga pada khususnya sepak bola kita juga sudah jauh lebih maju. Bahkan, terbaik di daratan benua Asia," tutur Akira panjang lebar.
_________________________________
Bersambung~